
Pagi itu kedai kopi mendapatkan pesanan kopi untuk meeting siang ini. 200 cup dipesan dari kedai kopi Bumi dengan pelayanan pengantaran. Pelanggan yang datang ke kedai juga sedang ramai, Wini sedang ke kampus, sedangkan Lintang hanya dibantu oleh Didi. Menunggu kedatangan Lena yang masih ujian tengah semester.
Terpaksa Dara harus mengantar semua kopi itu sendirian.
“Mah … Bumi ikut, boyeh?” tanyanya sembari memasukkan jari ke mulutnya. Cemas jika Dara melarangnya. Namun, karena situasi sangat ramai, khawatir Bumi lepas dari pengawasan. Dara tidak ingin Bumi keluar ke jalan tanpa sepengetahuan orang dewasa. Ruko yang berada dipinggir jalan membuatnya semakin ragu untuk meninggalkannya.
“Baiklah, Bumi tapi kamu harus janji, nurut sama Mama yah?” ucap Dara. Bumi menganggukkan kepala menyetujuinya sembari memberikan jari kelingking yang dilingkari ke jari Dara.
“Legoh….” ucap Bumi meniru Wini. Dara tertawa geli mendengar Bumi yang meniru tantenya.
“Apa itu artinya?” tanya Dara sembari memasuki mobil. Bumi menjawab, “altinya, pelgi … Mah,” timpalnya memberikan wajah serius seakan memberikan pelajaran baru pada Dara. Sontak Dara tertawa lagi melihat wajahnya itu.
Sesampainya di kantor yang berada di pusat kota, Dara terkesima dengan bangunan gedung perkantoran yang tinggi dan modern itu. Semuanya penuh kaca dan lift yang terlihat isinya.
“Wow … bagusss!” tutur Bumi. Dengan wajah melongo terkejut dengan gedung yang terlihat sangat tinggi.
“Mah, kalau Bumi keatas, Bumi bisa pegang awan?” tanya Bumi penasaran. Dara tersenyum mendengar pertanyaannya.
“Enggak Bumi, kamu harus naik pesawat terbang baru bisa lebih dekat dengan awan,” ucap Dara sembari mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi Bumi.
Dara membuka bagasinya dan menyuruh Bumi untuk berdiri dipinggir gedung. Tiba-tiba, beberapa orang keluar menghampiri Dara dan membantu membawakan cup-cup kopi itu. Dara terkejut karena mereka seakan tahu kedatangannya. Dara mengikuti orang-orang yang membawa kopi itu untuk menerima pembayaran.
“Mas, ini kuitan … si … nya,” ucapannya tidak ada yang mendengar. Dara akhirnya masuk ke dalam. Sembari menggengam tangan Bumi, mereka seperti sedang tur ke museum bersejarah. Seluruh sudut ruangan yang terdapat karya seni, lukisan-lukisan, vas-vas antik peninggalan jaman sejarah dan karpet yang melapisi lantainya sangat indah.
Baru kali ini melihat kantor yang semewah dan semegah ini.
Dari arah dalam sebuah ruang meeting tiba-tiba terbuka, dari celah pintu terlihat kerumunan orang-orang yang sedang mendengarkan presentasi. Penuh dengan orang-orang berjas dan berdasi. Suara riuh tepung tangan dan senyuman yang tergambar dari ekspresi mereka. Terutama ketika kopi itu disajikan di meja prasmanan, terdengar riuh semangat hanya dengan menghirup aroma kopi yang harum.
“Kopi bumi?” tanya sekretaris itu tersenyum.
“Ah … iya … ini kuitansinya,” jawab Dara. Tangannya melepaskan genggaman tangan Bumi.
Bumi berlari kecil mengintip kedalam celah pintu itu. Hingga dirinya masuk tanpa sepengetahuan Dara yang sedang sibuk menjelaskan harga yang harus dibayarkan.
“Baiklah, silakan tunggu di lobi, saya akan mengambil uangnya,” ujar sekretaris itu. Dara mulai menengok kanan dan kiri, sebelah dalam mencari Bumi. Sembari membisikkan namanya pelan, memanggil-manggil, Bumi.
Semakin riuh gelak tawa pecah dari dalam ruangan meeting itu. Membawa rasa penasarannya untuk mendekat. Dara terbelakak tidak percaya, ketika melihat kearah dalam. Bumi yang berada dipangkuan Raka. Spontan, mulutnya menganga dan matanya melotot.
Bumi apa yang kamu lakukan.
Dari tubuhnya mengeluarkan keringat dingin, suhunya berganti panas ke dingin. Sembari mondar-mandir di lobi mencoba menenangkan diri. Bumi tidak keluar juga dari sana. Semakin lama semakin pucat rautnya.
Kupikir aku akan pingsan.
Satu jam Bumi berada di sana, akhirnya keluar bersama Raka menemuinya yang berada di lobi. Dara langsung berlari mengambil Bumi dari pelukannya. Raka dan Bumi yang tersenyum sepanjang kebersamaan mereka.
“Maafkan aku, aku enggak sengaja,” ucap Dara sangat gugup.
“Enggak apa-apa, Bumi anak yang menyenangkan. Semuanya suka padanya.” ucap Raka menjelaskan. Dara langsung berpamitan pergi.
“Baiklah, kalau begitu aku pergi,” ucap Dara yang merasa ketakutan. Dirinya tidak pernah merasa kekuatir ini memikirkan kebersamaan Raka dan Bumi. Dara belum siap jika Bumi sedekat itu, Dara sangat takut memikirkan hal itu.
***
Ketika Dara melangkah meninggalkannya, Raka berteriak, menanyakan sesuatu yang sudah lama dipendamnya.
“Apa kamu sudah menikah?” teriak Raka. Dara terhenti.
Dara hanya terdiam tanpa jawaban.
“Ya ....” jawab Dara asal.
“Jadi, tolong jangan ganggu kami lagi.” sambung Dara meninggalkannya.
Perasaan Raka hancur mendengar jawaban itu. Begitu juga dengan Dara yang memang harus menjawabnya dengan ucapan kasar dan menyakitkan. Dara hanya ingin hidup tenang bersama Bumi. Sosok yang membuatnya tetap berdiri meskipun ingin menyerah berulang kali.
***
Sebelumya Raka tidak menyukai pagi karena kehangatannya mengingatkan pada Dara. Raka senang karena bisa melupakan Dara ketika tidur di malam hari. Namun, sekarang ketika mengetahui keberadaannya. Raka menjadi membenci malam yang terasa lebih lama dan lambat berganti pagi. Dirinya tersiksa oleh waktu.
Dara sudah menikah dengan orang lain, pantas saja sekarang dirinya berbahagia. Aku sangat cemburu dengan kebahagiaannya itu. Karena Bumi yang membuatku semakin tidak bisa melepaskannya. Malaikat kecil yang sudah membuat senyuman di wajahku.
Teringat kejadian di kantor, Bumi yang langsung naik keatas pangkuan. Duduk didalam dekapan. Tangannya yang mungil, halus dan lembut. Seperti kue nastar yang berada ditengah telapak tangan. Sekecil itu mengapa bisa membuat hati mengembang. Tersenyum senang.
Sepertinya itu adalah pertemuan terakhirku dengan Bumi. Dara terlihat sangat gusar dan tidak nyaman bila Bumi berada di dekat Raka.
***
Malam harinya, Bumi terlihat gelisah ketika tidur. Tubuhnya berkeringat dan memerah. Bumi mengingau mengucapkan sesuatu. Dara terbangun dan memeriksa suhu tubuh Bumi yang meninggi. Bumi mengalami demam tinggi. Semalaman Dara merawatnya agar demam itu segera hilang.
“Lekas sembuh, Bumi,” ucap Dara mengkhawatirkannya. Sembari mengompresnya dengan air hangat.
“Papa … jangan pelgi, main sama Bumi,” raung Bumi ketika mengingau.
Dara terkejut mendengarnya mengingau, memimpikan sosok Ayah. Kesedihannya semakin menjadi-jadi tidak sanggup melihat Bumi yang merindukan Ayahnya.
Bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan.
“Sembuh ya Bumi, nanti kalau sudah sembuh, Bumi akan ketemu Papa,” ucap Dara. Tiba-tiba mata yang berderai airmata itu akibat suhu tingginya, membuat Dara harus menepati janji.
“Mama janji?” tanya Bumi dengan tatapannya yang lemah.
“Iya, sayang … Mama janji,” jawab Dara sembari memberinya kecupan.
Setelah tiga hari mengalami demam tinggi, hingga hari ke lima Bumi baru terlihat lebih ceria seperti sedia kala. Baru kali ini Bumi mengalami sakit yang cukup lama. Belum pernah dirinya sakit demam hingga berhari-hari, biasanya hanya kelelahan dengan tidur keesokan harinya sudah kembali sehat.
Hari itu, Bumi berlari menuruni tangga dari tempat tinggalnya di lantai atas. Mencari Dara yang sedang menyiapkan semuanya sebelum kedai dibuka. Tiba-tiba Bumi memeluk kaki Dara hingga wajahnya menempel pada bokongnya.
“Bumi, Mama sedang sibuk,” ucap Dara mengacuhkannya.
“Mama sudah janji, kalau Bumi sembuh akan ketemu Papa,” ujar Bumi yang mulai merajuk menagih janji.
“Bumi, tidak sekarang, pelanggan kalau hari minggu ramai,” tutur Dara mencoba menjelaskan.
“Mama culang! Mama bohong!” keluh Bumi kesal. Sembari bersidekap dan membalikkan badannya tidak ingin melihat.
“Hmm … baiklah, Mama akan antar kamu, tapi hanya sebentar saja yah,” ucap Dara.
“Oke! Yess … Legoh!” tutur Bumi bersemangat.
“Tenang saja, aku akan menangani semuanya. Biarkan Bumi mendapatkan keinginannya.” ujar Lintang memberi semangat.
***
Pencet Like, Vote, Rate 5, Tambahkan ke favorit kalian dan komen yang banyak ya )