
Happy Reading!
Zanetta POV
Oxel, Ya Oxel Deovanno, pemuda yang memiliki wajah dengan standar ketampanan di atas rata-rata menurut versiku itu. Kini sedang berada di restoran tempat ku sedang menghabiskan sarapan.
Dan sedang apa dia di sini? Lalu bukan,kah itu perempuan yang kemarin bersamanya?
Tunggu dulu? Kenapa dia begitu dekat? terlalu sering frekuensi ia melakukan sentuhan tanpa ragu? Apa mereka ada hubungan, satu sama lain?
Jujur dalam hati rasanya panas. Oxel bahkan tidak tersenyum tulus padaku di hari pertemuan pertama kami.
Aku cemburu. Andai saja aku yang mendapatkan senyuman manis dan menenangkan itu, pasti taman bunga dalam hatiku ini akan bermekaran dengan indahnya.
Mama.. Kenapa hatiku sakit melihat dia tersenyum untuk orang lain, bukan untukku?
Aku sadar, aku hanya baru dua kali bertemu dengannya, ini menjadi yang ketiga, aku bertemu dengannya.
Aku tahu aku gila, tapi mau bagaimana lagi? Kenyataannya aku memang jatuh cinta padanya, bahkan sejak pertemuan pertama kami.
Tapi sepertinya hanya aku yang merasa seperti itu, tidak dengan Oxel.
Oh, betapa menyedihkannya aku.
Tapi aku berjanji, aku tidak akan kalah dari perempuan itu. Lihat saja!
Zanetta POV end
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Author POV
“Mengapa kau terus saja melihatnya?" tanya Michelle pada Zanetta kala ia mengikuti arah pandang wanita itu.
“Bukankah dia yang sering bernyanyi di restoran ini, sebelumnya?" ujar Jimmy.
“Ah! Kau benar penyanyi itu, pantas saja aku merasa familiar dengannya. Dia yang menolak memberikan nomor ponselnya pada Netta," terang Michelle.
“Bisakah kalian tidak memperjelas? Hatiku kembali merasakan sakit, kala mengingat malam itu," ujar Zanetta dengan mata yang berkaca-kaca.
Sepertinya Zanetta kita sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja, bukan begitu?
Michelle dan Jimmy terkejut, mereka terperangah melihat mata Zanetta yang seakan ingin menumpahkan kristal bening dari kedua matanya.
“Maaf," jawab Michelle dengan nada penyesalan.
“Kau menyukai laki-laki itu?" tanya Michelle tak percaya.
“Oh, ayolah Netta, dia itu hanya laki-laki biasa. Lupakan saja dia, lagi pula, sombong sekali dia sudah menolakmu," cibir Michelle dengan suara yang agak keras.
Beruntung restoran masih belum terlalu ramai, jika sudah padat pengunjung sudah dipastikan mereka akan jadi perhatian orang-orang.
Jimmy melotot tak percaya dengan apa yang dikatakan Michelle. Dia tak menyangka jika Michelle bicara agak sedikit kasar sampai merendahkan seseorang.
Tak jauh berbeda dengan Jimmy, Zanetta pun juga terkejut dibuatnya.
“Michelle, apa maksud perkataanmu? Kasar sekali?!" sentak Jimmy.
“Memang benar, kan? Untuk apa Zanetta menangisi orang sepertinya, dia bahkan hanya laki-laki biasa penyanyi cafe, tapi perilakunya begitu sombong. Sejak pertama bertemu pun, dia tak bersikap ramah pada Netta," ucap Michelle sinis.
“Michelle, sejak kapan kau merendahkan seseorang hanya karena pekerjaan?" tanya Zanetta tak percaya.
”Aku hanya membelamu, setidaknya jika dia tidak ingin direndahkan, dia tak bersikap sombong padamu," jelas Michelle.
Sean, Dara, dan Oxel mendengar pertikaian itu, dan Oxel paham jika sindiran dan cibiran itu ditujukan padanya.
Oxel menghela nafas, ia berusaha sabar lagi-lagi dia mendapat cemoohan tentang dirinya dari orang tak dikenal.
Dara dan Sean juga menahan amarah, mereka tidak terima jika Oxel dicemooh oleh orang lain, apa lagi orang itu tidak mengenalnya.
Sesungguhnya, mereka ingin melawan, tetapi mereka ditahan oleh Oxel.
“Biarkan saja, lagi pula kita tidak saling mengenal," ujar Oxel saat Dara ingin marah.
“Tapi mereka keterlaluan, perempuan itu tidak mengenalmu, lantas kenapa dia bisa menilaimu sombong? Dan lagi dia mengatakan kau hanya penyanyi cafe? Memangnya yang dia tahu tentangmu?!" ujar Dara dengan nada tinggi, karena dia kesal.
“Jika aku jadi dia, aku pasti sudah merasa malu, dia terlihat kaya, tapi sayangnya dia juga terlihat tidak berpendidikan, seharusnya kalau benar orang kaya yang berpendidikan dia tidak asal menilai orang hanya dari apa yang dia lihat dari luarnya saja" jelas Sean.
“Aku setuju dengan Sean. Apa pantas dia dikatakan berpendidikan jika, hanya melihat dan menilai orang dari luarnya saja?" Dara berujung sinis dan dengan suara keras.
“Ah, bukankah dia yang waktu itu mengaku pernah menabrakmu saat kau sedang mengantar susu?" tanya Dara pada Oxel.
“Seharusnya kalian merasa berterima kasih karena Oxel tidak menuntut kalian, atau melaporkan kalian, tapi kenapa kalian malah menilai Oxel seenaknya?! Dasar orang kaya tak beretika dan tidak tahu malu," sungut Dara.
“Dara, hentikan! Sudahlah tak perlu kau ladeni orang semacam itu, aku bahkan tidak mengenalnya," jelas Oxel pelan.
Jimmy yang merasa tidak enak hati pada Oxel dan teman-temannya, berinisiatif meminta maaf.
“Hmm... Aku minta maaf atas nama Michelle, jika kata-katanya menyinggung kalian, maafkan dia." ujar Jimmy hingga membungkukkan badannya 90°
“Apa teman wanitamu itu tak pernah diajarkan etika oleh kedua orang tuanya. Dengar, ya Oxel kamu bahkan tidak mengenal temanmu yang sedang mencibir dengan mudahnya itu, kenapa dia bersikap menilai seolah-olah sudah lama kenal?"
“I-itu sebabnya aku minta maaf atas namanya," jawab Jimmy dengan terbata.
“Apa temanmu itu tidak tahu caranya minta maaf? Atau dia tak bisa bicara?" sambung Sean.
Sadar akan sindiran yang ditujukan kepadanya, wajah Michelle merah padam karena malu dan hatinya merasa sakit. Kemudian dia bergegas keluar setelah membayar menu sarapannya.
“MICHELLE!!!" teriak Zanetta, sambil berlari menyusul Michelle.
Jimmy yang melihat temannya pergi begitu saja hanya menghela nafas.
“Semoga kalian mau memaafkan Michelle, saya permisi." ujar Jimmy dan berlari menyusul kedua teman wanitanya setelah membayar.
“Huh, dasar orang kaya," sungut Dara setelah melihat Jimmy dan kawan-kawan pergi meninggalkan restoran.
“Sudah, lagi pula mereka sudah pergi, tak perlu kau bersungut-sungut berlebihan seperti itu," nasehat Oxel.
“Ah, Oxel kau itu terlalu baik para orang-orang," ucap Dara.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kembali pada Michelle, setelah meninggalkan restoran, dia buru-buru masuk ruangannya. Dia merasa sakit hati dan menangis, karena sindiran yang dilontarkan oleh Dara.
Zanetta merasa cemas melihat Michelle menangis dan mengurung diri di ruangannya.
Jimmy kemudian menyusul dan bertanya pada Zanetta yang sedang berdiri di depan pintu ruangan CEO.
“Bagaimana keadaan Michelle?" tanyanya pada Zanetta.
“Dia sedang berada di ruangannya, aku khawatir padanya, dia terlihat menangis," jelas Zanetta.
Jimmy langsung masuk begitu saja ke ruangan Michelle, begitu pun dengan Zanetta. Benar saja, wajah Michelle nampak kacau. Wajah memerah, begitu juga dengan matanya yang memerah dan juga sembab.
“Michelle," panggil Jimmy dengan hati-hati.
Michelle masih sesenggukan dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
“Apa aku salah, jika membela teman sendiri?" tanya Michelle pada Jimmy dan Zanetta.
“Membela seorang teman itu tidaklah salah, namun di sini yang salah adalah caramu bertutur kata," jelas Jimmy.
“Mungkin sekarang, kau merasa sakit hati karena ucapan temannya, tapi apa kau tahu, bahwa mungkin saja, Oxel sakit hati terhadap ucapanmu?" sambung Zanetta.
“Lain kali jangan kau ulangi lagi, jujur kami sangat menyayangkan sikapmu yang asal menilai, padahal kau tidak kenal dia," nasehat Jimmy.
“Maafkan aku," ucap Michelle menyesal.
“Jangan minta maaf pada kami, minta maaflah pada Oxel, karena kau bersalah padanya," ucap Zanetta.
Michelle hanya diam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sepeninggal Michelle dan kawan-kawan, Oxel melamun memikirkan ucapan Michelle tadi.
“Mengapa mereka selalu berbicara buruk tentangku? Apakah aku merupakan sebuah kesalahan?" batin Oxel.
“Hey! Kami sudah mendengar semuanya tentang pertikaian kecil tadi, tak perlu dipikirkan, mereka hanya orang asing yang tak tahu tentangmu." ujar rekannya sembari menepuk pundak Oxel.
“Kami selalu ada untukmu, dan selalu di sampingmu, Oxel. Jangan khawatir," ucap rekannya yang lain.
Oxel tersenyum, ia merasa bersyukur masih ada orang-orang baik yang mengelilinginya.
Author POV end