
"Ya, Akulah pacar Hana ... Dan kau lebih baik pergi SEKARANG." Albert berteriak dengan nada marah.
Albert sangat kesal dengan Riandi, Apalagi jika menyangkut kekasihnya yaitu Hana yang sudah tiada, Yang membuat Albert tidak tahan dan marah.
Nenek yang melihat situasi malah menjadi lebih panas, Langsung meminta Riandi untuk segera pergi dengan pelan."Nak Riandi, Lebih baik kamu pergi saja."
"Baik, Terimakasih Nek." Riandi tidak menghiraukan pandangan kesal Albert kepada-nya.
Sekarang seluruh pikirannya kosong, Dia tidak pernah mengharapkan ini sama sekali, Bahkan ini lebih membuatnya lebih sedih dan merasa bahwa dirinya sangat naif.
Riandi berjalan meninggalkan kediaman Hana dengan langkah kaki yang tidak menentu.
"Apa semua senyum itu hanyalah kebohongan?."
"Apa semua kata kata itu semua hanyalah ucapan kosong?."
"Atau aku yang terlalu berharap dan bodoh?."
Sambil berjalan dengan pelan,Riandi melanturkan beberapa gumaman dari mulutnya.
Tes
Tes
Hujan juga mulai turun dengan derasa dan langsung membasahi sekujur tubuh Riandi.
Melihat kelangit yang sudah gelap, Riandi berguman dengan tatapan kosong dimatanya."Hujan? ... Apa bahkan langit menangis melihat ke tidak adilan ini?."
Dalam sekejap wajah Riandi dibasahi air hujan,Dan seluruh tubuhnya sudah basah kuyup terguyur hujan yang sangat deras.
Riandi membayangkan pertemuan pertama kalinya yang terjadi 3 tahun lalu, Yang dimana dia bertemu dengan Hana dijalan.
Saat itu Hana tersandung sehingga membuat dia terjatuh kearahnya saat itu.
"Maaf Oppa, Aku tersandung secara tiba-tiba, Maaf."
"Kaki ku sangat sakit."
"Namaku Yon Hana."
"Kau sangat tampan Oppa."
Kenangan pertemuan keduanya muncul secara berurutan diingatan Riandi.
"Oppa mari jalan jalan malam lebih dulu."
"Lihat ada gulali ... Oppa mari beli."
"Wow bulannya sangat indah."
"Malam ini sangat menyenangkan bersama Oppa."
Kenangan tersebut terus bermunculan diingatan Riandi,Senyum Hana, Panggilan Hana kepadanya, Keriangannya saat berjalan jalan bersama, Pujian hana Kepadanya, Semuanya muncul di ingatan Riandi.
"Sangat hangat berbaring di punggungmu Oppa."
"Aku akan menjaga topimu ini."
"Aku akan menjadi seorang putri untuk menemani pangeran seperti oppa."
"Oppa apa aku cantik?."
"Aku ingin pacar yang seperti Oppa, Tampan,Baik, Dan Perhatian."
"Bolehkah aku memelukmu untuk terakhir kali?."
"Oppa apa setelah malam ini kita bisa bertemu lagi?."
Riandi hanya berdiri diam sambil memandangi langit malam dan hujan yang terus berjatuhan kewajarannya.Dia membiarkan semua ingatannya tentang Hana bermuculan.
"Apa semua kata kata yang kau ucapkan saat itu hanyalah kata kata spontan dan tidak berarti?."
Setelah mengingat semua itu,Dari mata Riandi sebutir demi sebutir air mata berjatuhan melewati pipinya yang basah oleh air hujan.
Air hujan dan air mata menetes lewat dagunya,Riandi menggunakan kesempatan ini mengeluarkan semua kesedihannya.
Mungkin Hana hanya berfikiran bahwa itu hanyalah beberapa jam saja, Tapi bagi dirinya yang belum pernah memiliki teman dan juga belum pernah memiliki rasa suka, Malam tersebut adalah malam yang sangat bermakna baginya dengan berjalan jalan bersama.
Apalagi dengan sikap Hana yang sangat sangat jujur kepadanya,Dan beberapa sekmen saat ingin berpisah saat itu, Ini membuat Riandi tidak bisa melupakannya hingga sekarang.
Padahal Riandi berfikiran untuk mengungkapkan rasa dari hatinya kepada Hana saat bertemu lagi, Tapi takdir sangat tidak adil untuk dirinya.
"Aku seperti orang Bodoh ... Sangat Naif ... Dan juga terlalu berharap tinggi ... Sungguh sangat menyakitkan saat mendapatkan fakta ini."
Riandi berkata dengan pelan,Dan dia menundukkan kepalanya sambil mencela dirinya sendiri yang terlalu Naif.
Dengan begini dibawah sinar lampu jalan dan hujan yang deras membasahi tubuhnya, Seorang pria yang tersakiti sedang meratapi semua kebodohannya salama ini untuk menunggu seorang wanita yang bahkan hanya mengingat dirinya beberapa waktu saja.
Walaupun sangat tidak nyaman dan sakit, Riandi juga mulai membuka pikirannya untuk tidak naif dan bodoh dalam menyangkut soal cinta dan perasaan.
Dibawah kesedihan Riandi juga bertambah lebih kuat dan bertambah lebih dewasa setelah melewati semua ini.
"Mari akhiri semua ini hari ini juga."
Riandi mengambil langkah yang mantap tidak seperti sebelumnya yang lemah dan hanya kebingungan.
......
Pemakaman Umum dekat kompleks perumahan Hana.
Seorang pemuda yang tampan memegang seikat bunga,Pemuda tersebut memandangi makam baru yang berada dihadapannya.
Walaupun ini adalah malam hari dan ditambah masih hujan,Tapi pria tersebut tidak takut untuk berdiri didepan makam sendirian, Malahan pria tersebut memiliki tatapan yang kuat dan pasti.
"Walaupun kau hanya menganggap penting pertemuan kita seseaat saja."
"Dan setelah itu kau melupakannya."
"Tapi aku sangat menganggap itu penting selama tiga tahun ini."
"Aku sangat bodoh, Berharap siang dan malam hanya untuk bertemu denganmu lagi."
"Tapi tenang saja mulai sekarang aku tidak akan berharap lagi untukmu."
"Dan semua perasaanku padamu sudah terhapus semenjak mengetahui semua ini."
"Aku masih memiliki banyak yang ingin aku lindungi dan wujudkan, Jadi aku tidak bisa terus meratapi semua ini dan juga masih ada seseorang yang lebih baik untukku,Aku akan menunggu kedatangan wanita yang tepat untukku."
Pria tersebut berkata sendiri dengan rawut wajah yang biasa sambil memandangi makam tersebut.
"Ini adalah bunga untuk perpisahan kita selamanya."
"Rasa cinta?, Suka?, Rindu? ... Itu sudah aku lupakan mulai hari ini ... Dan juga semua yang sudah kau tanamkan di hatiku ... Itu semua sudah aku lupakan."
"Kedepannya aku akan berjalan lurus kedepan tanpa mengingatmu lagi."
"Mulai malam ini, Aku akan menjalani hidup tanpa memikirkanmu lagi."
"Semoga kau tenang disana."
"Selama tinggal."
Pria tersebut meletakkan bunga ditangannya di atas makam tersebut, Setelah mengatakan semua yang ingin dia katakan, Pria tersebut
berdoa beberapa saat sebelum berjalan meninggalkan makam tersebut dengan langkah kaki yang mantap tanpa memandang kebelakang lagi.
Dengan cepat pria tersebut menghilang digelap malam dan hujan.
Pria tersebut keluar dari pemakaman dengan cepat, Setelah melihat langit yang gelap dan hujan yang tidak berhenti,Pria tersebut berkata"Aku harus segera kembali, Mungkin mereka khawatir denganku ... Dan juga Pak Tua itu pasti akan marah besar jika tidak tahu bahwa kau pergi."
Pria yang sebelumnya dipemakaman tersebut bukanlah yang lain, Tentu saja Riandi yang pergi ke lokasi pemakaman Hana.
Dan mulai malam ini Riandi juga sudah tidak memiliki pikiran ataupun rasa suka untuk wanita tersebut, Karna ini adalah pertemuan untuk terakhir kalinya.
Semua kenangan,Rasa suka, Harapan, Semua sudah dihilangkan oleh Riandi.
Riandi akan mencoba untuk fokus dengan karirnya sebagai seorang idola, Dan juga menunggu wanita yang tepat untuk dirinya.
"Pak tua itu pasti akan sangat marah melihat aku yang basah kuyup seperti ini dan juga ini sudah larut." Riandi berkata dengan suara panik.
"Habislah ... Pasti pak tua itu akan sangat marah (;ŏ﹏ŏ)."
Dia tidak memberitahukan Park Ji Hyeon sama sekali bahwa dia akan pergi keluar, Ini membuat Riandi panik mungkin sekarang Park Ji Hyeon sudah menunggu kedatangannya dengan wajah marah.
Melihat pakaiannya yang basah kuyup dan juga tanpa disadari sekarang sudah pukul 10 malam saja, Ini sangat membuat Riandi terkejut dan panik karna takut akan dihajar habis habisan oleh Park Ji Hyeon saat dia kembali keagensi nantinya.