He Is My Cinderella

He Is My Cinderella
Dua puluh enam



Happy Reading!


Author POV


Saat ini jam menunjukkan pukul 12 siang. Michelle berniat menyambangi restoran tempat Oxel bekerja, dia akan meminta maaf pada Oxel tentang kejadian tadi pagi.


Michelle meminjam mobil Jimmy untuk pergi ke restoran. Dia sedang tak ingin ditemani oleh siapapun.


Sesampainya di sana Michelle langsung masuk dan memesan menu, dia juga berpesan pada pelayan agar bisa bertemu dan berbincang dengan Oxel.


Setelah menunggu beberapa waktu akhirnya Oxel keluar dari dapur dengan pelayan yang mengantar hidangan tersebut.


“Silahkan dinikmati." ujar pelayan itu, setelah selesai menghidangkan dia pamit undur diri dari sana.


Kini hanya tinggal Oxel dan Michelle yang duduk bersebrangan.


“Ada perlu apa kau datang menemuiku?" tanya Oxel tanpa basa-basi.


“Tidak bisakah kau menggunakan basa-basi?" Michelle balik bertanya.


“Aku tidak ada waktu hanya untuk sekedar basa-basi, karena aku bukanlah pengangguran," jawab Oxel cuek.


“Dia terang-terangan sekali menyerangku dengan kata-kata pedasnya, berniat balas dendam, kah?" batin Michelle bertanya.


“Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih dan maaf untuk kejadian tadi pagi," jawab Michelle jujur.


Oxel hanya melihat dengan tatapan datarnya dia merasa jenuh dengan seseorang yang hanya meminta maaf di mulut saja.


“Apa kau tulus saat mengucapkan maaf?" tanya Oxel. Michelle mengangguk.


“Apa kau bersungguh-sungguh saat meminta maaf?" tanya Oxel lagi.


“Kau meragukan permintaan maafku?!" tanya Michelle tak percaya.


“Wajar jika aku tak mempercayai ucapanmu, waktu itu kau mengolokku dan minta maaf serta berjanji tidak akan mengulanginya lagi, tapi kenyataannya?" jawab Oxel tenang.


“Kali ini aku bersungguh-sungguh. Aku tahu jika aku sudah keterlaluan dan membuatmu sakit hati," ujar Michelle.


“Memang," jawab Oxel enteng, membuat darah Michelle terasa mendidih.


“Aku ingin langsung bicara pada intinya saja, kau mau memaafkanku atau tidak?" tanya Michelle.


“Menurutmu apa yang harus kulakukan dan apa jawabanku?" tanya Oxel balik.


“Aku tahu kau pemuda yang baik hati, jadi sudah pasti jawabannya kau akan memaafkanku. Iya, kan?" tanya Michelle.


“Begitu? Ha-ha-ha.. ha-ha-ha.. Kau ini plin-plan sekali, padahal kau dulu pernah bilang aku orang yang tak berperasaan, sombong, dan sejenisnya," ujar Oxel.


“Ya, itu karena kau menyakiti perasaan sahabatku. Tentu saja aku tidak terima jika sahabatku disakiti, kau tahu dia bahkan sampai terluka dan menangis," ujar Michelle tak terima.


“Aku tak pernah berbuat apa pun pada sahabatmu, tidak juga dengan menjanjikan apa pun padanya. Jika dia kutolak, seharusnya dia tak perlu merasa seterluka itu, bukan?" tanya Oxel bingung.


“Dia menyimpan perasaan lebih padamu. Kau tahu istilah cinta pada pandangan pertama?" tanya Michelle.


“Aku tak paham apa itu cinta, aku belum pernah jatuh cinta," jawab Oxel.


“Sungguh?!" tanya Michelle merasa terkejut.


“Kenapa, ada yang aneh karena aku tak mengerti cinta dan belum pernah jatuh cinta?" tanya Oxel.


“Kukira kau tipe-tipe orang yang suka bergonta-ganti pasangan, mengingat standar wajahmu di atas rata-rata," ujar Michelle.


“Memikirkannya saja aku tidak sempat apa lagi menjalani hubungan," jawab Oxel seadanya.


Michelle hanya diam mengangguk dia pikir dia juga sependapat dengan Oxel, tidak ada pemikiran untuk menjalani hubungan karena kesibukannya.


“Tapi, apa kau paham jika ada seorang perempuan yang memiliki perasaan padamu, atau tertarik padamu?" tanya Michelle.


“Sedikit. Ada jenis wanita yang menunjukkan rasa ketertarikannya secara terang-terangan, itu aku langsung mengetahui, tapi jika tidak aku tak akan mengetahuinya," jawab Oxel.


“Ternyata mayoritas laki-laki itu tingkat kepekaan sangat kurang, ya?" ujar Michelle.


“Kami bukan paranormal yang bisa dengan mudah menebak, Nona. Kau tahu terkadang bahasa wanita itu sulit dimengerti," kata Oxel.


“Siapa juga yang mengataimu paranormal?" tanya Michelle ketus.


Oxel terdiam dia merasa bodoh hingga ia mengumpat dalam hati, “Benar juga tidak ada yang bilang jika kau paranormal, Oxel. Dasar bodoh!"


“Sudahlah lupakan saja, apa itu saja yang ingin kau bahas? Sebenarnya aku berniat pergi sejenak sebelum waktu istirahat habis tadi, tapi karena ada kau, mungkin nanti saja saat pulang," kata Oxel.


“Memang kau akan pergi ke mana?" tanya Michelle.


Oxel memicingkan matanya, “Kenapa kau ingin tahu?"


“Aku hanya bertanya," jawab Michelle kemudian.


“Aku hendak ke toko bunga tempatku dulu bekerja, sekalian membantu merangkai bunga di sana," jelas Oxel.


“Kau bisa merangkai bunga?!" tanya Michelle terkejut.


“Jika aku tidak bisa, mengapa pula aku repot-repot bekerja di sana, Nona?" jawab Oxel dengan pertanyaan.


“Apakah aku boleh ikut?" tanya Michelle.


“Kau tidak bekerja? atau kau berubah jadi pengangguran, sekarang? Wah! aku tidak menyangka," sindir Oxel.


“Sial, dia membalas ucapanku," gerutu Michelle dalam hati.


“Pelit sekali," cibir Michelle.


“Kau kembalilah bekerja, tidak baik menjadi pengangguran, kecuali jika suamimu tak mengizinkan kau untuk bekerja, karena dia mampu menafkahimu," ujar Oxel.


“Aku belum punya suami!" pekik Michelle.


“Maaf, aku tidak tahu dan tidak peduli, karena itu bukan urusanku," jawab Oxel enteng.


“KAU—,"


“Saya permisi, masih ada pekerjaan yang menanti dan aku sangat sibuk hari ini." pamit Oxel kemudian meninggalkan Michelle begitu saja.


Michelle hanya merasa jengkel dan marah lagi-lagi emosinya hampir meledak hanya karena Oxel.


“DASAR OXEL SIALAN!!!" teriaknya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu Christian sedang berkumpul dengan teman-temannya saat ini.


“Christ, kau mau ikut tidak malam ini, lumayan jumlahnya 1 juta, jika kau memang nanti, kita pasti akan berpesta," ujar salah satu teman seperkumpulannya.


“Tapi motorku sedang di bengkel saat ini, jadi aku tidak bisa," jawab Christian.


“Pasti aku jamin aku akan menang malam ini," jawab Christian.


Ya begitulah kehidupan Christian, sering keluar malam dan ikut balap liar, layaknya remaja tanggung yang tengah mencari jati diri.


Bersikap seperti seorang penguasa jalanan yang pasti ditakuti oleh sekolah lain, sering berbuat onar dan menganggu kenyamanan warga.


Lain halnya Christian lain juga Michael. Pemuda satu ini sedang melaksanakan kebutuhan biologis dengan kekasihnya, ya dia sedang berada di penginapan siang-siang.


Saat ini keduanya sedang di sebuah kamar dengan keadaan yang— ya begitulah.


“Terima kasih untuk semuanya, sungguh luar biasa, permainanmu kali ini," ujar Michael pada wanita yang menemaninya bermain.


“Aku hanya ingin menyenangkan kekasihku, jadi apa salahnya?" jawab wanita itu.


“Tidak ada, hanya saja kau memang yang terbaik," ujar Michael.


Dan berlanjutlah mereka ke kegiatan yang hanya menyenangkan mereka berdua.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Michelle pun kembali ke kantor setelah Oxel bersikukuh menolak untuk mengajaknya ke toko bunga.


“Ish.. padahal, kan aku sangat ingin lihat. Kenapa dia tetap melarangku?" gerutu Michelle. Mulutnya bergerak-gerak sibuk menggerutu, sampai-sampai ia tak sadar jika menjadi pusat perhatian.


Jimmy dan Zanetta yang melihatnya dibuat keheranan dengan tingkah Michelle.


“Ada apa dengan Michelle, apa kepalanya terbentur sesuatu?" tanya Zanetta.


“Mungkin saja dugaanmu itu benar, Netta," jawab Jimmy asal.


Pada akhirnya Zanetta dan Jimmy pun memutuskan untuk menghampiri Michelle yang masih sibuk menggerutu itu.


“Selamat siang, Nona. Kulihat dari tadi kau hanya terus menggerutu, setelah pulang dari makan siangmu yang entah di mana, menggunakan mobil Jimmy," ujar Zanetta.


“Akhir-akhir ini kau semakin aneh saja, terutama setelah kau pulang dari tempat kau makan siang biasanya," Jimmy menimpali.


“Ini semua gara-gara juru masak yang angkuh itu, selain itu dia juga pelit dan sering menyerangku dengan kata-katanya yang membuatku mati kutu," kesal Michelle.


“Tunggu, kau habis makan siang di tempatnya bekerja?" tanya Zanetta.


“Niatku hanya ingin meminta maaf sekaligus mengucapkan terima kasih, karena dia telah menolongku dari pencopet, tapi kalian tahu? Dia bahkan sempat tak percaya jika aku meminta maaf padanya dengan tulus," jelas Michelle.


“Sudah kuduga, dia adalah seseorang yang sulit ditaklukkan," komentar Zanetta.


“Netta, apa kau tahu jika dia bekerja di toko bunga dulu?" tanya Michelle.


“Eh, entahlah aku lupa dia pernah mengatakannya atau tidak," jawab Zanetta sekenanya.


“Pertanyaaanmu seperti seorang detektif yang sedang menyelidiki sebuah kasus atau menyelidiki seseorang," timpal Jimmy.


“Apa jangan-jangan kau sudah memiliki perasaan padanya?" selidik Zanetta.


“Memangnya aku ini adalah kau? Dia saja bukan tipeku, mana mungkin aku jatuh cinta padanya?!" jawab Michelle sengit.


“Hei! hati-hati dengan ucapanmu, kalau kau mulai menerima karma siap-siap menangis," ujar Jimmy memperingatkan.


“Tidak mungkin," jawab Michelle yakin.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di saat sedang bekerja, Oxel merasakan ponselnya bergetar. Dia segera merogoh sakunya dan melihat siapa yang menghubungi dirinya.


Ternyata adalah Maria, lalu ia segera mengangkatnya.


“Halo."


“.........."


“Bukankah sudah kukirim? Kenapa sudah habis lagi? Nyonya kau tak tahu aku lelah mencari uang dari pagi hingga malam hari? Sekali saja, kau menghargai usahaku banting tulang demi kalian?"


“........."


Pip. Sambungan dimatikan sepihak oleh Oxel. Dia tidak tahan dengan ceramah panjang ibu tirinya mengenai kondisi keuangan dan kebutuhan hidup.


“Aish... Tidak bisakah dia mengerti keadaan sedikit saja? Apa yang ada di dalam kepalanya itu hanya belanja barang-barang bermerek saja?" keluh Oxel.


Sementara itu, di rumah Maria sedang berteriak tidak jelas dan memaki Oxel karena berani memutuskan sambungan telepon secara sepihak.


“Anak kurang ajar, berani-beraninya dia memutuskan sambungan telepon dariku," umpatnya kesal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam hari pun tiba. Oxel izin pulang lebih awal dan beruntung dia sudah mendapat izin dari pemilik restoran.


Dan di sini ia sekarang, sedang merangkai bunga rancangannya. Tinggal sedikit lagi kerangkanya akan selesai dan tinggal merangkai bunganya nanti.


“Tadi siang ada sesuatu?" tanya Sean pada Oxel.


“Ah itu, ya teman wanita yang kita bertemu waktu itu, menemuiku dan meminta maaf serta berterima kasih," jawab Oxel.


“Maksudmu teman wanita? Temannya yang menabrak dirimu waktu itu?" tanya Sean.


“Ya, dia datang tadi," jawab Oxel.


“Untuk apa dia datang? Apa kau dihina lagi olehnya?" tanya Sean.


“Hum tidak juga, dia ingin mengucapkan maaf dan terima kasih, karena aku menolongnya dari pencopet jalanan," jelas Oxel.


“Kapan?" tanya Sean lagi.


“Apanya?" jawab Oxel.


“Pencopet?" beo Sean.


“Iya pencopet, tadi pagi saat dia sedang berada di halte bus, ya ampun wanita angkuh itu menaiki bus saja aku tak percaya," jelas Oxel lagi.


“Tumben sekali naik bus, biasanya orang kaya seperti dia pasti naik mobil," heran Sean.


“Mobilnya sedang berada di bengkel," jawab Oxel lagi.


“Sebentar, dia berterima kasih padamu karena kau sudah menolongnya? Wow! aku kira dia tidak tahu caranya berterima kasih, dan hanya bisa memaki serta merendahkan orang saja," ujar Sean.


Oxel hanya terkekeh. Penilaian mereka sungguh buruk.


Author POV end


Visualisasi pesanan