
Setelah membereskan semua barangnya, Riandi membawa gitar hitamnya untuk pergi keluar, saat berjalan pintu kamar. Kamera yang berada di kamar, tiba tiba bergerak sendiri mengikuti pergerakan Riandi.
"Wow, apakah sekarang teknologi sudah secanggih ini?, bahkan kamera bisa bergerak sendiri!." Riandi langsung tertarik setelah memerhatikan kamera yang bergerak sendiri.
"Apakah ini menggunakan sistem sensor atau bagaimana?."
Riandi mencoba bergerak ke kanan dan ke kiri, hasilnya, kamera tersebut dapat mengikuti dengan sangat baik.
"Daebak!."
Setelah menghilangkan rasa tertariknya terhadap kamera tersebut, Riandi keluar dari kamarnya dan berjalan menuju ke tempat berkumpul.
"Apa kalian berdua tidak kepanasan bermain di bawah terik matahari?."
Riandi duduk di bawah terpal yang menghalangi sinar matahari untuknya.
Di halaman, Eunji dan Hiro sedang bermain bulu tangkis, tanpa menghiraukan panasnya terik matahari.
"Kami akan bermain sebentar untuk membakar kalori." Jawab Eunji, lalu meng servis ke arah Ken.
Tapi dikarenakan hembusan kencang angin yang tiba tiba bertiup, KOK tersebut tidak melewati net dan terjatuh di dekat Eunji.
"Ahhgh, Aku merasa sedang bermain dengan angin." Eunji merasa kesal dengan angin yang berpihak dengan Ken.
"Haha kau tahu, dari 5 skor yang aku cetak, 4 di antaranya karna bantuan dari angin." Ken tertawa melihat kekesalan dari Eunji yang semenjak tadi bermasalah dengan angin.
Riandi tersenyum melihat permainan bulu tangkis dari Eunji dan Ken, setelah menonton beberapa saat, Riandi fokus bermain gitar di bawah hembusan angin sepoi-sepoi yang meniup rambutnya.
...----------------...
Sesi wawancara setelah selesai syuting.
Staf: Kenapa kau lebih memilih bermain gitar di bandingkan melakukan hal lain?.
Riandi: Entah lah, bahkan di agensi. Jika ada waktu luang aku akan bermain gitar ataupun membuat music, itu sudah seperti jiwaku sendiri.
...----------------...
Riandi memainkan gitar selama 30 menit, Eunji dan Hiro telah selesai bermain bulu tangkis semenjak tadi, dan mereka sepertinya sedang berada di tempat lain untuk menikmati hari hari santai mereka.
"Aku harus mencari hal lain yang bisa kulakukan." Riandi meletakkan gitarnya di bangku kosong, dan berdiri untuk meregangkan otot punggungnya.
Setelah itu Riandi berjalan menuju ke rumah utama, sebelum masuk dia membuka kulkas di dekat pintu, untuk mengambil minuman.
"Mana yang harus aku minum?." Riandi melihat lihat jenis minuman yang sangat banyak, yang membuatnya bingung untuk memilih.
"Aku akan meminum Clofi saja." Riandi membuat pilihan minuman yang akan dia minum."Aku pilih yang ada fotoku."
Clofi adalah minuman berjenis kopi dengan berbagai macam rasa, dan SmileFi adalah brand ambassador dari produk minuman Clofi, sehingga di botol minuman terdapat foto setiap member SmileFi.
Setelah menutup kulkas, Riandi menungguk Clofi miliknya, lalu berkata dengan puas."Ahh, sangat nikmat!. Memang Clofi adalah minuman yang terbaik bagi para pencinta kopi, ini membuat rasa lelahku langsung menghilang. Bagaimana bisa ada minuman kopi senikmat ini!."
Tidak lupa saat berkata,Riandi menatap ke arah kamera dengan eksperi menikmati Clofi yang dia minum. Ini adalah promosi yang tidak terencana.
Ini yang membuat banyak brand memilih SmileFi sebagai brand ambassador mereka, karna SmileFi sangat pandai dalam melakukan promosi dimana mana, bahkan tanpa sadar SmileFi akan mempromosikan produk tersebut.
Dan efeknya sangat bagus bagi brand tersebut, karna traffic penjualan mereka melambung setelah SmileFi menjadi brand ambassador mereka.
Setelah minum Clofi, Riandi masuk kedalam rumah utama, dan melihat Hiro yang sedang merakit mainan.
"Apa yang kau rakit Hiro?." Riandi langsung berbaring di sebuah bantal, dan bertanya kepada Hiro yang sedang fokus merakit mainan.
"Aku sedang membuat pesawat pesawatan. Dari tadi aku belum menyelesaikannya." Jawab Hiro sambil menggaruk kepalanya dengan pusing, padahal dia sudah merakit semenjak tiba disini, tapi hingga sekarang belum selesai.
"Apa tidak ada guide nya?." Tanya Riandi kembali.
"Ada sih, tapi tetap saja ini sangat susah." Balas Hiro memperlihatkan kertas guide perakitan pesawat kepada Riandi.
"Perlu aku bantu?." Riandi menawarkan untuk membantu Hiro merakit pesawatnya.
"Tidak usah, aku ingin merakitnya sendiri." Jawab Hiro dengan ekspresi serius menatap guide di hadapannya.
"Baiklah, aku akan tidur saja." Riandi menutup matanya untuk beristirahat, karna tadi malam dia tidur cukup larut karna mengerjakan lagu untuk grup Vioni.
.....
Rumah tamu.
Liuzen berjalan ke ruang tamu, dimana Eunji dan Ken sedang bermain game di komputer.
"Mau kemana Liuzen?." Tanya Eunji melirik Liuzen yang menggunakan topi dan baju lengan panjang.
"Memancing, mau ikut?." Jawab Liuzen sebelum pergi keluar.
"Tidak."
"Yasudah." Liuzen langsung keluar, dan berjalan menuju ke rumah apung.
Walaupun cukup panas, tapi cuaca hari ini sangat cocok untuk memancing bagi Liuzen.
Sambil mengambil pancingan Liuzen bergumam."Aku tidak menyangka akan menjalani hobi ku disini."
Liuzen berjalan ke pinggiran teras rumah apung, lalu melemparkan umpannya dengan ahli.
"Apa disini ada ikan nya?." Liuzen tiba tiba bertanya kepada dirinya sendiri, sambil menggulung dengan perlahan.
Liuzen terus menggulung dan melempar umpannya selama 15 menit lebih, tapi tidak ada satupun ikan yang dia dapatkan semenjak tadi.
"Ahh, aku tidak tidak menyangka menyukai hobi seperti ini." Liuzen menghelas nafas dengan berat sambil menggulung pancingannya.
Sudah 15 menit lebih, tapi tidak ada satupun ikan yang dia dapatkan, bahkan kailnya saja tidak ada pergerakan seperti disentuh oleh ikan.
...----------------...
Staf: Semenjak kapan kau menyukai memancing?.
Liuzen: Entah lah, akupun lupa semenjak kapan memiliki hobi seperti ini.
...----------------...
Saat Liuzen sudah mulai bosan, tiba tiba pancingan terasa berat dan seperti ada yang menyangkut di kailnya.
"Wow?, apa ada ikan yang memakannya?."
Liuzen buru buru menggulung pancingannya, dengan wajah yang bahagia.
Karna akhirnya setelah penantian yang lama, dia sepertinya akan mendapatkan ikan pertama.
"Tapi kenapa ini sangat aneh?." Liuzen merasakan perbedaan dengan biasanya jika dia mendapatkan ikan.
Karna yang ini terasa berat dan tidak ada perlawanan sama sekali dari ikan, hanya seperti kailnya tersangkut sesuatu.
Seperti yang di harapkan, Liuzen tidak mendapatkan ikan apapun, tapi hanya rumput laut yang tersangkut di kailnya.
"Aku mulai meragukan bakat memancingku." Ucap Liuzen dengan ekspresi meragukan dirinya sendiri.
Liuzen memancing selama 1 jam, dengan hasil tidak ada satupun ikan yang dia dapatkan. Tapi Liuzen mengetahui bahwa di danau ini terdapat ikannya, karna beberapa kali umpannya digerogoti oleh ikan.
"Sepertinya hari ini bukan keberuntunganku." Liuzen memiliki ekspresi kecewa melihat umpannya kembali menghilang karna dimakan ikan. Tapi ikan sama sekali tidak tersangkut di kailnya.
"Atau mungkin ikan di sini memiliki kepintaran yang lebih tinggi, dibandingkan dengan ikan ditempat lain." Ucap Liuzen dengan ekspresi berfikir.
Karna sudah beberapa kali umpannya di makan, tapi ikan tersebut sama sekali tidak tersangkut atau memakan kailnya.
Liuzen kembali ke rumah utama dengan kecewa karna tidak menangkap ikan sama sekali.
Saat Liuzen masuk membawa minuman, Hiro yang juga belum selesai merakit mainan, berkata kepada Liuzen."Apa kau menangkap banyak ikan?."
"Iya."Angguk Liuzen, lalu melanjutkan."Banyak ikan khayalan yang aku dapatkan."
"Hahahaha."
Riandi yang baru bangun beberapa menit lalu,tertawa mendengar jawaban dari Liuzen. Hiro juga tertawa mendengar bahwa dalam 1 jam Liuzen tidak mendapatkan ikan apapun.
"Sungguh hiburan bangunan tidur yang baik." Ucap Riandi sambil tertawa senang.