
Happy Reading!
Author POV
Oxel menggeliat dalam tidurnya, tak lama kemudian ia membuka kedua matanya yang bulat bak mutiara hitam itu.
“Di mana aku?, ini jelas bukan kamarku," batin Oxel.
Tubuhnya mencoba bangun, namun karena rasa pusing yang mendera, akhirnya ia terjatuh lagi.
“ARGHHHH!!!!" erangnya.
“Apa aku terlalu banyak minum semalam?" Oxel bertanya-tanya dalam hati.
Karena Oxel masih merasa pusing, akhirnya ia memutuskan untuk berbaring sejenak, selain itu badannya juga lemas. Ia memejamkan matanya.
Saat tengah beristirahat, tiba-tiba pintu kamarnya dibuka oleh seseorang, kemudian orang tersebut bergegas ke arah jendela dan membuka gordennya.
Cahaya matahari langsung masuk tanpa permisi, membuat Oxel merasa silau.
“ARGHHH!!!" erangnya sekali lagi.
“Oh, kau sudah bangun? Baguslah, setidaknya bangun pagilah di rumah seseorang. Kukira, stok nafasmu sudah habis karena kejadian semalam," ujar orang itu.
Oxel pun membuka kedua matanya, dia sangat mengenal suara ini. Suara yang penuh dengan keangkuhan saat bicara.
“KAU?!" ucap Oxel tak percaya, kala melihat seseorang yang seperti dugaannya.
“Bagaimana bisa aku bersama denganmu? D-dan di mana ini?" tanya Oxel.
“Kau tanya bagaimana? Mau aku jelaskan?" tawar orang itu.
“Baiklah, akan aku jelaskan supaya kau mengerti, aku tidak sengaja melihatmu mabuk dan berjalan tak tentu arah semalam, maka dari itu demi keselamatanmu, aku membawamu masuk ke mobil, tadinya aku berniat mengantarmu ke rumahmu sendiri, akan tetapi kau sudah kepalang mabuk dan bicaramu juga tak jelas—,"
“— jadi aku terpaksa membawamu kemari, bahkan sampai di sini, kau sudah tidak sadarkan diri. Ya Tuhan, ah dan kau bertanya ada di mana saat ini? Ini adalah kamar tamu rumahku," lanjutnya lagi.
“Bodoh kau Oxel, bisa-bisanya kau mabuk di rumah orang!" Oxel merutuki dirinya sendiri dalam hati.
“Aku tak tahu berapa banyak botol atau sloki yang kau minum semalam, sepertinya kau minum seperti sedang melakukan balas dendam, ya?" sindir orang itu pada Oxel.
“Maafkan aku, aku akan segera pergi dari sini, jika kau tidak nyaman, dan terima kasih sudah menolongku semalam," jawab Oxel.
“Kau yakin ingin pergi sekarang? Padahal kulihat tubuhmu saja masih lemas seperti itu, ini makanlah sup pereda mabuk, agar kau tak merasa pengar lagi!" titah orang itu pada Oxel.
Oxel terbangun dibantu orang itu, dia menyandarkan bantalnya terlebih dahulu supaya Oxel bisa bersandar dengan nyaman.
Oxel juga melihat sebuah nampan yang berisi air putih hangat dan semangkuk sup pereda mabuk bernama sujebi.
Oxel kemudian memakannya kala nampan dan tersebut sudah berada dalam pangkuannya.
“Kau yang memasak ini?" tanya Oxel.
“Aku menyuruh pelayan memasak untukmu, karena aku tidak punya waktu untuk memasak," jawabnya.
“Ah, aku lupa kalau kau orang kaya, tentu saja. Buat apa repot-repot memasak jika sudah punya pelayan? Semua orang kaya hampir seperti itu, kan?" sindir Oxel.
Orang itu melotot tak percaya, perkataan Oxel seakan menohok harga dirinya sebagai perempuan, tentu saja, karena Oxel pasti menganggap dirinya tidak bisa memasak.
“Kau meremehkan kemampuanku dalam memasak?" tanyanya.
Oxel mendongak menatapnya, ”Aku tak bilang seperti itu, kau sendiri yang terlalu cepat mengambil kesimpulan, Nona."
“Akan tetapi kata-katamu mengarah ke sana!" ucap orang itu dengan nada meninggi.
Oxel hanya memutar bola matanya jengah, melihat tingkah orang yang ada di depannya ini.
“Sebenarnya dia ini lulus mata pelajaran bahasa tidak, sih semasa sekolah?" batin Oxel menggerutu.
“Dengar, aku bicara seperti itu, bukan berarti aku meremehkan kemampuanmu dalam memasak. Bisa saja, kan banyak orang kaya yang lebih mementingkan urusan pekerjaan, sehingga untuk memasak pun mereka sudah enggan dan merasa repot? Maka dari itu, mereka lebih memilih pelayan untuk memasak," jelas Oxel.
“Ah ternyata aku salah menangkap maksudnya lagi, untuk kesekian kalinya," batin orang tersebut.
“Sudah makan saja, tak perlu mengajakku berdebat!" ujarnya dengan nada perintah pada Oxel.
“Siapa juga yang mengajakmu untuk berdebat? Kau sendiri yang terlalu berapi-api menanggapi sesuatu, wanita aneh," jawab Oxel.
“KAU—" ujarnya sambil menunjuk Oxel.
“—Ah ya ampun, aku bisa gila dan mengalami penuaan lebih cepat jika selalu bertemu denganmu," ujarnya.
“Jika kau tak ingin bertemu denganku, jangan datang ke restoran tempatku bekerja, itu sangat mudah. Selain itu aku akan pulang sebentar lagi, terima kasih untuk tumpangan dan makanannya." ucap Oxel sambil meletakkan piring dan nampan saat selesai makan.
Oxel kemudian beranjak dari tempat tidur dan keluar dari kamar tamu.
“Kau tidak mandi?" tanya orang itu.
“Jika aku mandi apa kau mempunyai baju untuk aku pakai dan peralatan mandi yang bisa kugunakan?" tanya Oxel balik.
“Kalau alat mandi ada, tapi kalau baju, a-aku tidak yakin jika itu akan muat di badanmu," ujarnya.
Oxel lalu berjalan ke arah kamar mandi dan mulai membersihkan diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“A-aku akan mengantarmu, aku yakin jika jarak rumahmu sangat jauh dari sini," ujarnya. Oxel hanya menurut saja.
Akhirnya Oxel pun diantar pulang olehnya, sepanjang perjalanan pun hanya diisi oleh keheningan.
“Di mana alamat rumahmu?"
“Di Jalan xxxxxx,"
Setelah itu tak ada pembicaraan lagi di antara mereka.
Setelah memakan beberapa waktu, akhirnya mereka telah sampai di kediaman Oxel, jujur saja orang itu terkejut kala Oxel mengatakan itu adalah tempat tinggalnya.
“Kau merasa terkejut, ternyata kau dan temanmu tidak jauh berbeda, kau bisa langsung pergi jika tak nyaman. Terima kasih untuk tumpangannya." Oxel pun keluar dari mobil tersebut.
Walaupun Oxel telah menyuruhnya pergi dari sana, namun orang itu tidak juga pergi meski Oxel sudah masuk ke dalam rumah.
Tak lama terdengar sebuah suara melengking. Dia sendiri sampai terkejut mendengarnya, “DARI MANA SAJA KAU ANAK TIDAK TAHU DIRI? SEMALAMAN TIDAK PULANG KE RUMAH, AKU SUDAH KEHABISAN UANG, KAU TAHU?!"
“Apa-apaan itu? Tidakkah dia bisa bicara pelan saja? Kenapa harus berteriak?" batin orang itu mencuri dengar.
“Aku baru kemarin, menyerahkan uangku padamu, Nyonya, kenapa kau bisa menghabiskannya dalam sehari?" jawab Oxel.
“APA OTAK BODOHMU ITU TIDAK BISA BERPIKIR DENGAN BENAR? MANA MUNGKIN UANG SEGITU CUKUP UNTUK KAMI?!" pekik Maria.
“Uang itu bahkan lebih dari cukup jika hanya untuk biaya makan dan sewa rumah, bahkan masih ada sisa walau hanya sedikit," jawab Oxel.
“ITU MENURUT PEMIKIRANMU, BUKAN PEMIKIRAN KAMI, SEKARANG BERIKAN AKU UANG, DAN JANGAN LUPA, SELESAIKAN PEKERJAAN RUMAH YANG MENUMPUK ITU! KAU PIKIR MEREKA BISA MENCUCI DAN MENGEPEL DENGAN SENDIRINYA?" ujar Maria.
“Aku lelah, tolong berikan aku sedikit waktu untuk istirahat," jawab Oxel. Oxel pun tidak berbohong tubuhnya merasa sangat lelah.
“TIDAK ADA WAKTU ISTIRAHAT UNTUK ANAK SEPERTIMU, CEPAT SELESAIKAN PEKERJAAN RUMAH ITU!" titah Maria pada Oxel.
“Anak Cindy memang benar-benar tak berguna, bisanya hanya mengeluh lelah saja, jika begitu caranya, bagaimana aku bisa cepat kaya?" gerutu Maria meninggalkan Oxel.
Orang tersebut mendengar semua pertengkaran itu. Dia tak menyangka jika Oxel diperlakukan layaknya pembantu di rumahnya sendiri.
“Apa Oxel selalu mendapat perlakuan seperti ini setiap harinya?" gumam orang itu pelan, kemudian pergi meninggalkan kediaman Oxel.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah beberapa waktu terlewati, akhirnya Oxel sudah menyelesaikan pekerjaan rumah, mulai dari memasak, mengepel, mencuci, serta memberi makan anjing kesayangannya.
“Hai Vick, maaf aku tidak pulang semalam, kau pasti merasa kesepian,"
“Guk.... Guk...." gonggongnya seakan mengerti apa yang dibicarakan Oxel.
“Vick, aku janji jika kita akan bahagia suatu hari nanti, jadi kau harus bersabar, ya?" ujar Oxel sambil mengelus Vick dengan sayang.
Anjing besar itu, menempelkan sisi wajahnya pada telapak tangan Oxel dan mencari rasa nyaman di sana.
“Kau ingin jalan-jalan?" tawar Oxel, sekali lagi anjing besar itu menggonggong tanda setuju. Sebelumnya Oxel sudah izin untuk tidak masuk kerja hari ini. Ia sudah meminta izin pada pemilik restoran. Beruntung sang pemilik memberinya izin.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Oxel dan Vick jalan-jalan menuju makam kedua orang tuanya. Oxel selalu berkunjung kemari jika dia merasa lelah dan putus asa.
“Halo ibu, hai ayah, Oxel kembali lagi mengunjungi kalian, kali ini Oxel berkunjung bersama anjing kecil kita, sekarang dia sudah besar dan tumbuh dengan sehat," cerita Oxel di depan batu nisan kedua orang tuanya.
“Ibu, ayah, hari-hari Oxel semakin lama semakin berat dan semakin sulit saja, Oxel selalu menjadi pihak yang terus disalahkan jika tak sesuai dengan keinginan mereka," jeda sejenak sambil menikmati angin yang berhembus dengan lembut.
“Aku sudah berusaha dan bekerja dengan keras, bahkan berangkat pagi dan pulang sudah malam hari. Itu saja tidak pernah cukup di mata mereka semua. Mereka masih merasa kurang."
“Aku bingung ibu, aku harus bekerja apa lagi, supaya bisa menafkahi mereka semua?"
“Aku sudah merasa putus asa ibu, aku ingin bekerja yang lebih baik dari apa yang kujalani saat ini, tapi aku sadar aku tak memiliki latar pendidikan tinggi. Semasa sekolah menengah, aku selalu mendapat beasiswa, tapi aku dilarang mengambil beasiswa perguruan tinggi tersebut oleh orang itu," curahnya.
“Aku pun harus merelakan mimpi dan cita-citaku menjadi seorang desainer atau pun seorang pelukis, atau seorang musisi."
“Banyak yang sudah aku korbankan untuk mereka, ibu, ayah. Akan tetapi Oxel masih dianggap anak yang tidak berguna dan tak bisa membanggakan mereka," cerita Oxel. Dia tak sadar jika setetes air mata telah meluncur menghiasi pipi apelnya.
Vick yang seolah paham jika tuannya sedang bersedih segera beringsut mendekati Oxel dan menduselkan wajahnya di badan Oxel seakan mencoba memberi kekuatan.
“A-aku sudah lelah dengan keadaan ini, dengan mereka semua, yang buta dengan segala usaha dan kerja kerasku, aku ingin menyerah ibu," cerita Oxel dengan tergugu.
“Guk.. Guk.." gonggong Vick.
“Maaf jika aku sudah menjadi anak yang cengeng, aku hanya merasa penat dengan keadaan yang seakan mencekik leherku, aku pamit ibu, ayah. Terima kasih sudah mendengar curahanku." ujar Oxel dan pergi meninggalkan makam.
“Maaf Vick, jika aku menangis lagi di depanmu," ujar Oxel pada anjing kesayangannya.
“Eung." seakan memahami keadaan Oxel anjing itu menjawab.
“Ayo kita jalan-jalan seperti yang kau inginkan!" seru Oxel.
“GUK!" anjing itu menjawab dengan penuh semangat.
Author POV end
Sujebi