
Aku terbangun karena mendengar suaranya sangat dekat. Terkejut, kupikir terlambat bangun. Menoleh pada jam dinding di kamar itu ternyata masih pagi. Segera menarik selimut untuk menutupi tubuhku yang tanpa pakaian. Rasanya seperti mimpi apa yang terjadi semalam dan dirinya yang sedang memandangi membuatku semakin malu hingga salah tingkah.
Aku menyuruhnya berbalik untuk memakai pakaian. Terburu-buru hingga hampir jatuh, untung saja aku bisa menyandar pada tepi ranjang. Berlari kecil hingga keluar dari pintu. Raka mentertawakan kejadian itu sepertinya sangat lucu baginya.
“Apa Raka enggak tahu, jika ini pengalaman pertamaku … aku sangat malu,” keluhku sembari menutupi wajah menuruni tangga.
Menoleh ke kamarnya sembari memberikan tatapan kesal.
‘Jahat!’ batinku sedikit kesal.
Aku menyalakan shower dengan air dingin karena sudah terbiasa. Jika mandi dengan air panas rasanya tubuhku berkeringat dan merasa harus mandi lagi. Percikan air dingin mengalir membasahi seluruhnya, ada perasaan aneh pagi ini. Merasa tubuh ini bukan milikku lagi, sudah ada seseorang yang pernah memeluknya, menyentuhnya dan
mencumbunya.
'Tanpa sadar senyumku menyeringai'
Bagaimana aku harus menghadapinya?
Apakah yang kami lakukan semalam atas dasar cinta. Aku sungguh tidak paham isi hati dan pikirannya. Mengapa, dirinya mencumbuku jika tidak menyukaiku. Sembari menengadahkan wajah keatas shower, mungkin dengan hempasan air dingin ini akan membuat pikiran lebih terang.
***
Ketika jam makan siang, kulayani pelanggan yang sudah selesai dan ingin membayar tagihannya. Dari pintu aku melihat seseorang yang membuat terkejut bukan main. “Shesa” datang ke restoran ini. ‘Mungkin untuk makan siang dan bertemu dengan temannya’ batinku berusaha membuat hati ini tenang. Namun, nyatanya Shesa meminta waktu istirahat untuk bertemu denganku.
“Maaf, sudah mengganggu waktu istirahatmu,” imbuhnya.
Aku hanya diam dan menanti apa yang ingin diucapkannya. Melihat kearah minuman dingin yang kusuguhkan untuknya.
“Kebetulan, hari ini aku akan menemui Raka dikantornya. Aku akan magang di sana.” timpalnya lagi.
Aku kaget. Jujur aku tidak mengerti kenapa dirinya mengatakan hal semacam itu.
“Oiya … aku tidak bisa berbasa-basi. Aku hanya minta kamu untuk menceraikannya!” sentaknya.
“Apa?” kali ini aku benar-benar terkejut dengan permintaannya yang terlalu to the point itu.
“Iya, kupikir seharusnya kamu enggak perlu sekaget ini. Kamu kan tahu Raka dan aku saling mencintai dan pernikahan ini hanya kesalahan saja.” gerutunya tanpa basa-basi.
Darah ini memompa lebih cepat keatas, karena hati ini terasa panas seperti terbakar. Mungkin jika bisa divisualisasikan dari kepalaku keluar asap tebal. Namun, hati yang terbakar hanya semakin membuat kelu mulut, aku tidak sanggup memaki ataupun mencaci. Kenyataannya apa yang diucapkannya benar. Aku hanya bisa menunduk menahan tangis kesedihan.
“Kenapa kamu tidak menyuruh Raka untuk menceraikanku?” celotehku pelan.
“Apa?”
“Ya, Raka yang memulai semua ini dengan mengajakku menikah. Seharusnya dirinya sendiri yang mengakhiri.” anjurku sembari menahan airmata jatuh dihadapannya.
Aku tidak ingin terlihat menyedihkan. Aku hanya akan bertahan sebentar lagi, sampai dirinya meninggalkan tempat ini.
“Ternyata, kamu gadis kecil yang tangguh. Aku tidak menyangka kamu akan sulit dilawan. Baiklah, lihat saja nanti siapa yang akan menang. Dan aku yakin pada akhirnya Raka akan memilih diriku, ingat itu!” gertaknya sembari meninggalkan kursi yang akhirnya kosong.
Menatap bangku kosong yang terlihat miring karena pemiliknya pergi, baru saja membuat pikiran ini terperanjat, tak berkutik hingga membeku. Ucapnya terngiang-ngiang tidak mau pergi, seperti berita buruk yang akan mempengaruhi sepanjang hari. Hingga tidak bisa berpikir apalagi berkonsetrasi untuk menghadapi sisa hari ini.
‘Benar-benar hari yang buruk’
Setelah menghabiskan satu jam hanya termenung di sini, waktu kembali bergulir dengan kekosongan. “Baiklah Dara, jangan menangis.” celotehku mencoba bersemangat. Meskipun rasanya bernapas saja kesulitan.
Seandainya Eza di sini, mungkin aku bisa sedikit mencurahkan hatiku yang sedang gundah. Tetapi, semuanya menjadi tidak mungkin kukatakan sejak kejadian di apartemennya. Rasanya hidupku tidak pernah benar-benar tenang. ‘sembari beranjak dari bangku itu’ pandangan sayuku melihat Eza sedang berdiri di sana dengan senyumannya yang menakjubkan. Entah kenapa selalu membuat hatiku tenang.
Dirinya seakan mengerti akan kesedihanku dan hanya memberikan senyumannya.
***
Mengelap meja yang sudah selesai kugunakan. Beberapa pelanggan datang, aku mengucapkan selamat datang. Sontak aku terkejut karena mengenali mereka dari kejauhan. Aku berusaha untuk tidak terlihat dan bersembunyi. Bukan karena takut tapi merasa enggan untuk membuat keributan.
Namun, sosok nyonya besar dan suaminya itu, “ Pak Sam” ternyata sudah lebih dulu menyadari kehadiranku. Memergokiku yang ingin bersembunyi sembari mengangkat dua gelas bekas minuman. Melihat keadaan restoran yang masih penuh dengan pelanggan, aku panik Nyonya itu akan membuat ulah lagi.
“Hah … tidak kusangka, rumput liar ini setelah diinjak beberapa kali masih saja bisa hidup! Hah … dasar perempuan laki orang, enyahlah dari hadapanku. Wajah pura-pura tidak bersalahmu membuatku muak,” hardik nyonya itu mencaci dengan suara lantangnya.
Aku berusah kabur meninggalkannya, namun tangannya berhasil menangkapku dan ingin melayangkan tamparannya. Ketika itu, Eza berhasil mencegah tangan itu hingga tidak sampai menyentuhku.
“Kamu siapa berani-beraninya membela perempuan tidak tahu diri,” caci Nyonya itu. Pak Sam hanya berdiri di belakang istrinya seperti pengecut.
“Sebaiknya kalian pergi, jangan membuat pelanggan saya tidak bisa menikmati makan siangnya.” keluh Eza mengusir Nyonya itu beserta suaminya.
“Apa? sombong sekali kamu mengusir istriku?” tantang Pak Sam sembari menolak pinggang dan menunjuk-nunjuk dada Eza.
“Silakan pergi, jika kalian ingin menuntut, layangkan saja surat gugatannya!” tegas Eza sembari memberikan tangannya sebagai jalan petunjuk untuk keluar.
“Awas kamu yah! Dasar perempuan hina, selalu saja ada yang membelanya!” geram nyonya besar itu.
Mereka mengalah dan berjalan keluar. Namun, aku terkejut karena Mama sudah lama berdiri di sana melihat kejadiannya. Wajahnya yang terlihat kaget dan kecewa. Hatiku semakin hancur karena melihat rautnya yang memandangku seperti itu.
***
Di dalam ruangan Eza, Mama berdiri memunggungiku, menahan emosi dan kegeramannya. Sedangkan aku memelintir ujung apron karena gelisah. Bingung harus mulai dari mana untuk menjelaskannya.
“Ma-Mama … semua itu … aku bukan….” ucapku gugup.
“Bercerailah dengan Raka.” sentak Mama pelan namun jelas terdengar. Tangannya mengepal menahan kekecewaannya.
“Ap-Apa?” keluhku terkejut mendengar itu.
“Ceraikan Raka, Dara. Mama sangat kecewa padamu,” imbuh Mama yang menunduk menangis tidak sanggup melihatku.
“Aku bisa jelaskan Mah, itu semua salah paham … ketika aku bekerja sebagai pemandu karaoke … dan aku….”
ucapku terpotong.
“Apa? pemandu karaoke? Raka-ku menikahi seorang pemandu karaoke?” Bibirnya semakin bergetar, tubuhnya
terasa lemas. Aku menyodorkan tanganku untuk membantunya berjalan, tetapi ditolaknya. Tubuhnya bergontai lemah mengalami syok hingga berpegangan pada meja kerja Eza.
“Baiklah, ini salahku karena terlalu cepat menerimamu menjadi bagian keluarga ini. Tapi semua ini belum terlambat. Maka akan kupastikan kalian bercerai secepatnya. Sembari meninggalkanku di dalam ruang kerja itu.
“Mah….” kusebut nama itu mungkin untuk terakhir kalinya. Sebutan Mama yang sangat berarti untukku
sejak diterima sebagai anggota keluarga.
Menangis, sungguh perasaan ini seperti tercabik-cabik, diambil paksa dari tempatnya. Aku tidak bersalah, namun ucapannya yang menyakitkan telah menyadarkan. Aku memang tidak pantas bersanding dengan puteranya. Seseorang dari keluarga berada dan terhormat. Peranku dalam sandiwara ini sudah berakhir, harus menghadapi realita yang sesungguhnya.
***
Berikan cinta dengan cara pencet like, vote, rate 5, tambahkan ke favorit kalian dan komen yang banyak )