He Is My Cinderella

He Is My Cinderella
Empat puluh



Happy Reading!


Author POV


Saat jam istirahat, Zanetta sudah duduk manis di salah satu meja dekat jendela, tepatnya di restoran tempat Oxel bekerja.


Dia sedang ingin makan Yakiniku hari ini, entah mengapa hanya membayangkan saja membuat air liurnya seakan menetes bak derasnya mata air pegunungan.


Setelah lama menunggu, akhirnya pesanan tiba juga, seperti biasa ia ingin Oxel yang mengantar pesanannya.


“Ini pesananmu, Nona." ucap Oxel sambil menghidangkan makanan di depan Zanetta.


“Wah, terima kasih! Hmm... baunya sangat menggugah selera, membuat perutku bernyanyi," ujar Zanetta.


“Hebat sekali, perutmu bisa seriosa?" ledek Oxel.


“Hanya saat melihat hasil masakanmu," jawab Zanetta.


“Mulutmu terlalu manis cantik, sudahlah aku akan lanjut bekerja. Selamat menikmati!" ujar Oxel.


“Tunggu dulu! Aku bahkan belum memberikan penilaian akan hasil masakanmu," ujar Zanetta hendak menahan Oxel.


“Maaf, tapi aku sedang tidak mengikuti kompetisi memasak. Jadi kau tak perlu memberikan penilaian, lagi pula kau tak pernah absen menyantap masakanku," jengah Oxel sembari memutar bola mata.


“Aku ingin curhat padamu, jadi berikan aku waktu," pinta Zanetta dengan wajah memelas lengkap dengan puppy eyes-nya.


Oxel menghela nafas dan memilih untuk mengalah, kemudian dia duduk berhadapan dengan Zanetta.


“Ada apa?" tanya Oxel kemudian.


“Aku dapat SP dari kantor dan ini baru pertama kalinya," cerita Zanetta.


“Gara-gara terlambat kemarin?" tebak Oxel. Zanetta mengangguk mengiyakan.


“Aku sudah bilang, segeralah berangkat kerja, jangan sampai terlambat, kau tak mendengarkan," ujar Oxel.


“Akan tetapi aku di taman untuk menemanimu," ujar Zanetta sambil merengek.


“Apa kau tidak tahu, apa itu prioritas? Seharusnya kau lebih mementingkan bekerja dari pada aku yang hanya orang lain bagimu," nasehat Oxel.


“Kau bukan orang lain bagiku, Oxel," sanggah Zanetta.


“Aku iya, aku masih orang lain bagimu dan kita belum lama mengenal," ujar Oxel lagi.


Zanetta tidak suka dengan ujaran Oxel yang seperti itu, Oxel bukanlah orang asing, bagi Zanetta mungkin Oxel seperti cahaya lentera di hidupnya. Ia merasa geram kemudian mengepalkan tangannya dan beranjak dari kursi.


“Meski kau bilang begitu, tapi bagiku kau adalah cahaya bagi hidupku ini, Oxel," sahut Zanetta lalu duduk kembali dan melanjutkan makannya.


Oxel nampak diam terpaku, tapi beberapa menit kemudian Oxel tertawa karena merasa lucu dengan ucapan Zanetta.


“Netta, kau sedang tidak mabuk bukan?" tanya Oxel.


“Kau mengira, ucapanku hanyalah sekedar orang yang sedang dibawah pengaruh alkohol?" tanya Zanetta.


“Menurutku iya, Ya ampun Zanetta. Kau itu adalah seorang wanita, dan kodratnya wanita itu adalah dikejar dan dicintai, bukan mengejar dan mencintai," ujar Oxel pelan.


Zanetta hanya menunduk. “Apa semua itu tak jelas di matamu?"


“Bukannya, tak jelas, semuanya sudah jelas, tapi aku memang tak bisa memberikan apa yang kau inginkan, kita masih bisa dekat sebagai teman, bukan?" jelas Oxel.


“Aku sudah mencobanya tetapi tetap tak bisa, aku tak bisa melupakanmu, semuanya terasa begitu sulit untukku." ujar Zanetta sembari menggenggam tangan Oxel.


“Kau pasti bisa melakukannya seiring dengan berjalannya waktu, jika tidak bisa, berarti kau belum mencobanya dengan sungguh-sungguh," ujar Oxel.


“Tidakkah kau memberiku kesempatan?" tanya Zanetta.


“Maaf aku tak bisa, aku memang tak bisa memberikan perasaan lebih padamu, seperti yang kau inginkan. Jika aku menerimamu untuk saat ini. Itu sama saja aku berbohong. Tidakkah kau merasa sakit hati nantinya?" tanya Oxel balik.


Zanetta hanya tertunduk, sebetulnya apa yang dikatakan Oxel itu benar adanya, tapi sekali ini saja ia ingin egois.


“Kau tahu, Oxel? Aku tidak pernah jatuh cinta sedalam ini sebelumnya, ini baru pertama kalinya," jelas Zanetta.


“Dulu, aku sering bergonta-ganti pasangan. Jika aku merasa bosan, mereka akan kutinggalkan. Aku tidak pernah serius selama menjalani hubungan, tapi semuanya itu berubah kala aku bertemu denganmu,—"


“— mungkin dulu aku hanya sekedar tertarik padamu seperti pada pria kebanyakan, tapi seiring berjalannya waktu, jujur saja aku sungguh jatuh hati padamu, Oxel," jelas Zanetta.


Oxel tak mengerti harus bereaksi seperti apa, dia sendiri tidak menemukan perasaan yang diinginkan Zanetta saat melihat wanita cantik itu.


“— mungkin ini adalah hukuman untukku, yang selalu mempermainkan pria, ha-ha-ha," ujar Zanetta dengan tawa sumbang.


“Netta, aku mohon padamu, jangan menyakiti dirimu sendiri, kau juga berhak bahagia," ujar Oxel sembari menggenggam tangan Zanetta.


“Hiks... Hiks..." Zanetta terisak pilu. Baru kali ini dia ditolak oleh seseorang yang benar-benar dicintainya.


Oxel merasa tak tega, tapi ia juga tak ingin membohongi diri sendiri. Dia memang tak merasakan apa pun kala melihat atau berinteraksi dengan wanita ini.


“Hiduplah bahagia meski tanpaku, Netta," ujar Oxel.


Oxel memang tak bisa memberikan apa yang diinginkan Zanetta, dia hanya bisa menjadi sahabat jika Zanetta membutuhkan tempat bercerita.


“Tenangkan dulu dirimu, setelah itu baru berangkat kerja sebelum mendapat SP kembali," ujar Oxel.


Zanetta melanjutkan makan daging Yakiniku yang telah terhidang di depan mata, meski dengan linangan air mata yang masih menganak sungai.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Michelle sedang asyik mengeluh hari ini karena beberapa hari ini dia lembur mengerjakan berkas, terlihat sekali kantong mata yang menebal dan beberapa rambut yang sudah mulai memutih karena stress.


“Kau tak beristirahat dahulu?" tanya Jimmy.


“Inginnya begitu, tapi berkas sialan ini belum juga selesai," jawab Michelle.


“Wajahmu sudah mirip zombie saja, istirahat sana!" perintah Jimmy.


“Tolong gantikan aku, aku ingin istirahat!" pinta Michelle. Jimmy mengangguk. Michelle pergi ke ruangan pribadinya untuk beristirahat.


“Sangat pekerja keras," gumam Jimmy.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Michael pulang ke rumahnya dengan langkah terseok-seok dan wajah yang lesu. Wajahnya yang tak berbentuk karena lebam di sana-sini.


“Huh menyebalkan sekali. Gara-gara preman itu wajahku jadi begini, untung ibu sedang tak berada di rumah saat ini," ujar Michael. Tubuhnya serasa dilindas truk.


Christian yang kebetulan ada di rumah pun hanya menatap aneh sang kakak.


“Ada apa denganmu, kau berkelahi?" tanya Christian.


“Aku dikejar oleh preman dan dipukuli olehnya," jelas Michael.


“Ha-ha-ha... Bagaimana bisa?" tanya Christian merasa geli.


“Aku menendang kaleng dan tidak sengaja mengenai kepalanya."


“Mengapa bisa begitu?"


“Itu karena aku sedang kesal, kekasihku memutuskanku secara sepihak."


“Ha-ha-ha.... Ha-ha-ha.... Kasihan sekali kau, diputuskan, makanya jangan terlalu banyak berjanji," ledek Christian.


“Memangnya kau tidak?" tanya Michael.


“Aku, tentu saja aku tidak pernah berjanji lebih pada kekasihku, aku hanya mengajaknya makan saja," ujar Christian.


Michael mendengus, dia sangat iri pada sang adik, pacarnya tak pernah meminta yang macam-macam seperti kekasihnya yang terkenal matre dan gila harta.


Visualisasi makanan pesanan Zanetta