He Is My Cinderella

He Is My Cinderella
Delapan belas



Happy Reading!


Michelle POV


Hari ini aku berniat berangkat siang hari, karena kemarin lembur, biarlah Jimmy yang mengurus kantor untuk saat ini. Aku merasa lelah sekali.


Setelah melewati lembur panjang, ditambah dengan mobil mogok pula, rasanya kemarin adalah hari sialku.


Bicara soal mobil mogok, aku jadi bertemu kembali dengan pria yang disukai oleh Netta.


Ya, pria penyanyi cafe itu, kulihat dari gayanya, sih dia nampak sederhana, tapi yang menjadi nilai minus di mataku adalah sikap dingin dan sombongnya.


Ya, dia terlalu cuek, dingin dan sombong bahkan sombong sekali. Meski ia sempat menolongku tapi aku tetap kurang respek padanya.


Dan parahnya lagi dia mengatakan aku adalah wanita liar, Hey! apa-apaan itu? Menilai diriku seenaknya? Dia pikir dia mengenalku, begitu?


Kata-katanya tidaklah kasar, tapi cukup membuatku sakit hati dengan ucapan pedasnya.


Dia langsung pergi begitu saja setelah menolongku, bahkan niat baikku ditolak mentah-mentah olehnya.


Lihat, betapa sombongnya ia, aku tidak habis pikir kenapa Netta bisa menyukai pria seperti itu, bahkan nyaris tergila-gila.


Mungkin benar kata orang bahwa cinta itu buta. Seburuk apa pun perilaku orang yang kita cintai, tidak akan terlihat oleh pandangan kita karena kita mencintainya.


“Sayang, kau sudah bangun?" tanya malaikatku kala suara merdunya menyapa telingaku.


Dia adalah mommy, wanita hebat yang telah melahirkanku ke dunia. Namanya adalah Veronica Zania. atau sekarang menjadi Veronica Frederick, setelah dipersunting oleh daddy puluhan tahun lalu.


“Mom, aku baru saja bangun, kapan mommy pulang?" tanyaku.


“Mommy baru saja pulang dini hari tadi, bersama daddymu," jawab mommy.


“Apa Mommy akan tinggal?" tanyaku lagi.


“Hanya 3 hari, setelah ini Mommy akan menemani daddymu perjalanan bisnis ke China," jelas mommy lagi.


“Perjalanan bisnis atau bulan madu entah yang ke berapa?" tanyaku berusaha menggoda mommy.


“Kau ini, mommy sudah cukup tua untuk memberimu seorang adik," ujar mommy dengan semburat merah di pipinya.


“He-he-he..." balasku hanya cengengesan. Terkadang aku lupa berapa umur mommy, pasalnya mommy tak pernah terlihat tua. Begitu juga dengan daddy, yang semakin tua justru makin terlihat tampan saja.


Lebih menyebalkannya lagi saat daddy datang ke kantor, banyak para pegawai wanita menatap daddy penuh minat.


Apa mereka sudah lupa jika usia daddy bahkan sudah hampir memasuki kepala 5?


Ya begitulah beban yang harus ditanggung jika memiliki ayah yang masih tampan walau usia sudah tua.


“Kau tidak sarapan, baby?" tanya mommy.


“Apa dad sudah ada di ruang makan?" tanyaku.


“Masih berada di teras depan, sedang membaca koran. Beberapa maid sedang menyiapkan sarapan untuk hari ini. Sebaiknya kau segeralah bersiap!" perintah ibunda ratu padaku.


Baiklah, karena ini adalah perintah ibunda ratu, maka aku harus bersiap-siap untuk beberes dan membersihkan diri.


Kulangkahkan kakiku menuju kamar mandi, sementara mommy keluar dari kamarku sebelumnya ia menyuruh maid untuk membersihkan kamarku.


...****************...


Setelah menghabiskan waktu kira-kira 1 jam lamanya? Aku juga tidak yakin. Akhirnya aku bergabung dengan kedua orang tuaku di ruang makan.


Ketika aku melihat sosok cinta pertamaku, aku segera berlari dan menerjangnya dengan sebuah pelukan.


“DADDY!!!" pekikku senang.


“Hati-hati sayang, sudah berapa kali Daddy bilang jangan menuruni tangga sambil berlari," peringat daddy.


“He-he-he... Michelle minta maaf, habisnya Michelle rindu dengan Daddy," ujarku manja.


“Kau ini, ayo sarapan, kenapa jam segini baru bangun, kau tidak kerja, baby?" tanya daddy dengan senyuman.


“Aku masuk siang, aku lelah, Dad. Semalam aku lembur, biar Jimmy yang menggantikanku," ujarku.


“Kalau begitu biar Daddy yang menggantikanmu," jawab daddy.


“Daddy akan berangkat ke kantor, hari ini?" tanyaku.


“Ya, menggantikan Princess Daddy yang kelelahan ini," jawab daddy.


“Kalau begitu, Michi akan ikut Daddy ke kantor," ujarku mutlak. Tidak baik membiarkan daddy ke kantor seorang diri tanpa aku disampingnya.


“Tapi tadi ada yang baru saja bilang kalau lelah, karena lembur," goda mommy padaku.


“MOMMY!" rengekku.


“Aku tak ingin mereka melihat Daddy dengan tatapan menggoda, itu sangat membuatku gerah," jelasku pada mereka.


“Salahkan Daddymu yang masih terlalu tampan di usianya yang hampir menginjak kepala 5," ujar daddyku percaya diri.


“Sudah-sudah ayo habiskan sarapan kita, setelah itu baru kau bersiap!" perintah mommy sang ibunda ratu.


Aku pun harus menurutinya dan mulai makan sarapanku.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author POV


Michelle dan sang ayah sudah sampai di kantor. Dan benar saja apa yang Michelle duga, banyak karyawan wanita yang menatap ayahnya dengan pandangan memuja.


Hal itu membuat mood Michelle anjlok seketika. Sang ayah yang sempat melirik putrinya sebentar pun hanya tersenyum.


“Ada apa dengan wajah putri Daddy?" tanya ayahnya.


“Aku kesal. Mereka melihat Daddy dengan pandangan seperti itu," ucap Michelle dengan wajah cemberutnya.


“Abaikan mereka, sayang. Yang perlu kalian tahu, Daddy menyayangimu dan mommymu," ujar sang ayah.


“Dan selamanya akan selalu seperti itu," ujar Michelle dengan senyum manisnya.


Mereka terus berjalan dan tak terasa mereka sudah sampai di ruangan. Saat pintu sudah terbuka, Jimmy langsung menyambut ayah Michelle.


“Selamat datang," sapa Jimmy.


“Pagi, apakah kondisi kantor baik-baik saja?" tanya ayah Michelle.


“Tentu saja, Pak. Putri Anda sudah bekerja keras, selama ini perusahaan masih stabil," jelas Jimmy.


“Daddy seperti tidak percaya padaku," sungut Michelle.


“Wajar jika Daddy bertanya seperti itu, itu untuk menilai hasil kerjamu baik atau, kah masih kurang," jawab sang ayah.


“Aku, kan anak Daddy pasti aku bertanggung jawab dan bekerja dengan serius," sungut Michelle.


Sang ayah hanya tersenyum mendengar gerutuan putrinya. Sementara Jimmy hanya menahan tawa.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari ini Christian bangun sangat siang, sepertinya dia keluar malam dan pulang pagi.


“Selamat pagi, Ibu," sapa Christian.


“Kau baru bangun disaat jam menunjukkan pukul 10.00 pagi?" sinis ibunya.


“Aku berkumpul dengan teman-teman semalam, Oxel mengizinkanku pergi," jelas Christian.


“Oxel mengizinkanmu?" tanya Maria dan Christian pun mengangguk.


“Ah iya, Ibu aku ingin menyampaikan sesuatu padamu," kata Christian tiba-tiba.


“Ada apa?" tanya Maria.


“Semalam Oxel merendahkan kami. Dia bilang kita hanya beban keluarga, yang tidak memiliki keahlian dan hanya bisa berfoya-foya," jelas Christian.


“APA DIA BERANI BICARA BEGITU PADAMU?!" teriak Maria.


“Iya Ibu, dia bicara seperti itu padaku, aku, kan jadi terluka," rajuk Christian pada ibunya.


Sementara Michael juga sama kesalnya dengan Christian pasalnya mereka meminta uang pada Oxel namun Oxel tak memberikannya.


“Semenjak dia bekerja, dia berubah menjadi sombong pada kami," timpal Michael.


“Itu benar Ibu, Ibu tidak merasa jika Oxel semakin semena-mena pada kami?" tanya Christian.


“Awas saja anak itu, akan kuberi pelajaran dia, lihat saja nanti," ujar Maria.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sedangkan di sisi lain Oxel merasakan firasat yang buruk.


“Ya Tuhan, mengapa perasaanku tidak tenang, akan ada apa nanti?" gumam Oxel pelan.


“Lindungilah aku Tuhan, aku mohon," batin Oxel.


Rasanya Oxel seakan ingin menangis, dia sudah merasakan firasat buruk yang mungkin akan terjadi pada dirinya sendiri.


“Oxel." sapa rekannya dengan menepuk pundaknya, sontak saja membuat Oxel merasa kaget.


“Kau melamun?" tanya rekannya.


“Maaf," jawab Oxel singkat.


“Tidak biasanya kau melamun, ada sesuatu?" tanya rekannya.


“Tidak, bukan apa-apa. Mungkin aku hanya terlalu lelah saja," jawab Oxel dengan senyum.


“Ah... kau bisa istirahat sebentar jika kau mau, kami akan lanjutkan pekerjaanmu," saran rekannya.


“Tidak perlu, aku bisa menahannya, kalian selesaikan pekerjaan masing-masing saja," jawab Oxel meyakinkan rekan-rekannya.


“Baiklah," ujar rekannya itu.


Author POV end