I Am Goblin With System

I Am Goblin With System
The Traveler Goblin | Chapter 36. Belajar sihir lagi



...Chapter 36. Belajar sihir lagi....


Saat ini aku sedang menemani Luna untuk berbelanja beberapa kebutuhan penginapan sambil memperkenalkan kota Ashford.


Selain membantunya, aku ingin mencoba mendekati Luna dan lebih mengenalnya.


Dalam perjalanan nya, aku dan Luna melewati pertigaan.


"Kak Albert, jangan pergi ke wilayah barat!" seru Luna seraya menunjuk jalan ke arah barat.


"Kenapa?"


"Disana wilayah bandit dan rumah bordil bahkan perdagangan budak juga ada disana," sambung penjelasan Luna.


Mendengar itu, aku pun tersenyum kecil lantaran aku berpikir sesuatu. Jika aku membeli budak itu bisa mempercepat mendapatkan DP. Tapi, apakah diantara para budak itu ada yang menyentuh hati ku? Mungkin, aku harus melihat nya sendiri.


Beberapa saat kemudian, didekat ku dan Luna. Ada anak kecil jatuh. Aku pun melepaskan lamunan dan Luna sontak menghampiri nya yang diikuti oleh ku.


" Adik, Kamu baik-baik saja?" tanya Luna yang sudah menyamakan ketinggian dengan anak kecil tersebut.


Anak kecil itu pun menangis dan memegang kakinya ya yang terluka.


"Huaaa!"


Luna yang melihat itu, dia tersenyum dan menepuk pelan kepalanya.


"Sudah jangan menangis ya! Kakak akan sembuhkan!"


Seusai mengatakan itu, Luan meluruskan tangan nya di luka anak kecil tersebut.


"Wahai Dewi Cahaya! berikan kesembuhan untuk dia, Sanatio (Penyembuhan)!"


Sesaat kemudian, luka dari anak kecil itu memancarkan butiran cahaya hijau dan berlahan menutup serta memulihkan luka anak kecil itu dalam sekejap.


Aku yang melihat itu sedikit terheran lantaran mantra sihir Penyembuhan berbeda dengan apa yang telah ku kuasai.


Sihir nya berbeda. Mungkin, aku harus belajar lagi.


Setelah luka itu sembuh, anak kecil itu sontak berdiri dan merubah ekspresinya menjadi senyuman lebar. "Terimakasih, kakak!" ucap senang anak kecil lalu, dia pun berlari meninggalkanku dan Luna.


"Luna, apakah itu sihir?"


Luna mengangguk kepalanya, "Iya, itu adalah sihir penyembuhan."


"Apakah kamu bisa mengajarkan ku?"


Saat mendengar pertanyaan ku, Luna sedikit terkejut. "Eh? Apakah Kak Albert memiliki bakat?"


"Bakat?"


"Iya, setiap makhluk di dunia ini jika ingin menggunakan sihir. Mereka harus memiliki bakat," jawab Luna.


"Ada, nanti sepulang dari sini. Kita akan menguji nya. Apakah kakak memiliki bakat sihir atau tidak?"


Setelah perbincangan itu, Aku dan Luna melanjutkan langkah untuk belanja lebih dari itu, aku baru sadar bahwa tas yang dibawa oleh Luna ialah tas sihir yang mana dalam penjelasan Luna tas itu mampu menampung 100 kg tanda ada beban bagi pengguna nya.


Beberapa jam kemudian, Aku dan Luna kembali ke penginapan Moon Light. Lalu, kami duduk di kursi yang kosong dan saling berhadapan.


Setelah itu, Luna mengeluarkan beberapa batu tembus pandang dengan berbagai warna dari kantong kulit yang dibawa nya.


"Itu apa?" tanya Rangga.


"Ini batu sihir. Sebuah benda sihir yang memiliki sihir yang berguna untuk memperkuat, menyimpan dan melepaskan sihir," jawab Luna.


"Iya, aku mengerti."


Lalu, Luna mengambil satu batu sihir berwarna biru dan mengambil gelas kosong. Setelah itu, batu biru yang ada ditangan nya didekatkan pada gelas. Luna pun merapalkan sihir nya.


"Wahai Dewi air. Datanglah! aqua creata (Terciptalah Air)!"


Disaat Luna merapalkan itu, sejumlah air kecil keluar dari batu sihir dan jatuh kedalam gelas hingga gelas terisi penuh.


"Oh, begitu. Aku mengerti."


"Inilah hasil dari sihir yang dipanggil. Batu sihir air menghasilkan air sebagai respon atas energi sihir ku," ucap Luna.


"Jadi begitu."


"Namun, jika kakak Albert tidak memiliki bakat sihir air maka batu tidak akan berfungsi dan tidak bisa menghasilkan air." Lalu, Luna memberikan batu sihir air kepadaku, "Sekarang, Kak Albert cobalah untuk mengujinya apakah kakak memiliki bakat air atau tidak?"


Lalu, aku pun menerima nya dan mengambil gelas yang kosong juga. Setelah itu, melakukan hal yang sama seperti yang Luna lakukan dan merapalkan kata yang sama.


"Wahai Dewi air. Datanglah! Aqua creata( Terciptalah Air)!"


Sesaat kemudian, air yang keluar dari batu sihir keluar dengan deras seperti kran yang rusak.


Melihat itu, aku dan Luna terkejut hingga aku langsung menjatuhkan batu itu keatas meja karena panik.


"Apa itu?"


"Aku hanya bisa mengambil kesimpulan bahwa level energi sihir air kak Albert jauh lebih unggul," jawab Luna.


"Jadi, begitu tapi, maaf. Aku telah membasahi meja ini," ucapku dengan tersenyum kecil.


"Tidak masalah. Aku akan merapihkan nya. Lebih dari itu, seperti nya kita harus melanjutkan nya di halaman belakang," jawab Luna.


"Iya, aku Setuju."


Terkadang berpura-pura itu sangat menyenangkan.