
...Arc VI. The Heir Dungeon....
...Chapter 42. Arc Skeleton, Kyu...
Sepulang dari rumah Lumina, aku pun disambut oleh Luna yang langsung menghampiriku.
"Bagaimana urusan kakak? Sudah selesai?"
Aku pun mengangguk kepala. "Iya, ada apa Luna?"
Luna tersenyum lebar lalu, dia meraih tangan dan menarik ku sampai di salah satu meja yang penuh makanan.
"Jreng! Jreng! ... Ini masakan yang ku janjikan dan aku membuat nya sendiri," ucap bangga Luna.
Aku yang mendengar itu sontak duduk dan mengambil sendok dan garpu. "Aku sangat tidak sabar untuk menyantap nya."
"Silahkan makan!" ucap Luna.
"Selamat makan!" ucap ku seraya mengambil omelet dan menyantapnya.
"Bagaimana rasanya?" tanya Luna yang menatapku dengan penasaran.
"Enak!"
Mendengar penilaian ku, Luna sontak tersenyum senang.
"Syukurlah! Dan, Kak Albert makan lah yang banyak!"
Dan, aku pun menyantap nya dengan lahap.
Ditengah makan, aku tersadar bahwasanya ibunya Luna tidak ada.
"Luna, dimana ibumu?"
Luna yang sedang merapihkan meja, dia pun menjawab nya. "Dia sedang berbelanja."
Lalu, aku pun menoleh kearah keluar yang mana di luar sedang hujan deras disertai petir.
"Tapi, bukan kah di luar hujan?"
Luna sontak menoleh kearah luar juga. "Iya, aku harap ibu bisa terteduh di tempat yang aman."
Sesaat kemudian, aku melihat ada nya burung hantu yang hinggap di dalam penginapan.
Melihat sosok burung hantu itu, aku mencurigai sesuatu.
"Siapa kamu?"
Disaat aku bertanya kepadanya, burung hantu itu pun mengeluarkan cahaya yang sangat terang hingga menutupi seluruh ruangan.
Sesaat kemudian, cahaya itu pun menghilang dan aku dikejutkan dengan sosok berjubah dan bertudung hitam dengan wajah dan tubuh tengkorak.
Aku yang melihat itu sontak beranjak diri.
"Skeleton kah?!"
"Jangan samakan aku dengan monster rendahan!" lalu, tengkorak itu melihat kearah Luna. "Aku datang ke sini untuk menjemput mu, Luna!"
Luna yang mendengar itu, dia hanya menundukkan kepalanya.
Aku pun tidak tinggal diam dan melangkah kearah depan Luna.
"Tidak akan aku biarkan kamu menyentuh teman ku."
"Siapa kamu?" tanya tengkorak berjubah.
"Aku hanya seorang pedagang."
Saat aku mengunakan Demon Eyes untuk melihat Status, dia memiliki kekuatan yang tinggi dan tidak bisa diremehkan.
[
Nama: Kyu.
Ras: Arc Skeleton.
Level: 80.
Gelar: Raja Undead.
Kemampuan: ...]
"Ingin melindungi? Apakah kamu memiliki kemampuan?" tanya remeh Kyu.
"Coba saja!"
Seusai perbincangan itu, Kyu melesatkan sihir kegelapan berupa bayangan yang berbentuk tentakel kearah ku.
Melihat itu, aku sontak menghindari dengan skill [Accel] seraya melangkah mendekati Kyu dan melesatkan pukulan. Namun, pukulan ku menembus tubuh nya seperti aku sedang memukul kain kosong.
"Seorang pedagang bisa bela diri? menarik!" ucap Kyu.
Lalu, Kyu melesatkan lebih banyak tentakel bayangan kearah ku.
Menyadari itu, aku sontak menghindari nya dengan mengunakan skill yang baru ku bua. 'Teleport.'
Sebuah skill perpindahan jarak dekat dan hanya bisa digunakan oleh penguna skill.
Lalu, aku pun teleport ke depan Kyu dan tidak sampai di situ. Aku pun melesatkan sihir.
"Lightning Spear."
Sebuah petir dengan bentuk tombak pun terbentuk dan melesat ke arah Kyu.
Akan tetapi serangan nya itu gagal oleh jubah hitam Kyu yang menelan tombak petir ku.
"Jubah yang menarik!"
Lalu, aku melanjutkan serangan ku dengan mengunakan Teleportasi dan berpindah ke sisi punggung Kyu dalam sekejap. Setelah itu, aku menempelkan tangan ke arah punggung dan merapalkan sihir.
"Fire Bomb."
DBOOMM!
Serangan sihir itu pun menimbulkan ledakan besar yang membuat ruangan disekitar ku hancur.
Akan tetapi, tubuh Kyu tidak terluka sedikitpun lantaran dirinya mengunakan perisai bayangan yang menyelimuti tubuhnya. Walaupun begitu, aku tersadar bahwa nya Kyu mengunakan simbol sihir bukan sihir atau skill.
"Inikah kemampuan simbol sihir?"
"Waktunya habis," ucap Kyu seraya memunculkan lumpur bayangan yang menghisap diri nya.
Melihat itu, aku sontak mengunakan [Accel] untuk menghindari serangan.
"Keturunan Pahlawan, temui aku di Dungeon Azure! Jika kamu lulus ujian. Maka, aku akan mengembalikan Luna kepada mu."
Memahami ucapan Kyu, aku sontak melihat Luna yang mana dia sedang terhisap dengan wajah yang tersenyum.
"Kak Albert, aku baik-baik saja. Pergilah! Dan, ****** ibu ku."
Meski Luna berkata seperti itu, aku pun tidak menerimakan nya.
"Tidak akan biarkan!"
Aku yang mengunakan skill [Accel] sontak bergerak cepat masuk kedalam lumpur bayangan untuk menyusul Luna dan Kyu yang sudah tenggelam terlebih dahulu.