He Is My Cinderella

He Is My Cinderella
Tiga puluh tiga



Happy Reading!


Oxel POV


Apakah kerja kerasku sama sekali tak ada artinya di mata mereka? Bagaimana bisa Christian bisa bersikap layaknya orang kaya dan mentraktir kawan-kawannya, yang lebih parah lagi, dia membolos.


Padahal selama ini, aku banting tulang hanya demi mereka, untuk membiayai mereka supaya mendapatkan pendidikan yang layak dan bisa mengenyam pendidikan tinggi.


Akan tetapi mereka malah bertingkah seenaknya, sebenarnya otak mereka itu ada atau tidak?


Rasanya hatiku amat sakit, mengetahui perjuangan dan kerja kerasku tak dihargai.


Tak masalah jika mereka tak pernah menganggapku sebagai keluarga, namun bisakah mereka menghargai apa yang aku lakukan selama aku ini?


Oxel POV end


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author POV


Christian kembali ke rumah setelah bersenang-senang dengan teman-temannya. Ia sedikit tak percaya dan tak menyangka bahwa kakak tirinya bekerja sebagai juru masak di sebuah restoran.


Dia tahu bahwa Oxel sempat terkejut melihatnya dan mungkin Oxel juga mengetahui bahwa ia tengah bolos kelas.


“Ah tapi apa peduliku, biarkan saja, lagi pula ini adalah hidupku, orang itu tak berhak mengaturku," gumam Christian.


Christian berlalu memasuki kamarnya, sambil merebahkan dirinya di kasur yang tidak bisa dikatakan empuk.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dara sedang merangkai bunga dengan wajah muram. Ia merindukan Oxel, tega sekali Oxel tidak berkunjung lagi.


“Apa dia lupa kalau dia itu punya sahabat, huh?" gerutu Dara sambil merangkai bunga.


Sean yang mendengar gerutuan sahabatnya hanya mengulas senyum, menurutnya Dara ini sudah seperti seorang istri yang ditinggal merantau oleh suaminya dan sudah lama tidak pulang.


“Tidak lelah menggerutu terus seperti itu?" tanya Sean.


“Apa kau pernah ingat kita memiliki teman bernama Oxel Deovanno?" jawab Dara balik bertanya.


“Kenapa memangnya?"


“Aku mulai merasa ragu kalau dia adalah teman kita."


“Dia sedang sibuk, Dara. Kau tahu restorannya selalu ramai, bukan?"


“Aku hanya takut dia melupakan kita, itu saja."


“Itu tidak mungkin, Oxel bukan orang yang seperti itu, dia hanya terlalu sibuk," jawab Sean.


Dara hanya terus merangkai bunga dengan wajah muram, dia sangat takut jika Oxel melupakannya, disaat dia sendiri tengah ada rasa dengan pemuda itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Michelle kembali berkencan dengan sebuah berkas, bertumpuk-tumpuk berkas dia selesaikan, hal ini ia lakukan supaya tak teringat dengan Oxel dan Zanetta.


“Istirahatlah, Nona muda. Kau terlihat kacau," ucap Jimmy.


“Hatiku memang sangat kacau, jika kau ingin tahu," sahut Michelle.


“Balonku tinggal empat, kupegang erat-erat," sambung Jimmy kemudian.


PLETAAAK...


“Auch, aduh aku salah apa lagi?" tanya Jimmy dengan nada merana, karena baru saja jidatnya menjadi sebuah tempat pendaratan kunci mobil Michelle yang melayang.


“Aku sungguh ingin memecatmu, Paman tua. Bisakah kau serius sedikit?!" tanya Michelle dengan suara meninggi.


“Ah, aku tidak ingin terlalu serius denganmu, nanti yang ada kau terbawa perasaan," jawab Jimmy.


“Enyah saja sana!" ucap Michelle.


“Kau tahu, nak? Jika aku enyah dari dunia ini, kau pasti akan kehilangan sosok penasehat yang sangat bijaksana sepertiku," sombong Jimmy.


“Aku akan mencari orang lebih bijaksana darimu, itu bukanlah perkara sulit untukku," balas Michelle.


“Akan tetapi, tidak akan ada pula penasehat yang tampan paripurna sepertiku," lanjut Jimmy congkak.


“Aku tetap bisa mendapatkannya," sahut Michelle lagi.


“Aku tak percaya hal itu, jika untuk mencari pria, aku akui Zanetta lebih cepat dan lebih pintar darimu," ledek Jimmy.


“Tak kusangka ternyata kau memihak, jangan-jangan selama ini kau tak pernah bersikap netral?" selidik Michelle.


“Jahat sekali asal menuduh tanpa bukti, ingat! fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan," peringat Jimmy.


Sementara Michelle hanya bersungut-sungut ria.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Oxel tengah beristirahat saat ini di ruang istirahat pegawai, dia sangat lelah, tidak hanya lelah fisik, tetapi juga lelah batin.


Keluarganya memang kejam, disaat dia berusaha keras banting tulang demi kebutuhan hidup sehari-hari, ibu dan kedua adiknya justru berfoya-foya.


Oxel hanyalah manusia biasa yang terkadang ingin menyerah karena sudah tidak sanggup akan kerasnya hidup.


Akan tetapi ia teringat ucapan ibu kandungnya bahwa ia harus kuat, karena sang ibu pasti akan mendukung dan menuntunnya dari alam sana.


“Sepertinya sedikit minum akan terasa lebih baik, setidaknya aku bisa melupakan masalahku untuk sementara," gumam Oxel.


Sudah cukup istirahat, Oxel melanjutkan kembali pekerjaannya. Teman-teman yang melihat Oxel nampak murung itu, bertanya-tanya dalam hati mereka. Apakah Oxel sedang ada masalah?


“Oxel, apakah kau ada waktu?" tanya temannya.


Oxel berhenti sejenak dan menoleh ke arah temannya, “Sepertinya ada."


“Kami akan pergi ke luar untuk minum, maka dari itu kami berniat mengajakmu, itu pun jika kau berkenan," ujar temannya lagi.


“Aku akan ikut kalian," jawab Oxel. Ya, sepertinya tidak masalah jika pergi minum malam ini, lagi pula dia sudah lama tak pergi untuk minum.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sinilah Oxel sekarang, di sebuah kedai kecil yang menjual berbagai menu makanan serta minuman beralkohol.


Mereka minum dan menghabiskan beberapa sloki, bahkan ada teman Oxel yang sudah tumbang, tetapi Oxel masih kuat minum bahkan masih dalam keadaan sadar, meskipun sudah menghabiskan 2 botol minuman beralkohol.


“Ya! Sudahi acara minum kalian, huft tahu begini, aku pasti akan melarang kalian pergi minum," gerutu Oxel.


“Jangan begitu, Oxel. Kami masih berdiri tegak, kami masih dalam kesadaran penuh. He-he-he...." ujar temannya yang kesadarannya sudah tinggal setengah itu.


“Masih sadar apanya? Tubuhmu saja sudah tidak tegak begitu, bagaimana kalian akan pulang nanti?" cibir Oxel.


“Setidaknya masih ada kami yang masih waras untuk membantumu mengatasi mereka semua," ujar salah satu dari mereka yang masih sadar, sama seperti Oxel.


“Hmm... Kami tak menyangka kau kuat minum Oxel," ujar temannya yang lain.


“Mungkin karena aku sudah terbiasa, ini adalah salah satu bentuk pelarianku," jawab Oxel.


“Masalah keluargamu, sungguh pelik ya?" tanya temannya.


“Ya begitulah, tapi aku bisa apa? Aku hanya ingin mencoba berbakti pada orang tua dan menjadi kakak yang baik untuk kedua adikku, meski kenyataannya, segala niat dan usahaku tak mampu membuka lebar mata mereka," jelas Oxel.


“Kau yang sabar, ya! Kata orang akan ada pelangi sehabis hujan, akan tiba waktunya kau akan merasakan yang namanya kebahagiaan, setelah kau melewati hari-hari berat dan terasa menyesakkan," kata temannya itu.


Oxel hanya terkekeh sembari menggoda temannya, “Aku tak tahu kalau kau bisa bersikap bijaksana juga."


“Kau hanya belum mengenal diriku dengan baik, Oxel," jawab temannya dengan kesal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kini Oxel pulang sendiri setelah acara minum bersama bersama rekan kerjanya, dia sedang berjalan, karena hari sudah malam, tak ada lagi bus yang lewat.


Dia berjalan terus mengikuti ke mana langkah kakinya akan membawanya, sepertinya ia tengah melamun.


Tanpa ia sadari, sedari tadi ada yang mengikutinya dari belakang dengan perlahan menggunakan mobil.


Seseorang tersebut merasa penasaran karena melihat Oxel berkeliaran selarut ini. Karena merasa tak tahan akhirnya dia membunyikan klakson mobilnya.


TIN... TIN....


Mendengar, klakson mobil yang keras, membuat Oxel kaget bukan main. Dia segera menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang, guna melihat siapakah gerangan yang membuatnya terkejut itu.


Tampaklah seorang wanita keluar dari mobil tersebut, karena Oxel sedikit merasa hangover jadi dia hanya mampu melihat samar-samar.


Wanita itu berjalan menghampiri Oxel seraya menepuk pundaknya, “Kau dari mana saja hingga selarut ini di luar?"


Oxel hanya menatapnya, “Siapa kau?"


“Kau lupa padaku, yang benar saja?" tanya wanita itu tidak habis pikir.


Terciumlah bau alkohol dari nafas Oxel. Wanita ini menggeleng tak percaya.


“Kau habis minum?" tanya wanita itu lagi.


“Hanya sedikit. Sudahlah menyingkir dari hadapanku, tidak baik wanita keluar tengah malam begini!" usir Oxel.


“Kau ini, yang ada kau yang membuatku khawatir, dasar bodoh! Ayo masuk ke mobilku, akan kuantar kau pulang, tunjukkan di mana rumahmu!" ujar wanita itu sembari menarik Oxel.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mereka sudah berada di dalam mobil saat ini, Oxel hanya memejamkan matanya, sementara wanita itu hanya menghela nafas.


“Di mana rumahmu?" tanya wanita itu.


“Masih berada di bumi," jawab Oxel melantur.


Wanita itu berdecak kesal dan membatin dalam hati, “Kau pikir kau alien yang tinggal di planet lain?"


Merasa tak mendapatkan jawaban, akhirnya dengan terpaksa, wanita itu membawa Oxel ke rumahnya.


Setibanya di rumah dia menyuruh bodyguardnya untuk membantu memapah Oxel dan meletakkannya di kamar tamu.


“Nona muda, semua yang Anda butuhkan sudah siap," ucap seorang pelayan di kediamannya.


“Terima kasih, Bi," jawabnya.


Ia melihat Oxel tertidur di ranjang single, setelah dibaringkan oleh para bodyguard.


“Apa dia memiliki masalah sehingga dia minum sebanyak ini?" gumamnya.


Author POV end