
...Tempat di mana orang-orang memikirkanmu dan memedulikanmu adalah tempatmu pulang...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Happy Reading!
Author POV
Setelah puas bermanja dengan bibi. Oxel segera bangun dari posisi ternyamannya, pelukan dan pangkuan bibi adalah yang terbaik sepanjang masa, setelah ibunya. Terasa hangat dan menenangkan.
“Sudah bangun?" tanya bibi.
“Apa aku ketiduran?" tanya Oxel balik.
“Ya, kau terlihat begitu pulas bak seorang bayi, Bibi tidak tega membangunkanmu," jelas bibi.
Oxel hanya tersenyum tak jelas merasa tak enak dengan bibi, “Ugh, pasti pegal menjadi bantalku untuk waktu yang lama."
“Tidak. Bibi baik-baik saja, anak manis, kau tak perlu khawatir," ucap bibi.
“Hmm... Kalau begitu, Oxel akan keluar dulu, Oxel bosan jika terus diam," ujar Oxel seraya menggembungkan pipinya.
“Keluarlah dan bergabung dengan temanmu, mereka pasti akan senang jika kau bergabung ditengah-tengah mereka," ujar bibi.
“Kalau begitu, Oxel keluar dulu," pamit Oxel dan sang bibi mengangguk.
Oxel segera beranjak keluar dari ruangan bibi. Terlihat para pegawai tengah sibuk merangkai bunga.
Ia merasa bosan karena tidak melakukan apa pun. Matanya menelisik mencari-cari sesuatu.
“Ada di mana ya? Seingatku bibi selalu menyimpannya," ujar Oxel seorang diri.
“Kau sedang mencari apa?" tanya Dara kala melihat Oxel yang nampak kebingungan.
“Aku sedang mencari buku gambar dan alat tulis, seingatku bibi menyimpannya di sini tadinya," jawab Oxel.
“Ah, bibi menyimpannya di ruangan pribadinya. Bukankah kau habis dari ruangan bibi? Kenapa kau tidak bertanya pada beliau?" tanya Dara.
“Eh?" Oxel kebingungan. Dara hanya tersenyum geli melihat tingkah bingung Oxel. Wajahnya seperti anak berusia 5 tahun saja.
“Ugh, kau terlambat memberitahu," rajuk Oxel dengan wajah yang tertekuk dan bibir mengerucut lucu.
Bukannya marah, Dara hanya tersenyum gemas pada Oxel, “Karena kau tidak bertanya pada kami, anak bayi."
Oxel hanya cemberut saja dibilang bayi. Hey! Dia ini sudah dewasa, bahkan sudah bertransformasi menjadi lelaki tampan idaman kaum wanita, bukan bayi lagi. Meski terkadang para kaum pria juga mengaku secara terang-terangan memuji wajahnya serta mengaguminya.
“Sudahlah, dari pada menggambar, lebih baik kau membantu kami terlebih dahulu, supaya pekerjaan kami cepat selesai," ujar Dara pada akhirnya.
“Kau harus menggajiku untuk ini. Aku sedang ingin menggambar," rengek Oxel.
“Aku akan mentraktirmu, bayi kecil. Sekalian dengan Sean nanti." balas Dara sambil menarik tangan Oxel agar mengikutinya.
“Aku bukan bayi dan aku sedang malas," rengek Oxel lagi.
“Diam ya bayi! Tenang saja nanti aku akan memberikan lolipop untukmu, kau mau yang rasa apa, vanilla atau stroberi?" tawar Dara.
Perdebatan mereka berdua tak luput dari pandangan para pegawai dan pengunjung toko bunga. Mereka hanya tertawa geli, melihat Oxel yang diperlakukan layaknya anak balita.
“Nah, selamat bekerja anak manis. Jadilah anak baik hari ini! Nanti kau akan mendapatkan reward, mengerti!" ujar Dara.
Oxel hanya mengerucutkan bibirnya, meski begitu tangannya juga mulai mengambil pekerjaan.
Dara hanya tersenyum geli karena berhasil memaksa sekaligus mengerjainya.
“Jangan cemberut wajahmu sangat mirip dengan bebek, jika seperti itu," ujar Dara.
Makin suramlah wajah Oxel mendengar perkataan Dara.
“Aku ini tampan, semua orang tahu akan hal itu, mereka sudah mengetahuinya," jawab Oxel tak terima.
“Bicaralah pada cermin. Kurasa cermin lebih jujur dari pada hatimu," ejek Dara.
Sontak hal itu membuat para pegawai lain tertawa, bahkan ada yang ikut menimpali, “Oxel, seluruh dunia pun tahu bahwa dirimu itu cantik laksana bidadari."
Mendengar itu, Oxel semakin kesal dan karena kesal dia sampai tak sadar jika ia menghentak-hentakkan kakinya.
Bibi pemilik toko yang melihat dan mendengar keriuhan itu hanya tersenyum, dia amat senang melihat semua mencintai Oxel. Ya, walaupun Oxel menjadi bulan-bulanan mereka.
Bagi para pegawai menggoda Oxel adalah salah satu kegiatan yang sangat menyenangkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Michael sedang berjalan-jalan, kali ini ia sedang sendirian. Loh? Kok bisa, biasanya, kan bersama kekasihnya?
Hari ini ia enggan berkencan dengan kekasih karena tak memiliki uang. Mau ditaruh di mana wajah tampannya nanti?
“Ck... Seharusnya aku berkencan dengan kekasihku hari ini!" seru Michael kesal. Gara-gara ibunya tak meninggalkan uang untuknya, terpaksa dia keluar sendirian tak tentu arah layaknya tuna wisma.
“Apa aku harus ketempat kerja Oxel saja, ya? Mungkin saja dia mau memberiku uang," ucap Michael menimang.
“Kalau begitu, aku akan ke restoran tempatnya bekerja saja." lanjutnya lagi dan berjalan menuju restoran tempat kerja Oxel.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sedangkan Oxel saat ini sedang merangkai buket bunga spesial, untuk dijual walaupun tidak ada yang memesannya.
Ya dia sedang membuat buket bunga mawar berwarna hitam dan putih. Tidak lazim memang, tapi Oxel sangat menyukai dua warna tersebut.
Sean yang melihatnya hanya memandang heran sekaligus aneh. Pasalnya baru kali ini Oxel membuat buket bunga warna hitam. Jika dipikir-pikir warna hitam adalah lambang dari kedukaan. Mana ada orang yang ingin membelinya?
“Kau tengah berduka?" tanya Sean.
“Setiap hari pun aku berduka, Sean," jawab Oxel sekenanya.
“Dan kau ingin mengekspresikan rasa dukamu yang terus mengalir bak sungai Nil begitu?"
“Tidak juga, aku membuat buket ini, karena ini adalah dua warna favoritku," jelas Oxel.
“— selain itu kedua bunga ini juga melambangkan kesetiaan," lanjutnya lagi.
“Kedukaan dan kesetiaan, bukankah itu menggambarkan dirimu untuk keluargamu?" tebak Sean.
“Kau yang paling jenius di antara kami. Akan sangat mudah untukmu jika menebaknya," jawab Oxel.
“Kau setia mengabdi pada keluargamu meski kau mendapatkan duka setiap harinya. Siapapun yang mengenalmu pasti akan mudah menebaknya, tidak hanya aku," ujar Sean.
Oxel hanya tersenyum menanggapinya. Dia juga bingung dengan dirinya sendiri. Mengapa juga dia tidak pergi dari orang-orang yang telah menyakitinya selama belasan tahun?
Ada saatnya ia merasa ingin lari dan pergi meninggalkan mereka sejauh mungkin, tapi ada yang membuatnya tak bisa melakukan hal tersebut, jika ditanya mengapa ia sendiri juga tidak tahu.
Bukankah tak selamanya pertanyaan itu memiliki sebuah jawaban?
“Tidak semua pertanyaan itu memiliki jawaban, Sean," jawab Oxel kemudian.
“Tidak mungkin, setiap pertanyaan pasti ada jawabannya," sangkal Sean.
“Kau yakin?" tanya Oxel. Sean mengangguk dengan pasti.
“Kalau begitu, apa alasanmu mencintai Dara? Jika kau memiliki jawaban berarti kau tak sungguh-sungguh mencintainya. Semisal karena dia cantik, itu berarti kau hanya sekedar suka, ingin memiliki hanyalah sebuah obsesi—"
“— tapi jika kau sungguh-sungguh mencintainya kau pasti akan kebingungan menjawab pertanyaanku karena jika seseorang benar-benar jatuh cinta tidak memerlukan alasan untuk dijadikan sebuah jawaban, dan memang tak ada jawabannya," jelas Oxel.
Mendengar hal itu membuat Sean terdiam seribu bahasa, lalu Oxel meninggalkan Sean begitu saja.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Michael sudah berada di restoran tempat Oxel bekerja, dia duduk di meja dekat jendela dan memanggil pelayan. Merasa ada yang memanggilnya pelayan itu mendatangi meja Michael.
“Ada yang bisa saya bantu?" tanya pelayan itu.
“Begini apa benar jika Oxel bekerja di restoran ini sebagai juru masak?" tanya Michael.
“Iya betul Oxel memang bekerja sebagai juru masak di restoran ini. Maaf kalau boleh tahu ada perlu apa?" tanya pelayan itu.
“Sebenarnya ada urusan penting. Kalau boleh bisa tolong panggilkan?" pinta Michael.
“Maaf dengan siapa?" tanya pelayan itu lagi.
“Michael teman Oxel," jawab Michael cepat.
“Baiklah mohon tunggu sebentar akan saya panggilkan." ujar pelayan yang diangguki oleh Michael.
Beberapa saat kemudian.......
Pelayan itu kembali lagi menghampiri meja Michael. “Maaf Oxel tidak masuk bekerja hari ini karena sakit, tadi pagi dia sudah izin dengan pemilik restoran dan rekan kerjanya."
Michael terdiam heran, karena kata pelayan tersebut Oxel tak bekerja hari ini, tapi dia juga tak ada di rumah lantas ke mana perginya Oxel? Apa dia bolos dan membuat izin palsu?
“Hmmm.... Menarik," batin Michael menyeringai licik.
“Ah begitu, kalau begitu saya permisi, terima kasih." ujar Michael berpamitan dan pergi dari sana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Para pegawai yang lain mencuri pandang kearah Oxel yang sedang serius menggambar.
“Lily putih?" beo Danielle.
“Apa menariknya Lily putih?" tanya Celine.
“Lily putih melambangkan kemurnian dan kesucian, aku ingin seperti Lily putih yang selalu murni," jawab Oxel.
“Kakak sudah seperti bunga Lily putih, kakak juga memiliki hati yang baik dan murni," ujar Celine.
“Aku berharap seperti itu, tapi aku sadar aku hanyalah manusia biasa, yang mungkin bisa berubah kapan saja, tidak seperti Lily yang walaupun dipandang sebelah mata, dia tetap mekar dengan indahnya dengan mempertahankan kemurniannya," jelas Oxel.
“Kakak selalu melankolis," cibir Celine.
“Ha-ha-ha... Benarkah?" tanya Oxel dengan tawa kecil menghiasi wajahnya.
“Iya benar, kakak selalu bersedih, walau kakak tersenyum, namun wajah kakak selalu terlihat sendu," ujar mereka.
“Maaf jika membuat kalian kurang nyaman, aku juga tak ingin terlihat sendu, aku sudah berusaha menyembunyikan kesedihanku, tapi kalian selalu bisa mengetahuinya," jawab Oxel.
“Bukan begitu, maksud kami. Kami hanya ingin kakak melupakan kesedihan kakak saat bersama kami semua, kami hanya ingin kakak tersenyum bahagia saat bersama kami semua. Karena kami semua ada untuk kakak," ujar Celine.
“Kami semua selalu ada untukmu, Kak, karena kami semua adalah keluargamu, jangan pernah merasa sendirian lagi mulai sekarang," ujar Celine lagi.
Mendengar itu Oxel mengangguk dan tersenyum seraya berkata, “Mau berpelukan?"
Mendengar penawaran Oxel membuat mereka menerjang Oxel dan memberikan sebuah pelukan.
Oxel merasa terharu, ternyata masih ada yang peduli dengannya hingga sejauh ini.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pada malam harinya sesuai janji, Dara mentraktir Sean dan Oxel, ini demi memenuhi Oxel yang merajuk seperti bayi.
Untung saja wajahnya menggemaskan, coba jika tidak? Mungkin sudah dibuang oleh Dara dan Sean ke lautan luas sana.
Saat ini mereka bertiga sedang berada di kedai kecil yang menjual makanan pedas. Karena mereka memang menyukai rasa pedas terutama Oxel, maka Dara mengajaknya ke sana.
Saat pesanan mereka sudah terhidang Oxel nampak antusias, matanya berbinar.
“Wah! Sepertinya enak!" ucap Oxel.
“Makanan gratis akan terasa lebih nikmat dari pada saat kita membeli sendiri," timpal Sean, membuat Dara melirik kesal.
“Lain kali kau yang harus memberi bayi ini makan malam, kau mengerti?" ujar Dara.
Sean hanya melongo, kenapa dia harus kena getahnya juga.
“Aku setuju dengan Dara, besok kau yang harus mentraktirku makan," timpal Oxel kesenangan.
“Astaga kenapa pula aku juga ikut memberi makan bayi besar ini?" tanya Sean tak habis pikir.
“Tentu saja kau harus, karena aku adalah bayi kesayangan kalian. Dan kalian berdua adalah orang tuaku," jawab Oxel sambil makan sebuah Odeng dengan lahap.
Jika ini berada di dunia manga, sudah pasti di dahi Sean muncul perempatan siku.
“Aku tak pernah ingat apa aku pernah membuat anak sebelumnya?" ujar Sean tak acuh.
Sebuah jitakan penuh cinta mendarat di kepala Sean setelahnya.
“YAK!" teriak Dara dan Oxel.
“AUCH!" Sean mengaduh kesakitan. Dia mengusap kepalanya pelan. Sungguh! Yang barusan tadi sangat menyakitkan bagi Sean.
“Kalian ini kenapa?!" tanya Sean dengan nada meninggi.
“Lain kali perhatikan dulu jika bicara, mulutmu itu perlu dikontrol, tahu?" ucap Dara.
“Aku, kan benar. Oxel bilang dia adalah anak kita, tapi, kan aku tidak ingat pernah membuat Oxel sebelumnya, apa lagi denganmu," jelas Sean lagi.
Kalau ini Dara yang naik pitam terhadap Sean, sontak saja dia berdiri dan menarik rambut Sean dengan kencang tak berperasaan.
“ARGHHHH DARA LEPASKAN RAMBUTKU YAAMPUN, HENTIKAN INI NAMANYA KEKERASAN DALAM PERTEMANAN!!" teriak Sean.
Apa yang dilakukan Oxel? Oh ternyata Oxel sedang sibuk makan. Dia hanya melihat tanpa perlu repot-repot memisahkan keduanya.
“Kau, apa kau sudah tidak memiliki urat malu, huh?" tanya Dara pada Sean kala sudah melepaskan tarikannya pada rambut Sean.
Sean hanya mengusap kepalanya yang masih terasa perih. Dia berharap tak mengalami kebotakan setelah kejadian mengerikan ini.
“Aish... Aku, kan hanya menanggapi perkataan Oxel. Kau benar-benar kejam Dara," sungut Sean.
Wajah Dara masih memerah antara menahan kesal sekaligus malu. Sedangkan Oxel masih makan dengan khidmat.
“Aku tidak ingin memiliki bayi besar sepertimu, jika aku punya bayi modelan kau, sudah pasti aku selalu menjadi pihak yang teraniaya." ujar Sean sambil menunjuk Oxel.
“Aku juga tidak ingin memiliki ayah sepertimu omong-omong," balas Oxel.
“Aish dosa apa, aku terjebak dalam pertemanan dengan kedua orang aneh ini?" batin Sean merana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mereka sudah berpisah setelah mengantar Oxel pulang. Sampai pada saat membuka pintu tamparan keras sudah melayang di pipi Oxel memberikan sambutan. Padahal sedang ada Vick di sampingnya.
PLAAAAK!!!!
PLAAAKKK!!!
“GUK!!!! GUK!!!!" Vick menggonggong tidak terima kala Oxel menerima sebuah tamparan keras di pipinya.
“KAU DARI MANA SAJA ANAK SIALAN?! SEHARIAN TIDAK DI RUMAH BUKANNYA BEKERJA MALAH PERGI TIDAK JELAS BERSAMA ANJING MENJIJIKAN ITU,"
“AKU MERAWAT DAN MEMBESARKANMU BUKAN UNTUK MENJADI SEORANG ANAK PEMALAS SEPERTIMU, KAU TAHU?!"
“DASAR ANAK TIDAK TAHU DIRI! MASIH UNTUNG AKU TIDAK MEMBUANGMU KE JALANAN! JIKA TIDAK KAU PASTI SUDAH MENJADI GELANDANG SEKARANG!" murka Maria.
Michael dan Christian yang melihatnya hanya memandang sinis dan menyeringai kejam.
Mereka langsung menyeret Oxel masuk ke dalam rumah dan tanpa basa-basi Maria melayangkan pukulan keras ke punggung Oxel menggunakan tongkat kayu yang besar beberapa kali. Membuat Oxel jatuh tersungkur dan mulutnya mengeluarkan darah.
“GUK!!!! GUK!!! GUK!!!!" Vick menggonggong keras dan beringsut mendekati Oxel yang tersungkur di lantai.
“MINGGIR KAU ANJING SIALAN! ATAU KAU AKAN KUPUKUL JUGA SEPERTI MAJIKANMU ?!" teriak Maria, tapi Vick tak mendengarkan juga tidak menjauh dari Oxel.
Karena kesal bukan kepalang Maria hendak memukul Vick juga namun Oxel langsung menahan tongkat kayu tersebut.
“Hen-ti-kan, UHUK!! Jangan pukul Vick. Dia ti-dak sa-lah a-pa-pun," ujar Oxel merintih.
“SEHARUSNYA KAU MATI SAJA SEPERTI AYAHMU DARI PADA MENYUSAHKAN KAMI, ANAK SIALAN!" umpat Maria kemudian pergi meninggalkan Oxel diikuti oleh kedua anaknya.
“Semoga saja aku tidak mengalami patah tulang, Ya Tuhan," batin Oxel.
Author POV end
Visualisasi wajah cemberut Oxel
Visualisasi buket Bunga mawar hitam putih
Visualisasi gambar bunga Lily putih karya Oxel
Visualisasi traktiran Dara
Catatan:
Bunga lily dikenal sebagai ratu taman oleh para pencinta bunga karena memiliki tampilan yang sangat cantik.
Dalam mitologi Yunani Kuno disebutkan kalau bunga lily berasal dari susu yang ditumpahkan oleh Dewi Hera ke bumi.
Konon katanya Dewi Hera sedang menyusui puteranya, Hercules.
Lalu secara tidak sengaja ia menumpahkan air susunya ke bumi.
Berdasarkan mitologi tersebut, arti bunga lily selalu diidentikkan dengan kesucian dan kemurnian layaknya kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.
Bunga ini juga dianggap sebagai lambang keindahan karena Dewi Hera merupakan salah satu dewi tercantik yang ada dalam mitologi Yunani.
Dalam pernikahan Yunani Kuno, biasanya mempelai wanita \mengenakan mahkota yang dibuat dari bunga lily karena bisa memancarkan keindahan dari sang mempelai wanita.