
...Chapter 37. Menguji sihir...
Di kehidupan dahulu, aku sangat sulit sekali mendekati wanita terutama wanita kaya dan cantik. Mereka lebih memilih dekat pria yang kaya juga tampan.
Sedangkan aku hanya memiliki wajah yang biasa saja. Bahkan mendekati wanita saja aku sulit namun, berbeda di dunia lain ini.
Banyak wanita cantik yang bersikap ramah meski kepada seorang pria yang baru dikenal nya.
Dan, saat ini aku sedang bersama Luna untuk menguji sihir meski, aku sebenarnya sudah tahu tentang sihir. Namun, agar aku bisa lebih dekat dengan Luna. Kenapa tidak untuk berpura-pura?
Aku dan Luna pun saat ini berada di halaman belakang untuk menguji kemampuan sihir ku.
"Baiklah, Guru Luna. Mohon bimbingannya!"
Mendengar ucapan ku, Luna tersipu malu. "Gu- Guru! .. Aku! Hehe ..."
Aku pun tersenyum senang melihat wajah Luna yang memerah dan memegang kedua pipinya.
"Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Luna yang mendengar itu, dia menyadarkan lamunan nya dan kembali menjelaskan kepadaku.
"Baiklah, sebelum mempraktekkan nya. Aku akan menjelaskan teorinya ..."
Dan, Luna pun menjelaskan bahwasanya bakat sihir terdiri dari tujuh atribut yaitu Air, Api, Angin, Tanah, Cahaya, Kegelapan dan Unik. Lalu, batu sihir yang memiliki warna yang berbeda ini menandakan atribut masing-masing sihir.
" ... Dan, aku bisa mengunakan tiga atribut. Air, Cahaya dan Angin," ucap bangga Luna.
"Aku mengerti."
Sesaat kemudian, Luna mengeluarkan batu sihir nya lagi dan menaruhnya diatas meja halaman belakang.
"Sekarang, mari kita coba satu persatu!" seru Luna seraya memberikan batu sihir merah kepada ku dan memberikan mantra dasar nya.
Aku pun mengambil batu itu dan merapalkan mantra nya.
"Wahai Dewa Api, Datang lah! Creatus Ignis."
Sesaat merapalkan itu, batu sihir mulai terbakar dan menyala dengan kuat. Melihat itu, aku sontak melepaskan nya.
Luna yang melihat itu tertawa kecil. "Kak Albert, kenapa kakak panik? Kakak tidak perlu khawatir karena sihir api yang di ciptakan dari rapalan sendiri tidak akan merasakan panas kecuali jika api itu terkena baju dan barang sekitar. Namun, Api akan merasakan panas dan sakit kepada target yang di lemparkan.
"Oh, begitu. Aku mengerti."
Seusai itu, aku melanjutkan pengujian nya dengan mengambil batu sihir berwarna coklat muda.
"Wahai Dewa Tanah, Datanglah! Creatus Terra."
Sesaat kemudian, butiran pasir halus jatuh dengan derasnya dari batu sihir.
Selanjutnya, batu sihir berwarna Hijau.
"Wahai Dewi Angin, Datanglah! Creatus ventus."
Setelah itu, aku mengambil batu kuning.
"Wahai Dewi Cahaya, Datanglah! Creatus lux."
Sesaat kemudian, batu itu memancarkan kilatan cahaya seperti senter.
Lalu, aku melanjutkannya dengan batu hitam.
" ... Creatus tenebris."
Sesaat kemudian, kabut hitam keluar dari batu dan mengeluarkan aura yang mencengkram.
Mengetahui itu, aku sontak melepaskan batu hitam dan mengembalikan nya kepada Luna namun, Luna terbengong melihat nya.
"Luna, ada apa?"
Luna sontak melepaskan lamunannya, "Ah, tidak. Hanya saja ini pertama kalinya aku melihat seseorang yang mampu mengunakan enam atribut. Aku saja yang mampu mengunakan tiga atribut sudah terhitung jarang. Kak Albert memang luar biasa!" ucap senang Luna.
Aku tidak bisa mengatakan yang sebenarnya maka dari itu, aku hanya memberikan senyuman lebar
Lalu, Aku mengambil batu terakhir yaitu batu tidak berwarna dan transparan.
"Luna, bagaimana cara menguji nya?"
"Sihir unik termasuk istimewa karena sihir itu ada sejak lahir dan kakak akan mengetahui nya nama sihir itu secara langsung," jawab Luna.
"Jadi, begitu. Lalu, bagaimana mengetahui nya kalau aku memiliki sihir unik?"
"Ada beberapa sihir unik yang ku ketahui seperti [Boost] sihir untuk meningkatkan sihir dan fisik, [Power Rise] Meningkatkan kekuatan fisik dan ada juga sihir unik [Warp] yang dapat berpindah ke tempat yang sangat jauh dan dikenali oleh perapal. Jadi, coba kamu sebutkan salah satu sihir unik itu. Sekalipun sihir tidak aktif dan kakak memiliki atribut sihir unik maka, batu itu akan mengeluarkan cahaya atau getaran," jawab penjelasan Luna.
"Baiklah, aku mengerti."
Lalu, Aku menghadap ke samping dan merapalkan sihir unik.
"Warp."
Sesaat kemudian, batu transparan itu bersinar sangat terang dan memunculkan lingkaran api dengan pandangan tembus pandang dengan genangan air di tengah nya yang menggambarkan hutan.
Lalu, aku melihat kearah Luna. "Aku berhasil."
"Kak Albert memang luar biasa," ucap kagum Luna.
Mengetahui itu, aku mencoba memeriksa nya dengan memegang nya yang mana terdapat selaput air namun, aku tidak merasakan bahaya. Maka dari itu, dia memasukkan kepala nya kedalam gerbang itu dan terlihatlah hutan di desa Dungeon. m
Tidak lama kemudian, Luna menyusul memasukkan kepala nya dan terlihat kagum.
"Oh, ini hutan dan kakak berhasil sepenuhnya."
Sejak kejadian itu, aku pun semakin dekat dengan Luna.