He Is My Cinderella

He Is My Cinderella
Empat puluh satu



Oxel masih berkutat di dapur. Dia tak habis pikir dengan Zanetta yang tak juga menyerah, meski sudah ia tolak berkali-kali.


“Jujur aku kagum dengan kegigihannya, tapi yang namanya cinta tidak bisa dipaksa bukan?" gumam Oxel.


Rekan Oxel hanya memandang bingung Oxel, sepertinya Oxel tengah melamun untuk yang kesekian kali.


“Mengapa kau melamun lagi, apa masih sakit?" tanya rekannya.


“Masih, hanya saja aku sudah tak memikirkan rasa sakit itu lagi," ujar Oxel.


“Lalu, apa yang kau pikirkan?”


“Hanya masalah kecil, santai saja, jangan khawatirkan aku.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jimmy yang melihat Zanetta yang seperti boneka tanpa nyawa sudah menduga lagi-lagi ini karena Oxel.


“Ditolak lagi?”


“Apa kurangnya aku, bukankah aku ini cantik dan menarik?” tanya Zanetta.


“Setiap wanita memang terlahir cantik, Netta. Apa yang kau risaukan?” jawab Jimmy.


“Aku sudah berusaha tak hanya satu kali untuk mendapatkan hati Oxel, tapi kenapa Oxel tak pernah melihat usahaku?” tanya Zanetta mulai putus asa.


“Kadang laki-laki itu menolak perempuan, bukan karena ia tak suka, hanya saja mungkin dia merasa tidak pantas.”


Zanetta hanya mengaduk terus spaghetti dengan tidak minat. Jimmy yang melihat spaghetti itu merasa mual dan ingin muntah saja.


“Spaghettimu membuatku mual,” ujar Jimmy.


“Kalau begitu jangan dilihat jika kau mual,” jawab Zanetta.


“Netta, aku mengerti perasaan Oxel. Jika dia menjadi seorang suami, mungkin dia suami yang baik, tapi dia belum mapan, oleh sebab itu dia selalu menolak wanita yang suka padanya. Karena dia tak ingin wanita yang dia nikahi hidup susah.” jelas Jimmy panjang lebar.


Sedikit kesal dengan Zanetta yang mempunyai sifat bebal.


“Akan tetapi aku sangat mencintainya, apa dia tak mengerti juga?!” kesal Zanetta.


“Oxel itu hidupnya keras, apa kau kuat hidup keras dan sederhana sama seperti Oxel. Tidak ada lagi shopping barang-barang branded, makan di tempat mewah dan sebagainya?!” tantang Jimmy.


“Oxel tak ingin gadis atau pun wanita manja yang suka menghambur-hamburkan uang, dia suka gadis yang mandiri.”


Setelah mengatakan itu Jimmy pergi dengan perasaan kesal, membuat Zanetta jadi bertanya-tanya, “Dia marah?”


Tak tahu saja jika Michelle mendengar semua percakapan mereka, ya kenyataan tersebut secara tak langsung menohok ulu hatinya.


“Mungkinkah Oxel selalu menjaga jarak denganku karena perbedaan status kami?” batin Michelle.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Tak terasa siang telah berganti menjadi sore langit jingga mulai menyapa Oxel.


Hari ini Oxel pulang sedikit lebih awal karena kondisi kesehatannya dan punggungnya yang memar.


Ia berjalan pulang untuk mampir sejenak ke kedai membeli makan, saat ia hendak pulang ia melihat sosok yang tak asing di kedai tersebut.


Ya Michelle sedang duduk di salah satu meja. Oxel berinisiatif mendekatinya.


Terlihat wajah Michelle yang bersemu merah sambil memegang sebuah botol minuman beralkohol?


“Apa dia mabuk?” batin Oxel.


“Eung, Oxel, kenapa kau selalu ketus dan tak acuh padaku? Hik.. hik.. aku, kan hanya berniat menolong. Hik, apa yang aku lakukan padamu adalah, hik, sebuah kesalahan?—”


“Astaga, dia ini bicara apa kenapa menyebut namaku?” batin Oxel.


“—apa kau, kau.” Kepala Michelle terkulai lemas di atas meja.


“Michelle, Michelle. Bangunlah jangan pingsan di sini. Ya ampun bagaimana ini?” bingung Oxel.


“Apa kau mengenalnya anak muda?” tanya pemilik kedai.


“Ya, Paman,” jawab Oxel.


“Bisakah kau membawa dia pulang? Tidak baik jika anak perempuan mabuk sendirian.”


“Eh?”


Oxel pun menghela nafas lelah. Dia tak tahu kontak teman-teman Michelle.


“Di mana ya ponselnya?” gumam Oxel sambil mencari-cari ponsel Michelle. Kebetulan sekali saat ia sedang mencari, ponsel Michelle berbunyi dan Oxel segera merogoh tas Michelle dan meraih ponsel wanita tersebut.


“Halo.”


“Halo, dengan siapa saya bicara, di mana Michelle?”


“Ah, maaf Paman. Saya adalah kenalan Michelle, saat ini Michelle sedang pingsan karena mabuk. Saya bingung bagaimana ingin membawanya ke rumah Michelle. Tadinya saya berniat menghubungi teman pria yang selalu bersamanya.” jelas Oxel.


“Siapa namamu?”


“Oxello Deovanno.”


“Oxel, yang bekerja di salah satu restoran itu sebagai juru masak bukan?”


“Benar. Anda mengenal saya?”


“Apa kau lupa padaku. Aku yang memberimu kartu nama.”


Oxel mencoba mengingat. Ah ternyata Paman yang pernah menawarinya jadi juru masak, di rumahnya.


“Em, Paman lalu bagaimana anak Paman?” tanya Oxel kembali ke topik utama.


“Kau bisa membawa mobil?” tanya Daddy Michelle.


“Bisa, hanya saja saya tak membawa kendaraan untuk kembali ke rumah saya, setelah dari rumah Michelle nanti.”


“Kau bisa menginap di sana besok pagi minta di antar sopir pulang ke rumah.”


“Ha? Lalu bagaimana saya akan bekerja besok?”


“Kau bisa pulang esok paginya dan kau bisa bekerja,” jawab Daddy Michelle.


Oxel menghela nafas, “Baiklah, saya akan mengantar Michelle pulang.”


Oxel pun menggendong Michelle, dan memasukkan ke mobil.


“Bagaimana perempuan sepertimu bisa mabuk seperti ini?” gumam Oxel sambil menatap Michelle dengan mata terpejam.


Ia segera melajukan mobil tersebut menuju rumah Michelle.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu di rumah Oxel sang adik sudah menggerutu karena kelaparan.


“Apa tidak ada makanan yang bisa di santap, ke mana sih, Oxel?” gerutu Michael.


“Kau lihat kalau dia tak ada di rumah berarti dia belum pulang, matamu masih sehat, kan Kak, lagi pula bukannya Oxel selalu pulang malam?” jawab Christian.


“Akan tetapi aku kelaparan. Ibu juga tega kenapa belum pulang juga?” gerutunya lagi.


“Sudahlah. Jangan terlalu banyak menggerutu. Kaupikir aku juga tidak lapar?!” kesal Christian.


“Berani sekali kau membentakku?!” kesal Michael.


“Untuk apa aku takut padamu, kau pun tak membiayai, biaya hidupku!” balas Christian.


“Adik kurang ajar, kau!” pekik Michael.


Sementara itu, Oxel sudah sampai di rumah Michelle. Ia disambut oleh kepala pelayan dan para bodyguard di sana. Mereka sudah mendapat info dari Tuan Brian, bahwa Oxel akan datang dan mengantar Michelle yang tengah mabuk.


“Silahkan Tuan, mari saya antar ke kamar Nona Michelle.” ujar kepala pelayan.


Oxel menurut saja. Dia melangkah masuk ke kamar Michelle setelah dibukakan oleh kepala pelayan tersebut.


“Saya tinggal dulu, saya hendak menyiapkan makan malam,” pamit kepala pelayan.


“Ah, iya Bibi dan tolong jangan panggil aku, Tuan. Aku merasa tidak nyaman.”


“Baiklah.”


Kepala pelayan meninggalkan mereka berdua. Suasana sepi, setelah Oxel merebahkan Michelle dan menyelimutinya tiba-tiba...


Cup


Mata Oxel membola dengan apa yang dilakukan oleh Michelle.


“Oxel aku mencintaimu, jadilah kekasihku," racau Michelle.


Setelah mengatakan itu, Michelle membungkam bibir Oxel dan mencumbu dengan panas, hal itu membuat Oxel shock dan berusaha melepaskan tautan bibir mereka.


“Astaga, wanita ini kenapa?" gumam Oxel. Ia merasa horor kemudian pergi dari kamar Michelle.