He Is My Cinderella

He Is My Cinderella
Dua puluh lima



Happy Reading!


Author POV


Pagi harinya, Oxel sudah memulai aktivitas dengan segudang pekerjaan rumah, sebelum berangkat bekerja.


Dilihatnya sekeliling ruangan nampak masih sepi saja, mungkin penghuni rumah masih terlelap dan mengarungi dunia mimpi menjadi orang kaya raya.


“Ck.. selalu saja bangun siang, dasar barisan para pemalas, aku tak yakin mereka bisa hidup atau tidak jika tak ada orang waras yang tinggal di antara mereka," gerutu Oxel.


Ia berpamitan pada anjing kesayangannya sebelum berangkat bekerja, dengan meninggalkan air dan makanan anjing untuk Vick.


“Jadilah anak baik dan jangan nakal Vick, aku berangkat dahulu," kata Oxel.


Dia membantu di toko bunga sejenak, sebelum ke restoran, ternyata Sean dan yang lainnya sudah menunggu Oxel, mereka bahkan datang lebih pagi.


“Maaf aku terlambat," ujar Oxel.


“Tak apa, kami sudah mengetahui bahwa kau selalu menjadi Cinderella untuk keluargamu," jawab Sean.


Oxel hanya merengut, selalu saja disamakan dengan Cinderella oleh kawan-kawannya. Oxel dan kawan-kawan langsung mulai bekerja menyelesaikan rancangan merak itu.


“Astaga rancanganmu sungguh memakan waktu, Oxel," ujar Sean.


“Yang penting pelanggan akan puas, dan toko ini akan semakin ramai, dan bibi akan menambah pegawai lagi." jawab Oxel sambil mengerjakan pekerjaan yang menjadi bagiannya.


Mereka terus bahu-membahu menyelesaikan pekerjaan mereka yang menjadi pesanan pelanggan.


Sampai akhirnya Oxel pamit karena sudah waktunya bekerja di restoran.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di tempat yang berbeda, Michelle hendak berangkat bekerja, hari ini dia berangkat sendiri karena ayah dan ibunya sudah kembali melakukan perjalanan bisnis.


Michelle menggunakan transportasi umum, dikarenakan mobilnya sedang bermasalah saat hendak digunakan.


Dia berada di halte bus saat ini. Banyak orang yang berada di sana namun sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


Michelle pun hanya memperhatikan jalan menunggu bus datang tapi sepertinya tingkat kewaspadaan Michelle sedang rendah saat ini.


Ada seseorang yang sedang mengawasi Michelle, saat situasi dirasa aman oleh orang tak dikenal itu, langsung saja orang itu merebut tas Michelle dan berlari menjauhi halte bus.


Michelle yang terkejut otomatis berteriak, ”COPET!! COPET!!"


Para penghuni halte hanya memandang sejenak dan kembali tenggelam dalam kesibukan mereka.


Oxel yang sedang berangkat kerja menuju restoran mendengar sebuah teriakkan dan tak sengaja melihat orang berlari ke arahnya, serta Michelle yang berteriak COPET.


Oxel memasang ancang-ancang, dan menjegal kemudian menahan pencopet tersebut. Michelle yang terengah-engah karena kelelahan mengejar pencopet itu seketika terdiam melihat aksi Oxel.


Michelle langsung menghampiri Oxel yang menahan pencopet tersebut, kemudian mengambil tasnya.


“Jadi, itu milikmu?" tanya Oxel.


“Ya, terima kasih karena kau telah menahan pencopet ini, aku akan melaporkannya," jawab Michelle.


Pencopet itu meringis kesakitan karena kedua tangannya dipelintir serta badannya ditahan menggunakan kaki Oxel.


Michelle hanya melihat dan sedikit meringis kala melihat pencopet yang berusaha melepaskan diri.


“Lain kali kau harus berhati-hati jika berada di tempat umum," nasehat Oxel.


Oxel segera menemani Michelle membawa pencopet ini untuk dilaporkan ke pihak berwajib.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Setelah urusan melaporkan selesai, Michelle dan Oxel kembali berangkat menuju tempat kerja mereka.


“Kau selalu berjalan kaki jika bekerja?" tanya Michelle.


“Ya begitulah, aku sudah terbiasa," jawab Oxel.


Michelle hanya mengangguk tanda mengerti, ini kali pertama dia berjalan berdua dengan Oxel.


“Lantas bagaimana denganmu? Kurasa kau selalu membawa mobilmu, tapi kali ini?" tanya Oxel.


“Awalnya aku akan menggunakan bus untuk bekerja, karena mobilku sedang berada di bengkel, jujur saja ini baru pertama untukku menaiki bus," jawab Michelle.


Oxel hanya menoleh ke arah Michelle, karena merasa terkejut.


“Kau baru pertama kali naik bus?" tanya Oxel yang diangguki Michelle.


“Ha-ha-ha... Ha-ha-ha..." tawa Oxel menggema.


Michelle merasa aneh dengan Oxel yang tiba-tiba tertawa keras.


“Ada yang salah?" tanya Michelle pada Oxel.


Oxel menghentikan tawanya dan berkata, “Jika kau tak tahu jurusan sebuah bus, alangkah baiknya kau tanya dan mencari tahu terlebih dahulu sebelum menaikinya. Kalau tidak kau bisa salah jurusan nanti." jelas Oxel.


“Eh?" bingung Michelle.


“Di mana kau bekerja?" tanya Oxel.


“Di perusahaan xxx alamat xxx" jawab Michelle.


“Hmm... biasanya bus nomor x sudah lewat 1 jam yang lalu, kau terlambat. Sudah tahu tak menggunakan kendaraan pribadi masih saja datang siang," cibir Oxel.


Michelle melihat jam tangannya benar kata Oxel, ini sudah siang sekali untuk bekerja.


“Lalu aku harus bagaimana?!" tanya Michelle dengan nada tinggi, dia merasa panik.


“Kenapa tak naik taksi saja untuk menuju kantor?" tanya Oxel kemudian.


Seketika Michelle berpikir dan mengumpat dalam hati, “Sial mengapa tak terpikir olehku sedari tadi, bodoh kau Michelle."


“Baiklah kalau begitu cepat kau pesan taksi secara daring saja, mau aku temani?" tawar Oxel.


“Kau tidak bekerja?" tanya Michelle.


“Aku bekerja," jawab Oxel.


“Jika bekerja, kenapa kau belum berangkat juga? Apakah sekarang kau menjadi pengangguran?" tanya Michelle lagi.


Oxel hanya berdecak kesal. Sungguh wanita di depannya ini mempunyai attitude yang buruk sepertinya.


“Kau, aku tidak yakin jika kau dari kalangan kelas atas, attitude-mu sangat buruk. Sepertinya kau harus sekolah manner. Dan lagi, sepertinya kau harus me-review otakmu alasan kenapa aku masih berada di sini dan belum berangkat bekerja."


Seketika Michelle tersadar dan dia merasa bersalah karena ucapannya sudah keterlaluan terhadap Oxel. Parahnya lagi ini bukan kali pertama, ucapannya terhadap Oxel bisa setajam dan sekasar itu.


“Tapi ya sudahlah, karena kau tadi mengusirku, aku akan berangkat kerja sekarang, selamat tinggal dan berhati-hatilah." kata Oxel kemudian pergi meninggalkan Michelle.


“Apa dia marah lagi?" gumam Michelle bertanya-tanya dengan raut wajah sendu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Oxel sudah kembali ke restoran, ya dia memang terlambat hari ini, untung saja pemilik restoran tersebut memaklumi dan mau memaafkannya, tapi Oxel juga diberikan peringatan supaya tak mengulangi kejadian ini lagi.


“Oxel, kau datang juga sobat. Tidak biasanya kau terlambat seperti ini," ujar rekannya.


“Maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi," jawab Oxel sedikit merasa bersalah.


“Tidak perlu merasa bersalah kawan, yang terpenting adalah kau tak mengulanginya lagi. Kami semua membutuhkan bantuanmu di sini," ujar sang rekan.


Oxel kembali memasak menu untuk sarapan kali ini. Banyak pelanggan yang sudah datang pagi-pagi hanya untuk sarapan di sini, sehingga restoran itu sudah sibuk di pagi hari.


“Ugh... Aroma cabainya membuatku ingin bersin saja," keluh temannya.


“Mau bagaimana lagi, pelanggan yang pesan. Sebenarnya kurang baik jika sudah makan, makanan pedas di pagi hari, tapi pelanggan adalah raja bukan?" tanya Oxel.


“Semoga perut mereka baik-baik saja," doa para pekerja di dapur.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu Michelle nampak lesu karena kejadian pagi tadi. Sungguh dia merasa bodoh karena perkataannya sendiri yang kadang bisa menyakiti hati orang lain.


“Kenapa wajahmu nampak muram hari ini, terjadi sesuatu?" tanya Jimmy.


“Aku salah, aku sudah membuat dia terluka dengan kata-kataku," jawab Michelle.


“Huh?" Jimmy kebingungan.


“Seharusnya aku bisa mengontrol ucapanku padanya, tapi lagi-lagi aku membuat kesalahan," kata Michelle lagi.


Jimmy masih mencoba memproses dan memahami apa yang dirisaukan oleh sahabatnya ini.


“Dia pasti merasa terluka dan marah padaku. Terlihat sekali wajahnya yang menyiratkan luka," kata Michelle.


“YA! Sebenarnya kau ini membicarakan siapa?!" gemas Jimmy.


“Aku membicarakan pemuda itu, tadi aku bertemu dengannya di jalan, saat tasku hampir kecopetan," jelas Michelle.


“Terlalu banyak pemuda yang kau temui di jalan raya, kau pikir aku bisa menemukan pemuda yang kau maksud dan menghitung serta menanyakan mereka satu-persatu?!" jawab Jimmy.


“Masa kau tidak tahu?!" balas Michelle dengan nada tinggi karena tengah kesal.


“Oh Michelle ku sayang, sungguh kau pikir aku pengangguran berkedok paranormal, sehingga dapat menebak dan mencari orang yang kau maksud saat kau berada di jalan raya tadi?" tanya Jimmy.


“Seharusnya kau paham. Memangnya dengan siapa lagi aku berhubungan dengan pria selain daddy dan juga dirimu?!" sungut Michelle.


Oke, untuk selanjutnya Jimmy mencoba berpikir keras siapa yang dimaksud oleh Michelle, sahabatnya yang kelewat aneh itu.


“Kau bertemu dengan Oxel?" tebak Jimmy. Lalu Michelle pun mengangguk.


“Kali ini apa yang kau katakan padanya selain sombong dan dingin?" tanya Jimmy.


“Aku tak sengaja bilang dia pengangguran. Padahal dia sudah menolongku dari pencopet sehingga dia terlambat bekerja." jelas Michelle dengan kepala tertunduk.


Jimmy hanya bisa menepuk jidatnya. Ya Tuhan sahabatnya ini memang sesuatu jika sudah berkata-kata.


“Kau benar-benar wanita yang luar biasa, Michelle! Luar biasa bodohnya!" komentar Jimmy.


“Kenapa kau malah mengolokku?!" tanya Michelle tak terima.


“Bagaimana bisa kau mengulangi kesalahan yang sama, padahal kau sudah diolok dan disindir keras oleh sahabat Oxel?" tanya Jimmy tak habis pikir.


“Aku tahu, maka dari itu aku menyesal," jawab Michelle.


“Kau tahu apa yang harus kau lakukan bukan, jika begitu?" tanya Jimmy.


“Bagaimana caraku memulainya?" tanya Michelle frustasi.


“Wajahmu seperti seseorang yang sedang terlilit utang besar saja, itu mudah kau tinggal datangi Oxel dan minta maaflah secara tulus," jawab Jimmy.


“Jika dia tak mau menemuiku, bagaimana?" tanya Michelle.


“Itu urusan belakang saja, setidaknya kau sudah mencoba bukan?" ujar Jimmy.


Michelle yang mendengar usul Jimmy tersenyum, Benar juga, kalau belum dicoba, belum tahu hasilnya seperti apa, bukan?


Ya Michelle bertekad untuk menemui Oxel dan meminta maaf padanya.


Author POV end


Menu sarapan