I Don'T Like She

I Don'T Like She
Episode 39



Hari Minggu, Raka datang kerumah orangtuanya. Sudah lama semenjak bercerai dengan Dara, Raka jarang menginjakkan kaki dirumah itu. Membawa bufet bunga lili kesukaan Ibunya. Ayahnya terkejut dan merasa senang dengan kedatangannya kerumah ini. Menyambutnya dengan pelukan dan tepukan dibahu. Sembari tersenyum


dan tertawa lebar, mengajaknya masuk ke dalam rumah.


“Raka, koq kamu datang enggak bilang-bilang, Mama belum menyiapkan apa-apa,” ucap Bu Mesya menyesal tidak membuat sesuatu untuk menyambutnya.


“Raka cuma sebentar, Mah. Mama koq sudah cantik mau kemana?” tanya Raka penasaran.


“Mama, mau ke supermarket, cuma lihat kelakukan Papamu dari tadi mager. Enggak berangkat-berangkat, jengkel Mama,”


Pak Santosa hanya terkekeh kecil sembari menikmati seduhan kopi panas dan membaca majalah inspiratfinya.


“Diantar Raka, mau?” tanya Raka menawarkan diri.


“Beneran? Ayo Raka!” ucap Mama bersemangat.


***


Sesampainya di supermarket, Bu Mesya merangkul lengan Raka sejak tadi. Sedangkan Raka mendorong troli besar. Semua orang sejak tadi melihat aksi mesra mereka. Terheran-heran, bertanya dalam hatinya, apakah mereka pasangan suami istri atau Ibu dan anak.


“Heran dari tadi koq semua orang melihat kearah kita terus sih, apa ada yang aneh di wajah Mama?” tanya Mama sembari memperlihatkan wajahnya.


Raka terkekeh lucu melihat tingkah Ibunya.


“Mungkin mereka iri, melihat wajah Mama yang awet muda, hehe.” sanjung Raka. Senyum Mama mengembang mendengar pujiannya.


Tiba-tiba Raka melihat seorang anak kecil yang berlarian sangat lucu yang melewatinya dan hilang diantara gang-gang rak itu. Raka penasaran karena seperti pernah melihat anak itu.


“Raka, Mama kearah sana yah, cari ikan segar untuk Papamu” ucap Mama. Raka seakan terbius dan tidak menggubris ucapan Mama, hanya mengangguk-angguk. Namun, perhatiannya pada sosok anak kecil yang menghilang tadi.


Mencari di antara rak-rak makanan dan minuman, terdengar sesekali suara riang itu dari sudut yang tidak terlihat. Bahkan teriakannya menuntun Raka mencari keberadaannya. Melewati rak demi rak, akhirnya di kejauhan terlihat anak kecil itu sedang asyik duduk di lantai berusaha mengumpulkan gula-gula kapas yang tidak muat digenggam tangannya yang kecil.


Langkah Raka mendekatinya untuk membantu anak kecil itu mengambil semua yang diinginkannya. Tiba-tiba seseorang datang dari balik rak sebelah utara yang membuat Raka sangat terkejut. Jantungnya mendadak berhenti dan mulai berdebar dengan cepat seperti berada dalam balapan.


“Bumi, Mama cari-cari ternyata di sini,”


“Banyak sekali, gula kapasnya. Ayo kembalikan,”


Bumi memeluk semua gula kapas yang diinginkannya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Bumi mau semua gula-gula kapas yang berhasil dikumpulkannya itu.


“Bumi, nanti gigimu sakit lagi,” protes Dara.


“Gusi Bumi udah cembuh ko,” jawabnya sembari merengut.


Wanita itu membelai rambut Bumi sembari tersenyum. “Baiklah, ayo bayar dulu,” ucap Dara.


***


Langkahnya benar-benar berat, bahkan lidahnya kelu tidak bisa berucap apa-apa. Ketika melihat sosok yang selama ini dicintainya ada didepan mata. Hingga Dara dan Bumi menghilang dari pandangannya, Raka tersadar untuk mengejarnya. Berlari kearah lorong-lorong, ke kasir, namun mereka tidak ditemukan. Bahkan, Rakan berlari


ke tempat parkir, hasilnya nihil.


Bodoh! Kenapa aku sangat gugup hanya melihatnya.


Setelah mengantar Mama pulang, Raka juga pamitan untuk beristirahat. Hatinya masih terguncang, kerinduan bertahun-tahun yang tertahan. Ingin rasanya memanggil namanya dan sekedar menanyakan kabarnya. Apakah Dara masih ingat Padaku?


Raka menghubungi Eza, meminta tolong untuk melakukan sesuatu.


Keesokan harinya, setelah dari restoran miliknya di pusat kota. Eza mampir ke sebuah kedai Kopi Bumi sesuai dengan permintaan Raka padanya. Memastikan sesuatu jika Dara bekerja di sana. Raka hanya ingin mengetahui kehidupannya yang sekarang, hatinya merasa lega jika Dara baik-baik saja. Bahkan, Raka tidak ingin mengganggunya menjalani kehidupan yang baru.


“Aku sudah di depan kedainya, nanti aku kabarin yah,” ucap Eza menghubungi Raka.


“Wow, kamu kuat sekali,” sanjung Eza takjub. Lintang mengacuhkannya. Bumi masuk, berlarian ke dalam kedai dan memencet mesin air itu hingga airnya berceceran ke lantai. Tiba-tiba Lintang yang melewatinya terpeleset hingga terjerembab. Untung saja Eza berhasil menangkap tubuhnya yang hampir terpelanting keras.


“Kamu tidak apa-apa?” tanya Eza khawatir.


Lintang hanya memandang wajah Eza yang sangat dekat dengannya. Tubuh Lintang berada dalam pelukannya.


“Deg … deg … deg”


Baru kali ini Lintang merasakan debaran di hatinya.


“Aku tidak apa-apa,”


“Bumi, apa yang kamu lakukan!” ucap Dara yang terkejut melihat semua air dan peristiwa naas itu. Dara semakin terkejut ketika melihat sosok yang dikenalnya di masa lalu.


Eza


“Hai,” ucapnya tersenyum.


***


Lintang membereskan kekacauan yang dibuat Bumi, sedangkan Dara duduk menemani Eza dengan kopi yang sedang diseruputnya. Eza terkekeh geli melihat Bumi yang berada di sudut ruangan, dengan kaki satu diangkat dan tangan kanan yang berusaha meraih telinga di sebelah kirinya. Rautnya merana, cemberut, justru membuat seisi kedai tertawa geli.


Imut sekali anak itu.


“Apa kabar, Dara?” tanya Eza yang masih berbinar melihatnya.


“Baik, semuanya lebih baik,” ucap Dara yang senang melihat Eza.


Hening


“Darimana tahu tempat ini?” tanya Dara penasaran. Eza berusaha mengalihkan pembicaraan.


“Jadi selama ini kamu kemana? Aku pulang dari London, kupikir kalian hidup bahagia.” Gerutu Eza.


“Hehe … aku hanya akan mengingat hari ini, “ celoteh Dara. Tidak banyak yang ingin dikatakannya mengenai masa lalu. Mungkin terlalu berat untuk mengenangnya, apalagi membicarakannya.


Lalu, mereka membicarakan soal kedai dan restoran mewah yang sedang dibangunnya. Setelah satu jam pertemuan itu, Eza harus kembali menemui rekan bisnisnya.


“Baiklah, sampai jumpa Dara,” ujar Eza berpamitan.


“Eza … tolong jangan bilang-bilang pada siapapun kalau aku di sini,” ucap Dara memohon.


Eza melihat Dara, memasukkan tangannya ke dalam kantung celananya, sembari memberikan raut misterius.


“Lalu, kapan kamu akan mengatakan soal, Bumi?”


Apa


Dara terkejut. Darimana Eza mengetahui jika Bumi adalah anaknya.


“Eza, aku mohon … jangan!” Dara memohon dengan sangat.


“Aku enggak akan kasih tahu siapa-siapa, karena kamu sendiri yang harus memberitahukan kebenarannya. Dia berhak tahu!” tutur Eza sembari meninggalkan Dara.


***


Setelah kepergiannya Dara memikirkan ucapan Eza. Sebenarnya Dara tidak bermaksud untuk menutupi kebenarannya dari Raka, namun situasinya dahulu yang membuatnya enggan. Dara hanya ingin hidup tenang dan fokus hanya pada Bumi, demi kebahagiaannya. Namun, sejak mendengar ucapan itu ada pikiran yang membuatnya merasa bersalah.


Pencet Like, Vote, Rate 5, tambahkan ke favorit dan komen yang banyak ya )