
Happy Reading!
Author POV
Maria pulang ke rumah dengan bersungut-sungut. Dia masih merasa kesal tidak bisa memamerkan apa pun pada teman-temannya. Dia merasa tersudutkan dengan berbagai macam pertanyaan, yang diajukan oleh teman-temannya.
“Dasar, berani sekali mereka membuatku malu," gerutu Maria saat pulang ke rumah.
Christian yang melihat ibunya menggerutu jadi bertanya-tanya ada apa gerangan.
“Ibu ini kenapa? Datang-datang sudah marah-marah tidak jelas," ujar Christian.
“Ibu sedang kesal dengan teman Ibu. Bisa-bisanya mereka pamer barang-barang mewah di depan Ibu dan menyudutkan Ibu," jelas Maria kesal.
“Ibu beri saja alasan pada mereka supaya mereka tidak curiga, bukan, kah Ibu pintar berakting?" tanya Christian.
“Untungnya begitu, tapi Ibu harus berbohong sampai kapan, bisa-bisa kebohongan Ibu terbongkar nanti," ujar Maria putus asa.
Christian pun jadi ikut dibuat bingung karenanya.
“Omong-omong ke mana kakakmu?" tanya Maria mencari keberadaan Michael.
“Dia sedang pergi dengan teman-temannya, tadi dia pamit," jawab Christian.
“Ah, anak itu sering sekali pergi, bukannya mencari kerja, malah keluyuran tidak jelas," gerutu Maria lagi.
“Dia bosan di rumah, itu yang dia katakan padaku, Bu," ujar Christian lagi.
“Coba akan kuhubungi ponselnya." ujar Maria sembari mendial nomor ponsel Michael.
Christian pun melenggang pergi menuju kamarnya, meninggalkan sang Ibu yang sudah marah-marah tak jelas, karena Michael tak juga menjawab telepon dari ibunya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sisi lain Michael sedang bermesraan dengan seorang wanita, di ruang privat karaoke itu.
“Sayang," panggil wanita itu pada Michael.
“Iya," jawab Michael.
“Kau tak ada niatan untuk mengajakku ke rumahmu?" tanya si wanita.
“Eh? Nanti sayang, saat ini orang tuaku sedang dalam perjalanan bisnis ke luar negeri, rumah sedang kosong," jawab Michael beralasan.
“Bukan, kah itu bagus? Kita bisa menghabiskan waktu kita berdua? Tanpa adanya gangguan?" ujar si wanita seraya berbisik di telinga Michael.
“Tetap tidak bisa, saat ini rumahku sedang direnovasi, aku tidak tinggal di sana. Aku tinggal di hotel, sayang," dusta Michael.
“Lalu kapan aku bisa memiliki waktu berdua denganmu? Aku rindu, kau tahu?" kata wanita itu dengan wajah cemberutnya.
“Bersabarlah sebentar lagi, sayang," ucap Michael menenangkan kekasihnya.
Wanita itu mengangguk meski masih menampilkan wajah serupa bebek.
“Tenang Michael, tenang. Sandiwaramu tak boleh terbongkar oleh mereka semua termasuk kekasihmu. Bisa-bisa aku menanggung malu," batin Michael.
Dan kedua sejoli itu melanjutkan aktivitas dewasa mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Michelle sedang melamun saat ini. Entah apa yang ia lamunkan, tak ada seorang pun yang dapat mengetahuinya.
“Aku baru menyadari jika dia memiliki nama yang indah, mungkin seindah wajahnya, tapi tidak dengan perilakunya," gumam Michelle sambil menerawang jauh.
Dia sedang memutar ulang kejadian saat dia sedang bertemu dengan Oxel.
“Omong-omong, dari mana dia mendapatkan sopan santun itu?" gumam Michelle penasaran.
“Dengan daddy saja bisa bersikap sopan, kenapa denganku dia ketus sekali? Seharusnya, kan laki-laki mengalah pada wanita, dasar laki-laki tidak peka, tak punya hati, tak miliki perasaan," umpat Michelle.
Michelle masih sibuk menggerutu tak menyadari jika sang ayah beserta Jimmy sudah masuk ke dalam ruangannya.
“Kali ini siapa yang menjadi objek kekesalan putri daddy?" tanya Brian.
Michelle pun tersadar dan berbalik menghadap sang ayah.
“Seseorang telah membuatku kesal, Dad," jawab Michelle.
“Siapakah dia?" tanya Brian lagi.
“Hanya orang yang tidak penting," jawab Michelle.
“Benarkah tidak penting? Jika tidak penting mengapa putri Daddy begitu memikirkannya?" tanya Brian dengan senyum penuh makna.
“Dad," rengek Michelle.
“Dengar sayang kau tahu, kan jika segala sesuatu yang berlebih itu, tidaklah baik?" kata Brian pada putrinya.
“Jika kau membenci seseorang, jangan sampai terlalu benci, bencilah dia sewajarnya, karena jika berlebihan, perasaanmu akan berubah menjadi suka."
“Jika kau mencintainya, cintailah dia sewajarnya, supaya kau tidak sakit hati jika dia tak sesuai harapan kita."
Michelle termenung karena ucapan sang ayah.
“Daddy harap kau mengerti maksud Daddy, karena kau sudah dewasa."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Oxel sedang serius memasak makanan, pesanan pelanggan.
Teman-temannya juga sibuk melakukan pekerjaan ini dan itu. Dapur seakan tak pernah berhenti dan beristirahat, nyala kompor yang tak ada habisnya.
”Oxel, apa masih lama?" tanya rekannya.
“Sebentar lagi selesai," jawab Oxel.
“Ah rasanya kakiku akan patah, karena dari tadi berjalan ke sana ke mari," keluh temannya.
“Kakiku kebas, tapi untungnya aku masih bisa berdiri tegak," timpal Oxel.
“Aku kagum dengan semangatmu dalam bekerja, seakan tak pernah ada habisnya," kata rekan Oxel.
“Aku hanya manusia biasa, terkadang pun aku masih sering mengeluh akan hidupku, bukankah mengeluh itu adalah hal yang manusiawi? Asal tidak terlalu sering," jelas Oxel.
“Kau bilang kau adalah manusia, tapi kadang kami sering mengira jika kau adalah malaikat, ha-ha-ha..." jawab temannya.
“Sudah selesai, tolong bawa ke meja di sebelah sana dan bunyikan belinya!" perintah Oxel pada temannya.
“Tidak biasanya? Kau sedang menghindarinya?" ujar temannya penuh tanya.
“Aku hanya ingin menjaga jarak agar dia tak berharap lebih," jawab Oxel kemudian.
“Jadi kau sudah mengetahui jika dia menyukaimu?" tanya temannya lagi.
Oxel mengangguk lemah seraya berkata, “Aku tak ingin dia salah paham. Aku hanya menganggapnya teman saja."
“Baiklah," kata temannya.
Lalu ia meletakkan hidangan Oxel dan membunyikan belnya.
“Kenapa bukan Oxel yang mengantar?" tanya pelayan itu.
“Oxel sedang ada pekerjaan, jadi tidak masalah, kan jika aku yang mengantar pesanan? Apa kau tak lelah mengejar Oxel terus-menerus seperti itu?" tanya rekan Oxel pada pelayan.
“Bukan urusanmu." jawab pelayan itu kemudian pergi berlalu mengantar pesanan pada pelanggan.
“Dasar keras kepala," cibir rekan Oxel.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dara sedang merangkai bunga saat ini. Sejujurnya dia tengah merindukan Oxel sekarang. Pikirannya menerawang jauh memikirkan tentang Oxel.
“Yang sedang kau pikirkan masih tinggal di bumi yang sama dengan kita, belum berubah," sebuah suara tiba-tiba mengejutkan Dara.
“Kau pikir dia makhluk asing?" ucap Dara ketus.
”Kau selalu memikirkannya, seolah-olah dia tidak tinggal di tempat yang sama dengan kita lagi," cibir Sean.
“Dia tega sekali, mampir ke sini tanpa memberitahu kita, apa Oxel tidak rindu pada kita?" kata Dara.
“Pertanyaanmu penuh rasa curiga sekali? Dengar, ya jika Oxel tak rindu pada kita, dia tak membawakan makanan seenak ini untuk kita semua," jelas Sean.
“Dia bahkan tahu bento selera kita, kau ini hanya bisa berprasangka buruk saja, Dara, ck," ujar Sean dengan berdecak.
Dara hanya merengut sedih. Dia, kan hanya merindukan Oxel. Apa salahnya?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Zanetta sedang duduk di restoran saat ini, yah dia berniat untuk bertemu dengan Oxel. Dia tak bisa mundur lagi kali ini. Apa yang ia inginkan harus dia dapatkan?
“Apa kau menunggu lama?" tanya Oxel setelah dia menghampiri Zanetta dan duduk bersebrangan dengannya.
“Tidak juga, kalau pun kau masih lama aku rela menunggu, meski itu harus 24 jam," jawab Zanetta.
“Kenapa kau ingin menemuiku?" tanya Oxel.
”Hanya ingin menemuimu dan mengenalmu lebih dekat, apa tidak boleh?" tanya Zanetta.
“Ayolah, Nona. Kau dan aku hanya bertemu secara tak sengaja, karena kau menabrakku waktu itu, aku korban dan kau pelakunya. Apa lagi yang kau mau?" tanya Oxel merasa tak habis pikir.
“Aku— aku menyukaimu, Oxel," aku Zanetta.
Oxel tersedak saat meminum jus yang dibawanya. Apa katanya? Nona asing ini menyukai dirinya?
“Kau, apa katamu? Aish.. dengarkan aku, kau atas dasar apa kau memiliki perasaan padaku? Kau tahu bukan jika status kita itu tak setara?" tanya Oxel yang sudah mulai kehilangan akalnya.
“Aku tak masalah dengan status kita yang tak setara, pokoknya aku tetap mencintaimu!" seru Zanetta dengan sedikit lantang.
“Tapi aku tak mencintaimu, aku minta maaf. Sekarang tolong pulanglah, aku masih ada pekerjaan. Ah ini jika kau membutuhkan nomor ponselku, simpan saja." jawab Oxel sambil berlalu dari hadapan Zanetta.
Author POV end
Visualisasi pesanan
Visualisasi bento