
Lima hari kepergiaanku ke Semarang, meninggalkan banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Sejak pagi meeting hingga tidak ingat waktu sudah malam. Pukul 20.00 aku masih di kantor dan teringat Dara belum dijemput. Bahkan ponsel tidak sempat kulirik. Hanya panggilan Shesa yang memenuhi layar ponsel.
‘Kenapa Dara tidak pernah meneleponku’ keluhku dalam hati.
Ketika sampai di restoran saat itu hujan belum reda, aku melihat Dara dengan Eza. Kupikir Dara akan menolaknya tetapi justru menerima ajakannya untuk pulang bersama. Sebenarnya saat itu aku hanya ingin membiarkannya dan menunggunya di rumah. Nyatanya, Eza membawanya kearah lain. Aku mengikutinya dari belakang.
Kepalaku tiba-tiba saja merasa pusing, mungkin karena tubuh ini belum sembuh betul dan akibat kelelahan pekerjaan. Eza membawanya ke apartemen. Keraguanku akhirnya menyeruak untuk membawanya pulang atau menunggu saja.
Di satu sisi ada perasaan yang marah karena Eza sudah lancang membawa Dara, di sisi lain aku tahu sudah membuka jalan untuknya mendekati Dara. Sikapku yang tidak bisa diterima waktu di Semarang. Hingga kini masih sangat menyesalinya.
Aku hanya akan menunggunya di sini sembari beristirahat, mungkin mereka tidak akan lama.
Mereka berbincang sembari makan malam. Dara memuji masakan itu dan mentertawakanku yang tidak pernah menemaninya makan malam. Lalu, mereka berbincang di sofa yang berdekatan sembari menuangkan sampanye untuknya. Dara belum pernah meneguk minuman seperti itu yang membuatnya lunglai dalam sekejap. Dirinya tidak sadar hingga terbuai rayuan Eza.
“Dara kamu sangat cantik, aku menyukaimu,” rayu Eza.
“Aku juga suka kamu, daripada Raka yang tidak pernah memujiku apalagi menyukaiku … baginya aku hanya boneka untuk menyenangkan orangtuanya.” keluhnya sembari meneguk minuman itu sampai habis.
Lalu, Eza semakin mendekatinya dan menciumnya….
“Jangaaann!” teriakku. Ternyata hanya mimpi. Aku melihat jam di tangan, sudah hampir pukul 22.00. Sudah lama juga mereka di sana. Mencari kontak Dara pada ponsel, tiba-tiba niat itu kuurungkan.
Hingga satu jam lebih mereka belum juga keluar.
“Kesabaranku sudah habis!”
Aku naik ke apartemennya yang berada di lantai 15. Menekan belnya beberapa kali, Eza muncul dari pintu itu. Spontan aku melampiaskan amarah dengan sekali pukulan telak yang mengenai wajahnya.
Sebelum emosiku memuncak, aku hanya ingin segera pergi dari sini dan membawa Dara pulang. Aku tahu bekas tangisan di wajahnya, namun aku sedang tidak ingin bertanya apa-apa.
Aku hanya ingin membawanya pulang, itu saja.
***
Merebahkan tubuh ini ke ranjang, sungguh sangat lelah rasanya. Terbersit sekilas laki-laki yang memiliki istri lebih dari satu, bagaimana cara mereka membagi kelelahan ini. Sungguh bermental baja. Baru seperti ini saja sudah pusing tujuh keliling apalagi mengalaminya. Dua hati yang harus kupikirkan secara bersamaan. Sungguh sangat melelahkan.
“Tok … tok … tok,”
“Ini aku, Dara,” ucapnya pelan.
“Kamu sudah tidur?” tanyanya lagi.
Aku membuka pintu itu dan melihatnya membawa potongan buah.
“Aku pikir pasti kamu belum makan, jadi aku bawakan buah … karena kamu tidak makan malam.” imbuhnya.
‘Aku memang belum makan sejak siang tadi’ batinku.
Sembari memberikan sepiring buah itu, dirinya berlalu pergi.
“Dara … terima kasih … buahnya.” ucapku sembari mengangkat piring buah ini.
‘Dara balas tersenyum’
Lalu berbalik, seperti ada yang ingin dikatakannya.
“Aku ingin minta maaf,” tuturnya.
“Apa?”
“Aku sudah membuat kamu dan Eza bertengkar … ya … itu semua karena aku tidak bisa menempatkan diri.” sembari menggaruk-garuk alisnya.
‘Aku hanya melihatnya tanpa membalasnya, tubuh dan pikiranku begitu lelahnya hingga tidak mampu berucap apa-apa’
“Raka, apa kamu sakit? … Raka!” teriaknya menyadarkan.
“Ah … aku hanya sangat lelah,” balasku.
“Ah … baiklah, kamu sedang tidak dalam keadaan fit untuk membicarakan sesuatu. Sebaiknya aku pergi,” timpalnya.
‘Dara melangkah pergi’
Aku menghentikannya.
“Dara … maukah kamu tidur denganku, malam ini?” anjurku salah bicara membuat salah tingkah.
“Apa?” ekspresi terkejut.
“Maksudku … temani aku tidur … tidur bersama … ah sepertinya apapun yang kukatakan akan bermakna keliru,” ucapku menjadi semakin canggung.
“Maksudmu seperti waktu di Semarang?” tanyanya.
“Iya, seperti waktu itu….”
“Karena saat ini kamu sedang sakit?” imbuhnya menambahkan.
“I-iya, aku akan lebih tenang jika ada yang menemani … ku … tidur.”
“Tapi, jika kamu keberatan … tidak usah saja,” ucapanku terpotong.
“Aku mau … aku akan menjagamu.” ucapnya.
Kemudian, Dara masuk ke kamar dan aku tidak bisa menyembunyikan senyum ini yang selalu menyungging. Sembari dirinya menyiapkan ranjang, aku memakan buah ini hampir habis.
“Habiskan buah itu,” ucapnya sembari menepuk-nepuk bantal.
‘Manggut-manggut tanda setuju’
“Sudah siap, kamu di sebelah mana?” tanyanya.
“A-aku biasa di sebelah sini.” Balasku sembari menunjuk sebelah tangan kiri yang berarti kanan.
“Oh … baiklah, mana piringnya?”
Terasa bergelombang ketika dirinya menaiki ranjang ini. Kakinya mulai masuk ke dalam selimut dan menariknya. Merapihkan rambutnya yang panjang agar leluasa. Mematikan lampu baca yang ada di meja sampingnya, sesekali menepuk-nepuk bantal sebelum menaruh kepalanya untuk tahap terakhir. Memejamkan mata.
“Raka, jika kamu merasa sakit, bangunkan aku saja,” anjurnya.
“Iya … akan kulakukan.” balasku masih memunggunginya.
Keadaan sudah gelap, aku berbalik untuk melihatnya sedang tidur. Memandangnya seperti ini terasa sangat menakjubkan. Seseorang yang berada di sisimu tidur, wajahnya yang cantik tanpa riasan. Putih, dengan alis melengkung berwarna hitam, bulu matanya seperti garis bulan dan bibirnya yang berwarna pink muda.
“…. Kamu sakit, Raka?” tuturnya yang tiba-tiba membuka mata.
‘Tertangkap basah, sedang melihatnya tidur’ hanya menggelengkan kepala.
“…. Hanya ingin melihatmu … tidurlah,” imbuhku.
Ketika aku mengatakan itu, dirinya hanya menatapku dengan kedua matanya yang sayu. Saling memandang cukup lama hingga tidak bisa lagi menahan diri untuk mengecupnya.
“Dara, aku ingin menciummu?” tanyaku.
‘Dara hanya membisu’
“Kamu sudah pernah melakukannya waktu di Semarang,” sindirnya.
“Iya, aku ingat … dan aku inginkan lagi….” celotehku sembari menciumnya untuk yang kedua kali.
Mencium bibirnya yang lembut sembari mendekatkan tubuhku padanya, semakin erat. Membelai wajahnya dan
melumatnya lebih dalam. Menetes dingin airmatanya terasa di pipiku.
“Kenapa?” tanyaku lembut.
Napasnya yang menghela sembari memelukku erat. Dirinya terbawa luapan perasaan yang dalam. Saat itulah aku tahu Dara mencintaiku. Aku membalas pelukannya dan memberinya perasaan aman. Dara berbisik di telingaku, “Aku mencintaimu, Raka.” ucapnya pelan namun jelas terdengar.
Aku memandangnya dan tersenyum, menciumnya dengan gairah hingga menyalakan hasrat yang menggebu. Menyentuhnya dan membuatnya mengerang hebat. Lekuknya yang indah dan reaksi tubuhnya yang begitu mentah, alami dan seksi membuatku semakin ingin melakukannya. Hingga semua itu terjadi begitu saja.
‘Malam terindah yang pernah kualami’
Hingga suara burung-burung kecil bercuitan di atas balkon kamar dan secercah cahaya pagi yang masuk melalui ventilasi. Udara sejuk yang menyeruak dingin membuat tubuhku mengigil. Pagi itu aku terbangun lebih dulu dan melihat wajahnya di samping masih pulas tertidur.
Jemariku meraba garis hidungnya melewati bibir hingga ke dagu. Sembari berbisik, “Dara bangun, sudah pagi” sontak tubuhnya bergoyang memunculkan kesadarannya yang belum penuh.
Matanya terbuka sembari menarik selimut menutupi tubuhnya dengan cepat. Memicingkan matanya dan melihat kearah jam pada dinding. “Syukurlah, belum terlambat,” sembari menarik selimut itu sekali lagi.
“Raka, bisakah kamu berbalik … aku mau berpakaian,” ucapnya.
“Hahaha … untuk apa? aku sudah melihat semuanya,” timpalku sembari tertawa melihatnya tersipu malu.
“Ini sudah terang, aku tidak mau kamu melihatku, kumohon berbaliklah.” tuturnya dengan wajah merona seperti tomat merah.
“Haha … baiklah, aku akan berbalik.” imbuhku mengikuti keinginannya.
Dara mengambil pakaiannya dan bersembunyi di balik kasur sedangkan aku mengintipnya dari cermin yang memantulkan semuanya. Aku menahan tawa karena dengan senang bisa melihatnya susah payah seperti itu. Memakai pakaian dengan terburu-buru.
Tiba-tiba Dara berlari keluar pintu secepat kilat.
Aku hanya semakin geli sembari menutupi wajahku. Mendekati cermin dan menatapnya dalam, melihat pantulan wajahku yang berseri-seri.
“Aku merasa bahagia,”
***
Setengah jam kemudian,
Aku sudah siap untuk berangkat ke kantor. Dara sedang menyiapkan sarapan, aku merasa seperti pasangan suami istri sesungguhnya. Dara membuat roti panggang dengan isi daging asap, telor mata sapi, keju cheddar, ditambah dengan potongan tomat dan daun lotus serta baluran mayonnaise, sedikit mustard. ‘Sangat enak’
“Ini susu hangatnya, makanlah,” sembari menyodorkan minuman itu.
“Kamu tidak sarapan,” tanyaku sembari menggigit roti panggang.
“A-aku nanti saja,” jawabnya ragu sembari mencuci peralatan.
“Kenapa? Malu….” sindirku menggodanya.
“Enggak … siapa yang malu!” ucapnya sembari mengambil piring dan sepotong roti.
Menggigitnya dan meminum seteguk susu hangat. Perpaduan yang sangat lezat untuk sarapan.
Dara tidak mengatakan banyak hal pagi ini, wajahnya hanya menunduk sepanjang sarapan.
Dalam perjalanan ke kantor, Dara terlihat tidak nyaman, ada yang mengganggunya. Aku bisa merasakannya.
“Dara, kenapa? Apakah kamu sakit di….” tanyaku spontan.
Dara berteriak kencang sembari menutup telinganya kuat-kuat.
“Kenapa? Kamu tidak nyaman membicarakannya? Aku semakin tidak nyaman dengan sikapmu yang menyembunyikannya,” protesku sembari melihat beberapa kali kearahnya.
“Dara, kumohon katakan saja, kita sudah melakukannya dan aku ingin kamu lebih terbuka padaku,” anjurku.
“Maaf … aku malu … dan rasanya sedikit tidak nyaman karena sakit. Aku hanya bingung harus apa, itu saja,” imbuhnya.
“Baiklah, katakan saja jika kamu butuh sesuatu, oke!” anjurku sembari memarkirkan mobil.
‘Dara hanya mengangguk-angguk’ lalu keluar dari mobil.
Aku menghembuskan napas lebih kuat dari biasanya dan segera pergi ke kantor. Sembari menoleh ke kaca spion, melihat Dara yang sedang berjalan.
***
Berikan cinta dengan cara pencet like tiap episode, vote, rate 5 dan komen ya )