
Happy Reading!
Author POV
Oxel sedang beristirahat di ruang pegawai, hari itu adalah hari yang sangat membosankan baginya. Dia tidak terbiasa berdiam diri. Biasanya dia kuat walaupun banyak perlakuan tak mengenakan ia terima dari ibu dan adiknya.
Tetapi kali ini dia tumbang, yang hanya bisa dilakukan Oxel saat ini adalah terbaring di ranjang kecil. Badannya pun masih terasa lemas.
“Aku bosan, tapi badanku masih lemas, hahh," keluh Oxel.
Dia hanya menatap langit-langit. Pikirannya menerawang jauh. Andai ayah dan ibunya masih ada mungkin dia tidak akan berada di tempat ini.
“Mereka sedang apa, ya?" gumam Oxel.
Karena dia tidak tahu harus melakukan apa, akhirnya dia memutuskan untuk tidur sejenak.
Dalam tidurnya Oxel merasakan rasa damai yang telah lama hilang dari hatinya. Rasanya sangat menenangkan.
Dalam mimpi Oxel:
Oxel berdiri di sebuah padang rumput hijau yang membentang luas. Udaranya sangat dingin dan menyejukkan.
“Ini ada di mana? Aku belum pernah ke sini sebelumnya?" gumam Oxel. Dia terus berjalan menyusuri padang rumput yang luas itu.
Terus berjalan, hingga dia melihat sesuatu, ia melihat sebuah pohon besar di sana, di sebelah pohon itu terdapat ayunan berwarna putih.
Dia berjalan menuju pohon besar itu. Sesampainya di sana, dia duduk di ayunan putih tersebut. Oxel merasakan rasa nyaman di sana. Terdengar kicau burung yang merdu dan angin yang berhembus dengan lembut.
Terasa sangat nyaman suasananya hingga mampu membuat Oxel terlelap.
...****************...
Oxel merasakan usapan lembut pada kepalanya, namun ia tidak berniat membuka matanya. Dia malah semakin menyamankan tidurnya karena usapan itu.
Entah apa yang terjadi dalam tidurnya tapi Oxel tengah tertidur sambil tersenyum. Hingga suara lembut menyadarkan ia dari tidurnya.
“Oxel," panggil suara itu. Sontak saja Oxel membuka matanya secara perlahan, disertai lenguhan yang keluar dari bibir cherry tipisnya.
“Eunghh.. Ibu?" panggil Oxel tak yakin.
“Kau sudah bangun, sayang?" jawab seorang wanita paruh baya itu.
“Apa aku sedang bermimpi? Bukankah Ibu sudah pergi meninggalkan Oxel?" tanya Oxel pada dirinya sendiri.
Wanita itu tersenyum pada Oxel. Senyumnya begitu teduh dan menenangkan.
“Ibu tak pernah meninggalkan putra kesayangan Ibu. Ibu selalu ada di dalam hatimu, nak."
Oxel memandang wanita itu dan melihat sekelilingnya.
“Ibu, ini di mana? Mengapa Oxel bisa berada di tempat asing ini? Oxel belum pernah ke sini sebelumnya?" tanya Oxel bingung.
Wanita itu tampak tersenyum lembut melihat raut wajah Oxel yang terlihat sangat menggemaskan baginya.
“Tapi apakah kau menyukai tempat ini?" tanya wanita yang dipanggil ibu oleh Oxel.
“Hmm... Oxel menyukainya. Tempat ini nyaman dan damai, selain itu di sini juga sejuk," jelas Oxel.
“Kenapa Ibu ada di sini? Apakah Ibu tinggal di sini sekarang?" tanya Oxel dengan raut wajah bingungnya yang terkesan polos.
“Bisa dikatakan seperti itu," jawab ibunya.
“Jika begitu, apakah ini di surga? Lalu apakah Oxel sudah mati?" tanya Oxel lagi.
“Belum sayang. Kau sedang berada di alam bawah sadarmu saat ini, atau kau sedang bermimpi?" jawab ibunya dengan senyum.
“Jika ini sebuah mimpi, aku rela tak bangun. Aku hanya ingin bersama Ibu," jawab Oxel.
“Oxel sayang. Ibu tahu kau anak yang baik. Ibu selalu bersama Oxel. Ibu selalu mendampingimu dan mengiringi setiap langkahmu, nak," terang ibunya.
“Tapi Oxel lelah Ibu, dunia terlalu jahat padaku. Aku sakit, aku sendirian," adu Oxel pada ibunya bak seorang anak yang berusia 5 tahun, ketika ingin permen.
Sang ibu mendekat pada Oxel dan memeluk Oxel seraya menyandarkan kepala Oxel di dadanya.
“Ibu tahu dan Ibu yakin, jika putra Ibu adalah orang yang kuat, bahkan sangat kuat. Jika tidak, kau tidak akan bertahan sejauh ini, sayang," kata ibunya lagi.
“Tapi mereka jahat, Ibu. Mereka jahat pada Oxel dan selalu menyalahkan Oxel, padahal itu bukan salah Oxel," adunya seperti anak kecil.
“Benarkah? Siapa yang berani berbuat jahat pada putra Ibu yang manis dan menggemaskan ini?" tanya ibunya sembari mencubit pelan hidung Oxel dengan gemas.
“Ibu Oxel tidak manis dan menggemaskan. Oxel itu tampan. Oxel juga sudah besar," ujar Oxel merajuk dan mengerucutkan bibirnya seperti bebek.
Sang ibu hanya terkikik geli melihat tingkah laku sang putra.
“Baiklah, putra Ibu yang tampan, bahkan sangat tampan," ujar sang ibu sambil tersenyum.
“Hmmm..." Oxel tersenyum sembari mengeratkan pelukannya pada sang ibu. rasanya sangat hangat dan nyaman.
“Bagaimana kabar anak Ibu, apakah kau baik-baik saja? Kau makan dengan baik?" tanya sang ibu.
“Aku tidak baik-baik saja Ibu. Aku tidak ingin berbohong. Mereka selalu menyiksaku, hampir setiap hari," jelas Oxel pada ibunya.
Tanpa dilihat Oxel, Cindy pun menitikkan airmatanya. Dia tahu bahwa orang-orang itu selalu menyiksa anaknya.
Dia terus mengusap kepala anaknya dengan sayang, serta mencium puncak kepala sang anak.
Cindy sangat ingin memeluk dan melindungi putranya, kala ada yang berbuat jahat terhadap sang putra.
“Ibu, bolehkah aku tinggal di sini dan tinggal bersama Ibu?" tanya Oxel dengan tatapan mata bulatnya.
“Waktumu belum tiba. Belum saatnya kau ikut Ibu. Berusahalah sedikit lagi. Ibu yakin, kau pasti akan bahagia suatu hari nanti, sayang."
“Tapi—"
“Ibu percaya kau anak yang kuat. Ibu akan melindungi Oxel. Oxel percaya pada Ibu, kan?"
Oxel pun mengangguk dalam dekapan sang ibu. Mereka terus berpelukan, saling melepas rindu.
Hingga suara Cindy menyadarkan Oxel, “Nak, sudah waktunya kau kembali."
“Secepat itu?" jawab Oxel sambil cemberut.
Mau tidak mau Oxel melepaskan pelukannya meski dia tidak rela.
“Pulanglah!" kata ibunya.
Lalu seketika semuanya berubah jadi cahaya putih dan perlahan lenyap.
Mimpi Selesai.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Oxel terbangun dari tidurnya. Dia mengerjapkan matanya. Mimpi itu terasa begitu nyata. Tiba-tiba saja bibi masuk dan membawa nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air putih.
“Kau sudah bangun, nak? Sean bilang tadi kau tertidur cukup lama," kata bibi.
“Benarkah?" tanya Oxel.
Sang bibi dengan cekatan mengambil bubur itu dan duduk dihadapan Oxel, lalu menyuapinya.
“Buka mulutmu dan makanlah!" perintah bibi.
Oxel membuka mulutnya dan menerima suapan dari bibi.
“Kau harus banyak makan dan istirahat teratur, supaya kau cepat sehat kembali. Dan kembali bekerja menghasilkan pundi-pundi untukku," ucap bibi dengan sedikit nada candaan di sana.
“Bibi tidak berniat menambah pegawai?" tanya Oxel.
“Memilikimu, Dara dan Sean sudah lebih dari cukup untukku, untuk apa aku menambah pegawai?" jawab bibi.
“Tapi pelanggan Bibi semakin banyak, mungkin Bibi harus merenovasi toko supaya jadi lebih besar dan menambah pegawai, supaya kami tidak kewalahan," saran Oxel pada bibi.
“Akan Bibi pikirkan," jawab bibi.
Setelah selesai menyuapi Oxel bibi pun keluar dari ruang pegawai sambil membawa nampan dan semangkuk bubur, serta segelas air putih. Tak lupa bibi juga menyuruh Oxel istirahat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore hari tiba, Oxel pulang lebih awal karena hendak bekerja di cafe.
“Perlu kami antar?" tawar Sean.
“Kalian tak perlu repot-repot. Aku akan datang sendiri saja," jawab Oxel.
“Kurasa kami harus mengantarmu, karena kau sedang sakit," ucap Dara.
“Memang susah jika berdebat melawan kalian berdua. Kalian selalu bersekongkol," ujar Oxel sambil mendengus.
“Kau saja yang selalu kalah suara," jawab Dara dan Sean.
“Itu karena mungkin kalian berjodoh, maka dari itu kalian selalu kompak dalam mengerjaiku," ujar Oxel, membuat atmosfer di antara mereka berubah menjadi canggung. Terutama untuk Sean dan Dara.
Sesampainya di cafe, Oxel segera bersiap untuk penampilannya, sementara Dara dan Sean duduk di bangku sebagai pelanggan.
Mereka berdua nampak seperti pasangan yang sedang berkencan. Jika Oxel sudah datang, pengunjung mulai antusias untuk mendengarkan suara emas Oxel.
“Selamat sore semuanya!" seru Oxel di atas panggung.
“Sore!" balas para pengunjung.
“Apa kabar kalian semua? Ku harap kalian baik-baik saja," sambungnya lagi.
“Sebelumnya aku minta maaf, karena aku tidak hadir kemarin dan aku tidak menghibur kalian. Ha-ha-ha...." ucap Oxel dengan tawa.
“Aku sedang tidak enak badan, maka dari itu aku sedang memulihkan diriku, supaya aku segera sehat dan bisa menghibur kalian kembali," jelasnya.
“Oke, hari ini aku akan membawakan sebuah lagu dari penyanyi kenamaan Dong Bang Shin Ki. Berjudul Hug," jelas Oxel lagi.
“Ada yang tahu lagu ini?" tanya Oxel.
“Jika ada, mari kita bernyanyi bersama! Jika tidak, selamat mendengarkan!" kata Oxel.
Oxel mulai bernyanyi ketika musik mulai mengalun. Suara Oxel begitu tenang dan lembut saat terdengar.
Semua mulai ikut bernyanyi, ada juga hanya mengikuti ketukannya.
Sean hanya memandang Dara yang sedang melihat Oxel bernyanyi. Lagu yang dinyanyikan Oxel sangat menggambarkan perasaannya saat ini.
Haruman noui goyangiga dwegoshipo
oh baby
Niga junun mainun uyowa buduroun nipumaneso
Umjiginun jangnanedo noui gweyoun ibmachume
Nado mollae jirthurur nuggigo issona bwa
Ia seakan ingin menjadi kucing peliharaan Dara, yang bisa mendapatkan kasih sayang dan perhatian Dara sepenuhnya dan juga ingin melindungi serta memiliki Dara sepenuhnya walau hanya dalam mimpi.
Dara juga sedang membayangkan jika Oxel menyanyikan lagu itu untuk dirinya.
Riuh tepuk tangan terdengar, kala Oxel selesai menyanyikan lagu tersebut.
“Terima kasih." ujar Oxel sembari membungkukkan badannya.
“Wah, aku tak menyangka jika Oxel pandai menyanyi,"ujar seorang wanita yang datang bersama teman wanitanya yang lain.
“Memang kau pernah bertemu dengannya?" tanya temannya itu.
“Tentu. Aku pernah bertemu dengannya," jawab si wanita tersebut.
“Di mana?" tanya temannya itu lagi.
“Eh, itu ceritanya panjang," jawab wanita itu.
“Ckk..." temannya hanya berdecak kesal.
Author POV end
.