He Is My Cinderella

He Is My Cinderella
Dua puluh sembilan



Happy Reading!


Author POV


Maria, wanita itu kini tengah pergi berbelanja, ia mengunjungi salah satu mall ternama, berniat memuaskan hasrat berbelanja barang-barang mewah yang entah uangnya ia dapat dari mana. Saat ini ia tengah memilih, tas-tas wanita bermerk terkenal dan berkualitas baik.


“Wah! Yang ini bagus sekali!" Maria berdecak kagum melihat desain tas tersebut. Sudah lama ia tak berbelanja seperti ini.


Ia terus berkeliling kesana-kemari mencari produk yang ia sukai. Tak lupa pula ia membelanjakan barang mewah untuk kedua putra kesayangannya.


Jangan berharap Oxel akan dibelikan juga oleh sang ibu tiri, mana mau Maria mengeluarkan sepeser uang untuk membelikan Oxel?


Maria, wanita itu sangat mementingkan pandangan orang-orang terhadap dirinya, dia ingin dikenal sebagai wanita berkelas yang mempunyai selera tinggi.


Maka dari itu gaya hidup, sangat penting baginya. Selama kebutuhan tersiernya mampu terpenuhi, entah bagaimana caranya, akan ia lakukan.


Setelah menghabiskan waktu lebih dari 1 jam hanya untuk berkeliling mall, akhirnya selesai juga dengan membawa beberapa paper bag di kedua tangannya.


“Aku tak menyangka aku belanja sebanyak ini. Hi-hi-hi... Tak apa, asal aku bisa tetap tampil modis dihadapan teman-teman seperkumpulanku, aku tidak boleh kalah dari mereka," ujarnya pada dirinya sendiri.


Ia pulang dengan perasaan bahagia, tanpa memikirkan dampak buruk untuk anak sambungnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Oxel saat ini sedang berada di rumah kliennya, sebelumnya ia bertandang ke toko bunga milik bibi dahulu. Kebetulan saat ini sedang jam istirahat, dia izin keluar sejenak untuk membantu menyelesaikan rancangannya di toko bunga.


Dibantu beberapa pegawai lainnya, saat ini Oxel memasang beberapa bunga mawar putih sebagai ekor burung merak.


Setelah menghabiskan waktu yang cukup lama, akhirnya pesanan mereka telah siap. Klien yang melihat hasilnya pun sampai berdecak kagum. Dia tidak menyangka hasilnya akan seindah ini.


“Aku tak menyangka jika hasilnya sangat memuaskan!" ujar klien tersebut menunjukkan kekaguman.


“Terima kasih sudah memakai jasa kami, Kami senang jika Anda puas dengan hasil rancangan kami," ujar Oxel mewakili rekannya.


Klien itu mengangguk, “Sama-sama. Hasil kalian tidak mengecewakan, jadi jika ingin pesan lagi bisakah kami menghubungi dan menggunakan jasa kalian?"


“Ya," Oxel mengangguk seraya tersenyum, “Tentu saja, bisa."


Karena pekerjaannya sudah selesai mereka semua pamit undur diri. Sebelumnya mereka mengantar Oxel kembali ke restoran, karena jam istirahat pasti sudah berakhir.


“Kita semua sukses hari ini, idemu sungguh brilian!" kata Sean memuji.


“Ini semua juga berkat kerjasama kita, jangan terlalu menyanjungku, atau kau akan menyukaiku nantinya," ucap Oxel asal.


“Dalam mimpimu, Oxel!" pekik Sean merasa jengkel sekaligus geli.


Sesampainya di restoran, ia sedikit terlambat memang dikarenakan terjebak macet di jalan. Saat akan beranjak di dapur ia melihat Michelle memandang ke arahnya sembari mengerucutkan bibirnya.


“Astaga, dia lagi," batin Oxel.


Oxel memandang para pelayan dan juga pemilik restoran tersebut seakan memberikan sebuah isyarat.


“Dari mana saja, kau? Tidak tahukah jika aku menunggumu sedari tadi?" tanya Michelle.


“Salah siapa menunggu, toh tidak ada yang menyuruhmu menunggu, Nona aneh," Oxel masih sibuk membatin.


“Aku sedang ada urusan, kenapa memangnya?"


“Aku menunggumu, karena aku ingin kau memasak untukku!"


Cuaca hari ini terasa panas, sama seperti kepala Oxel yang mendadak panas karena melihat tingkah Michelle.


“Masih ada juru masak lain di sini, mengapa kau juga tidak pesan dan tidak menyuruh mereka memasakkan menu untukmu?"


“Aku tidak mau, aku hanya ingin masakanmu!"


“Ya sudah, aku akan memasak untukmu."


“Tidak perlu, aku akan kembali ke kantor, gara-gara kau, aku terlambat masuk kantor."


“Haaa??" beo Oxel merasa bingung dengan tingkah Michelle.


“Dia ini sedang ada tamu bulanan atau bagaimana? Dia yang terlambat, kenapa aku yang disalahkan?" gerutu Oxel dalam hati.


Oxel maju menghampiri Michelle, telapak tangannya dia taruh di kening wanita itu. “Tidak panas." Oxel menurunkan tangannya, “Nona, apa kau sehat?"


Mendengar pertanyaan Oxel membuat Michelle menatap nyalang ke arahnya. Oxel balik memandang Michelle dengan tenang seakan tak terintimidasi dengan tatapan nyalang wanita yang di arahkan padanya.


“Hati-hati dengan tanganmu, Nona," bisik Oxel pada Michelle.


Dug... Dug...


Dug... Dug....


Dug.... Dug...


Detak jantung Michelle berdetak tak karuan saat badannya menempel pada badan besar Oxel.


“Ada apa ini? Apa aku punya riwayat sakit jantung?" batin Michelle histeris.


Wajahnya memerah hingga ke telinga, ia juga merasakan panas tiba-tiba. Ia memandang wajah Oxel. Bola matanya yang hitam namun terlihat jernih serta bulat seperti bola ping-pong, kulit seputih susu, bibir tipis namun berwarna merah muda alami, serta hidung yang mancung.


“Oh God, aku baru sadar jika dia memiliki wajah bak seorang dewa!" batin Michelle, matanya masih fokus memandang Oxel dari jarak sedekat ini.


Kesadarannya seakan ditarik kembali kala Oxel melepaskan tangannya dengan tiba-tiba.


“Apa yang kau lihat?" tanya Oxel penuh selidik.


“A-aku tidak melihat apapun," jawab Michelle gugup sehingga ia berdusta.


“Nah, Nona karena kau tidak jadi makan di restoran ini, silahkan bergegas pergi, pintu restoran ada di sebelah sana!" ujar Oxel dengan nada tegas sembari menunjuk pintu restoran.


Michelle mendengus, lagi dan lagi dia diusir secara halus oleh Oxel. Akhirnya Michelle keluar dari restoran dengan kaki yang dihentak-hentakan.


Sepeninggal Michelle, Oxel memijat kepalanya yang terasa pening.


“Oh Tuhan, aku bisa gila jika terlalu lama berhadapan dengan wanita sepertinya," keluh Oxel.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kita kembali pada Michelle, dia pulang ke kantor dengan wajah kusut, sampai di ruangan pribadinya, dia malah disambut oleh wajah mengejek dari Jimmy.


“Bagaimana, sukses?" tanya Jimmy.


“Gagal total! Dia bahkan mengusirku lagi, dan aku tidak jadi makan di sana, kau tahu?" jelas Michelle.


“Memang dia pergi ke mana?" tanya Jimmy lagi.


“Menurut informasi yang aku dapat dari pemilik restoran, dua sedang keluar karena ada urusan mendadak, entah apa itu?" jelas Michelle dengan perasaan kecewa.


“Ha-ha-ha... Ha-ha-ha..." tawa Jimmy kembali menggema, membuat Michelle merasa dongkol, kemudian melempar bantal sofa ke arah Jimmy.


“Teman macam apa kau ini? Bukannya mendukung malah menertawakanku?!" cibir Michelle.


“Maaf-maaf. Lagi pula kau ini aneh, tadi kau berkata kau ingin makan siang, lantas mengapa kau tak menyuruh juru masak yang lain?" tanya Jimmy.


“Aku hanya ingin dia yang memasak, puas kau?" jawab Michelle.


“Mengapa harus dia?" tanya Jimmy lagi.


“Karena masakan dia yang terbaik!" jawab Michelle.


“Yakin tidak ada alasan khusus, dasar pembohong yang buruk, kau tetap tak bisa menyembunyikan rahasia dari sahabat tampanmu ini, sayang," ucap Jimmy percaya diri.


“Berhentilah membacaku, Paman," kata Michelle.


“Sialan, aku bukan Pamanmu anak nakal." balas Jimmy sambil menjitak kepala Michelle hingga Michelle mengaduh kesakitan.


“AW!" erang Michelle.


“Rasakan itu!" ucap Jimmy.


“Kelakuanmu memang mirip seorang paman tua yang gencar mencari daun muda, jadi terima saja!" ujar Michelle.


“Astaga mulutmu, Nak. Sopan sekali kau?!" sindir Jimmy.


Michelle tak lagi memedulikan Jimmy, dia kembali fokus pada pekerjaannya. Sementara Jimmy harus bersabar untuk tidak mencekik sahabat sekaligus atasannya itu.


Author POV end


Visualisasi rancangan Oxel