
Happy Reading!
Author POV
Waktu menunjukkan sore hari, Oxel masih sibuk berkutat dengan dapurnya saat ini. Pun begitu juga dengan yang lainnya. Mereka sedang berkutat dengan pekerjaan dapur mereka.
“Ahh.. Ya, Tuhan aku lelah sekali. Pesanan pengunjung membuatku gila, salahkan Oxel yang selalu saja mencoba menu baru," keluh rekannya.
Oxel hanya terkekeh dan berkata, “Tapi itu juga rezeki untukmu, bukan? Semakin ramai restoran, pendapatanmu juga semakin bertambah."
“Mengapa kau sangat pandai membalas ucapan seseorang, huh?" tanya rekannya.
“Aku hanya bicara sesuai dengan fakta yang ada," jawab Oxel.
Rekannya hanya mendengus kesal, berdebat dengan Oxel bisa membutuhkan waktu sehari penuh. Mengalahkan debat pemilihan kepala negara saja.
“Sudahlah lebih baik aku bekerja saja." ujar rekannya sambil berlalu. Oxel hanya tertawa saja.
Oxel juga kembali berkutat dengan pekerjaannya. Kali ini dia mengolah abalone dan daging domba.
Tangannya bergerak dengan lincah saat meracik dan mengolah bahan menjadi makanan dengan cita rasa yang tinggi.
Butuh waktu lama dia mengolah dibantu dengan rekannya yang lain.
“Aku saja belum pernah makan menu ini, apa kau sudah pernah Oxel?" tanya rekannya.
“Aku? Ah.. aku belum pernah juga, tapi aku sering melihat resep dahulu dan mencobanya," ujar Oxel beralasan.
“Hanya orang-orang berkantong tebal yang bisa menikmati ini," ujar rekannya.
“Cepatlah selesaikan pekerjaannya, pelanggan tak suka menunggu terlalu lama," ujar Oxel.
Mereka semua bergegas setelah mendapat aba-aba dari Oxel.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Lain dengan Oxel yang sibuk bergerak karena pekerjaan semakin banyak saja, lain pula dengan Michelle yang justru sibuk merenung memikirkan kejadian pagi tadi.
Sambil membelakangi meja kerja dia melihat pemandangan kota dari balik jendela besarnya.
“Apa kata-kataku sudah keterlaluan? Tapi dia hanya diam saja tak mengatakan apa pun, itu berarti dia masih merasa baik-baik saja, kan?"
Michelle terus bergumam dan bicara pada dirinya sendiri bahwa Oxel pasti masih baik-baik saja.
“Bagaimana bisa Netta menyukai pria sepertinya? Dia terlihat dingin dan sombong, mungkin juga ia sukar bergaul dengan yang lain, eh tapi dia terlihat sangat akrab dengan temannya yang tadi."
“Ah aku tak tahu, lah. Lebih baik aku lanjut bekerja dari pada memikirkan hal tak penting."
Michelle lanjut berkencan dengan tumpukan dokumen. Ya, dia di kantor dan mungkin seorang diri, sedangkan Jimmy sudah pulang dikarenakan ada acara keluarga.
“Sepi sekali, membuatku merinding saja," ujar Michelle yang merasa bulu kuduknya berdiri.
Iya mengecek dan membaca laporan demi laporan, deretan angka dan huruf sudah menjadi makanannya sehari-hari.
Tak terasa waktu menunjukkan pukul 10 malam, saatnya dia menyudahi kegiatannya di kantor. Walaupun pekerjaannya masih tinggal sedikit lagi, tapi setidaknya beban Michelle menjadi sedikit berkurang.
Dia bergegas menuju basemen untuk segera pulang.
Namun nasib malang menghampiri Michelle saat ini. Tiba-tiba saja mobilnya mogok saat dalam perjalanan pulang.
“Aish.. kenapa juga harus mogok sekarang? Ini sudah larut tidak mungkin ada bengkel yang buka. ARGHHH..." erang Michelle frustasi.
Di saat yang bersamaan, Oxel juga dalam perjalanan pulang ke rumah yang sudah terasa seperti penjara baginya.
Saat melihat dari jauh nampak seperti sebuah mobil yang berhenti di pinggir jalan.
“Apa mobil itu mogok?" gumam Oxel.
Oxel yang melihat seseorang menggerutu tak jelas pun, berinisiatif mendekati dan menawarkan bantuan.
“Permisi, sepertinya mobilmu mogok, boleh kulihat?" tanya Oxel.
“Bo—KAU?!" teriak Michelle tanpa sadar.
“Bisa kulihat sebentar mobilmu, Nona muda?" tanya Oxel sekali lagi.
“A-ah silahkan," jawab Michelle sambil tergagap.
Oxel pun kemudian maju dan membuka kap mobil Michelle kemudian memeriksa mesinnya.
Dengan cermat Oxel mengamati dan mengotak-atik.
“Hey, kau apakan mobilku?!" pekik Michelle.
“Bisa kau coba nyalakan mesinnya sekarang?" pinta Oxel.
Dan benar saja, mesin mobil itu bisa hidup kembali. Oxel pun menutup kap mobil milik Michelle dan berlalu begitu saja.
Michelle yang melihatnya buru-buru memanggil Oxel dan menghentikan langkahnya.
“TUNGGU!!!" teriak Michelle, langkah Oxel terhenti, Oxel pun berbalik badan dan memandang Michelle penuh tanya.
Michelle keluar dari mobil dan menghampiri Oxel seraya berkata, “Uhm, aku hanya ingin mengucapkan terima kasih dan maaf."
Oxel hanya tersenyum singkat, kemudian melanjutkan jalannya kembali.
“TUNGGU, AKU BELUM SELESAI BERBICARA!" teriak Michelle, tapi sayangnya Oxel terus saja berjalan.
“YAK, JIKA KAU TAK MAU BERHENTI JUGA, AKU AKAN BILANG JIKA KAU PUNYA NIAT JAHAT PADAKU!" pekik Michelle.
Oxel yang merasa jengah kemudian berbalik menghampiri Michelle, “Katakan apa maumu? Ini sudah malam, sebaiknya kau pulang, tidak baik seorang perempuan pulang sendirian apa lagi sudah larut malam."
Michelle mengepalkan tangannya, merasa kesal Oxel bersikap dingin padanya.
“Dasar pria es sombong," cibir Michelle.
“Dasar tidak peka," lanjutnya lagi.
“Sebenarnya apa maumu, kenapa wanita selalu berbelit-belit?" desah Oxel frustasi.
“Aku, kan mengucapkan maaf!" pekik Michelle kesal.
“Lalu?" tanya Oxel bingung.
“Apa kau tak ingin memaafkanku?" tanya Michelle.
“Aku sudah memaafkanmu. Sekarang pulanglah!" suruh Oxel pada Michelle.
“Perlu kuan—" ucapan Michelle terpotong oleh Oxel.
“Tak perlu aku bisa pulang sendiri, kau pulanglah! perempuan tidak baik pulang tengah malam. Atau apa kau berniat menjadi perempuan liar?" tanya Oxel penuh selidik.
“Apa maksudmu?!" tanya Michelle dengan nada meninggi.
“Kau tahu maksudku dengan jelas. Maka jika kau bukan seperti yang aku maksudkan, segeralah pulang! Selamat malam." Oxel berbalik badan dan pergi meninggalkan Michelle.
Michelle hanya diam terpaku namun sesaat kemudian dia menghentakkan kakinya merasa kesal.
“Dasar pria menyebalkan!" pekik Michelle.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Oxel sudah memasuki gubuk kecilnya, kedatangannya sudah disambut dengan si bungsu.
“Aku butuh uang, minta, ya?" pinta Christian dengan tidak sopannya.
“Untuk apa?" tanya Oxel.
“Kau tak perlu tahu, yang jelas aku butuh uang sekarang," jelas Christian.
“Kalau begitu, aku tak akan memberikannya," jawab Oxel.
“YA, KAU INI PELIT SEKALI. SUDAH KUKATAKAN AKU BUTUH UANG ITU!!" teriak Christian.
“Kau tak mengatakan alasannya dengan jelas, maka aku tak bisa memberikannya. Christian, apa kau tahu jika ekonomi kita sedang sulit. Setidaknya gunakan otakmu jika kau punya," ujar Oxel.
“Gunakanlah uang itu untuk hal penting, masih beruntung aku yang bekerja menghidupimu, ibumu dan saudaramu itu. Mengingat kalian yang tak dapat kerja, hanya bermalas-malasan dan menjadi beban keluarga" lanjutnya lagi.
“Kau berani mengatai kami beban keluarga?!" pekik Christian merasa tak percaya dengan apa yang dia dengar.
“Bukankah begitu? Kalian memang beban keluarga, yang hanya bisa foya-foya, tanpa memiliki keahlian yang bermanfaat bagi banyak orang? Jika kau memiliki skill, sudah pasti kalian tak akan jadi pengangguran yang berkepanjangan" jelas Oxel.
Christian tak bisa membalas ucapan Oxel yang terlalu menohok baginya. Ia merasa direndahkan.
“Aku lelah ingin istirahat, jika kau ingin keluar, keluarlah, jangan lupa kunci pintunya!" perintah Oxel kemudian ia berjalan menuju kamar tanpa mempedulikan Christian.
Sesampainya di kamar, Oxel duduk di tepi ranjangnya yang sempit dan kecil.
“Apakah aku boleh bersikap egois, walau hanya sekali?" gumam Oxel sembari memejamkan kedua matanya.
“Ibu, Oxel mohon lindungilah Oxel dari jauh," batin Oxel berharap.
Kemudian dia mulai naik ke atas ranjang dan berbaring dengan nyaman, sesekali membenarkan posisi selimutnya yang tipis.
Author POV end
Visualisasi pesanan yang dibuat Oxel