I Don'T Like She

I Don'T Like She
Episode 52 Cinta Sejati Tanpa Ambisi



Bu Mesya, Bu Jihan dan Bu Shinta mendatangi kediaman Bu Mika. Untuk merayakan kepulangan Cinta dari rumah sakit. Hanya sarapan bersama dan berdoa bersama keluarga agar kesehatan Cinta dan janin dalam kandungannya sehat dan selamat.


“Cinta untuk sementara akan tinggal di sini sampai benar-benar kuat janinnya,” ucap Bu Mika.


“Syukurlah Bu, masa-masa itu sudah lewat ya,” seru Bu Mesya.


“Lalu, kapan nih kita kumpul-kumpul lagi di Blue Orchid, kangen nih sudah lama enggak ke sana … hihihi ….” Timpal Bu Shinta sembari melahap nasi kuning dan ayam goreng dalam satu suapan besar.


“Iya, kangen suasananya di sana itu, enak banget. Beda dengan di rumah, sumpek!” keluh Bu Jihan.


“Hahaha … Bu Jihan sudah mulai enggak kerasan jadi ibu rumah tangga yah?” sindir Bu Mika.


“Sesekali butuh refreshing ibu-ibu, jalan-jalan dan nongki-nongki cantik, begitu ….” Balas Bu Jihan sembari menggigit mentimun dengan sambal diatasnya.


“Ya sudah nanti siang bagaimana kita ke sana yuk, sekalian habis ini antar aku ke mall dulu. Mau beli baju buat cucuku!” ujar Bu Mesya keceplosan.


“Cucuku? … cucu yang mana Bu Mesya?” tanya serempak dengan kompak.


“Hihihi … sebenarnya ini rahasia, tapi karena aku sangat bahagia, jadi enggak apa-apa ya aku bocorin di sini,”


Semuanya berhenti fokus dengan sarapan tumpeng komplit di piring masing-masing. Memasang kuping dengan performa tinggi.


“Anak yang pernah aku ceritakan itu, hasil DNA-nya 100% anak Raka.”


“Wooww … ini berita edun!” ucap Bu Jihan.


“Iya … dan mereka akan rujuk, minggu depan akan menikah.”


“Kami diundang kan Bu Mesya?” seru semuanya.


“Jelas dong, kita kan sudah seperti saudara.”


“Aduuhh … aku harus cari langganan make up artis yang lain, kemarin enggak bagus sama sekali!” ujar Bu Shinta. Mengundang gelak tawa semuanya.


***


Setelah selesai berbelanja banyak kebutuhan untuk Bumi, dari baju, sepatu, tas sekolah, semuanya diborong Bu Mesya. Akhirnya tiba mereka di restoran favorit, The Blue Orchid yang semakin ramai saja dengan pelanggan.


“Aduh Bu, koq tempat kita ditempatin yah,” ujar Bu Jihan kecewa.


“Iya, padahal kan itu tempat yang paling nyaman,” keluh Bu Shinta


“Aku lupa untuk reservasi dulu, Ibu-ibu … maaf yah!” ucap Bu Mesya.


“Ya sudah enggak apa-apa kita duduk saja yang sudah di atur, besok-besok kita akan pesan di sana lagi.” Timpal Bu Mika.


Lalu, mereka duduk di tempat yang agak ramai dengan anak muda, sedikit bising dan kurang nyaman dengan becandaannya.


“Anak muda jaman sekarang heboh-heboh yah?” ujar Bu Jihan kesal.


“Aduh Bu Jihan sudah lupa bagaimana jadi muda … hehe, sama kali dulu heboh juga!” sindir Bu Shinta.


“Masa sih Bu, aku seperti itu?”


“Memangnya yang suka warnain rambut tiga warna, pakai pakaian seksi dan anting gede-gede, dari ujung pintu masuk restoran teriak-teriak heboh siapa?” Bu Shinta mencoba menggali ingatan Bu Jihan.


Bu Jihan tiba-tiba teringat semuanya dan mulai tertawa geli.


“Jadi malu aku!” Bu Jihan tersipu malu. Membuat semuanya tertawa geli.


“Oiya Bu Mesya, ceritain dong … dari awal Raka dan Dara akhirnya akan berencana rujuk?”


“Iya Bu, saya juga penasaran!”


Ketika Bu Mesya menceritakan semuanya dari awal, ada seseorang yang berada di meja yang berisi anak-anak muda mendengarkan cerita itu. Seseorang itu adalah Vina teman baik Shesa, yang sempat dijodohkan dengan Raka. Vina yang pernah meminta Shesa untuk membuat Raka jatuh cinta dan mempermainkan perasaannya.


“She, aku dengar Raka dan Dara akan rujuk, apa kamu sudah tahu?” pesan singkat Vina pada Shesa.


Seketika Shesa merasa geram membaca pesan itu. Hingga langsung menemui Raka di kantornya.


***


“Pak Raka, ada Nona Shesa ingin bertemu,” ucap sekretaris menelepon dari ruangannya.


“Aku sedang sibuk, sebentar lagi meeting,”


“Pak, Nona Shesa memaksa dan akan berbicara dari sini jika Pak Raka menolak menemuinya.”


“Suruh masuk!”


Raka menggaruk keningnya seakan kehadirannya sangat mengganggu.


“Beri aku kesempatan untuk bicara,” ujar Shesa.


“Silahkan duduk,”


“Biarkan aku bertanya untuk sekali ini saja, tolong jawab yang jujur Raka. Apakah kamu pernah benar-benar mencintaiku?” Shesa menatap matanya menanti jawaban.


Raka mencondongkan tubuhnya ke depan sembari menyatukan kedua tangannya. Kepala yang tadinya merunduk mulai menatap kearah wanita yang menunggu jawaban darinya.


“Aku pernah mencintaimu Shesa dan aku pernah benar-benar terpuruk karena mencintaimu,”


Shesa menutup mulutnya dan ingin menangis mendengar jawabannya. Shesa menyesal telah mengecewakan seseorang seperti Raka.


“Jujur, ketika kita berkenalan pertama kali … aku belum memiliki perasaan padamu. Lalu, melihat ketulusanmu akhirnya aku mulai menyukaimu. Jika saja waktu malam itu kamu tidak melihatku bersama dengan Vina, mungkin ceritanya akan berbeda. Aku memiliki rencana untuk membujuk Vina agar aku bisa keluar dari permainannya.


Karena aku sudah mulai mencintaimu.”


“Kenapa kamu baru mengatakannya sekarang Shesa, ini sudah terlambat!”


“Ya … aku tahu ini sudah sangat terlambat.”


“Aku datang kesini bukan untuk memintamu tinggal dihatiku, aku hanya ingin merelakanmu pergi dari hatiku,”


“Shesa ….”


“Ya … aku sudah tahu kabar itu, jika kalian mau rujuk dan sudah ada Bumi, ya kan?”


“Iya … ternyata aku sudah memiliki anak, Shesa.” Sembari tersenyum bahagia.


“Apa kamu benar-benar mencintai Dara atau karena sudah ada anak itu?”


“Aku mencintainya dan semakin mencintainya karena ada Bumi.”


“Baiklah, mulai sekarang, aku akan belajar untuk mencintai seseorang dengan tulus sepertimu,” Shesa berdiri hendak meninggalkannya.


“Raka, bolehkah aku memelukmu untuk terakhir kalinya?”


Raka memeluknya.


“Tolong katakan pada Dara, kalau aku yang memutuskanmu agar aku tidak kehilangan muka,” ucap Shesa berbisik.


“Hehe … baiklah aku akan melakukannya jika Dara bertanya.”


Tiba-tiba, seseorang masuk dari celah pintu yang tidak tertutup. Dara dan Bumi melihat mereka sedang berpelukan.


Dara terkejut melihat pemandangan itu. Langkahnya membeku tidak bisa bergerak.


“Dara!” ucap Raka mengelu.


Shesa juga terkejut melihatnya. Hingga Dara ingin melangkah pergi.


“Dara tunggu!” ucap Shesa menahannya.


“Biar aku jelaskan, Raka!”


Wajah Raka sudah ketakutan jika Dara akan salah paham dan meninggalkannya.


“Dara, aku kesini hanya untuk mengucapkan selamat atas rencana kalian berdua untuk rujuk. Aku ingin kamu memaafkan atas kekonyolan yang pernah kulakukan. Kamu mau kan maafkan aku?” ujar Shesa tulus.


Dara mengangguk-anggukkan kepala sembari tersenyum.


Shesa memeluk Dara dengan erat.


“Terima kasih Dara, akhirnya aku bisa merasa lega,”


Lalu, Shesa berpamitan dan tersenyum pada Bumi sebelum meninggalkan ruangan.


Raka memeluk Dara dari belakang seakan ingin memuaskan kelegaannya, ketakutannya yang sekilas atas kejadian tadi. Raka tidak ingin Dara merasa marah dan cemburu.


“Apa kamu memaafkanku?” ucap Raka berbisik.


“Memangnya kamu salah apa?”


“Kamu enggak cemburu aku memeluk wanita lain?”


“Hmm … sedikit!”


“Hanya sedikit?”


“Yaa … begitulah,” ujar Dara menggoda Raka.


Lalu, mereka mentertawakan kejadian barusan.


“Hai, jagoan Papa … kamu kesini mau apa? Koq enggak bilang-bilang?”


“Mama kangen tuh sama Papa,” ujar Bumi sembari memainkan robot di tangannya.


“Benarkah Mama Dara kangen sama Papa?”


Dara menggeleng-geleng.


“Mama bohong, Pah … tadi malam saja foto Papa dilihatin telus ….”


Aku tidak suka jika Bumi memihak Papanya seperti itu. Membocorkan rahasia.


Raka yang semakin senang mendengar cerita Bumi.


“Terus Bumi, ceritain Mama?”


Dan Bumi terus saja menceritakan soal Dara. Membuat Dara tersipu malu.


***


Pencet Like, Vote, Rate 5, Tambahkan ke favorit kalian dan komen yang banyak ya )