
...Chapter 47. Keputusan Luna....
Setelah lelah menyelamatkan Luna di Dungeon, aku pun merebahkan diri diatas kasur dan tertidur.
Beberapa saat kemudian, aku merasakan ada sentuhan lembut yang meraba tubuh bahkan junior ku hingga naik.
Merasakan itu, aku sontak tersadar dan membuka mata. Lalu, aku melihat ada Shiro yang sudah berada diatas ku sedang menikmati Junior ku seperti permen.
Sesaat kemudian, Shiro pun tersadar bahwasanya dirinya dilihat oleh ku. Maka dari itu, dia menghentikan aktifitas dan duduk diatas ku tanpa busana sehelai pun. Lalu, dia pun tersenyum dan menyapa ku.
"Selamat malam, Kay!" ucap Shiro dengan senyuman manja.
"Shiro?" jawab pelan ku.
"Kejam nya kamu meninggal ku seorang diri di Dungeon. Aku jadi rindu," ucap manja Shiro seraya membelai pipiku.
"Maaf, ada beberapa hal yang harus kulakukan."
Setelah aku berkata seperti itu, Shiro mendekatkan mulut nya di kuping ku. "Ayo kita bermain! Aku sudah tidak tahan." Seusai itu, Shiro pun mengigit kuping ku.
Aku yang sadar sepenuhnya sontak memaksa Shiro bertukar tempat denganku yang mana Shiro berada di bawah dan aku diatas.
"Dengan senang hati!"
Dan, aku dan Shiro bergulat di atas kasur untuk melepaskan rasa rindu kami.
Tanpa terasa pagi pun menjelang, suara burung berkicau dan cahaya matahari mulai masuk kedalam kamar ku. Lalu, aku pun menoleh kesamping terlihat Shiro masih ada disamping ku.
"Tumben sekali kamu masih ada disini?" ucap ku seraya mengelus-elus pipi Shiro.
Sikap ku itu membuat Shiro membuka mata dan tersenyum lalu, Shiro mencium bibir ku sebentar setelah itu mengucapkan salam.
"Selamat pagi, Kay!"
Aku pun mengerti, Dia melakukan sapaan pagi.
"Selamat pagi, Shiro!"
Tidak lama kemudian, kami mendengar suara ketukan pintu dan suara Luna.
Tok! Tok!
"Kak Albert, apa kakak sudah bangun?" ucap Luna.
Mendengar itu, Shiro sontak melihat ku.
"Dia kah target Harem mu selanjutnya?" ucap Shiro dengan penuh senyuman.
"Jika aku beruntung."
"Aku sangat yakin kamu pasti bisa." Lalu, Shiro pun bangun dari rebahan dan mengenakan pakaian dengan sihirnya. "Jika kamu sudah mendapatkan hatinya jangan lupa untuk membawa nya ke hadapan ku karena aku ingin berkata kepada bahwa aku adalah istri pertama nya," ucap Shiro dengan senyuman lebar.
"Eh?!"
Setelah itu, Shiro teleportasi kembali ke Dungeon Pocket.
Lalu, aku pun mengenakan pakaian dan membuka pintu yang mana Luna sudah menunggu dengan senyuman lebar.
"Selamat pagi, kak Albert!"
"Ada apa kamu pagi-pagi seperti ini datang ke sini?"
Luna sontak tersipu malu dengan menundukkan kepalanya dan berbicara pelan.
"Aku telah mempersiapkan sarapan. Silahkan kak Albert menikmati nya!"
"Benarkah, aku jadi tidak sabar ingin mencoba nya dan Ayo kita sarapan bersama!"
Luna pun menganggukan kepala nya. "Iya."
Lalu, aku dan Luna pun sarapan bersama di lantai dasar dan ditengah makan, Luna meminta sesuatu.
"Kak Albert, bolehkah aku meminta sesuatu?"
"Meminta apa?"
"Aku ingin kembali ke Dungeon Azure. Aku ingin mengenal ayah dan Ibu kandung ku meski, saat ini aku bahagia bersama dengan ibu angkat ku tetap saja kehidupan mereka tidak sedamai diri ku maka dari itu, aku ingin memberikan penghormatan kepada mereka," jawab Luna.
"Aku mengerti. Baiklah, aku akan mengantarkan kamu kesana."
"Terimakasih, kak Albert."
Setelah sarapan, aku dan Luna pergi ke Dungeon dengan mengunakan skill Warp.
Setibanya di ruang Tahta, Luna meletakan sebucket bunga dan memanjatkan doa. Aku yang melihat itu juga ikut memanjatkan doa.
Kyu, tenang saja. Aku akan menjaga Luna sebaik mungkin dan semoga kamu sudah bertemu dengan Flaria.
Dan, itulah doa ku.
Setelah itu, Luna menghampiri ku dan tersenyum.
"Terimakasih, kak Albert."
Aku pun menjawab nya dengan anggukan kepala.
"Jadi, sekarang apa akan kamu lakukan dengan Dungeon ini? Ingin membangun nya lagi ataukah menghancurkan nya?"
"Aku ingin membangun nya kembali. Apakah bisa?"
Mendengar itu, Luna pun menghela nafas panjang dan menitihkan air matanya.
Melihat itu, aku pun menyeka air matanya di kedua pipinya. Sikap aku itu membuat Luna tenang dan dia pun menyeka air matanya sendiri.
Lalu, Luna menoleh kearah ku dengan senyuman lebar, "Kak Albert, aku ingin menghancurkan nya agar jiwa ayah dan ibu bisa tenang di sana."
"Kamu yakin?"
Luna pun menganggukan kepalanya, "Iya, aku yakin."
Melihat kondisi Luna yang sangat sedih, aku mengambil sikap dengan memeluknya. Meski awalnya terkejut namun, dia pun menerima nya bahkan menangis di dada ku.