
Terdengar suara kegaduhan diluar pekarangan rumah, seperti ada yang bertengkar hebat mengenai sesuatu. Semua tamu teralihkan fokusnya kearah pertikaian itu.
“Aku bosan Mah dirumah saja, kenapa aku tidak boleh datang ke pesta pernikahan teman Mama. Lagipula Cinta juga datang, aku bisa
mengobrol dengannya.” Claudia yang merasa marah karena tidak boleh masuk kedalam pesta itu.
“Jangan mempermalukan Mama … Claudi, kamu seharusnya sudah pulang kerumah menemui suamimu.” Bu Santi yang berusaha menekan suaranya agar tidak menjadi pusat perhatian.
“Oh … aku tahu. Mama hanya malu dan takut semua orang bertanya, dimana suamiku yang mata keranjang itu. Iya kan?!” Claudia yang sudah tidak tahan lagi dengan perasaannya yang tertekan.
“CLAUDIA! Kau sangat keterlaluan!” Bu Santi yang semakin marah dan menarik lengannya untuk mengajaknya pulang.
“Lepaskan Mah, aku bukan anak kecil lagi. Jangan mengaturku seenaknya!” sembari menepis lengannya dari jeratan.
Bu Santi hanya bisa terdiam dalam pendiriannya yang sedang menahan emosi. Dirinya tidak tahan dengan Claudia yang sulit untuk memahami keinginannya. Wajahnya memerah padam, mungkin sesaat lagi jika tidak dipadamkan akan keluar api dari bola matanya. Sedangkan Claudia dengan santai tetap memasuki ruangan pesta itu dan menyapa teman-temannya seakan tidak ada yang terjadi.
Datang Bu Jihan dan Bu Mika yang meraihnya agar menenangkan diri. Mereka membawanya ke pekarangan belakangan yang tidak begitu ramai. Bu Santi masih menegang dengan napasnya yang memburu penuh amarah. Sedangkan teman-temannya berusaha untuk membuatnya duduk dan memberikan segelas minuman dingin.
“Tenang Bu … diminum dulu, Bu Jihan membawakan segelas limun dingin” sahut Bu Mika.
Bu Jihan menyodorkan segelas limun ketangannya yang terlihat gemetaran.
Airmata berderai perlahan setelah minuman dingin itu masuk sedikit demi sedikit kedalam tenggorokannya. Entah apa yang membuatnya begitu emosional. Bu Shinta perlahan merobohkan pertahanannya yang sudah tidak mungkin disembunyikan. Lalu, pecahlah tangisan itu yang membuat kedua temannya tidak percaya.
“Aku malu Bu … aku malu. Apa kata orang tadi, semuanya tahu jika pernikahan anak perempuanku berada diujung tanduk,” airmatanya semakin deras mengalir.
“Apa? Ke-kenapa itu bisa….” Spontan Bu Mika.
“Aku tidak tahu, kupikir pernikahan mereka baik-baik saja. Namun, sudah beberapa hari ini Claudia tidak mau pulang dan yang paling
membuatku kesal suaminya tidak mencarinya. Bukannya itu pertanda tidak baik.” Bu Shinta yang semakin terlihat menangis seperti anak kecil.
“Sudah Bu jangan nangis lagi … kalau Bu Shinta sedih, aku jadi sedih juga….” Bu Jihan yang akhirnya ikut menangis.
“Loh … ini kenapa jadi nangis semua. Sudah, sudah Bu. Saya yakin mereka akan menyelesaikan masalahnya dengan baik. Mungkin mereka butuh waktu saja. Perasaan cinta itu tidak mungkin akan sirna secepat itu.” sembari mengelus bahu Bu Shinta agar segera tenang.
Setelah mendengar ucapannya, Bu Shinta segera menghapus airmata yang menodai wajahnya dengan brutal. Menegakkan bahunya dan memandang ke taman belakang dan berkata.
“Setelah ini aku mau complain!” sahutnya.
“Komplen? Sama siapa?”
“Aku mau complain sama make artis langgananku itu, kenapa make up semahal ini tidak tahan lama. Seharusnya, hanya karena airmata tidakbisa hilang dong! Bikin malu saja, sudah harganya 20 juta sekali pakai, sebel aku.” sembari mengeluarkan cermin rias dari tas pestanya dan mulai berkaca.
Kedua temannya saling memandang seakan tidak percaya.
“Ya ampun kupikir mau komplen apa … ternyata gara-gara make up! Hahaha….” Bu Mika tertawa lepas.
“Iya nih Bu Shinta bikin kaget saja … kupikir karena minuman yang kubawa tidak enak … hihihi.” Sahut Bu Jihan.
Mereka tertawa lepas bersama, seakan tidak ada yang terjadi.
Setelah itu mereka tetap melanjutkan pesta hingga selesai. Mereka bersenang-senang dan ikut merasa gembira atas kebahagiaan teman
mereka Bu Mesya. Terlihat keduanya sangat bahagia atas pernikahan putera satu-satunya yang terlihat sangat tampan dan serasi dengan pasangannya.
***
Malam itu pesta dikediaman orangtua Raka mulai sepi daripada tamu undangan dan sanak saudara. Hanya tersisa para pegawai katring, penghias tenda dan buffet bunga yang sedang membereskan semuanya. Di dalam kamarnya menemukan Raka sedang asyik berbincang ditelepon dengan seseorang. Sedangkan aku terpaku menunggunya didepan pintu yang sedikit terbuka.
Kenapa tidak berani masuk, sedangkan aku sudah sah menjadi istrinya. Semua keperluan untuk mengganti pakaian ada didalam. Ada perasaan enggan dan sungkan jika harus seruangan dengannya. Meskipun aku sudah menjadi istrinya kenapa aku merasa sangat sedih. Raka seakan menjauh dariku semenjak bertemu dengannya.
Benarkah ini rasa cemburu atau bukan aku tidak tahu.
Ada perasaan sakit dan mengilu didalam sini. Di hatiku, melihat cara memandangnya terhadap wanita itu. Tentu saja aku tidak sebanding dengannya, Shesa adalah wanita yang cantik dan anggun. Aku yakin Raka masih menyimpan perasaan padanya begitu juga sebaliknya. Tetapi, kenapa Raka lebih memilihku dibanding dengannya. Perasaan ini tidak bisa memungkiri ada perasaan suka padanya.
Di hari pernikahanku bukannya merasa senang justru sedih. Ibu dan adik hanya sebentar menghadiri, mencicipi makanan saja belum. Aku
semakin merasa tidak diinginkan dirumah ini. Apakah sebaiknya aku pergi saja dan membiarkan Raka kembali padanya. Aku sadar aku tidak pantas untuknya. Dia terlalu sempurna untukku.
“Ini terlalu sakit untuk dibayangkan.”
“Dara, apa yang kamu lakukan disini sendirian? Raka mana….” Sembari melihat kedalam pintu kamar yang terbuka sedikit.
“A-ada didalam Mah sedang menelepon penting.” sahutku spontan menjawab.
“Oh … kedalam tidak menunggu didalam saja, kalian kan sudah menjadi suami istri.”
“Tidak Mah … aku tunggu Raka keluar saja.”
“Loh koq begitu, ayo masuk Mama antar … Raka ini istrimu dari tadi menunggumu.”
Raka menyudahi pembicaraanya.
“Ehem … hmm, loh aku tidak tahu kalau Dara sejak tadi diluar.”
“Bagaimana sih kamu.” sahut Mama memberikan pandangan kecewa.
“Oh iya Dara, Mama mau bicara sebentar,”
“Ada apa Mah?”
“Begini … Ibu dan adikmu apa sudah pulang? Koq Mama tidak lihat yah. Apa ada sesuatu yang menyinggung perasaan keluargamu?”
“Tidak mah, tidak ada. Ibu tadi harus segera pulang karena merasa kurang enak badan saja he….”
“Oh … begitu yah. Baiklah mungkin kapan-kapan Mama akan berkunjung kerumah Ibumu, kamu mau kan antar Mama kesana?”
“I-iya Mah, nanti Dara antar he….”
“Ya sudah kalau begitu … kalian mandi dan ganti baju setelah itu turun kebawah yah, Papamu mau bicara sebentar.”
“Iya Mah.” sahut kami berdua.
Mama menutup pintu itu dengan rapat.
Aku duduk diatas ranjangnya dan Raka yang menyandar dirak bukunya. Kami sangat canggung dan hampir tidak berkata apa-apa. Situasi ini sangat berbeda ketika kami bukan pasangan yang menikah. Kami lebih natural dan santai. Tetapi kenapa semuanya berubah menjadi aneh begini.
“Apa kamu mau mandi duluan?” sahutnya
“A-ah kamu saja duluan, aku akan kebawah untuk … makan, yah aku kelaparan sejak tadi.” Sahutku yang segera pergi dari sana.
Segera menutup pintu itu dan meninggalkannya disana sendirian. Hatiku sangat deg-degan jika berada didekatnya.
***
Setengah jam kemudian, Kupikir sudah lama sekali dia didalam, pasti sudah selesai. Panggil namanya untuk memastikan tidak ada orang didalam.
“Raka … kamu ada didalam?” aman.
Tidak ada balasan. Kamar ini sangat luas, ini lebih besar dari ruang tamu dan dapur dikampungku yang tentu saja jika disatukan. Aku mengetuk kamar mandi untuk memastikan sekali lagi.
“Kau didalam?” aman.
Aku akan mandi sekarang. Sebaiknya biar lebih aman akan kukunci kamar ini dari dalam. “Ya, benar begitu”.
Ketika keran air dinyalakan terasa dingin membasahi kepala hingga menyelusuri seluruh permukaan tubuh. Ada perasaan dingin yang menyayat tiba-tiba, aku menggigil dan semakin membuatku nelangsa. Aku kesepian dan sedih teringat sangat sepi dipesta pernikahan ini. Tidak ada keluarga yang hingga kini menemani, aku ingin pulang saja rasanya. Meskipun rumah itu reot, berdebu dan bau bocoran bekas hujan, aku tetap merindukan pulang.
Tetesan airmata mulai menyatu dengan derasnya air dingin ini. Rasa hangatnya yang membedakannya. Sesegukan didalam ruang yang lebih besar daripada kamar kos-an. Semakin kencang aku menangis, tidak peduli lagi karena hanya ada diri sendiri disini. Tidak ada yang akan mendengarku menangis.
"Bapak ... Bapak...."
'Kenapa meninggalkanku secepat itu'
Hingga akhirnya aku tersungkur dalam keletihan hati. Tidak bisa merasakan apa-apa. Mati rasa.
***
Raka keluar dari ruang wardrobe nya dan mendapati sebuah tubuh telah tergeletak dibawah. Terlihat dari kaca transparan kamar mandi itu. Segera membuka pintu itu dan melihat Dara tidak sadarkan diri dengan shower yang menyala. Mencoba membangunkannya, tetapi tanpa respon. Raka membalutnya dengan sehelai handuk, menutupinya dan membawanya keatas ranjang. Menyelimutinya agar tubuhnya hangat.
"Jangan sakit Dara, kumohon."
"Jika kamu sakit, aku akan sedih," ucap Raka sembari menyelimutinya.