He Is My Cinderella

He Is My Cinderella
Tiga puluh enam



Happy Reading!


Author POV


Saat istirahat Zanetta pun hanya melamun dan terlihat tidak bersemangat, dikarenakan mendapat surat peringatan karena ia sering terlambat ke kantor akhir-akhir ini. Ya, pada akhirnya Jimmy menyerahkan surat peringatan pada Zanetta.


“Ternyata dia bisa sekejam ibu tiri, atau bahkan lebih kejam. Oh Tuhan bagaimana bisa dia berlaku seperti itu padaku? Sungguh? Dia ini tidak memiliki hati?" gerutu Zanetta.


Hari ini Zanetta pergi makan di kantin karena Oxel tidak berangkat bekerja, dan dia hanya sendirian karena Jimmy masih sibuk mengerjakan tugas khusus dari Michelle.


“Ah, malangnya diriku hanya sendirian di sini seperti gadis lajang mengenaskan," keluh Zanetta.


(“Hey bukankah kau memang lajang saat ini? Dasar tidak berkaca! tapi ya sudahlah terserahmu saja.")


Dia hanya sibuk mengaduk milkshake cokelat dengan tidak minat. Pikirannya sedang tertuju pada permasalahan yang sedang menimpanya saat ini dan tentu saja Oxelnya tercinta, loh?


Karena Oxel tidak masuk kerja hari ini dia menjadi galau, penyebabnya adalah dia tak bisa menyantap masakan dari kesayangannya. Ya begitulah Zanetta.


Kita tinggalkan Zanetta yang sibuk melamun meratapi nasibnya saat ini.


Sementara itu di ruangan Michelle, Jimmy sedang menjelaskan data yang ia peroleh dari pekerjaan tambahan. Jimmy menerangkan secara detail, sementara Michelle masih setia mendengarkan.


“TUNGGU!" seru Michelle menginterupsi penjelasan Jimmy.


“Apa lagi?" tanya Jimmy dengan menghembuskan nafas jengah.


“Jadi Oxel itu anak tiri dari ibunya saat ini?" tanya Michelle agak terkejut.


“Ya seperti yang sudah kujelaskan sebelumnya, bahwa kedua orang tua Oxel meninggal, ibunya meninggal karena sakit dan ayahnya meninggal karena kecelakaan," jelas Jimmy.


“Kasihan sekali," ucap Michelle mengiba.


“Dugaanku benar ternyata, dia hanya anak tiri. Jika ia anak kandung tidak mungkin diperlakukan seperti itu, Oxel disuruh mengantar koran dan susu, menjadi florist di salah satu toko bunga, dan menjadi penyanyi cafe sebelum ia menjadi seorang juru masak," komentar Jimmy.


“Tega sekali mereka, menjual rumah Oxel dan menjadikan Oxel pembantu? Lalu anak-anaknya yang lain?" tanya Michelle.


“Mereka adalah pengangguran, satu sedang menempuh pendidikan, yang satunya lagi pengangguran bergelar sarjana," lanjut Jimmy menjelaskan.


“Cih, sekalian saja tidak perlu sekolah ke perguruan tinggi jika hanya menjadi pengangguran seperti itu, parasit sekali," cibir Michelle.


“Hmm... Aku setuju denganmu, tapi mengapa Oxel tak pergi dari sana saja?" ucap Jimmy penuh tanya.


“Aku juga tidak tahu, jika aku jadi dia, aku pasti sudah menelantarkan mereka dari dulu, untuk apa merawat dan memberi makan seseorang yang tak tahu terima kasih?" jawab Michelle.


“Kau benar, dia hanya terlalu sabar. Nah, karena kau sudah mengetahui kisah hidupnya yang tragis itu, aku berharap padamu agar kau tak mempersulit hidupnya lagi, atau setidaknya jangan mencari masalah dengannya," nasehat Jimmy.


Mendengar penuturan Jimmy, Michelle melotot tak terima.


“Bagaimana bisa kau bicara seperti itu, padaku? Aku tak pernah mempersulit hidupnya, kau tahu?" jawab Michelle sambil menunjuk-nunjuk Jimmy. Terkesan tidak sopan memang, tapi Michelle tak peduli.


“Akan tetapi kau selalu mencari ribut dengannya, menjelek-jelekkan dirinya, iya bukan?" balas Jimmy membuat Michelle mati kutu.


“I-itu karena dia menyebalkan dan karena aku belum terlalu mengenalnya saja," ucap Michelle beralasan.


“Alasan. Memang saat ini kau sudah mengenalnya?" cibir Jimmy.


“Paling tidak aku sudah mengetahui tentangnya, itu sudah cukup bagiku," jawab Michelle sombong.


Jimmy hanya mendecih kesal serta melirik Michelle dengan pandangan tak suka, “Jangan lupa naikan gajiku."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara Oxel tengah berada di toko bunga bibi. Ia ingin bicara pada bibi jika ia sedang merindukan ibunya.


Seperti saat ini Oxel sedang tertidur dengan nyaman di sofa berbantalkan pangkuan sang bibi. Benar-benar terlihat seperti anak yang sedang bermanja pada ibunya.


“Kau merasa lelah, Nak?" tanya bibi.


“Hmm... Sangat, hanya di sini aku bisa istirahat, bahkan Vick juga terlihat sangat nyaman," jawab Oxel.


Sang bibi hanya tersenyum sembari mengelus kepala Oxel dengan sayang. Oxel sudah seperti putra kecilnya yang manis.


“Wajahmu tak seceria biasanya, nampak kuyu," komentar bibi.


Oxel hanya diam menikmati usapan lembut pada kepalanya.


“Aku kemarin minum dengan kawan-kawan sepulang bekerja," jawab Oxel setelah diam beberapa saat.


“Kau minum di saat sedang ada masalah supaya merasa lebih baik, berapa sloki yang kau habiskan?" tanya bibi.


“Entah, aku tidak menghitungnya, yang aku tahu aku merasa lebih baik setelah minum beberapa sloki," jawab Oxel.


“Lain kali hentikan kebiasaan burukmu. Mabuk tidak akan menyelesaikan masalah, hanya bisa melupakannya sejenak, setelah sadar ingat lagi," nasehat bibi.


“Hmm..." Oxel hanya bergumam tidak jelas, membuat bibi menghela nafas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu Michael dan Christian baru saja bangun tidur kala jam dinding sudah menunjukkan pukul 10 pagi.


Mereka pergi menuju dapur dan membuka tudung saji, untuk melihat makanan apa yang mereka santap hari ini.


Di meja hanya terhidang sup brokoli dan telur goreng saja sebagai menu pagi ini.


“Aish yang benar saja, bagaimana mungkin kita makan seperti ini setiap harinya, seperti di penjara saja menunya," keluh Michael.


“Ke mana perginya ibu, apa ibu lupa memberikan uang untukku? Padahal aku ada jadwal hari ini," keluh Christian.


“Di mana Oxel? Aku juga tidak melihatnya," tanya Michael.


“Anak itu pasti sudah pergi sedari pagi, padahal jika belum aku juga akan minta uang padanya," jawab Christian.


“Aku tidak percaya ibu menelantarkan kita, Oxel juga menelantarkan kita," kata Michael.


“Kau tahu? Beberapa waktu yang lalu aku mengunjungi restoran dengan teman-teman, ternyata Oxel bekerja di sana sebagai juru masak," jelas Christian.


“Oxel menjadi juru masak?" tanya Michael. Christian mengangguk.


“Di restoran mana?" tanya Michael lagi.


“Restoran xxxx yang dulunya hanya sebuah cafe kecil kau tahu, kan?" tanya Christian, Michael mencoba mengingat dan tak lama menganggukkan kepalanya.


“Wah! Jadi ia bekerja di sana? Pasti dia memiliki banyak uang, restoran itu sedang naik daun dan banyak pengunjungnya. Ayo nanti kita peras dia," Michael memberikan ide.


Ya, begitulah kisah kakak-beradik tak tahu diri itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Lain halnya dengan Sean yang saat ini tengah melamun, entah apa yang ia pikirkan, kerjanya pun menjadi tidak fokus seperti biasa.


Sejak kedatangan Oxel, dia menjadi lebih sering melamun, padahal Dara sedang berkeluh-kesah padanya.


“Sean!" seru Dara kesal.


“Apa?" tanya Sean.


“Kau mendengarku tidak sih?" tanya Dara dengan nada kesal.


“Aku mendengarmu kok," jawab Sean seadanya.


“Kau bohong! Raut wajahmu mengatakan kau sedang melamun saat ini. Yaampun kau jahat sekali, sahabatnya bercerita panjang lebar kau malah tidak mendengarkan," keluh Dara.


“Memang ada apa?" tanya Sean bingung.


“Tuh, kan. Kau tak mendengar curahanku," selidik Dara.


“Aku dengar kok. Hanya saja aku lupa, ceritamu, kan panjang sekali," jawab Sean berkilah.


Dara hanya menghela nafas, “Tadi Oxel mengabaikanku, tidak biasanya."


“Mungkin dia sedang banyak pikiran, tahu bukan orang yang sedang banyak pikiran, emosinya sedang tidak baik? Dan Oxel tak ingin lepas kendali padamu," jawab Sean.


“Tetap saja, aku tidak terbiasa diabaikan olehnya, sebelumnya dia tidak seperti itu, dia selalu ramah dan murah senyum," jelas Dara.


“Ada saatnya orang ingin diam dan menyendiri, di saat dia ada masalah, Dara. Mungkin Oxel sedang berada di titik itu," jelas Sean memberi pengertian.


Dara terdiam mungkin yang dikatakan Sean ada benarnya, bahwa seseorang butuh waktu untuk menyendiri termasuk Oxel.


“Aku hanya mengkhawatirkannya dan merindukannya saat dia masih berkumpul bersama kita," jawab Dara.


Sean hanya tersenyum kecut. Ya, Dara selalu seperti ini. Selalu Oxel yang nampak jelas di matanya dan Sean hanya bisa bersabar.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bibi hanya memandang Oxel yang tertidur di pangkuannya. Hanya sekedar memandang saja hatinya ikut merasa perih karena melihat hidup anak kesayangannya ini menderita, meskipun bukanlah darah dagingnya, tetapi nalurinya sebagai seorang ibu bergerak ingin terus melindungi anak manis itu.


“Mengapa kau begitu baik para mereka meski mereka telah menyakitimu?" bisik bibi pelan.


“Mengapa pula kau tak pernah meninggalkan mereka, Nak? Kau itu pantas untuk bahagia," lanjutnya lagi.


Ia berdoa dan terus berdoa semoga anak kesayangannya ini segera menemukan kebahagiaannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat ini Maria, sedang berjalan-jalan di salah satu pusat perbelanjaan bersama teman-temannya. Biasa kaum sosialita.


“Akhirnya kita selesai juga, ya? Barang-barangnya juga bagus, tidak sia-sia kita sampai berebut dengan pengunjung lain," ucap salah satu teman Maria.


“Kau benar, karena tas tersebut termasuk limited edition. Aku tidak ingin ketinggalan membeli barang bagus tersebut," timpal teman yang lainnya.


“Oh, iya Maria, dari tadi kuperhatikan, kau tak membeli barang apa pun, tumben sekali," tanya teman seperkumpulan mereka.


“Aku hanya sedang tidak ingin," jawab Maria beralasan.


Bagaimana ia bisa membeli sebuah tas keluaran terbaru jika harganya saja seakan mencekik lehernya saat ini?


“Sungguh? Kau banyak berubah Maria, setahuku kau adalah wanita berkelas dengan barang-barang ber-merk dan berharga fantastis, tapi akhir-akhir ini? Kau sedang tidak bangkrut, kan?" selidik temannya.


Maria mengepalkan tangannya, ketika dibilang bahwa ia bangkrut.


“Aku tidak bangkrut, hanya sedang tidak ingin," tekan Maria.


“Akan tetapi benar yang dikatakannya, biasanya kau sangat bersemangat dan antusias ketika diajak berbelanja, penampilanmu yang selalu glamor dan terlihat mahal serta berkelas pun tak terlihat lagi saat ini," komentar temannya yang lain.


Mendengar komentar teman-temannya yang seakan sedang menyudutkannya membuat wajah Maria merah padam.


“Kau marah?"


“Apa kau merasa tersinggung?"


“Wajahmu memerah."


Dan masih banyak lagi komentar lainnya yang membuat telinganya panas.


“Aku pergi." putus Maria dan segera berlalu meninggalkan teman-temannya.


Membuat mereka memandang satu sama lain.


“Aku yakin, Maria sudah bangkrut sejak ditinggal suaminya belasan tahun lalu, terlihat sekali penampilannya yang amat biasa itu, cih," komentar salah satu temannya.


“Kau benar, penampilannya seperti keluarga miskin sekarang, jika itu memang benar terjadi, huh rasakan itu, dia sudah tak bisa menyombong. Aku tidak menyukainya," timpal salah satu temannya.


“Semasa suaminya masih hidup, dia selalu merendahkan kita dan seakan dia yang paling sempurna saja, aku tahu suaminya itu kaya, tapi sekarang entah? Kau tahu, kan bahwa dia tak bekerja?"


“Dia itu hanya bisa memamerkan kekayaan suaminya, yang kudengar seorang duda anak satu, sedangkan dia janda dua anak."


“Sudahlah, jangan menggosipkan Maria, lagi pula dia sudah tak penting untuk kita, kita hanya selalu berpura-pura saja menjadi temannya, bukan?"


“Ah, betul sekali. Aku juga sudah tak mau berkawan dengannya. Mari kita tinggalkan saja dia."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu di rumah, Maria sudah uring-uringan tidak jelas layaknya orang gila.


“ARGHHH.... BRENGSEK BERANI-BERANINYA MEREKA MENGATAIKU BANGKRUT DAN MERENDAHKANKU, MEREKA PIKIR SIAPA MEREKA?" teriak Maria sambil menjambak rambutnya sendiri karena frustasi.


“Hah, aku tidak percaya, bahwa aku hidup miskin sekarang, ini semua karena anak pembawa sial itu. Dia seperti sebuah kutukan dalam hidupku," ujar Maria seorang diri.


Maria memejamkan matanya, salah apa dirinya, sehingga tak bisa hidup bahagia?


Ada yang tahu di mana salahnya?


Jika ada coba katakan!


Author POV end