He Is My Cinderella

He Is My Cinderella
Dua puluh tujuh



Happy Reading!


Author POV


Mentari telah bangun dan telah menjalankan tugasnya sebagai penanda awal pagi yang baru.


Oxel berangkat pagi dikarenakan masih mempunyai utang untuk membantu merangkai bunga untuk klien.


Saat ini Oxel sedang mengerjakan kerangkanya, untuk disusun menjadi satu dengan kerangka yang lain, sebelum dihias dengan bunga.


“Akhirnya sebentar lagi pesanan ini selesai setelah beberapa kali lembur, lucunya lagi kau ikut membantu, Oxel," kata Sean.


“Akan terlihat tidak bertanggung jawab jika aku tidak turun tangan, ini usulku juga, jadi aku harus membantu membuatnya," jawab Oxel.


“Kau memang laki-laki sejati selalu menepati ucapanmu sobat," ucap Sean lagi.


“Nah, sudah selesai, aku akan bekerja terlebih dulu, sampai bertemu nanti malam, sobat." pamit Oxel pada mereka kemudian bergegas ke luar untuk bekerja.


“Ck... Anak itu tidak mengenal lelah sama sekali. Aku jadi heran dengannya," gumam Sean.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu Michelle sedang berada di restoran tempat Oxel bekerja, omong-omong sedang apa dia di sana?


Ternyata dia menunggu Oxel untuk membuatkan menu sarapan untuknya. Ketika Oxel datang dia, langsung menyuruh Oxel dengan segera.


“Kenapa, kau agak siang hari ini? Aku sudah menunggumu sedari tadi, kau tahu? Cepat buatkan makanan!" perintah Michelle.


“Siapa kau memerintahku dengan seenaknya?!" balas Oxel sengit.


“YAK!! AKU ADALAH PELANGGAN DI SINI DAN PELANGGAN ADALAH RAJA, JADI WAJAR JIKA AKU MENYURUHMU," ujar Michelle terkesan menyebalkan.


Oxel menghela nafas panjang. Mimpi apa ia semalam sehingga berurusan dengan wanita seperti Michelle.


“Tunggulah sebentar lagi, aku harus bersiap. Ah, apa yang kau pesan?" tanya Oxel.


“Aku ingin sup asparagus," jawab Michelle.


“Baiklah, dasar wanita." cibir Oxel lalu melenggang ke arah dapur.


“YAK AKU MENDENGARMU!" pekik Michelle kesal.


Oxel tidak peduli yang ia pikirkan hanya masak saat ini. Pekerjaannya pasti akan sangat banyak. Ia harus berusaha lebih keras lagi karena untuk melunasi cicilan rumah kontrakan.


Oxel pikir ibunya sudah melunasinya tetapi ia salah besar. Tadi pagi, pemilik kontrakan tersebut menagih, tagihan tahunan, yang ternyata tidak dibayarkan oleh ibunya.


Oxel merasa kesal hingga mau tak mau ia keluar uang untuk melunasinya.


Dan pagi ini, Oxel merasa sangat buruk, dia merasa tidak seperti biasanya, tapi dia hanya bisa berusaha untuk profesional.


“Kapan aku mampu bahagia?" gumam Oxel pelan.


Sementara itu Michelle tersenyum senang karena telah membuat Oxel merasa kesal dengan perilakunya yang memerintah Oxel secara paksa.


“Rasakan itu! Siapa suruh selalu membuatku kesal jika bertemu?" ucap Michelle.


Dia menunggu sup pesanannya jadi dan siap, sambil memainkan ponselnya dan berkirim pesan pada Jimmy, jika ia mungkin akan sedikit terlambat masuk kantor.


Sementara Oxel masih berkutat pada pekerjaannya, dia menjadi lebih diam hari ini karena kejadian tadi pagi.


“Kau sedang dalam suasana buruk, sobat?" tanya rekannya.


“Apa terlihat sangat jelas?" jawab Oxel sambil memasak sup asparagus untuk Michelle.


“Kau lebih diam hari ini. Di mana Oxel yang ceria itu?" tanya rekannya.


Oxel hanya menghela nafas. Masalah kali ini membuat Oxel kerap kali merasa pusing dan kepalanya seakan-akan pecah sebentar lagi.


“Aku bingung harus mulai cerita dari mana? Aku sangat ingin bebas, namun aku sadar aku terjerat dalam belenggu penderitaan," jelas Oxel merana.


“Ceritalah jika kau ingin, jangan terlalu lama memendam jika kau sudah tidak kuat lagi, kami adalah temanmu, kawan," ujar rekan Oxel.


“Aku masih belum bisa, maafkan aku," jawab Oxel.


“Tak apa, berceritalah jika kau ingin," ujar rekannya.


Michelle masih setia menunggu. Dia juga berpesan pada pelayan bahwa Oxel harus yang membawakan pesanannya.


Tak lama kemudian, Oxel muncul dengan membawa nampan berisi sup asparagus.


“Terima kasih Oxel," ucap Michelle girang.


“Hmmm.... kau menambah pekerjaanku, bukankah ada pelayan lain untuk membawakan pesananmu?" tanya Oxel.


“Tapi aku tidak mau. Aku mau kau yang membawakan pesananku," jawab Michelle.


“Mimpi apa semalam, sehingga aku bisa terjebak dengan wanita aneh sepertimu?" gumam Oxel, sayang Michelle masih bisa mendengarnya.


“Kau memang aneh. Di sini masing-masing punya bagian pekerjaannya sendiri. Bagianku adalah memasak bukan mengantar pesanan," jelas Oxel.


“Aku tidak aneh. Ini hak para pelanggan kau mengerti?" ujar Michelle dengan nada terdengar angkuh.


“Kau menyebalkan, kau tahu?" kata Oxel.


“Aku tidak peduli, Oxel sayang," jawab Michelle sesuka hati.


“ARGHHHH!!!...." erang Oxel sambil menjambak rambutnya.


“Rambutmu akan rontok jika seperti itu," kata Michelle.


“Dan itu semua karenamu, sekarang cepat habiskan dan berangkatlah bekerja," perintah Oxel mutlak.


“Sabar, aku baru saja mulai makan, kejam sekali mengusirku," ujar Michelle.


“Menunggumu makan itu seperti menunggu bintang laut berlari," ujar Oxel.


Michelle mendengus kesal mendengar ucapan Oxel. Jika ini di dunia kartun mungkin di kening Michelle sudah muncul siku.


“KAU—,"


“Apa?!" jawab Oxel menantang.


“Aku malas berdebat denganmu," ucap Michelle.


“Siapa juga yang mengajakmu berdebat?" jawab Oxel dengan pertanyaan.


“Tidak bisakah kau mengalah saja, mengalahlah dengan wanita," ujar Michelle.


“Aku memang suka mengalah dengan wanita, namun tidak bisa jika denganmu," jawab Oxel.


Michelle mengepalkan tangan untuk melampiaskan, rasa kesal karena Oxel.


“Kenapa kau tak pernah baik padaku?" tanya Michelle.


Oxel hanya mengerutkan keningnya, mendengar pertanyaan dari Michelle.


“Memang aku pernah jahat padamu?" tanya Oxel bingung. Sebenarnya apa sih mau wanita ini? Membuatnya bingung saja.


“Kau masih menanyakan itu?!" pekik Michelle keras membuat Oxel kaget bukan main.


“Aish tidak perlu berteriak aku tidak tuli," kesal Oxel.


“Jelas-jelas kau jahat padaku, kau selalu membuatku kesal dengan jawabanmu yang membuatku naik darah," jelas Michelle.


“Haruskah aku mengingatkanmu siapa yang lebih dulu bersikap menyebalkan? Jika kau tidak ingat, aku akan berbaik hati mengingatkan dirimu kalau kau mau," tawar Oxel.


“Kenapa kau selalu mengungkitnya?!" kesal Michelle.


“Itu karena kau yang memulai lebih dulu, selama ini jika kau bicara aku lebih banyak diam. Kau merendahkanku aku tidak membalasmu, lantas sekarang kau bilang aku jahat, atas dasar apa kau bisa bilang seperti itu terhadapku?" tanya Oxel.


Michelle diam seribu bahasa, jika dipikir-pikir benar juga, selama ini jika ia tengah menilai Oxel dengan penilaian yang buruk, Oxel hanya diam tak berusaha membela diri.


“Maaf," ujar Michelle.


“Minta maaflah sepuasmu untuk yang kesekian kali, lalu kau akan lupa setelahnya dan mencemooh orang lain kembali, terdengar seperti lagu lama, apa kau betul-betul tak sekolah, Nona?" tanya Oxel dengan sindiran.


Michelle memandang Oxel dengan takut, baru kali ini ia melihat Oxel marah, ternyata benar-benar menakutkan.


“Hiks... kau marah padaku?" tanya Michelle sembari terisak.


Oxel yang melihatnya memandang horor seketika. Demi Tuhan kenapa wanita di depannya ini malah menangis seperti itu?


“Sst.. Diamlah mengapa kau menangis seperti itu? Itu bisa membuat orang yang melihat kita akan salah paham," ujar Oxel berusaha menenangkan Michelle.


Sungguh jika seperti ini caranya, Oxel seakan-akan menjadi orang jahat. Oxel menghela nafas untuk yang kesekian kali.


“Baiklah-baiklah maafkan aku, aku janji tidak akan lagi jahat padamu dan membuatmu kesal. Sekarang diam, ya? Dan segeralah habiskan sarapanmu, setelah itu berangkatlah bekerja, tidak baik terlambat bekerja," ujar Oxel.


Tangisan Michelle pun sudah berhenti saat mendengar ucapan Oxel, dia pun melanjutkan menyantap menu sarapannya.


Masakan Oxel adalah masakan yang paling Michelle sukai setelah ibunya, terasa pas di lidahnya.


“Kutinggal ya? Aku masih banyak pekerjaan. Sampai nanti!" ujar Oxel pada Michelle kemudian kembali memasuki dapur.


Michelle pun memandang kepergian Oxel dengan mata berkaca-kaca sisa menangis tadi.


“Sebenarnya Oxel adalah pria berhati lembut," batin Michelle.


Author POV end


Sup asparagus