
Happy Reading!
Author POV
Sebulan sudah berlalu, selama sebulan ini Maria, Michael, dan Christian merasa senang dan bahagia, namun tidak untuk Oxel. Meski ekonominya sedikit mengalami perubahan dalam konteks baik, Setidaknya itulah yang ada di pikiran ibu dan kedua adik tirinya.
Tetapi hal itu tidak berlaku untuk Oxel, yang untuk makan dan minum saja masih merasa kesulitan karena uang yang ia berikan hanya untuk memenuhi kebutuhan nafsu duniawi dengan berbelanja yang tidak perlu.
Dia sudah bagai sapi perah untuk keluarganya sekarang.
“Jika selalu seperti ini, bagaimana aku bisa hidup?" gumamnya lirih.
Oxel sudah bersiap untuk berangkat bekerja. Saat sudah mencapai di depan pintu suara Michael menginterupsi.
“Kau akan berangkat bekerja, ya? Bisa minta uang tidak? Aku akan pergi hari ini," pinta Michael.
“Mintalah pada ibumu. Aku sudah memberikan uang padanya." ucap Oxel sambil berlalu ke luar rumah.
“Cih, sombong sekali dia. Mentang-mentang dia yang menjadi tulang punggung keluarga dan mencari nafkah," cibir Michael.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Oxel sudah sampai di cafe, sebulan ini para pengunjung cafe semakin bertambah saja, dan sepertinya pemilik akan merubah konsep cafe, menjadi restoran keluarga.
Tentu saja dengan menambah pegawai, selain itu juga terdapat menu baru di restoran tersebut.
“Selamat pagi bintang utama restoran kita, apakah pagimu sangat baik, hari ini?" sapa salah satu pelayan.
“Tentu, seperti biasanya," jawab Oxel ramah.
“Seperti biasa, senyumanmu bagaikan cahaya mentari pagi yang menghangatkan hariku, atau mungkin cahaya matahari saja kalah oleh senyumanmu," ujar pelayan tersebut.
Oxel hanya tersenyum malu, pipinya merona merah, membuatnya tampak imut.
“KYAAAA!!! Wajahmu imut dan menggemaskan sekali? Aku jadi ingin mencubit pipi bakpaomu itu," teriak pelayan itu histeris.
“Jangan pernah melakukan itu, terakhir kali kau melakukannya, pipiku akan lebam esok harinya," ujar Oxel dengan wajah merengut.
“Benarkah?" tanya pelayan itu.
“Aku serasa mendapatkan kekerasan fisik," jawab Oxel berlebihan.
“Ya ampun maafkan aku kalau begitu, aku tidak bisa menahan rasa gemasku padamu. Salahkan wajahmu yang seperti anak balita itu," ujar pelayan itu asal.
Oxel hanya melongo. Dia tidak salah dengar, bukan? Hey, dia itu pria dewasa kau, tahu? Dan dia sangat yakin, dia berubah menjadi sosok yang tampan.
Tapi kenapa rekan kerjanya itu bilang wajahnya seperti anak balita, apa rekannya itu sedang mabuk?
“Kau salah besar, aku cukup yakin bahwa aku adalah sosok yang tampan," ucap Oxel dengan percaya diri tinggi.
“Ha-ha-ha... Ha-ha-ha..." tawa pelayan itu menggema, dia tertawa lepas sambil memegang perutnya.
“Oxel, kau lucu sekali, sih. Aduh! perutku. Ya, Tuhan. Berhentilah membohongi diri sendiri, anak berumur 2 tahun saja tahu, jika kau itu cantik, bukan tampan," jelas si pelayan.
“Kau menyakiti harga diriku sebagai seorang pria," jawab Oxel dengan wajah muram.
“Sudahlah sana segera bersiap, aku juga harus bersih-bersih meja pelanggan." usir pelayan itu pada Oxel.
Oxel pun masuk dapur dengan sedikit menghentakkan kakinya. Tidak ada yang protes ketika dia bersikap seperti itu, yang ada malah membuat orang menahan rasa gemas.
“Oxel kami yang menggemaskan, siap untuk menyajikan menu baru?" tanya rekan satu timnya di dapur.
“Tergantung pesanan pelanggan, jika mereka minta menu sederhana, aku merasa bersyukur, karena aku bisa istirahat sejenak."
“Kau sudah mulai kelelahan rupanya. Kekeke..." kekeh rekannya pada Oxel.
“Sudahlah kita siap-siap untuk bekerja hari ini," kata Oxel pada rekan-rekannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu Sean dan Dara berniat mengunjungi restoran tempat Oxel bekerja, mereka berniat sarapan di restoran tersebut, sembari bertemu Oxel.
Sampai di restoran Sean dan Dara memesan satu menu yang sama, yang membuat para pelayan terkejut.
“Apa mereka berdua waras? Pagi-pagi begini justru memesan makanan pedas untuk dijadikan sarapan. Benar-benar aneh," gumam pelayan sambil menggelengkan kepala.
“Maaf bisakah nanti Oxel yang mengantar pesanan kami?" pinta Dara pada pelayan.
“Kami ingin bertemu dengannya, sebentar saja," tambah Sean.
“Baik akan kami sampaikan, tapi kami tak bisa berjanji apakah Oxel bersedia atau tidak. Silahkan ditunggu, ya," ujar pelayan itu.
Sepeninggal pelayan, Sean dan Dara berbincang.
“Wah, aku tidak menyangka jika cafenya akan menjadi besar seperti sekarang, semenjak Oxel di sini!" ujar Dara sambil berdecak kagum.
“Sepertinya bayi kita memang ahli dalam urusan dapur, bukan begitu?" timpal Sean.
“Dengan begini keahliannya akan tersalur. Aku tahu dia itu multitalenta, tak heran jika dia bisa dengan mudah mencari pekerjaan," jelas Dara. Sean hanya mengangguk.
Zanetta hanya menunggu sambil memainkan ponsel pintarnya.
“Kau masih mencari sosial media laki-laki incaranmu itu?" tanya Jimmy, Zanetta hanya mengangguk.
“Siapa, sih yang menjadi incaran, Netta. Aku penasaran, belum pernah Netta berusaha sekeras ini untuk mendapatkan lelaki," ujar Michelle yang dilanda rasa penasaran.
“Yang pasti dia masuk jajaran pria tampan," sahut Jimmy.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu Oxel sedang serius meracik dan memasak menu pesanan pelanggan.
“Apa mereka tidak akan diare, karena makan ini pagi-pagi?" tanya rekannya pada Oxel.
“Yang pasti pelanggan kita pasti sudah terbiasa dengan pedas," jawab Oxel.
“Jika aku yang memakannya sudah dipastikan aku akan diare pagi-pagi," ujar temannya merinding sambil membayangkan.
“Sayangnya bukan kau yang memakan menu ini," sahut Oxel.
Rekannya itu hanya mendengus kala mendengar jawaban Oxel, sementara Oxel hanya terkikik saja.
“Nah, aku sudah selesai dengan pangsitnya, sekarang tinggal membuat kuah," kata Oxel.
Dia segera memasukkan bahan dan bumbu yang dibutuhkan. Ketika sedang meracik dia terlihat yakin dan percaya diri bahwa hasilnya nanti akan memuaskan.
“Hebat sekali kau memasukkan bumbunya tanpa ragu-ragu!" kata rekannya itu kagum.
“Kunci masakan enak adalah bumbunya, jadi jangan pernah ragu kala menambahkan bumbu," jelas Oxel.
“Kau urus yang ini, aku akan buat menu lain!" perintah Oxel pada rekannya.
Oxel segera beralih ke pesanan tiga orang yang sudah menunggu. Dia sangat serius, tapi juga hati-hati.
Membuat roti, cokelat panas, Onigiri, dan taco. Dia mempersiapkan semuanya dengan baik dan memasaknya dengan teliti.
Cukup memakan waktu kala memasak 4 hidangan sekaligus, hingga semuanya sudah beres, ia tinggal mencicipi saja.
“Sempurna! Sekarang tinggal disajikan," ucap Oxel merasa senang, karena masakannya tidak gagal.
“Oxel, kau tidak lupa, kan, nanti kau harus mengantarkan pesanan sup pangsit pedas ini?" peringat rekannya pada Oxel.
“Baiklah aku akan mengantarkan hidangan yang ini ke pelanggan." jawab Oxel sambil membawa panci berisi hidangan yang sudah ia masak.
Saat tiba di meja pelanggan, Oxel sempat terkejut, ternyata pelanggan yang memesan sup ikan pedas adalah Sean dan Dara.
“OXEL BAYI KESAYANGAN KITA! APA KABAR?!" teriak Dara histeris. Membuat Oxel dan Sean meringis.
“Dara, hentikan! Kau membuatku dan Oxel malu." ujar Sean sembari menutup wajahnya dengan sebelah tangan.
“Dara, kau tak perlu seperti itu, aku masih berada di bumi yang sama denganmu, astaga kau ini," kata Oxel.
“Habisnya aku kangen denganmu, kau semakin sibuk dan jarang datang ke toko bunga," ujar Dara.
“Aku minta maaf, ya? Aku juga rindu dengan kalian, terutama bibi, tapi kau tahu sendiri jika aku harus kerja dan pelanggan terus berdatangan, aku tidak bisa seenaknya," jelas Oxel merasa bersalah.
“Kami mengerti keadaanmu, Oxel. Jangan merasa bersalah begitu," ujar Sean menenangkan.
Dan mereka bertiga larut dalam obrolan singkat yang menyenangkan, tanpa menyadari ada sepasang mata yang menatap penuh rasa cemburu.
Author POV end
Visualisasi menu makanan Dara & Sean
Sichuan spicy fish
Menu Michelle, Jimmy, dan Zanetta
Michelle
Tuna Mayo Onigiri
Zanetta
Croissant and hot chocolate
Jimmy
BBQ beef taco