I Don'T Like She

I Don'T Like She
Episode 35



Tiga tahun kemudian,


Semua bertepuk tangan setelah mendengar pidato dari Raka Putera Santosa yang menerima penyerahan jabatan sebagai komisaris utama di perusahaan milik Ayahnya. Setelah bertahun-tahun menolak permintaan untuk menggantikan Ayahnya karena sudah waktunya pensiun, akhirnya Raka menerimanya. Sedangkan perusahaan Raka tetap berjalan dibawah pengawasannya.


“Papa bangga sama kamu, Raka!” ungkapnya sembari menepuk bahu Raka. Begitu juga Mamanya yang terharu melihat Raka segagah itu. Dan juga Shesa yang hadir karena undangan orangtua Raka, memberikan selamat.


“Deeerrtttt … deeeeerrrttt” getaran dari ponsel yang ada di kantung jasnya.


“Halo,” jawab Raka.


“Selamat ya Sayang … bagaimana jika nanti malam kita bertemu,”


“Baiklah, di tempat biasa yah.” Raka menutup teleponnya.


“Raka, bagaimana kalau malam ini kita rayakan….” ucap Shesa terpotong. Raka seakan tidak peduli.


“Maaf, aku sudah ada janji dengan orang lain,” balas Raka acuh.


Malam itu, Raka datang ke sebuah restoran milik temannya itu  yang sudah lama tidak ditemuinya. Eza Lee yang baru kembali dari London. Dari kejauhan, Eza sudah melihatnya datang dan melambaikan tangan. Menghampirinya karena rasa rindu pada sahabatnya itu. Sembari memeluknya dengan erat.


“Apa kabar, sayangku,” ucap Eza padanya.


“Kenapa lama banget sih di London, aku kesepian di sini,” jawab Raka.


“Hahaha … mau minum apa?” tanya Eza.


“Apa saja asal bukan alkohol,”


“Hahaha … kamu enggak berubah sedikitpun,”


Mereka berbincang-bincang sangat lama, hingga Raka teralihkan dengan pesan singkat diponselnya. Raka membacanya dan segera menghapusnya.


“Kamu masih berhubungan dengan Shesa?” tanya Eza yang melihat nama dipesan singkat itu.


Raka hanya menenggak coffee latte miliknya.


“Mama menyuruhku menikahinya,”


“Jadi, setelah aku tinggalkan kalian ke London, akhirnya berpisah juga?”


“Setelah kamu ke London, aku juga kehilangan Dara.” Eza seakan tidak percaya jika Dara tidak pernah terlihat lagi.


“Kamu sudah berusaha mencarinya?”


“Untuk apa, Dara tetap akan meninggalkanku. Dara seorang pembohong ulung.”


Eza masih tidak percaya dengan ucapan Raka. Malam itu begitu banyak pertanyaan yang tidak ada jawabannya. Eza sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.


***


Disebuah kedai kota yang berada di pusat kota, malam itu sudah hampir tutup. Dara sedang mengunci pintunya untuk bersiap-siap pulang. Berjalan hingga ke ujung gang, Dara menunggu Wini yang sedang pergi ke minimarket seberang jalan.


“Aku pulang duluan, Bu. Fighting!” ucap Lena, mahasiswi semester tiga, pecinta drama korea yang bekerja part time di kedai kopi demi membayar kuliahnya, meringankan beban Ibunya seorang tukang cuci-setrika. Lena merasa takdirnya persis seperti cerita dalam drama korea. Makanya, Lena yakin jika suatu saat akan dipinang oleh seseorang yang kaya, pemilik perusahaan ternama.


“Aku juga,” ucap Didi, mahasiswa semester lima, senior Lena di kampusnya. Anak yang rajin dan pendiam, Lena juga bisa bekerja di sini berkat informasi dari Didi.


“Dara, kamu enggak apa-apa kan, ditinggal sendiri.” ucap Lintang. Seorang wanita tangguh, usianya menginjak 30 tahun dan belum menikah. Perawakannya besar dan tinggi, biasa mengerjakan pekerjaan berat di kedai ini, seperti mengangkat galon, gas, membetulkan ac dan lain-lain.


“Yah, hati-hati kalian … sampai jumpa besok!” teriak Dara sembari melambaikan tangan kepada mereka.


Kenapa lama sekali sih hanya membeli beberapa mi instan dan roti untuk sarapan besok.


Setelah beberapa saat, Wini keluar dari sana dengan menggandeng seorang anak laki-laki yang biasa dipanggil, Bumi. Langkahnya yang kecil berjalan, sembari menanti lampu hijau menyala untuk menyebrang. Senyumnya yang imut dan lucu, bernyanyi dengan Wini, membuat Dara tertawa dibuatnya.


Bumi melambaikan tangan ketika melihat Ibunya. Dara membalas lambaian tangan yang mungil itu seraya memanggilnya.


Setelah lampu hijau itu menyala, mereka akhirnya menyebrang jalan dan menaiki tangga yang berada di belakang kedai kopi miliknya. Mereka tinggal diatas bangunan itu dengan kedai kopi di bawahnya. Dari atas sana mereka bisa melihat kerlap-kerlip lampu kota yang selalu menerangi malam.


Dara bersikeras untuk memulai kehidupannya sendiri dengan mandiri. Hanya dengan hidup seperti itu dirinya merasa memiliki harga diri, tidak merasa bergantung dengan orang lain. Makanya, Dara membiayai Aswini, adik perempuannya itu untuk menyelesaikan kuliahnya agar bisa mengubah nasibnya lebih baik.


Uang yang diberikan Raka sebagai kompensasi dari perceraian, oleh Dara dibelikan sebuah ruko di pusat kota. Dara memiliki pengalaman bekerja di kedai kopi, akhirnya memberanikan diri untuk memulai usaha dan cukup berhasil setelah melewati tahun pertama. Kedai itu bernama “Kopi Bumi”. Dan sebagian lagi diberikan ke Aria untuk membuka bengkel.


Kehidupan mereka saat ini jauh lebih baik karena Ibu di kampung dengan Kak Aria yang berhasil membuka bengkel. Berkat pertolongan modal awal dari Raka yang dimanfaatkan dengan baik oleh Kak Aria. Namun, setelah perpisahan itu mereka tidak pernah lagi berhubungan.


Hingga saat ini, Raka masih saja memberikan bulanan ke rekening Dara. Meskipun mereka sudah bercerai.


***


“Mama….” ucap Bumi sembari menunjukkan jajanan yang dibelikan tantenya. Dara langsung memeluk Bumi yang berlari kearahnya.


“Wini … kenapa kamu sering membelikannya gula kapas, nanti Bumi tidak mau makan,” keluh Dara sedikit kesal karena Wini selalu memanjakan Bumi dengan membelikannya permen, gula kapas dan cokelat.


“Bumi sudah janji koq, mau tetap makan … ya kan Bumi?” ujar Wini. Bumi mengangguk-angguk setuju dan mulai menggeleng-geleng tidak setuju, seakan mempermainkan tantenya.


“Bumi … awas yah, kamu sudah berjanji tadi,” Wini yang mulai mengelitiki Bumi. Bumi sangat kegelian dan mengeluarkan tawa yang imut sembari seluruh tubuhnya bergoncang hebat.


***


Menaiki tangga keatas bangunan, Wini segera memasak mi rebus untuk makan malam. Sedangkan Bumi sudah mulai mengantuk setelah menghabiskan gula-gula kapasnya. Jika gigi Bumi rusak Wini yang harus disalahkan.


Dara memandang Wini dengan sedikit geram dan memukulnya di bahu.


“Aduh!” keluh Wini sembari mengusap-usap bahunya yang sakit. Wini menoleh kearah Bumi.


“Iya … aku salah, tidak akan membelikannya manisan jika sudah malam, kalau siang boleh kan hehe….” ujar Wini berdalih. Pukulan Dara melayang lagi di bahunya.


Aduh


“Memangnya aku salah membelikan sesuatu yang tidak bisa kunikmati ketika kecil. Aku sangat iri jika ada yang bisa membeli gula kapas seperti itu, rasanya enak sekali. Aku tidak ingin Bumi sepertiku, apa itu salah … Hah!” ungkap Wini mengingat masa kecilnya.


“Hmm … apa kamu mau Bumi giginya sakit, belum biayanya dan harus menjaganya, sedangkan Kakak harus menjaga kedai kopi untuk kuliah kamu,” ujar Dara.


“Iya … iya aku tahu, ini sering Kakak bahas. Kakak mau aku menyelesaikan kuliahku agar bisa kerja dikantoran, mengubah nasib keluarga.” ucap Wini yang meniru perkataan Dara yang terpatri di kepalanya.


Mi rebus yang dimasak sudah siap di santap, ditaruh diatas meja untuk mereka berdua.


“Nasibmu, Wini.” ucap Dara seraya mengoreksinya.


“Lagipula, memangnya uang yang diberikan Kak Raka enggak cukup, Kak?” tanya Wini menanti jawaban. Dara hanya membiarkannya menggantung dan penasaran, sembari menyeruput mi rebus itu dengan perutnya yang sudah keroncongan.


Uang itu kusimpan, jika sudah cukup untuk membeli rumah yang layak untuk Bumi.


***


Dara menikmati malam dengan melihat lampu kota dan bintang-bintang di langit. Hanya diwaktu seperti ini, dirinya bisa bersantai sejenak. Meskipun keheningan suasana seringkali buyar akibat rentetan bunyian keras dari knalpot balap yang digeber-geber tarikannya.


Melihat sebuah mobil yang berhenti di depan lampu merah, memandanginya yang sendirian mengarungi malam. Apakah kamu juga merindukan seseorang, sembari meneguk secangkir teh untuk membuatku tidur. Teringat, pelukan Raka dari belakang ketika membuat teh susu, bisikan napasnya yang membuat seluruh tubuhnya seperti tersentak aliran listrik.


Kenapa aku jadi memikirkannya.


Sedangkan, seseorang yang mengendarai mobil itu di tengah lampu merah juga menoleh kearah atas bangunan itu. Seseorang yang masih menikmati malam sendirian, apakah kamu menunggu seseorang untuk datang. Seseorang itu tertegun melihatnya seakan mereka saling memandang dan bercerita tentang rasa kesepian.


“Kopi Bumi”


Raka melihat di bawah bangunan itu, nama kedai yang unik. Lalu lampu hijau menyala, mobilnya mulai melaju meninggalkan jejak tanpa bayangan.


***


Ada yang tahu kata "digeber-geber", bahasa indonesianya apa ya? tolong Author yaa )


Langsung pencet like, vote, rate 5, tambahkan ke favorit kamu dan komen yang banyak ya )