
Happy Reading!
Michelle POV
Aku pulang dari restoran itu setelah menghabiskan sarapanku. Entah mengapa Aku selalu ingin ke restoran itu lagi dan lagi.
Mengingat kejadian di restoran, jujur Aku agak terkejut bahkan mungkin sangat terkejut karena Oxel sempat merasa marah padaku.
Selama ini, dari pertama kali kita bertemu dia tak pernah, menunjukkan ekspresinya entah itu marah, senang, atau pun sedih. Jadi sangat wajar jika Aku merasa terkejut.
Sampai Aku merasa jika aku menangis tadi, aku tidak terbiasa dibentak oleh orang lain. Apa lagi jika itu orang baru.
Akan tetapi, Aku cukup terkejut saat dia terlihat khawatir melihatku menangis, dengan cepat pula ia meminta maaf padaku, bahkan berjanji tidak akan bersikap jahat atau pun menyebalkan lagi.
Sesampainya di kantor entah mengapa Aku merasa bahagia, saat hendak masuk ke ruangan, aku berpapasan dengan Jimmy yang memandangku dengan penuh tanya.
“Hal baik terjadi padamu, hari ini?" tanya Jimmy padaku. Aku hanya mengangguk mengiyakan.
“Tidak biasanya seorang Michelle Pauline memberikan senyumnya secara diskon besar-besaran, kau, kan pelit," ucap Jimmy meledekku.
Hancur sudah pagiku yang menyenangkan karena ucapan sahabat sekaligus kakakku ini. Auraku berubah menjadi mendung seketika.
“Kau ada masalah denganku, Jimmy?" tanyaku.
Dia hanya cengengesan tak jelas dan pura-pura sibuk mencari berkas, kemudian ia mulai membaca berkas tersebut yang isinya adalah jadwal agendaku hari ini di kantor.
Cih, mencoba mengalihkan topik?
“Nah, jadi begitulah jadwal agenda yang harus Anda penuhi, Nona muda," katanya sambil tersenyum meledek.
“Apakah kita bisa bertukar posisi, Jimmy?" tanyaku asal. Kulihat dia memandangku penuh tanya.
“Bertukar posisi yang bagaimana? Kau menjadi laki-laki dan aku menjadi perempuan begitu? Tidak terima kasih," jawab Jimmy.
Lihat, ia tampak mengesalkan bukan? Aku peringatkan pada para wanita di luar sana untuk berhati-hati jika berhadapan dengan Jimmy atau kalian akan sakit hipertensi mendadak, oh ya Tuhan.
“Jimmy," panggilku.
“Iya, Nona," jawabnya.
“Saat bibi mengandung dirimu, sebenarnya bibi mengidam apa?" tanyaku asal.
“Tumben kau bertanya, ada masalah apa?" jawabnya lagi.
“Tidak ada. Aku hanya merasa heran saja, kau tahu bahwa ibumu adalah wanita yang tenang dan anggun, tapi mengapa bisa mempunyai anak yang aneh seperti dirimu?" kataku lagi.
“YAK KAU BENAR-BENAR!! AKU INI PANGERAN TERTAMPAN YANG IBUKU PUNYA KAU TAHU?!" Jimmy menjawabnya dengan berapi-api.
“Terimalah kenyataan bahwa kau memang aneh, Jimmy," ujarku lagi.
“Kau." ujarnya sambil menunjuk ke arahku.
“Kau juga wanita aneh tanpa kau sadari, kita bertiga ini 11/12 dan satu paket. Jadi, tak perlu meledekku," ujar Jimmy lagi.
“Aku menjadi aneh karena kau, kau selalu menanamkan hal-hal aneh pada pikiran polosku," sahutku.
“Itu karena hidupmu terlalu flat, aku hanya ingin membuat hidup sahabatku menjadi lebih berwarna saja," jawabnya beralasan.
Aku hanya berdecih. Membuat hidupku lebih berwarna katanya? Hei, berwarna yang bagaimana? Mengenalkan aku dan Zanetta pada dunia malam dan menunggunya bersenang-senang dengan wanita?
Kurasa otak Jimmy perlu direnovasi karena sudah mulai rusak.
“Baiklah kita kembali ke topik awal kita, mengapa kau berangkat terlambat dan tersenyum sendiri tidak jelas seperti itu?" tanya Jimmy.
“Aku hanya sarapan sup asparagus, di restoran tempat biasanya," jawabku.
“Akhir-akhir ini kau suka sekali mengajak kami ke sana," ujar Jimmy seperti mencurigaiku.
“Aku hanya ke sana karena makanan di restoran itu sangat lezat walaupun bukan restoran bintang lima," jelasku.
Jimmy malah memicingkan matanya curiga, dia memang selalu begitu, rasa ingin tahunya sangat tinggi, padahal dia laki-laki, Dasar.
“Benarkah, ini bukan karena juru masaknya, kan?" selidik Jimmy.
“T-tidak," jawabku lagi. Duh, kenapa aku jadi gugup begini?
“Kau terlihat gugup, Michelle sayang. Sebenarnya aku tidak masalah kau menyukainya, hanya saja kau harus ingat Zanetta, dia yang menyukai Oxel lebih dulu walaupun Oxel menolaknya, aku yakin rasa cintanya pada Oxel belum menghilang," ujar Jimmy padaku.
Ah, Jimmy benar. Zanetta memang menyukainya, tapi apa benar masih ada rasa cinta yang tertinggal? Hah... Kenapa hatiku mendadak mendung begini setelah Jimmy berbicara?
Michelle POV end
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Oxel POV
Entah mengapa akhir-akhir ini Aku sering bertemu wanita itu, mendengar pekikan suaranya jujur sudah membuat kepalaku sakit.
Dilihat sekilas, sepertinya dia bukan dari keluarga biasa, Dia terlihat kaya, berpendidikan, dan memiliki karier yang bagus.
Tapi aku hanya menyayangkan sifatnya saja. Terlihat dingin, dan angkuh, selain itu hobi mencemooh orang lain.
Ternyata benar bahwa, “Tidak selamanya manusia itu terlihat sempurna." pasti ada lebih dan kurangnya.
Itu kesan pertamaku di pertemuan pertama kami, untuk pertemuan tidak sengaja selanjutnya, Aku lihat wanita itu memiliki sifat yang tidak ingin kalah dari orang lain.
Selalu ingin menjadi yang paling baik di antara banyak orang lainnya. Dengan kata lain egois.
Dia juga terlihat kekanak-kanakan dan manja, Aku sempat terkejut wanita angkuh sepertinya bisa terisak seperti anak kecil.
Sebenarnya, berapa umurnya?
Tapi sudahlah, Aku berharap aku tak bertemu lagi dengannya.
Oxel POV end
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Author POV
Hari ini Michelle sedang melakukan peregangan otot, setelah menjalani agenda padat.
“Rapat yang sangat menguras tenaga dan pikiran, sepertinya aku harus perawatan kulit dan wajah agar tidak terlihat lebih tua," keluh Michelle.
Jimmy hanya setia mendengarkan. Sudah menjadi makanan sehari-hari mendengar keluhan Michelle akan pekerjaan yang melilit pikiran dan tenaganya.
“Bukankah paman sudah bilang, menikahlah dan biarkan suamimu yang mengurus perusahaan ini, sedangkan kau tinggal menikmati peran barumu sebagai ibu rumah tangga," ujar Jimmy panjang lebar.
“Dulu kupilihkan teman untuk kencan buta, kau tidak mau," jawab Jimmy.
“Kau tidak ingat laki-laki yang menjadi pilihanmu untuk dijadikan teman kencan buta?" tanya Michelle dengan pandangan tak bersahabat kali ini.
Jimmy mengusap dagunya mencoba mengingat.
Flashback On:
Michelle sedang berada di sebuah restoran saat ini setelah menyanggupi saran Jimmy untuk mengikuti ajakan kencan buta dengan teman pilihannya.
Sudah setengah jam ia menunggu, tapi laki-laki tersebut belum juga menampakkan batang hidungnya.
“Ck... Apa jamnya terbuat dari karet? Janjinya jam berapa, datang jam berapa," gerutu Michelle seorang diri.
Setelah menunggu sekian purnama, akhirnya laki-laki yang ditunggunya tiba. Eh, tapi tunggu sebentar, mengapa laki-laki di depannya ini sangat— uhm, bagaimana ya, mendeskripsikannya?
Rambut klimis, kemeja kotak-kotak yang dimasukkan ke dalam celana panjang, dengan kancing yang terkancing sempurna sampai atas, seakan mencekik lehernya, dan jangan lupakan kacamata tebal setebal pantat botol minuman air mineral dengan frame warna hitam.
Ia juga mengenakan sepatu pantofel yang terlihat mengkilap, sepertinya habis disemir.
“Maaf, benarkah Anda yang bernama Michelle Pauline?" tanya pria itu.
“Ya," jawab Michelle singkat.
“Oh h-halo namaku Lucky, aku adalah teman kencan butamu," jelasnya.
”A-apa? Teman kencan buta? Sialan, Jimmy harus membayar mahal untuk ini nanti!!" batin Michelle menjerit.
“Oke Michelle, sabar. Kau jangan buru-buru menilai seseorang dari luarnya saja, itu tidak baik," peringat Michelle pada diri sendiri dalam hatinya.
“Ah halo, Lucky. Silahkan duduk," jawab Michelle sambil mempersilahkan pria bernama Lucky ini duduk berhadapan dengannya.
“Kau ingin pesan apa?" tanya Lucky pada Michelle namun matanya sambil melihat buku menu yang disediakan di atas meja.
Michelle pun melakukan hal yang sama, ia sedang melihat dan membaca buku menu, sesekali matanya melirik pria di depannya itu.
Dari ekor matanya Michelle bisa melihat bahwa tangan pria itu gemetar, dan wajahnya sedikit pucat, serta keluar keringat dingin disekitar pelipisnya.
“Ada apa dengannya? Apa dia baik-baik saja?" batin Michelle bertanya-tanya.
Lain Michelle, lain pula Lucky dia merasa gugup kala melihat daftar menu beserta harganya.
“Sebenarnya, ini makanan jenis apa? Kenapa semuanya menggunakan bahasa asing yang tidak aku mengerti? Ditambah harganya yang sangat mahal. Aduh jika tidak cocok bagaimana ya?" batin lelaki bernama Lucky itu.
Tanpa ia sadari ternyata badannya bergerak-gerak dengan gelisah sedari tadi di kursi, serta kakinya yang sudah ikut gemetar seperti orang ketakutan layaknya anak kecil yang takut dengan dokter gigi.
Hal itu tak luput dari pandangan Michelle. Ia sedari tadi mengamati pergerakan pria bernama Lucky ini.
“Aku ingin pesan sushi, kalau kau?" tanya Michelle kemudian.
“Sa-sa-sa-samakan saja denganmu," jawab Lucky.
“Oke." jawab Michelle kemudian mengangkat tangannya guna memanggil pelayan, setelah memesan pelayan itu pamit undur diri.
“Jadi, berapa umurmu?" tanya Michelle sekedar basa-basi.
“Aku berumur 23 tahun, kau sendiri?" tanya Lucky balik.
“Aku 21 tahun. Masih kuliah. Kau sendiri sudah bekerja?" tanya Michelle lagi.
“Aku baru saja bekerja di salah satu bank swasta, masih pegawai baru," jelas Lucky dan Michelle hanya mengangguk.
Mereka lanjut membicarakan hal-hal lainnya seperti hobi, atau apa yang disukai maupun tidak disukai.
Tak lama kemudian, pelayan pun datang membawakan pesanan mereka. Setelah menghidangkan menu pesanan, pelayan pun pamit undur diri.
Michelle mulai menyantap dan menikmati hidangan di depannya namun tidak dengan Lucky. Keningnya nampak berkerut dan matanya memandang horor.
“Astaga, jadi ini olahan daging mentah?" batinnya terkejut.
Michelle pun memanggil Lucky, “Lucky, kenapa kau tidak makan? Apa kau tidak suka? Jika tidak suka, kau bisa memesan makanan yang lain."
“Tidak perlu, aku suka, kok. Baiklah aku akan makan." jawab Lucky mengambil sumpit dan memasukkan sushi ke dalam mulutnya.
Saat sushi tersebut mendarat di dalam mulutnya seketika, Lucky merasakan mual.
“Rasanya aneh sekali," batin Lucky.
Beberapa menit setelah mereka menghabiskan makanan mereka, Michelle dan Lucky jalan-jalan sejenak. Niat hati ingin menonton film di bioskop tapi tiba-tiba Lucky pamit pergi ke toilet.
Michelle pun mengangguk dan menunggu Lucky. Ternyata di dalam toilet Lucky muntah-muntah karena tidak terbiasa menyantap makanan sushi.
Selain itu perutnya terasa sakit karena rasa pedas dari wasabi yang ada di sushi tersebut. Akhirnya Lucky memutuskan untuk buang air sejenak untuk meredakan rasa sakit di perutnya, sepertinya ia terserang diare.
Cukup lama Michelle menunggu, setelah beberapa waktu Lucky pun keluar dari toilet.
“Maaf jika kau menunggu lama," ujar Lucky merasa bersalah.
“Kau yakin, kau baik-baik saja?" tanya Michelle.
“Aku yakin bahwa aku baik-baik saja, kau tak perlu khawatir seperti itu, ayo kita jalan lagi!" ajak Lucky, Michelle hanya mengangguk saja. Akan tetapi baru beberapa langkah saja perut Lucky kembali terasa melilit. Mau tak mau Lucky kembali lagi ke toilet.
Hingga 1 jam kemudian keluarlah Lucky dengan wajah yang pucat pasi, karena Michelle merasa tak yakin, akhirnya Michelle memutuskan untuk mengantarkan Lucky ke rumah sakit sekalian pulang.
Flashback Off
“Ha-ha-ha... Ha-ha-ha.... Ha-ha-ha..." tawa Jimmy menggema di ruangan Michelle. Michelle pun hanya menatap Jimmy sengit.
“Astaga maaf-maaf. Aduh, peristiwa itu, ya? Jika mengingat kembali, rasanya aku ingin tertawa saja," ujar Jimmy sambil mengusap air mata yang keluar dari ujung matanya akibat tertawa.
Niat kencan buta justru berakhir menunggu di toilet karena diare.
“Pilihanmu sungguh luar biasa! Bagaimana mungkin aku menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menunggu orang yang tengah bersemedi di dalam toilet?!" ujar Michelle.
“Aku juga tidak tahu, jika akan berakhir seperti itu," jawab Jimmy enteng.
“Semenjak kejadian itu aku tidak percaya lagi dengan kencan buta, tapi kau terus memaksaku," gerutu Michelle.
“Aku khawatir jika kau tak laku," ucap Jimmy spontan.
Michelle melemparkan pulpen pada Jimmy dan mengenai dahi pria tersebut hingga pria itu mengaduh.
Akan tetapi Michelle tetap tidak peduli dengan erangan rasa sakit Jimmy.
Author POV end