I Am Goblin With System

I Am Goblin With System
The Traveler Goblin | Chapter 34. Luna dan Penginapan Moon Light



...Chapter 34. Luna dan Penginapan Moon Light....


Setibanya di kota Ashford, aku langsung disungguhi oleh keributan di gang kecil yang mana terlihat ada tiga orang. Dua pria dan satu wanita.


Saat melihat wanita itu, aku sontak terkejut lantaran melihat kedua kuping nya yang panjang disertai rambut panjang dengan warna merah muda.


Elf?! Ini baru pertama kali, aku melihat Elf dan dia lebih cantik dibandingkan gambaran yang ada di novel atau anime.


Sedangkan, kedua pria itu terlihat seperti preman.


"Ini bukan kesepakatan kita!" seru kesal gadis Elf.


"Saya sudah mengatakan sebelum memang ingin membeli kristal api ini dengan harga satu koin emas tapi, Lihat ini! Kristal ini sudah rusak!" salah satu pria preman yang memegang kristal menunjuk kearah rusak nya kristal yang hanya berupa goresan kecil. "Jadi, ambil uang ini!" seru preman seraya melemparkan satu koin perak.


Wanita Elf itu pun lelah untuk berdebat dan dia menghela nafas panjang.


"Sudah lah. Aku tidak jadi menjual nya. Sekarang, kembalikan kristal itu!"


"Maaf, kesepakatan tidak bisa dilanggar dan kamu tidak bisa membatalkan nya," jawab preman.


Melihat arogansi preman, permasalahan tidak akan selesai aku pun memutuskan untuk ikut campur.


"Maaf, aku menyela!"


Gadis Elf dan kedua preman sontak melihat kearahku


"Siapa kamu? ada urusan apa dengan kami?" tanya salah satu preman dengan nada kasar.


"Saya memiliki urusan dengan gadis itu," ucap ku yang melihat kearah gadis Elf.


"Eh? Saya?" tanya bingung Gadis Elf yang melihat ku.


"Aku ingin membeli kristal api itu dengan harga satu koin emas. Bagaimana?"


Aku pun tersenyum dan memberikan tanda dengan mengedipkan satu matanya yang membuat nya mengerti maksud dari ku.


"Baiklah, aku menjual nya kepada mu!" jawab gadis Elf.


Mendengar ucapanku, kedua preman sontak melihat nya dengan tatapan kesal.


"Bicara apa kamu?!" ucap kesal preman.


"Jadi, pak. Serahkan kristal itu kepada mu!"


"Mimpi!" jawab kesal preman.


Lalu, preman yang menjawab itu memberikan kode kearah rekan nya untuk menyerang ku dan rekan nya itu pun menuruti nya.


"Bjingan!" seru kesal rekan preman seraya melesatkan pukulan kearahku


Saat itu aku pun menyadari bahwasanya gerakan dari preman itu menjadi lambat sangat berjarak didekat ku.


Mengabaikan hal itu, aku sontak menangkap tangan preman itu dan membantingnya hingga membuat preman jatuh pingsan.


Dan, saat Kuro melihat pria yang lain. Dia sudah di kalahkan oleh gadis Elf. Aku pun terkagum melihat nya.


"Seperti nya sudah selesai."


Lalu, aku pun mengambil satu koin emas dan melangkah menghampiri gadis Elf yang sedang mengambil kristal api.


"Ini bayaran yang dijanjikan," ucapku seraya memberikan koin emas kepada gadis Elf.


"Tidak perlu, ini aku berikan untuk kamu. Terima sudah membantu ku," jawab Gadis Elf yang menolak uang dariku.


"Eh? kamu yakin?"


Gadis Elf itu menganggukkan kepalanya dan tersenyum. "Iya."


"Kalau begitu, aku akan menerima nya."


Setelah itu, aku pun memperkenalkan diri.


"Ngomong-ngomong, aku Albert Halley. Salam kenal!" ucapku dengan memberikan tangan kanan nya.


Gadis Elf itu dengan wajah yang penuh senyuman, dia menerima tanganku dan memperkenalkan dirinya.


"Saya Luna Stardia. Salam kenal!"


Lalu, Luna dan aku saling bertukar senyum. Tidak lama mereka melepaskan tangan dan Luna melanjutkan pertanyaan.


"Luna, apakah kamu baru datang ke kota ini?"


Mendengar ucapanku, Luna membuka lebar kedua matanya.


"Jika tidak keberatan, aku memiliki rekomendasi penginapan yang bagus dan makanan nya lezat," jawab Luna.


"Benarkah? bisa tunjukkan kepada ku!"


"Tentu saja," jawab Luna dengan senyuman lebar dan memiringkan sedikit kepalanya.


Setelah pembicaraan itu, kami pun pergi ke sebuah penginapan bernama Moon Light dan saat masuk kedalam penginapan, lonceng pintu berbunyi dan sosok elf yang berbadan tinggi dan lebih dewasa dengan rambut seperti Luna menyambut mereka.


"Selamat datang!" sapa wanita Elf.


"Ibu, aku membawa tamu yang ingin menginap!" seru Luna.


Mendengar itu, wanita Elf yang merupakan Ibu Luna berjalan cepat menghampiri Luna dan aku.


"Luna! Ibu dengar kamu membuat keributan!" seru kesal ibu nya Luna.


"Hehehe ... maaf, Bu. Abis mereka duluan yang telah menipu ku tapi beruntung ada kak Albert yang membantu dan menyelamatkan ku," jawab Luna dengan senyuman lebar.


"Dasar kamu!" Ibu nya Luna melihat kearah dan menundukkan kepalanya. "Terimakasih, Tuan Albert telah membantu putri ku."


"Tidak masalah, sudah sewajarnya kita harus saling tolong menolong."


"Ibu, Kak Albert ini ingin menginap di penginapan kita apakah tidak ada kamar yang kosong?"


"Ada. Permalam nya dua tembaga besar. Namun, karena kebaikan dari anda. Maka aku akan memberikan diskon menjadi satu tembaga besar. Berapa malam Tuan Albert ingin menginap?"


"Jangan panggil aku Tuan, Bu! Panggil saja Albert!" Lalu, aku mengambil satu koin emas dan memberikan nya kepada Ibunya Luna. "Berapa malam jika satu koin emas?"


Mendengar itu, Ibu nya Luna dan Luna saling bertukar pandang.


"Apakah kak Albert yakin? satu koin emas bisa menginap 100 hari," jawab Luna.


Aku pun tersenyum dan menganggukkan kepala. "Tidak apa-apa. Lagipula, aku sama sekali tidak punya tempat untuk tinggal."


Meski aku berkata seperti itu, sebenarnya aku memiliki desa sendiri yang sangat luas. Namun, bagi Albert. Dia tidak punya tempat tinggal.


"Baiklah, Dek Albert. Ibu akan terima dan ..." Ibunya Luna melihat kearah Luna. "Luna, antar kan dek Albert ke kamar nya!"


"Baik, Bu." Luna melihat kearah ku. "Kak Albert, mari biar saya antarkan!"


Lalu, Aku pun diantarkan di kamar yang cukup besar yang berada di lantai tiga dan setibanya didalam, Dia melihat perabotan yang masih sederhana dengan bahan kayu.


"Kak Albert, apakah ada yang bisa ku bantu lagi?" tanya Luna.


"Sudah cukup. Terimakasih, Luna."


"Oke. Kalau begitu, selamat beristirahat!" ucap Luna lalu, dia meninggalkanku.


Dan, Kuro masuk kedalam kamar nya dan merebahkan diri diatas kasur.


"Hari ini sungguh melelahkan."


Lalu, aku teringat akan Gosa yang ku perintahkan untuk kembali ke Dungeon agar aku bisa berkomunikasi dengan ras Elf.


Diatas kasur yang empuk, berlahan mata ku sayu dan ingin tertutup. Namun, sesaat kemudian, Shiro sudah ada di atas ku.


"Jadi, begitu. Setelah bertemu dengan dua gadis cantik kamu melupakan ku," ucap Shiro.


"Tidak mungkin, aku tidak mungkin melupakan mu." Lalu, aku pun menggoda nya. "Mungkin kah kamu cemburu."


Shiro tersenyum lebar, "Jelas saja aku cemburu tapi juga aku tidak ingin menghalangi mu untuk Harem."


"Terimakasih."


Aku dan Shiro pun saling bertukar senyum.


"Sudah bisa mulai kah?"


"Kapan pun?!" jawab Shiro.


Dan, kami pun melakukan pergulatan kami diatas kasur.


...▲ ▼ △...


Luna Stardia