
Disebuah daerah di Jakarta, seorang pria dengan hoodie biru menutupi wajahnya dengan kacamata dan juga masker.
Pria tersebut berdiri di samping sebuah toko radio, dan mendengarkan lagu yang diputar oleh sebuah radio antik dari toko tersebut.
Dari mata dibalik kacamata, terdapat rasa nostalgia yang sangat dalam.
Pria yang berdiri di dekat toko radio, tidak lain adalah Riandi, yang sedang mengingat masa lalunya.
Di sinilah dimana mimpinya untuk menjadi Idol pertama kali muncul.
Riandi dapat melihat bayangan masa kecilnya di samping toko radio tersebut.
Seorang anak dengan pakaian kusam dan kotor, berdiri didepan toko radio untuk mendengarkan lagu yang akan memulai mimpinya. Itulah dirinya dimasa lalu.
Disaat Riandi sedang bernostalgia, tiba tiba pintu masuk toko terbuka, dan seorang kakek tua berjalan keluar, menghampiri Riandi.
Kakek tersebut menatap kearah Riandi beberapa saat, karna dia tidak dapat melihat keseluruhan wajah Riandi, yang tertutup hoodie, kacamata dan masker.
"Apa kau menyukai lagu yang diputar oleh radio antik itu?." Tanya kakek tersebut kepada Riandi,secara tiba tiba.
Riandi yang tidak menyangka bahwa kakek tersebut akan bertanya kepadanya, tapi Riandi tetap menjawab dengan jujur."Aku menyukainya."Angguk Riandi, lalu melanjutkan." aku dapat mengingat masa laluku saat mendengarkan lagu dari radio itu."
"Begitukah?." Kakek tersebut mengelus jenggotnya, lalu berjalan masuk ke dalam toko radio tersebut.
Kakek tersebut masuk kedalam toko, dan mengambil radio antik yang dimaksud oleh Riandi, lalu menaruhnya kedalam kardus setelah mematikan radio tersebut.
Riandi dari luar toko hanya dapat memperhatikan dengan bingung atas tindakan yang dilakukan oleh kakek tersebut.
Setelah membungkus radio tersebut dengan kardus dan plastik, kakek pemilik toko kembali keluar dan menyerahkan radio antik tersebut kepada Riandi.
"Ambillah, Ini buatmu." Ucap Kakek tersebut dan menyerahkan plastik yang berisi radio.
"Buatku?, tapi kek~."
"Sudah ambillah, ini aku berikan untukmu sebagai hadiah."
Riandi menerima radio tersebut dengan ekspresi terheran heran, dan mengecek kembali masker atau kacamatanya,apa ada yang salah, takut identitas telah dilihat oleh kakek didepannya.
Tapi Riandi merasa tidak ada yang salah, bahkan Riandi melihat dirinya lewat kaca toko, dengan penampilannya yang sekarang tertutup, tidak akan ada yang dapat melihat identitas nya.
Jadi Riandi menghilangkan pikiran bahwa kakek didepannya ini,mengetahui identitasnya sebagai Idol.
Lalu alasan apa yang membuat kakek pemilik toko tiba tiba memberikan radio antik ini kepadanya?, Inilah yang sekarang membuat Riandi penasaran.
"Terimakasih kek, aku akan menjaganya dengan baik." Setelah menerima radio tersebut, Riandi berterimakasih lebih dahulu, sebelum bertanya alasan apa yang membuat kakek tersebut,memberikan radio secara gratis kepadanya."Tapi kek, pada tidak masalah aku menerima radio ini secara gratis?, dan bagaimana bisa kakek memberikannya secara gratis kepadaku?." Tanya Riandi dengan penasaran.
Riandi memperkirakan toko radio ini bukan toko yang sering memiliki pelanggan, Riandi yang menerima radio secara gratis merasa tidak enak.
"Tidak apa apa,terima saja, tidak ada alasan yang tepat untuk melakukan kebaikan."Ucap Kakek tersebut dengan senyum.
Setelah terdiam,Kakek tersebut berkata sambil menatap tokonya yang sepi dengan nostalgia."Saat melihatmu berdiri di depan toko sambil menatap radio yang memutar musik. Membuatku mengingat beberapa tahun lalu, terdapat seorang anak yang sering setiap hari berdiri didepan tokoku, untuk mendengarkan lagu dari radio yang aku berikan kepadamu."
"Anak tersebut sepertinya adalah anak yang tidak mampu, karna pakaiannya yang kotor dan kusam ... Aku selalu memperhatikan setiap harinya, anak tersebut akan berdiri didepan tokoku untuk mendengarkan music selama 1 jam. Aku berniat untuk memberikan radio kepada anak tersebut, tapi sayang, anak tersebut hingga sekarang belum pernah muncul lagi ... Aku melihat bayangan anak tersebut darimu, saat kau berdiri didepan toko untuk mendengarkan music dari radio itu, jadi aku memberikannya kepada mu, aku harap kau dapat menjaganya dengan baik."
Setelah menyelesaikan perkataannya, Kakek tersebut berjalan dengan pelan masuk kedalam toko radionya, dan duduk di sebuah bangku untuk menunggu pelanggan.
Riandi yang mendengarkan, telah tertegun cukup lama, karna tidak menyangka alasan kakek tersebut memberikan radio kepadanya, ternyata karna melihat dirinya dimasa lalu.
"Terimakasih." Riandi membungkuk kepada Kakek pemilik toko sebelum pergi membawa bingkisan yang berisi radio.
Riandi tidak ingin memberitahukan identitasnya bahwa anak yang dimaksud oleh Kakek tersebut, adalah dirinya yang dimasa lalu.
Setelah berjalan cukup jauh, Riandi mengambil foto dirinya bersama bingkisan yang berisi radio, lalu menguploadnya di sosial media pribadinya.
'Aku sangat menyukai radio ini, Kakek penjualnya sangat baik.'
Riandi meng-upload foto tersebut sambil memberikan lokasi toko radio tersebut di postingannya.
Ini adalah balasan dari Riandi atas kebaikan Kakek pemilik toko terhadap dirinya dimasa lalu dan sekarang, Riandi berharap dengan postingannya ini, dapat menarik pelanggan untuk Kakek tersebut.
Setelah itu, Riandi kembali berjalan menuju ke tujuan selanjutnya, yaitu tempat dimana dia dibesarkan.
Walaupun sudah lama tidak kesini, tapi dengan nalurinya dari masa lalu, menuntun Riandi kejalan yang benar.
"Kenapa disini sekarang cukup sepi?." Riandi berkata sendiri sambil melihat lingkungan yang tidak sepi, berbeda dengan dahulu kala.
Sambil melihat lingkungan yang sudah berubah cukup banyak, Riandi terus berjalan mengikuti arah yang dia ingat.
Akhirnya setelah beberapa menit berjalan, Riandi berhasil menemukan lokasi gudang tempat dia tinggal dahulu.
Sekarang gudang tersebut sudah dalam kondisi yang sangat buruk, dan sudah banyak tanaman merambat dimana mana mengelilingi gudang.
Kondisi gudang menjadi seperti ini, dikarenakan tidak ada yang merawatnya sama sekali semenjak Riandi pergi.
Riandi berdiri di depan pintu bobrok untuk masuk ke dalam gudang, dengan tatapan mata yang sangat rumit dan penuh nostalgia dibalik kacamatanya.
Ini adalah tempat dimana dia besar, yang telah di anggap oleh Riandi sebagai rumah, yang menjadi tempat untuk dia pulang.
Riandi membuka pintu gudang yang sudah rusak dan berkata dengan pelan."Aku pulang."
Seperti dimasa lalu, tidak ada jawaban sama sekali, dan tidak ada seorangpun yang menyambut kepulangannya.
Yang berbeda sekarang, hanyalah kondisi gudang yang sangat buruk dibandingkan dimasa lalu.
Riandi berjalan beberapa langkah sambil melihat sekeliling yang kotor dan berdebu, saat melihat terdapat kardus lumutan dilantai gudang, Riandi langsung menebak bahwa kardus lumutan tersebut adalah kasurnya di masa lalu.
Riandi dapat melihat bayangan masa kecilnya, yang tidur dengan kedinginan di atas kardus tipis sebagai alasnya.
Berbagai bayangan masa lalunya bermuculan secara bersamaan, di gudang ini.
Seperti Riandi masa kecil yang sedang duduk makan dengan lauk nasi dengan kerupuk saja, tapi saat itu dia sangat lahap memakan, makanan yang sangat sederhana tersebut.
Riandi kecil yang sedang menangis memikirkan dirinya sendiri dan masa depannya.
Dan berbagai bayangan lainnya, tentang kenangan masa kecilnya yang pernah terjadi di gudang bobrok ini.
Riandi yang melihat berbagai bayangan masa kecilnya, saat ingin mengatakan kepada dirinya sendiri dimasa lalu.
"Jangan menyerah!, Jangan Takut!. Masa depan akan membawamu ke kehidupan yang lebih baik. Tolong bertahanlah dengan kuat dan kejar mimpimu sebaik mungkin."
Kalimat itulah yang ingin disampaikan oleh Riandi pada masa lalunya.
Karna hanya Riandi sendiri yang tahu, di masa masa tersebut, hal yang paling dibutuhkan olehnya adalah penyemangat dari seseorang, tapi tidak ada orang yang memberikan penyemangat padanya di masa tersebut.
Riandi yang mengingat masa lalunya sendiri saat berada di gudang bobrok ini, tanpa sadar menetaskan air mata di balik kacamatanya.
Gudang bobrok ini adalah rumahnya, dan dipenuhi oleh cerita masa kecilnya yang menyedihkan.
Riandi yang berkunjung setelah beberapa tahun, merasa sangat sedih mengingat kehidupannya dimasa kecil.
Hanya dirinya sendiri yang tahu, sebarapa banyak air mata dan kesulitan yang telah dia lalu di masa kecil.
Jadi saat mengingat saat tersebut, Riandi tidak dapat menahan rasa sedihnya.
"Itu adalah masa lalu, sekarang aku sudah sangat bahagia dengan banyak orang yang peduli padaku." Ucap Riandi sambil mengelap air matanya.
Sekarang dia sudah memiliki banyak orang yang peduli padanya, sehingga Riandi tidak perlu khawatir akan kesepian seperti dimasa lalu.
"Betul sekali, Tuan sekarang memiliki banyak orang yang peduli padamu dan juga ada Mimi."
Mimi secara tiba-tiba muncul di atas bahu kanan Riandi, dan bertingkah dengan imut untuk memberikan semangat kepada Riandi.
Riandi tersenyum melihat kemunculan Mimi di pundaknya, dan berkata."Apa kau tidak tidur?, biasanya kau tidak akan muncul tanpa aku panggil."
"Mimi tidak dapat tidur saat melihat tuan sedang bersedih." Mimi terbang dengan menggunakan sayap kecilnya menuju ke hadapan Riandi."Jadi sekarang tuan harus kembali tersenyum dan bahagia, agar Mimi bisa tidur tanpa khawatir lagi."
Riandi tertawa setelah mendengar perkataan Mimi."Haha, Maaf mengganggu tidurmu Mimi, aku sekarang sudah tidak apa apa, kamu bisa kembali tidur lagi." Riandi berkata sambil tersenyum untuk meyakinkan Mimi kalau sekarang dia tidak bersedih lagi.
"Nah itu baru bagus, Mimi akan kembali tidur lagi,bye."
Setelah merasa ekspresi Riandi tidak dibuat buat, Mimi dengan senang kembali menghilang untuk tidur.
Riandi hanya dapat menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, melihat tingkah Mimi yang sangat menyukai tidur.