I Don'T Like She

I Don'T Like She
Episode 27



Dua hari tersibuknya, Raka seperti tidak mau melewatkan sedikitpun untuk mewujudkan keinginannya memperbaiki iklim pariwisata di Candi Songo. Belum pernah aku melihatnya seserius ini, mungkin karena aku tidak pernah melihatnya di kantor. Jika di rumah dirinya hanya menatap laptop dan sesekali menelepon.


Ternyata ada sisinya yang sangat kusukai, jika sudah menginginkan sesuatu akan diraihnya apapun yang menjadi penghalang. Raka sangat sibuk menemui seseorang di pemerintahan daerah dan membuat proposal sementara sebagai bagian dari ide awal. Meskipun itu belum final, tetapi ada harapan jika akan diterima dengan baik.


Hari terakhir di Semarang. Eza sudah pulang kemarin sore karena harus ke Jakarta mengurus bisnisnya. Aku sedang menyiapkan isi koper dan bersiap-siap agar tidak ada yang tertinggal. Raka kembali dari kota dan terlihat cukup lelah. Aku melihat sendiri kegigihannya beberapa hari ini hingga jarang tidur.


“Kamu mau minuman hangat? Kebetulan air panasnya sudah matang.” ucapku menawarkan.


“Apa kamu bisa membuat segelas teh susu hangat,” tanyanya sembari melonggarkan dasi.


“Hanya itu? Aku biasa melayani pelanggan di tempat karao….” tiba-tiba teringat kebiasaanku di tempat karaoke yang menyiapkan minuman untuk pelanggan.


‘Aku tidak meneruskan kalimat itu’


“Kenapa tidak diteruskan? … apa saja yang bisa kamu lakukan, Dara?” ucap Raka sembari berdiri di belakangku.


Bisikkannya mengenai tengkukku hingga membuatku geli dan berdebar. Cangkir yang kupegang bergetar ditangan, mencoba menuangkan teko yang berisi air panas itu ke dalam cangkir. Semakin gemetar aku dibuatnya.


Raka memegangi teko itu hingga wajahnya berada di samping wajahku. Debaran ini semakin kuat ketika jarinya menyentuh jemariku. Air panas itu berhasil tertuang ke dalam cangkir. Aku sudah tidak tahan lagi dengan sikapnya yang tiba-tiba seperti ini.


“Raka, apa yang kamu lakukan?....” sembari berbalik dan menghadapnya.


Tiba-tiba Raka menciumku dan mendorong tubuh ini ke rak kitchen set. Bibirnya yang terasa dingin sembari memejamkan mata. Ciuman pertamaku, “bagaimana ini?’ lalu aku membiarkan  mata ini terpejam juga dan membalas ciuman itu. Sentuhannya yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya, begitu erat dan bergejolak. Lumatannya bertubi-tubi hampir membuatku terkena serangan sesak napas untuk kedua kalinya.


Matanya terpatri padaku sembari mengucapkan, “maaf,” aku bingung hingga mata ini terbuka. Raka menyentuh bibir ini dengan jarinya dan seakan menghapus jejaknya. Aku membalikkan badan kearah cangkir tadi untuk menenangkan hasratku yang terlanjur menggebu.


‘Sial, aku tidak bisa tenang. Tangan ini masih saja gemetar’


“Biar aku saja,” ucapnya mengambil alih cangkir itu.


Dengan canggung aku kembali menyiapkan koper-koper yang sudah hampir siap. Aku melihatnya duduk di pinggir ranjang dan meminum teh itu. Wajahnya terlihat pucat.


“Raka, apa kamu sakit? Wajahmu terlihat pucat” tanyaku sembari memasukkan beberapa baju ke dalam koper.


Raka menaruh cangkir itu di tempatnya semula dan tiba-tiba tubuhnya jatuh di atas tempat tidur. Aku segera berlari mencoba menahannya agar tidak terjatuh ke lantai.


“Kamu sakit Raka? Istirahatlah ... aku panggilkan dokter ya,”


“Dara, aku belum mengajakmu keliling kota semarang,” ucapnya seperti mengigau.


“Lain kali saja Raka, sebaiknya kamu tidur masih cukup waktu sejam sebelum kita ke bandara.” sembari mendorongnya ke tengah tempat tidur.


“Dara temani aku di sini, jangan pergi,” ucapnya seperti mengigau.


Tubuhnya demam dan menggigil. Waktu dirinya menciumku aku merasakan sangat dingin. Mungkin Raka terserang flu. Aku hanya menyelimutinya dan membiarkannya tertidur sebentar.


Mengabari Papa dan Mama, kalau Raka demam. Papa menyuruh Raka untuk tidak pulang dan kembali setelah dirinya sembuh.


“Maafkan Papa, Dara. Mungkin Raka kelelahan mengurus bisnis Papa.”


“Tidak Pah, Raka sangat senang melakukan itu,”


“Benarkah? Kalau begitu kamu tolong jaga Raka yah,”


“Iya Pah, Dara akan jaga Raka.”


***


Aku memberinya obat penurun panas dan membiarkannya tertidur. Aku yakin dirinya hanya butuh istirahat. Seharusnya kami sudah pulang sore tadi, namun penerbangan dibatalkan hingga Raka sembuh.


Ponsel Raka berbunyi hingga berpuluh-puluh kali, dari Shesa. Mungkin dirinya ingin menanyakan kenapa belum sampai Jakarta. Aku semakin bingung dengan sikap Raka, kenapa tadi menciumku. Apakah dirinya sedang mengigau dan tidak sadar.


“Oh Tuhan, apa yang harus kulakukan?”


“Aku menyukainya,”


Menjaganya sepanjang malam, tubuhnya berkeringat dan mengigau. Jika hingga besok obat penurun panas ini tidak bekerja aku akan membawanya ke rumah sakit. Mengompresnya dengan air hangat dan memberinya minum agar terus berganti cairan dalam tubuh. Pakaiannya basah karena mengeluarkan keringat, aku harus menggantinya dengan pakaian kering agar tidak bertambah sakitnya.


Mengambil kaos di dalam tasnya. Aku membangunkannya sebentar.


“Raka, pakaianmu basah, ganti dulu yah,” ucapku lembut.


Dirinya setengah sadar dan mencoba untuk bangun dalam keadaan duduk. Aku membantunya agar tidak terjatuh. Mata dan wajahnya memerah padam, suhu tubuhnya panas lagi.


‘Baiklah Dara anggap saja tubuh ini tubuh kakak Aria yang sedang sakit, jadi tidak perlu sungkan’ ucapku dalam hati.


Mengelap tubuh yang berkeringat ini sebelum memakaikan kaos bersih. Lalu Raka kembali tidur. Tiba-tiba, Raka memegang tanganku dengan erat hingga membuatku terjatuh diatasnya.


“Deg … deg … deg,” wajahku merona.


“Raka … ada apa?” ucapku.


“Jangan pergi, kumohon.” ucapnya setengah sadar.


“Kamu mengingau lagi, Raka,” sembari melepaskan tangannya dan menyelimutinya.


Memandangi wajahnya seakan tidak percaya bisa sedekat ini dengannya. Aku senang bisa bersamamu, Raka. Jika kita sudah kembali ke Jakarta dan kamu akan kembali padanya, aku tidak akan keberatan. Mungkin sejak tadi kamu memimpikannya dan berharap bukan aku yang berada di sisimu, tetapi Shesa.


Aku tidak boleh berharap terlalu tinggi, jika kamu sudah siap melepasku. Aku akan pergi.


***


Hari sudah pagi secercah sinar menyinari lewat celah gorden yang terbuka sejak semalam.


Terdengar suara ponsel yang berdering, aku menjawabnya dan itu Mama yang membangunkanku.


“Halo Mah,” ucapku yang masih mengantuk.


“Dara, maaf membangunkanmu. Apa Raka sudah sembuh?” ucap Mama yang khawatir.


Aku menyentuh dahinya dan memeriksa napas di lubang hidungnya.


“Raka sudah reda demamnya Mah, bahkan napasnya sudah tidak panas lagi,” seruku sembari keluar dari balutan selimut.


“Syukurlah, ya sudah sebaiknya kamu istirahat lagi, pasti kamu mengantuk semalaman menjaganya. Jangan lupa sarapan ya….” ucap Mama merasa lega.


Lalu, aku menutupnya setelah mengucapkan sampai jumpa.


Raka akhirnya bangun dan merasa tubuhnya lebih baik meskipun terasa pegal-pegal.


“Dara, tolong buatkan aku teh panas,” ucapnya.


“Tidak mau,” ucapku spontan.


“Kenapa?” tanyanya penasaran.


“Aku tidak mau kamu … melakukan … ah sudahlah, akan kubuatkan,” ucapku tidak ingin membahasnya lagi.


“Melakukan apa?” Raka dengan ekspresi seakan tidak ingat apa yang terjadi kemarin.


“Tidak, aku tidak mau membahasnya. Lagipula kamu tidak ingat sudah … melakukannya,” ucapku sedikit kecewa.


“Melakukan apa sih? Jangan bikin aku penasaran!” ucapnya lagi.


“Sudah, aku tidak mau membahasnya, yang jelas kemarin kamu mengingau.” sembari menuangkan teh ke dalam cangkir.


Sembari memberikan cangkir teh itu padanya, aku mengatakan jika kita akan pulang hari ini.


“Kenapa kita tidak pulang besok saja?” ucap Raka.


“Kenapa? Bukannya kamu ingin pulang secepatnya,”


“Aku ingin mengajakmu berkeliling kota dulu,” ucapnya lagi.


“Apa?” aku terkejut senang, wajahku menggeliat senang.


Setelah bersiap-siap Raka mengajakku ke kota lama. Tempat bersejarah jaman penjajahan belanda. Bangunan-bangunan dan jalanan yang memang berbeda dengan perkotaan modern. Semuanya terlihat kokoh di jamannya dan tetap tersohor hingga masa kini. Bangunan jaman dulu yang dibuat perkantoran dan café-café sungguh menciptakan pesona tersendiri. Serasa hidup pada jaman dahulu.


Raka mengambil fotoku di depan Gereja Blenduk dan beberapa bangunan lainnya.


***


Hai Kak berikan cinta sebanyak-banyaknya untuk penulis ya )