I Am Goblin With System

I Am Goblin With System
The Traveler Goblin | Chapter 40. Pergi bersama Lumina



...Chapter 40. Pergi bersama Lumina....


Setelah urusan keluarga Vin Zen selesai, pagi hari nya aku dikejutkan dengan Luna yang membangunkan ku lebih awal.


"Kak Albert, kakak sudah bangun?" ucap Luna seraya mengetuk pintu.


Lalu, aku pun terpaksa bangun dan membuka pintu.


"Selamat pagi, Luna!"


"Cepatlah bersiap! Pacarmu di bawah sudah menunggu di bawah," ucap Luna.


Mendengar itu, aku sedikit bingung.


"Pacar?"


Dan, saat menghampiri nya dengan kondisi yang sudah rapih ternyata yang dimaksudkan dengan pacar ialah Lumina yang datang berkunjung ke penginapan.


"Selamat pagi, Albert!" sapa Lumina dengan penuh keceriaan.


"Selamat pagi juga Luna! Dan, hari ini kamu terlihat cantik. Jadi, ada perlu apa?"


"Be-Begini, hari ini aku diizinkan untuk keluar dan aku ingin mengajak mu berkeliling kota ini!" ucap Lumina dengan penuh semangat.


Permintaan dari seorang gadis cantik tentu tidak boleh ditolak.


"Terimakasih dan mohon bimbingan nya!"


"Iya," jawab Lumina dengan penuh semangat.


Dan, kami pun jalan-jalan mengelilingi kota. Tempat pertama yang kami tuju ialah pasar dan kami pun menghampiri salah satu toko makanan kecil.


"Pak, saya pesan dua gorengan Ashford!" pinta Lumina.


"Baik," jawab Pedagang yang langsung memasang nya.


Lalu, Lumina melihat ku. "Albert, kamu tahu goreng disini sangatlah lezat!"


"Benarkah? Jadi tidak sabar untuk mencicipinya."


Lumina pun tersenyum mendengar nya.


"Baik, silahkan!" ucap pedagang seraya memberikan dua gorengan kepada kami.


"Terimakasih," jawab Lumina seraya menerima makanan tersebut.


Sedangkan, aku membayar makanan nya itu.


"Sama-sama," jawab pedagang seraya menerima uang pemberian ku.


Melihat itu, Lumina terkejut dan mengomel.


"Duh, padahal aku ingin membalas kebaikanmu! Kenapa kamu yang membayar nya?! Moo ..."


"Kamu kan sudah mengantarku berkeliling kota dan juga sempat membantu ku untuk masuk ke kota. Itu sudah lebih dari cukup!"


Mendengar itu, Lumina tersenyum senang dengan wajah yang memerah.


Setelah itu, kami pun makan di pusat kota yang mana disana terdapat air mancur dan rasa gorengan Ashford lebih mirip risoles.


"Bagaimana rasanya?" tanya Lumina.


"Sangat enak!"


"Syukurlah!" jawab senang Lumina.


Seusai itu, kami melanjutkan langkahnya ke jajanan yang lain dan Lumina dengan semangat memperkenalkan makanan khas Ashford.


Lalu, disaat kami mengunjungi salah satu toko. Seorang anak kecil tanpa sengaja menabrak Lumina dan membuat baju nya kotor terkena bumbu makanan yang sedang dipegang nya.


"Maaf ya kak!" ucap anak kecil seraya berlari meninggalkan kami.


Lumina yang melihat noda di bajunya menjadi mengeluh. "Ah, blus yang ku pinjam dari ibu."


Aku yang melihat itu pun mempertanyakan nya.


"Kamu baik-baik saja?"


"Albert, aku jadi malu jalan bersamamu jika pakaian ku kotor seperti ini," ngeluh Lumina.


"Hmm ... apakah disini tidak ada tempat untuk membersihkan noda pakaian?"


Saat kami berbincang, Pedagang didekat kami memberikan rekomendasi nya.


"Tuan, jika berkenan pergi lah ke toko alat sihir. Penjaga toko disana mampu mengunakan sihir untuk menghilangkan noda di pakaian Nona Lumina ini."


Lalu, aku dan Lumina pergi ke toko alat sihir yang direkomendasikan oleh pedagang jajanan.


Kling! Kling!


Sesaat membuka pintu toko, kami disambut oleh lonceng pintu dan penjaga toko yang mendengar itu sontak menyapa kamu. Sosok wanita berambut cokelat panjang.


"Selamat datang! Ada yang bisa saya bantu?"


"Kami mendengar bahwa kamu bisa membersihkan noda pakaian teman ku ini."


"Tentu saja bisa karena itu bagian dari sihir sehari-hari," jawab penjaga toko.


Lalu, penjaga toko menghampiri kami.


"Maaf telah merepotkan ibu," ucap Lumina.


"Ah, tidak masalah. Hal seperti ini sudah sering terjadi lagi itu hanya sihir kecil."


Setelah itu, penjaga toko merapalkan sihir air.


"Wash!"


Sesaat merapalkan itu, pakaian Lumina sontak basah kuyup hingga pakaian dalam yang menutupi buah dadanya terlihat.


Aku yang melihat itu sontak memalingkan wajahku dan Lumina yang menyadari nya sontak menutup dadanya dan berteriak kecil.


Tanpa dilihat oleh nya aku tersenyum sendiri karena merasa beruntung dapat melihat pakaian dalam nya.


Mungkin suatu hari nanti, aku dapat merasakan buah dadanya.


"Maaf. Saya akan melanjutkan rapalan nya." Penjaga Toko merapalkan sihir nya. "Dry."


Sesaat kemudian, pakaian Lumina kering sepenuhnya dalam sekejap.


"Kemampuan yang luar biasa. Terimakasih," ucap Lumina.


Mengetahui proses sudah selesai, aku membalikkan badan kembali dan membayar biaya nya.


"Terimakasih."


"Sama-sama, Tuan."


Disaat aku sedang membayarnya, Lumina sontak melihat-lihat toko dan ada sesuatu yang menarik perhatian nya. Lalu, dia pun mengambil dan menunjukkan nya kepada ku.


"Albert, Lihatlah! Aku sangat menyukai buku ini."


"Buku apa?"


"Koleksi sihir unik," jawab Lumina.


"Eh? Jadi, ada orang yang bisa merapalkan begitu banyak sihir unik?"


"Albert, kamu salah. Penulis buku hanya memiliki hobi untuk membuat informasi tentang sihir unik tapi, sangat jarang ada pengguna sihir unik yang sama," jawab Lumina.


"Tidak hanya itu, penulis buku ini sangat menghormati pahlawan 100 tahun yang lalu bernama Touya Mochizuki."


Mendengar itu, aku sempat terkejut lantaran nama nya mengunakan nama Jepang. Aku hanya berpikir satu kesimpulan bahwasanya dia seorang Reinkarnator.


Lalu, Lumina membuka halaman buku yang mana berisikan sihir unik Recovery.


"Kamu tahu Albert, saat aku bertemu dengan mu. Aku sedang mengunjungi nenek untuk mencari sosok pria yang mampu mengunakan sihir unik Recovery namun, aku tidak bisa menemuinya."


Recovery adalah sihir unik yang mampu menyembuhkan luka dan status negatif apapun. Melihat itu, aku berpikir mungkin saja aku bisa mengunakan nya dan beberapa sihir unik lainnya.


"Anu ... Nona, saya ingin membeli buku ini!"


"Harga nya 1.500 Vale!" ucap penjaga toko.


Lalu, aku pun mengambil uang nya dan membayarkannya. "Ini."


"Terimakasih banyak."


Sesaat membeli itu, Lumina ingat sesuatu.


"Ah, benar. Ayahku ingin bertemu dengan mu. Apakah kamu mau ke rumahku?"


"Jika itu tidak merepotkan."


"Tentu saja, ayo!" seru Lumina.


Setelah itu, aku dan Lumina pun pergi ke tempat tinggal Lumina.