I Don'T Like She

I Don'T Like She
Episode 29



Berada dalam apartemen sejak semalam hingga kini belum tidur.


Pernah merasa seperti tergelitik dan menjalar hingga ke rongga dada, awalnya terkesan sepele. Hanya bisa membuatmu tersenyum, kelamaan hatimu mulai terenyuh, tak bisa berpaling meskipun sebentar. Hanya gerakan kecil darinya membuatmu tertawa bahagia. Apalagi, dengan melihat senyumnya, tawanya dan tangisnya.


Memberikan ruang hampa di hati sebuah oksigen yang tidak pernah disadari. Menyeruak seluruhnya terisi. Mulai dari sini virus ‘semua tentangnya’ terekam menyebar melalui pembuluh nadi. Dengan cepat mempengaruhi pikiran yang menjadi-jadi.


Hingga siang ini hanya memutarkan jemari di atas gelas kristal yang berisi red wine yang mengeluarkan bunyi nada tinggi, ‘nyiiiing’. Kuputar-putar entah untuk apa, pikiran ini menerka-nerka hati. Rasa cemburu memikirkan Dara serumah dengannya tanpa cinta namun terikat pernikahan. Ingin rasanya kubawa pergi dirinya, tapi aku takut akan segera kehilangan jika terlalu memaksa.


Aku akan memainkan peran ini dengan baik hingga Raka bisa memutuskan perasaannya untuk Dara atau Shesa. Tetapi, membayangkan hanya berada di tengah persaingan sebagai peran pengganti membuatku sakit. Aku juga menginginkan hatinya, meskipun itu tidak mudah berusaha merebut hatinya.


‘Tertawa hatiku mengingat ekspresi wajahnya yang berubah ketika mendapati aku berada di rumahnya bersama Dara’.


“Raka … Raka, kamu belum berubah sedikitpun. Masih bimbang untuk mendengar hatimu sendiri.”


Bagaimana mungkin aku tidak jatuh cinta padanya. Gadis yang mempesona, sungguh. Belum pernah aku merasa nyaman berada di dekat seorang gadis. Dara sangat lugu dan apa adanya, tidak ada yang dibuat-buat. Pikirannya seperti buku yang terbuka, mudah untuk dibaca. Namun, untuk memilikinya tidak semudah itu. Buku itu sangat berharga karena limited edition, hanya beberapa jumlahnya di dunia ini.


Ingin tahu berapa persentase hatinya untuk Raka dan adakah secuil saja perasaannya untukku. Bolehkah berharap Dara menyukaiku, meskipun sedikit. Aku bisa membuatnya tumbuh dan membesar. Cinta yang bisa dipupuk lalu berkembang.


Hari sudah semakin siang setelah semalaman tidak bisa tidur memikirkannya.


Sampai di restoran, seperti biasa aku melihatnya sudah berada di sana sedang menyusun struk tagihan. Bagaimana aku harus bersikap terhadapmu Dara.


“Selamat siang, Pak,” ucapnya sembari tersenyum.


‘Aku hanya mengacuhkannya seakan tidak pernah mengenalnya’ hanya ingin melihat bagaimana perasaanmu padaku.


***


Di belahan bumi lain, pada waktu yang sama.


Makan siang di The Blue Orchid, Bu Shinta lebih banyak diam tidak seperti biasanya. Mereka sangat kuatir hingga segan untuk menanyakan kabarnya. Sepertinya ada yang memberatkan pikirannya. Mereka menikmati menu kali ini dengan canggung dan tidak enak hati. Tiba-tiba Bu Jihan memegangi mulutnya seakan ingin muntah.


“Bu Jihan kenapa? Apa ada yang salah dengan makanannya?” ucap Bu Mesya kuatir.


Dirinya hanya menggelengkan kepala dan membungkam mulutnya dengan kedua tangan. Bu Jihan segera berdiri dan berlari kecil ke rest room. Semua terperanjat dan mengikutinya ke dalam sana. Bu Jihan memuntahkan semua dalam sekejap.


Bu Shinta keluar dari ruangan itu dan berbicara dengan seorang manager. Dirinya memarahinya dengan cepat karena sudah memasak makanan yang tidak enak, hingga seluruh pelanggan mendengar suaranya.


“Lihat, teman saya sekarang muntah-muntah, restoran ini harus bertanggung jawab. Katanya restoran bersertifikat Michelin … Hah!” ucap Bu Shinta sembari tolak pinggang.


Bu Mesya dan Bu Mika yang sedang membopoh Bu Jihan keluar menjadi kaget ketika manager restoran menanyakan keadaannya.


“Tidak, aku sejak dari rumah tadi memang sudah tidak enak badan,” sergah Bu Jihan.


“Apa? jadi bukan karena makanan di sini tidak enak? …hehe….” Bu Shinta merasa malu.


Lalu, mereka sepakat untuk membawa Bu Jihan ke dokter dengan satu mobil saja. Dalam perjalanan Bu Shinta meluapkan kejengkelannya pada Bu Jihan.


“Bu Jihan bagaimana sih, kalau sakit dari rumah seharusnya bilang sejak awal, aku kan jadi malu di restoran tadi.” ucapnya sembari memperbaiki tatanan rambut dan bajunya yang terangkat.


“Loh … koq Bu Shinta menyalahkan Bu Jihan, Bu Shinta saja yang bereaksi terlalu cepat,” ucap Bu Mika membela.


“Itu kan karena rasa solidaritasku terlalu tinggi Ibu-ibu semuanya,” keluh Bu Shinta membela diri.


“Pak tolong lebih cepat jalannya, wajah Bu Jihan sangat pucat, ayo Pak cepat….” ucap Bu Mesya pada supirnya.


Sesampainya di rumah sakit terdekat Bu Shinta masih saja mengeluh.


“Idih, Pak supir bagaimana sih kenapa membawa kita ke rumah sakit jelek dan enggak bonafit begini … iihh enggak level.” ucap Bu Shinta menyebalkan.


“Maaf Bu, rumah sakit terdekat di sini.” jelas Pak supir.


“Rumah sakit mana saja sama baiknya, yang penting Bu Jihan diperiksa dulu keadaannya.” ucap Bu Mesya menjelaskan.


Kemudian, Pak Supir masuk ke dalam dan meminta seorang perawat membawa kursi roda untuk membawa Bu Jihan. Turut berlari kecil mengikuti perawat itu membawanya. Bu Jihan diperiksa oleh dokter sedangkan kami berada di ruang tunggu, kursi yang berjejer di depan ruangannya.


Sekitar 20 menit Bu Jihan berada di dalam.


Mendadak Bu Mika tertawa kecil yang membuat semua heran.


“Ada apa Bu Mika, ada yang lucu?” ucap Bu Mesya penasaran.


“Enggak Bu, aku tuh geli mengingat kita tadi dari depan sampai kesini dengan berlarian. Enggak disangka kita masih kuat ya Bu….” ucap Bu Mika masih tergelak tawa.


“Hahaha … iya Bu meskipun akhirnya ngos-ngosan rasanya!” ucap Bu Shinta.


“Semenjak kita sering bertemu makan siang, aku jadi jarang ikut klub tenis. Rasanya pertemuan rutin kita lebih melelahkan ketimbang main tenis, hehehe….” ucap Mesya tertawa.


“Hahaha….” Bu Mika ikut tertawa dan mengangguk-angguk.


“Jadi, Bu Mesya menyesal karena kita sering kumpul….” ucap Bu Shinta tersinggung.


“Bukan Bu, bukan, aku hanya lucu saja….”


“Apa kata dokter?” ucap Bu Mika pelan.


Bu Jihan terdiam dan membuka hasil tes yang ada di tangannya. Mata kami semua melotot pada kertas itu yang bertuliskan. “Positif”


“Hamil!” teriak mereka berbarengan.


Sontak semua girang dan berlompatan, lupa jika usia mereka sudah tidak muda lagi. Sembari memberikan selamat padanya atas kehamilan yang sudah ditunggu-tunggu.


“Ibu-ibu aku punya ide, bagaimana kalau pertemuan makan siang kita sekarang di mall saja sekalian antar Bu Jihan berbelanja baju bayi,” ucapku kegirangan.


“Aduh Bu Mesya ini kurang berpengalaman deh, pamali dong bayinya belum 7 bulan,” ucap Bu Shinta yang berbicara seperti orang tua.


“Hmm … Bu Shinta selalu membuat kegembiraan menjadi awan hitam yang membawa perasaan mendung buat setiap orang yang mendengarnya.” ucap Bu Mesya mendadak puitis.


Sontak semuanya tertawa terbahak-bahak.


“Ayo Bu aku mau berbelanja baju bayi, tapi mungkin lihat-lihat dulu saja hingga tahu bayi ini laki-laki atau perempuan,” Bu Jihan yang mengelus perutnya lembut.


“Iya, aku juga mau buat pengalaman kalau mantuku hamil dari pulang berbulan madunya … hihihi” Bu Mesya yang membayangkan Dara membawa kabar baik.


“Oiya, mereka sedang berbulan madu ke Semarang ya Bu Mesya,” ucap Bu Mika.


“Loh, koq bulan madu di situ-situ aja sih Bu. Ke Eropa kek, ke Amerika kek … yang lain dong Bu,” ucap Bu Shinta.


“Tuh kan … bawaannya mendung! Hahaha….” ucap Bu Jihan yang tiba-tiba menyela.


“Hahaha,” semua tertawa Bu Jihan sudah berani menyela.


***


Mereka pulang kerumah masing-masing dan entah kenapa kejadian hari ini membuat semuanya ingin tersenyum terus. Mungkin kabar baik Bu Jihan yang sedang hamil membuat mereka ikut bersemangat.


“Loh Mama dari mana saja sih baru pulang semalam ini,” ucap Papa.


“Maaf Pah, Mama tadi antar Bu Jihan kerumah sakit,” ucapnya.


“Bu Jihan sakit?”


“Enggak, ternyata Bu Jihan sedang hamil muda….”


“Oh, syukurlah kalau begitu Papa mau kasih selamat ke Pak Revan,” sembari mengambil ponselnya.


“Eh, jangan Pah. Bu Jihan mau kasih kejutan untuk suaminya. Nanti saja Papa kasih selamatnya,”


“Oh begitu, jadi Pak Revan belum tahu. Ya sudah besok saja di kantor.”


“Oiya Pah, Dara kapan hamil yah,”


“Hehehe….”


“koq Papa ketawa begitu….”


“Habis Mama itu lucu, latahan … kalau ada yang menikah, anak kita disuruh menikah, ada yang hamil disuruh hamil.”


“Memangnya Papa enggak mau nimang cucu?”


“Mau dong, Papa kan sudah tua, kesepian juga rumah sebesar ini. Bayangin kalau cucu kita banyak bisa rame rumah ini.”


“Iya, ya Pah, semoga saja sepulang berbulan madu Dara langsung hamil,”


“Aamiin, Papa doakan Mah.”


“Mama mau telepon mereka ah, mau tanya kabar….”


Tiba-tiba Papa memeluk Mama erat hingga tidak bisa bergerak.


“Pah apa-apaan sih ini … Mama mau telepon Raka,”


“Jangan pergi Mah, sudah jangan ganggu mereka, Papa juga butuh Mama sekarang. Akhir-akhir  ini Mama selalu sibuk dengan Dara dan Raka. Papa kan juga butuh perhatian.” ucap Papa manja.


Bu Mesya memandang suaminya itu dan tertawa geli melihatnya. Namun Bu Mesya juga menyadari jika memang akhir-akhir ini dirinya sangat sibuk hingga tidak memperhatikan kebutuhan suaminya. Lalu, Bu Mesya mulai mendengarkan suaminya dan mereka berbincang-bincang dan saling meluangkan waktu bersama.


Merencanakan pergi liburan dan keinginan-keinginan bersama. Saling berkompromi tentang rencana masing-masing dan mencoba untuk mewujudkannya.


Meskipun mereka sudah tidak muda lagi, justru hubungan ini semakin kuat dan hangat. Tidak ada keharmonisan tanpa usaha, melainkan selalu dipupuk setiap detik, setiap waktu. Meskipun kadang terlewati, berjanjilah menebusnya di waktu lain sebelum terlewatkan sia-sia.


Begitulah cinta di sepanjang usia.


***


Lanjut enggak nih?