I Don'T Like She

I Don'T Like She
Episode 51 Blok Kopi Bumi



Menatap wajahnya sedekat ini dan menyentuhnya seperti ini seperti mimpi bagiku. Setelah tiga tahun berpisah rasanya mimpi menjadi kenyataan. Aku tidak ingin berpisah lagi dengannya. Raka yang selalu ada di hatiku. Bagaimana mungkin selama ini aku berusaha melupakannya, tetapi tidak bisa. Ternyata, karena perasaan kami


sama saling mencintainya meskipun dengan niatan awal pernikahan yang salah.


Aku terbaring di atas pasir timbul, hanya ada aku dan dirinya. Dikelilingi kebiruan air laut dan pulau-pulau. Jika melihat dari angkasa, tempat ini tampak setitik saja dan menghilang ketika air pasang. Bagaimana bisa ada tempat seindah ini, memandang langit yang kebiruan seperti cermin yang memantulkan lautan.


Senyumku tersipu sejak tadi Raka tidak hentinya memandangiku, aku tidak sanggup menatapnya. Dan juga tidak sanggup menolaknya. Sentuhannya membuaiku melayang ke angkasa. Seperti nyanyian angina semilir yang sejak tadi menemani kemesraan ini.


Raka yang berada di sampingku berbisik, “ Menikahlah denganku, Dara ….” Sembari memasukkan cincin emas putih yang bermata mutiara. Aku terkejut senang dan mengangguk setuju. Aku tidak ingin menunda-nunda lagi perasaan ini.


Aku menciumnya dengan melepaskan semua kerinduan, hingga air pasang menyapa dengan hangatnya. Kicauan burung surga atau Cendrawasih Wilson berciut di atas pasir sambil melangkah kecil seakan memberikan selamat. Burung yang seharusnya berada di hutan Warkesi jauh-jauh terbang kemari sungguh membuatku terpukau.


Hinggap sebentar lalu terbang lagi, menyuarakan kicauan indahnya ke tempat lain.


“Sepertinya aku harus berterima kasih pada Eza yang mentraktirku menginap di sini,” ujarku.


“Terima kasih kembali,” ucap Raka pelan.


“Apa? Jangan-jangan kamu sudah tahu kalau aku dan Bumi akan ke sini?”


“Ehm … Eza cerita kalau kamu mencariku … katanya ada yang kangen sama aku!”


“Huh … geer!” ucap Dara yang berbalik.


Jadi Raka yang sudah mengatur semuanya.


“Mau kemana, aku belum puas memelukmu,”


“Ayo kita harus kembali, kasihan Bumi.”


“Baiklah,”


Suatu hari aku akan kembali lagi ke sini dengan perasaan yang lebih bahagia dari ini. Terima kasih Raja Ampat, tanah Papua memang tanah surga yang dijanjikan,  telah memberiku kenangan manis yang tidak akan terlupakan. Hingga membuatku ingin kembali … dan kembali.


“Dara, Bumi, ayo kita pulang!” ucap Raka.


Mengingatkanku kepada masa lalu, ketika Raka mengajakku pulang di sebuah halte pada malam tersulitku.


“Ayo … kita sudah siap!”


“Legoh!”


***


Dua hari kemudian,


Pagi itu di kedai sangat sibuk karena merayakan ulang tahun ke 3 Bumi. Pesta kecil-kecilan yang dirayakan bersama keluarga. Semua orang datang termasuk Kak Aria dan Ibu, begitu juga Mama dan Papa Santosa. Eza membawakan mainan Bus yang bisa dinaiki Bumi, bunga untukku dan satu lagi untuk Lintang.


Lintang terkejut, baru kali ini ada yang memberinya rangkaian bunga. Untuk pertama kalinya aku melihatnya tersenyum, entah ada apa dengan Eza dan Lintang tetapi aku sangat senang melihatnya. Sedangkan Lena masih saja menolak cinta Didi yang tulus padanya.


Kemeriahan yang sederhana dan dihadiri oleh semua orang membuatku dan terutama Bumi merasa bahagia. Aku tidak ingin merasa sendirian dan kesepian lagi.


Raka merangkulku ketika Bumi meniup lilin, senyumnya melebar. Mama dan Ibu yang mengapit diantaranya mendapatkan suapan pertama dari tangan mungilnya. Hingga membuat mulut Mama dan Ibu belepotan dengan kue itu. Mereka seperti berebutan perhatian Bumi, ingin merasa lebih di sayang olehnya. Sungguh pemandangan yang kekanak-kanakan hingga membuatku dan Raka menggeleng senang.


Setelah acara selesai yang ditutup dengan makan tumpeng bersama, Mama seperti mengenali seseorang yang sejak tadi kurang diperhatikannya. Tiba-tiba Mama mendekatinya dan menepuk bahunya.


“Kamu Didi, adiknya Rangga kan?”


“Eh … tante ada di sini? Maaf tadi Didi enggak perhatiin,”


“Ya ampun Didi, kamu kerja di kedai sambil kuliah?”


“Iya, tante … hehe.”


Semua orang memperhatikan pembicaraan mereka.


“Ini loh Pah, Didi anaknya Pak Menteri, koq rajin sekali kuliah masih nyambi kerja di kedai Dara,” ucap Mama berbisik pada suaminya.


“Anak muda sekarang rajin-rajin yah, Papa salut,”


“Ya sudah salam buat semuanya yah,” ucap Mama berpamitan.


Setelah semua meninggalkan kedai. Lena menghampiri Didi dengan malu-malu.


“Kamu anak menteri?”


“Hmm ….”


“Memangnya ngaruh buat kamu?”


“Iyalah … anak menteri gitu loh, hehehe.”


“Kamu kan maunya sama anak pengusaha,”


“Yaitu kan karena aku kebanyakan nonton drama korea,”


“Oh ….”


“Koq cuma … ‘Oh?’ ….”


“Habis harus ngomong apa?”


“Yaa … aku mau sama kamu?”


Hmm … aku pikir-pikir dulu deh!”


“Ihh … kamu jahat!” Lena kesal.


“Hehehe … becanda koq, berarti kita pacaran nih?”


“Iya … tapi kamu beneran anak menteri kan?” ucap Lena manja.


“Iya,”


“Yesss! Yuhuuu!” sontak Lena girang.


***


“Baiklah, aku pulang ya,” Raka berpamitan.


“Hati-hati!” balas Dara.


“Kenapa kalian tidak menginap di rumahku saja?” teriak Raka sebelum masuk ke mobilnya.


Dara menggeleng.


“Ayolah, aku kangen kalian,”


“Bersabarlah, seminggu lagi kita akan menikah!”


“Baiklah … aku akan bersabar sampai kita resmi menikah,”


Melihat semuanya meninggalkan tempat ini dengan senyuman, rasanya tidak percaya jika semuanya menjadi sempurna. Semuanya bisa berkumpul seperti sekarang, aku sangat menyukainya. Semua keresahan dan rasa sakit di masa lalu telah berganti dengan kebahagiaan. Seperti pepatah mengatakan bersusah-susah dahulu, bersenang-senang kemudian.


“Family time”


Aku mengajak keluargaku untuk berwisata keliling kota dan sekedar makan malam bersama. Belum pernah kami melakukannya. Sesekali aku ingin menyenangkan mereka dengan hasil yang kukumpulkan dari usaha kedai ini. Meskipun belum terwujud keinginanku membawa mereka berlibur ke pulau yang indah. Suatu hari nanti.


Berkumpul seperti ini saja sudah sangat menyenangkan. Melihat Wini, Ibu dan Kak Aria membantu Bumi membuka hadiah-hadiah. Banyak sekali hadiah yang didapatnya. Bagaimana semua itu akan masuk ke dalam ruko kami yang sempit.


Wajah Bumi yang sangat senang membuka lapisan pembungkus itu satu persatu. Ekspresi terpukaunya ketika melihat mainan yang muncul dari sobekan kertas kado. Sungguh sangat menyenangkan! Ternyata benar yang dikatakan Lintang, sesekali memang kita harus merayakan sesuatu agar bisa membuat bahagia.


Menyentuh hati sesekali dengan menebar kegembiraan seperti ini harus dilakukan. Supaya ada kenangan indah yang akan diingat ketika kita sudah dewasa nanti.


“Kenapa senyum-senyum dari tadi, hah.” ucap Dara menyenggol bahu Lintang.


“Hehehe … Eza mengajakku makan malam, aku harus jawab apa?”


“Jawab Iya saja,”


“Kamu yakin?”


“Yakin, Eza sangat baik ….”


“Baiklah!” ucap Lintang sembari ke dalam membalas pesan singkatnya.


Tiba-tiba kedai Kopi Bumi menjadi tempat perjodohan.Tempat di mana semua orang bertemu, berbincang dan melepas kepenatan. Atau sekedar menikmati suguhan kopi untuk menyederhanakan pikiran, angan-angan dan impian. Bagaimana kamu menikmati kopimu?


@BlokKopiBumi


@KedaiKopiBumi


Pencet Like, Vote, Rate 5, Tambahkan ke favorit kalian dan komen yang banyak ya )