I Am Goblin With System

I Am Goblin With System
The Traveler Goblin | Chapter 39. Keluarga Vin Zen



...Chapter 39. Keluarga Vin Zen ...


Sosok pria dewasa dengan perawakan yang besar dan memiliki rambut pirang yang mana sosok itu ada dihadapan ku.


Namanya Renald Vin Zen, ayah dari Lilia, Lethicia dan Fira. Yang mana juga ketiga putrinya itu berada di ruangan yang sama dengan aku dan Renald.


"Pertama-tama, aku ingin ucapan kan terimakasih karena telah membebaskan ketiga putriku dari tahanan para Orc," ucap Renald seraya menundukkan kepala.


Mendengar itu, aku melirik kearah Lethicia, Lilia dan Fira. Namun, mereka hanya menundukkan kepalanya.


"Aku hanya kebetulan bertemu dengan mereka dan ketiga putri anda sangat cantik. Maka dari itu, aku tertarik untuk membantunya."


Renald mengembalikan posisi kepala dan melihat ku dengan senyuman lalu, dia pun tanpa basa-basi meminta sesuatu kepadaku.


"Tuan Albert, bisakah anda membebaskan mereka dari ikatan perbudakan? Aku akan membayar berapa pun yang Tuan Albert inginkan. Sebutkan saja berapa?"


Aku yang mendengar itu sontak tersenyum kecil dan menyilang kan kaki.


"Maaf, aku tidak tertarik untuk melepaskan ketiga putri anda. Karena mereka sudah menjadi Harem untukku. Jadi, aku menolaknya."


Mendengar itu, Renald sontak merubah ekspresi nya menjadi kesal dan dia terlihat menahan amarahnya.


"Apa maksudmu, Tuan Albert?"


"Aku menolaknya dan." Aku melihat kearah Lilia dan kedua saudara nya. "Saat ini juga aku akan membawa mereka ke tempat tinggal ku."


Lilia dan kedua saudari nya hanya terdiam dan tidak berkata-kata.


"Aku mengerti sepertinya anda memilih untuk bermusuhan dengan ku!" ucap Renald dengan tatapan tajam melihat ku.


Tidak lama kemudian, pintu ruangan terbuka dan beberapa prajurit berzirah masuk dengan menghunuskan pedangnya dan salah satu prajurit mengalungkan pedang ke leherku.


"Maaf, sebenarnya aku ingin bersikap sopan. Namun, mereka ada putriku. Jika memang harus membunuh Anda maka aku harus lakukan! Jadi, bebaskan mereka!" ancam Renald.


Aku yang memahami situasi itu hanya tersenyum remeh.


"Tuan Renald, apakah anda pikir prajurit-prajurit ini akan bisa mengancam ku?" ucap ku dengan tatapan remeh. Lalu, aku pun memberikan perintah para Assassin Goblin yang ada di sekitar ku.


"Assassin Goblin! Bunuh para prajurit!"


Sesaat kemudian, para Assassin Goblin menonaktifkan kemampuan menghilang nya dan membunuh semua prajurit yang ada diruangan itu. Meski para prajurit mengenakan baju zirah namun tidak bisa dibandingkan dengan pisau yang di miliki oleh para Assassin Goblin.


Ruangan yang awalnya bersih. Kini menjadi lautan darah bahkan Renald sendiri terkena cipratan darah nya.


Hal itu membuat Renald terkejut dan ketakutan.


Memahami situasi itu, aku sontak beranjak dari kursi dan meluruskan tangan ku dengan bola api yang berkobar di tangan.


"Jadi, apakah kamu ingin tetap memaksa ku?"


Renald hanya terdiam dan menelan ludah nya serta merubah ekspresi nya menjadi ketakutan.


Lethicia yang melihat itu, dia sontak menyakinkan ayahnya.


"Ayahnya, kami tidak apa-apa. Tuan Albert sangat baik merawat kami. Jadi, izinkan kamu untuk tetap bersama nya sekalipun menjadi budak. Hal itu tidak menjadi masalah untuk kami."


"Ayah, aku mohon jangan melawan Tuan Albert! Aku juga tidak masalah untuk melayaninya dan aku tidak ingin kehilangan ayah!" sambung Lilia.


Fira hanya terdiam dan dia menahan air matanya.


Renald pun sontak memeluk kedua putrinya itu disertai dengan air mata.


Melihat itu, aku pun menghela nafas panjang dan menghilangkan bola sihir di tangan. Setelah itu, duduk kembali.


"Tuan Albert, aku akan membiarkan ketiga putrimu selalu di sisimu namun dengan satu syarat!"


Renald yang mendengar itu, dia sontak melepaskan pelukan serta mengusap air mata nya.


"Apakah itu Tuan Albert?" tanya Renald.


"Jadi lah keluarga Vin Zen menjadi budak ku. Maka aku akan membiarkan kalian tetap hidup bersama di rumah yang nyaman ini. Namun, jika kalian berani berkhianat. Aku tidak akan segan-segan untuk membunuh kalian semua. Bagaimana kamu menerima nya?"


Renald yang mendengar itu, dia sontak melihat ketiga putri nya dengan senyuman dan mereka pun saling bertukar senyuman dan anggukan kepala.


Setelah itu, Renald kembali melihat ku. Lalu, dia beranjak dari kursinya dan bersujud disamping ku. Ketiga putrinya sontak mengikuti gerakan Ayah nya.


"Baiklah, kami keluarga Vin Zen bersedia menjadi budak anda," ucap Renald dalam sujud.


Memahami situasi itu, aku sontak bangkit berdiri.


"Keputusan yang bijak dan aku menantikan pelayanan kalian."


"Baik," jawab Renald dengan ketiga putrinya.


Lalu, aku mengunakan skill [Slave Contract] kepada semua anggota keluarga Vin Zen.


Dengan ini, keluarga Vin Zen berada di tangan ku.