He Is My Cinderella

He Is My Cinderella
Dua puluh tiga



Happy Reading!


Author POV


Zanetta memandang kepergian Oxel dengan mata yang berkaca-kaca. Oxel sungguh menolaknya, bahkan tanpa tedeng aling-aling.


Zanetta sendiri seperti antara sadar dan tidak sadar, saat Oxel memberikan jawaban atas pengakuan perasaannya.


”YA DASAR LAKI-LAKI TAK BERPERASAAN! BERANI-BERANINYA KAU MELUKAI HATI WANITA!!!" teriak Zanetta.


Hal itu membuat atensi para pengunjung mulai beralih pada Zanetta. Beberapa pelayan berdecak kesal karenanya.


“Hei, perempuan gila! Jangan membuat onar di sini hingga mengganggu kenyamanan pengunjung lain. Jika ingin berbuat onar, silahkan cari tempat lain, bukan di sini!" tegur salah satu pelayan.


Zanetta yang merasa malu, lantas pergi meninggalkan restoran itu dengan air mata yang berderai.


”Apa salahnya jika Oxel kita menolaknya? Seharusnya dia bersyukur karena diberikan jawaban pasti, dari pada dipermainkan. Dasar wanita aneh," cibir pelayan itu pelan.


Sedangkan Oxel yang mendengar jeritan tak terima Zanetta hanya menghembuskan nafas perlahan.


“Apa yang kulakukan itu salah?" gumam Oxel pelan.


“Kau tidak salah, kawan. Setidaknya kau telah memberikan jawaban pasti dari pada bermain tarik-ulur dan mempermainkan perasaan," jelas temannya.


“Tapi, aku membuat dia sakit hati," gusar Oxel.


“Sakit hati hanya sementara, lambat laun wanita itu akan memahami semuanya," ujar rekannya.


Oxel hanya terdiam, berusaha mencerna ucapan temannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, Zanetta sudah sampai di kantornya wajahnya merah padam dan terlihat sembab, karena menangis sepanjang perjalanan menuju kantor.


Michelle dan Jimmy yang melihat Zanetta seperti berjalan terburu-buru, langsung bergegas menghampiri sahabat mereka.


“Netta, ada apa denganmu?" tanya Michelle.


“Hu-hu-hu... Dia jahat, dia tega sekali, dia tidak memikirkan perasaanku," ujar Zanetta dengan air mata berderai.


Michelle dan Jimmy pun saling pandang.


“ Siapa yang kau maksud?" tanya Jimmy.


“Oxel, hiks... Dia bahkan terang-terangan menolakku tanpa memikirkan perasaanku. Dia tega sekali, dia jahat, aku membencinya. Hu-hu-hu..." adu Zanetta dengan tangis kerasnya.


Michelle dan Jimmy hanya menghela nafas. Lagi-lagi Oxel yang menjadi topik permasalahan kali ini.


”Kau mengutarakan perasaanmu padanya?" tanya Jimmy. Zanetta pun mengangguk.


“Lalu dia bilang apa?" tanya Michelle.


”Dia bilang dia tidak menyukaiku, kemudian dia menyuruhku pulang. Tapi dia meninggalkan nomor ponselnya padaku, jika aku ingin berteman dengannya," jelas Zanetta.


“Sudah aku bilang, kau jangan terlalu berharap padanya, dia itu tak pernah bisa melihat perasaan cintamu yang besar dan tulus, aku bahkan berani bertaruh jika dia tak memiliki perasaan dan belum pernah menjalin kasih," ujar Michelle.


“Mungkin kau benar, dia belum pernah menjalin kasih sebelumnya, akan tetapi jika dia tak memiliki hati, aku kurang setuju. Justru memang benar jika Oxel seperti itu," ujar Jimmy.


”Kenapa kau justru membela sikapnya?!" tanya Michelle sengit.


“Wanita itu butuh yang namanya kepastian. Dan apa yang dilakukan Oxel sudahlah benar. Dia memberikan jawaban pasti pada Netta bahwa dia tak memiliki perasaan yang sama dengan Netta, maka dia melakukan itu agar Netta tak terlalu berharap," jelas Jimmy.


“Setidaknya Netta kita tak menjadi korban tarik-ulur perasaan dan harapan palsu seorang pria," lanjut Jimmy lagi.


“Tapi tak seharusnya dia bersikap kasar seperti itu pada Netta. Kasihan dia," ujar Michelle.


“Dia bukan bersikap kasar, hanya bersikap tegas. Terkadang kalian para wanita salah mengartikan sikap lembut kami para pria," jelas Jimmy lagi.


Kali ini Michelle terdiam lagi-lagi tidak bisa mendebat Jimmy.


“Seharusnya kau bersyukur Oxel akhirnya memberikan nomor ponselnya padamu, setidaknya kalian bisa dekat sebagai teman, Netta," ujar Jimmy.


Jimmy meninggalkan mereka berdua dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.


“Sudahlah jangan menangis, setidaknya kau bisa hubungi Oxel saat kau ingin bicara padanya nanti," ujar Michelle menenangkan Zanetta.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Michael pulang ke rumah setelah bersenang-senang dengan kawan-kawannya serta para wanita.


Begitu memasuki rumahnya Christian menyambutnya dengan senyum meledek.


“Wanita mana lagi kali ini yang bisa jatuh dalam pesonamu?" tanya Christian.


“Hari ini ada, dia lumayan menarik dan pastinya membuatku puas!" ujar Michael penuh dengan kepuasan di raut wajahnya.


“Ibu mencarimu," kata Christian.


“Ibu sudah pulang?" tanya Michael, Christian mengangguk.


“Aku pikir ibu masih lama, tumben sekali ibu pulang cepat?" tanya Michael.


“Ibu sedang kesal dengan kawan-kawannya karena membuat ibu merasa tersudutkan.


“Kenapa?" tanya Michael penasaran.


“Jaman sekarang orang suka sekali bersaing, Dasar tukang pamer," cibir Michael.


“Sebaiknya jangan bertemu dengan ibu terlebih dahulu atau kau akan mendapat ceramah panjang mengenai mencari pekerjaan," peringat Christian.


“Aku tahu itu," jawab Michael kemudian.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Oxel sedang sibuk dengan dapur bersama para rekan, masalah tadi ia lupakan sejenak, walau ia kini merasa jahat karena berlaku sedikit kasar pada Zanetta.


“Sepertinya aku nanti harus ke toko bunga," batin Oxel.


“Jangan terlalu dipikirkan soal masalah yang tadi, itu bisa mempengaruhimu dalam bekerja," ujar rekannya.


Oxel hanya mengangguk dan kembali fokus dalam bekerja, membuat dessert serta makanan yang lain untuk dihidangkan.


“Besok restoran ini libur, akhirnya kita bisa beristirahat sejenak," temannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Zanetta terlihat lesu, hatinya masih merasa galau karena penolakan Oxel. Kepalanya hanya tertunduk dan menempel pada meja.


“Kau tahu? Kau seperti bukan dirimu, Zanetta. Biasanya kau selalu mudah menemukan hati yang lain, jika kehilangan satu orang. Namun kali ini? Cih," sindir Michelle seraya berdecih.


“Hatiku belum pernah sepatah ini sebelumnya, kau tahu? Ternyata ditolak itu rasanya menyakitkan ya?" ujar Zanetta.


Michelle hanya menghela nafas panjang. Memang menghadapi teman yang sedang galau karena urusan asmara itu tidaklah mudah.


“Keluarkan semua keluh kesahmu agar kau puas, perasaan tak nyaman harus dikeluarkan, agar membuat perasaan lebih baik, bukan?" ujar Michelle.


“Kenapa hatiku harus terjebak dengan pria yang dingin sepertinya? Oh, Tuhan aku tak tahan ini sakit sekali, hiks... HUWAAAA...." tangis Zanetta keras.


Michelle hanya meringis, sejujurnya dia sedikit merasa malu dengan kelakuan Zanetta yang terkadang di luar akal sehatnya itu.


“Sudahlah. Kau tak malu menjadi pusat perhatian para pengunjung kantin?" tanya Michelle.


“Kau tidak akan pernah mengerti bagaimana rasanya ditolak dan dicampakkan begitu saja, Michelle," ujar Zanetta.


“Astaga aku salah lagi," batin Michelle.


Jimmy melihat kedua sahabatnya dari kejauhan, sedikit merasa kasihan melihat sahabatnya seperti terkena badai topan, karena penampilannya yang acak-acakan.


“Hai," sapanya.


Michelle hanya berdehem, sedangkan Zanetta tak menjawab. Ia sedang tak bersemangat.uh Bagai raga yang kehilangan nyawa.


Jimmy miris melihatnya.


“Kau bertingkah seolah ini adalah akhir dari segalanya, Zanetta," komentar Jimmy.


“Memang ini adalah akhir. Akhir dari kisah cintaku," jawab Zanetta dramatis.


“Astaga, Ya Tuhan. Lupakanlah Oxel. Jangan menyiksa atau mempersulit dirimu," ujar Jimmy tak habis pikir.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Oxel sedang memasak dibantu oleh rekan-rekannya yang lain. Kali ini mereka memasak menu baru, walaupun mereka masih asing dengan menu tersebut, namun mereka berusaha membuat sesuai dengan instruksi Oxel.


“Menu ini masih terasa asing untuk kami, sebenarnya ini hidangan dari negara mana?" tanya salah satu rekan Oxel.


“Ini hidangan asal Jerman namanya Gulaschsuppe. Gulaschsuppe adalah sup daging yang memiliki kuah kental berwarna merah. Dipadukan dengan kentang, tomat dan bahan rempah khas Jerman," jelas Oxel.


“Lalu ini apa namanya?" tanya rekan Oxel yang lainnya lagi.


“Ini adalah kartoffelsalat, termasuk makanan pendamping berbahan kentang rebus yang dikombinasikan bawang bombai segar, Mayonaise, cuka, tomat, telur, daging sapi, ditambah dengan saus yang terbuat dari susu," jelas Oxel.


Teman-temannya hanya melongo mendengar penjelasan Oxel. Ternyata pengetahuan Oxel mengenai kuliner cukup luas.


“Jika aku menjadi pelanggan, aku mungkin tak sanggup memakannya sampai habis. Daging dan susu, dengan sedikit bawang bombai, yang benar saja?" ujar temannya.


“Mungkin bagi kalian masih terasa asing namun bagi masyarakat yang sudah terbiasa makan, makanan seperti ini ya, mereka tidak merasa asing," jawab Oxel.


“Ini cobalah!" kata Oxel sambil menyuapkan sesendok kartoffelsalat pada rekannya.


Sang rekan mencicipi berusaha mencari-cari rasa dari masakan yang dibuat Oxel.


“Bagaimana?" tanya Oxel.


“I-i-ini enak sekali!" ujar rekannya.


“Jangan mengomentari makanan jika kau belum pernah mencobanya!" nasehat Oxel pada rekannya.


“Aku tidak tahu jika rasanya seenak itu, apa karena Oxel yang memasak maka rasanya jadi enak?" ujar temannya bertanya-tanya.


“Tangan Oxel sangat terampil seperti seorang chef profesional, tidak heran jika hidangan yang dibuat Oxel enak rasanya," ujar rekannya yang lain.


Author POV end


Visualisasi pesanan