He Is My Cinderella

He Is My Cinderella
Sembilan belas



Happy Reading!


...Manusia ada karena takdir dari Tuhan...


...Manusia pun ada karena Tuhan yang menciptakan......


...Manusia adalah anak dari Tuhan...


...Namun salahkah jika seorang manusia berharap pada Tuhan?...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author POV


Hari ini, Oxel tidak seperti biasanya, dia sedikit tidak fokus dan pada akhirnya dia menyerah dengan beristirahat sejenak.


Entahlah, hatinya merasa berdebar kencang dan terasa menyesakkan. Perasaan takut pun tiba-tiba datang dan menyelimuti dirinya.


Beberapa kali mulutnya bergumam lirih dan tak ada seorang pun yang mampu mendengarnya kecuali dirinya sendiri.


“Kenapa perasaanku sangat tidak nyaman hari ini? Apakah akan terjadi sesuatu?" batin Oxel.


“Kau harus tenang Oxel, semua akan baik-baik saja, tidak akan terjadi apa pun, kau harus yakin itu!" batin Oxel lagi.


Oxel beberapa kali menarik nafas kemudian membuangnya.


Oxel hanya berdiam diri sejenak, pikirannya menerawang jauh. Mengulang bagaimana pertama kali saat ia bertemu dengan Maria.


Andai ayahnya tidak menikah lagi, mungkin dia tidak akan tersiksa seperti ini sekarang. Mungkin juga ibunya bersedih hati karena sang ayah mengkhianati cintanya.


Sungguh tidak pernah terpikir dalam benak Oxel bahwa ia akan mengalami kehidupan yang begitu naas seperti ini.


Hidup ini terasa seperti mimpi buruk bagi Oxel.


Sesak rasanya membayangkan kehidupan yang ia jalani selama belasan tahun terakhir ini.


Penderitaan yang seakan tiada berujung harus ia lewati, bagai berjalan melewati kaktus berduri.


Beruntung ia masih mampu berpikir panjang dan juga masih mampu bertahan di rumah yang terasa bagai penjara untuknya.


Oxel kembali bergegas ketika ia sudah merasa lebih baik dari sebelumnya.


“Kau sudah merasa lebih baik?" tanya rekannya.


“Iya, aku bisa mulai bekerja kembali, terima kasih telah memberiku waktu untuk istirahat sejenak," ucap Oxel tulus.


“Santailah sedikit, selama ini kau telah memberikan pengaruh yang besar terhadap cafe ini hingga sekarang berubah menjadi restoran keluarga. Jadi, tidak ada salahnya jika kau istirahat sejenak," jelas para rekannya.


“Kalau begitu mari kita bekerja! Sepertinya aku sudah mendapat pesanan yang mengantre," ujar Oxel.


“Masakanmu selalu menjadi idola para pengunjung restoran ini, dari mulai kapan kau belajar memasak?" tanya rekannya.


“Aku belajar memasak sedari kecil dengan ibuku," jawab Oxel.


“Ibumu pasti orang yang hebat, bisa mewariskan bakatnya yang luar biasa ini padamu!" ujar rekannya dengan mata yang berbinar kagum.


“Aku sangat bersyukur, aku bisa memasak dan melakukan hal lain," timpal Oxel. Temannya hanya mengangguk dan mereka berdua tetap melanjutkan pekerjaan mereka.


Di sisi lain karena ini sudah mulai siang Michelle dan ayahnya makan siang di sebuah restoran tempat Oxel bekerja, tak lupa Michelle juga mengajak Zanetta dan juga Jimmy.


“Pokoknya Daddy harus mencoba makanan di sini. Aku sudah memesan 2 jenis menu untuk kita semua," ucap Michelle.


“Apa benar makanan di sini enak?" tanya ayah Michelle.


“Tentu saja, Paman. Michelle saja langsung mengklaim jika ini adalah restoran favoritnya sejak pertama kali ke mari," jelas Jimmy.


“Baiklah, marilah kita coba nanti, selezat yang dikatakan oleh kalian atau tidak."


“Kau memesan banyak menu, apa kau yakin bisa menghabiskannya?" tanya Zanetta dengan bergidik ngeri.


“Kita pasti bisa menghabiskannya, kalian tenang saja," ucap Michelle.


Setelah menunggu akhirnya hidangan telah diantar oleh pelayan. .


“Ini dia menu pesanannya, selamat menikmati hidangan kami," ucap pelayan.


“Terima kasih."


Mereka pun mulai menyantap hidangan yang mereka pesan. Baru suapan pertama pada salah satu hidangan tersebut ayah Michelle merasa kagum.


“Wah, ini benar-benar lezat!" kata ayah Michelle.


“Paman benar, aku sering makan di restoran ini tapi aku belum pernah sekalipun memesan lasagna, aku tak tahu jika rasanya selezat ini," timpal Zanetta.


“Bagaimana dengan kalian berdua?" tanya ayahnya pada Michelle dan Jimmy.


“Kami hanya memesan menu ringan untuk sarapan, kami jarang pesan makanan pasta," jelas Jimmy.


Dan mereka terus menikmati hidangan mereka disertai dengan komentar-komentar yang penuh kekaguman akan cita rasa hidangan tersebut.


Selesai menghabiskan hidangan, ayah Michelle memanggil pelayan berniat meminta tolong untuk memanggil juru masak restoran tersebut dan pelayan itu mengiyakan permintaan ayah Michelle.


“Oxel, ada yang ingin menemuimu," panggil pelayan itu.


Oxel segera bergegas mengikuti pelayan tersebut menuju meja pelanggan.


“Selamat siang," sapa Oxel berusaha terlihat biasa saja.


“Siang, Oh jadi Anda yang memasak semua menu ini?" tanya ayah Michelle.


“Betul, saya yang memasaknya dibantu oleh rekan-rekan saya, ada yang ingin disampaikan? Mungkin mengenai keluhan atas ketidakpuasan, Pak?" tanya Oxel.


“Tidak, bukan begitu. Saya memanggilmu justru karena masakanmu sangat memuaskan, terasa sangat lezat," puji ayah Michelle.


“Jadi dia yang memasak menu ini? Nikmat sekali," batin Michelle.


“Oxel yang memasak menu ini. Wah selain tampan, ternyata dia juga pandai memasak. Benar-benar suami idaman," batin Zanetta kegirangan.


“Sebenarnya kalau boleh aku ingin meminta padamu. Jika ada acara di kediamanku sewaktu-waktu, maukah kau yang menjadi juru masaknya?" tanya ayah Michelle.


“Menjadi juru masak?" tanya Oxel bingung.


“Iya," jawab ayah Michelle.


“Tapi saya bukan seorang juru masak profesional, apa tidak apa-apa?" tanya Oxel ragu.


“Saya yakin kalau kau bisa, maaf sebelumnya siapa namamu? Kita belum berkenalan sejak tadi," tanya ayah Michelle.


“Nama saya Oxello Deovanno, Pak" jawab Oxel.


“Oxel. Saya Brian Frederick. Aku berharap jika suatu hari nanti kau bisa menerima tawaranku," kata Brian berharap.


“Akan aku pikirkan, terima kasih untuk tawaran Anda," ucap Oxel.


“Ah tunggu sebentar, ini kartu namaku." kata Brian lalu mengeluarkan sebuah kartu nama.


“Jika kau menerima tawaran itu, kau bisa menghubungi nomor yang tertera," sambungnya lagi.


Oxel pun menerima kartu nama tersebut setelah itu menyimpannya.


“Apa ada yang ingin ditanyakan lagi, Pak? Jika tidak saya permisi. pekerjaan menunggu," pamit Oxel.


“Ah, ya silahkan. Maaf mengganggu waktumu," ucap Brian tak enak hati.


Zanetta tersenyum sumringah setelah Oxel pamit undur diri.


“Ehem..." Jimmy terbatuk atau lebih tepatnya pura-pura batuk.


Zanetta yang melihatnya hanya melirik sinis dan berdecak.


“Sepertinya kau senang sekali hari ini?" sindir Jimmy.


“Kenapa? kau seperti tak suka jika melihatku bahagia sedikit saja," ujar Zanetta sengit.


“Aku hanya bertanya, jangan tersenyum sendiri lain kali, atau kau akan dirasuki hantu," ujar Jimmy.


Zanetta hanya menggerutu kesal kala digoda oleh Jimmy.


“Apa pemuda itu incaranmu, Netta?" tanya Brian.


Mendengar pertanyaan Brian pipi Zanetta pun bersemu merah. Dia merasa malu.


“Paman, aku malu, jangan menggodaku!" pekik Zanetta.


“Paman, kan hanya bertanya," jawab Brian dengan senyuman meledek.


“Biar kuberitahu, Paman. Netta, memang menyukainya tapi sayang ia tertolak," lapor Jimmy pada Brian.


“Ya, jangan seperti itu! Dia belum memberikan jawaban, jadi belum tentu aku ditolak," sanggah Zanetta.


“Memangnya kau sudah mengutarakan perasaanmu padanya?" tanya Michelle.


“Jelas belum, mau meminta nomor ponsel saja ditolak oleh Oxel. Bagaimana mengutarakan perasaan," sahut Jimmy dengan menahan tawa.


“Sudah-sudah jangan begitu, kasihan Zanetta," ujar Brian melerai mereka bertiga.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jam kerja Oxel telah usai. Oxel sedang dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Tak tahu mengapa, perasaan takut hadir kembali dalam benaknya.


Tiba di rumah saat dia membuka pintu, Oxel langsung basah kuyup dan sampah-sampah langsung menyambut wajah dan tubuh Oxel.


Dilempar menggunakan sampah-sampah yang sudah beraroma busuk dan menyengat ditambah dengan siraman air bekas cucian piring, tak pernah terlintas dalam benak Oxel.


Tidak hanya itu, Oxel langsung ditarik sampai terjatuh dan ia juga diseret oleh kedua saudaranya di lantai yang dingin dengan tidak manusiawi.


“KAU, INI BALASAN UNTUKMU KARENA KAU MENGATAKAN BAHWA KAMI ADALAH BEBAN KELUARGA!" teriak Maria murka.


Mereka terus menyiksa Oxel dengan keji, hingga Oxel mendapat luka dan lebam.


Karena tak kuat menahan siksaan, Oxel tergeletak pingsan.


Author POV end


Visualisasi pesanan