He Is My Cinderella

He Is My Cinderella
Tiga puluh delapan



...Aku tidak meminta banyak hal dari-Mu...


...Hanya tolong berikan aku kekuatan sedikit saja......


...Namun jika aku sudah sampai pada batasnya...


...Tolong panggil aku...


...- Oxello Deovanno -...


...****************...


...****************...


...****************...


Happy Reading!


Oxel POV


Arghhh..... Tubuhku remuk rasanya, setelah nyaris saja pingsan untuk yang kesekian kali. Entah dari mana dia tahu aku tidak bekerja hari ini? Aku yakin jika punggungku akan memar besok pagi, tapi aku tidak yakin aku akan mengalami patah tulang atau tidak?


Jika aku aku boleh mengira, sepertinya sifat kejamnya padaku semakin bertambah saja, kalau seperti ini aku pun tidak tahu sanggup untuk terus hidup atau tidak.


Aku bahkan tidak bisa tidur telentang malam ini rasanya sangat sakit. Mungkin aku tidak akan tidur malam ini, kulihat juga Vick yang sedang memandangku, Ah maafkan aku Vick kau melihatku dalam keadaan seperti ini lagi, padahal aku sudah berjanji padamu untuk tidak terluka lagi bukan?


Ternyata menepati janji itu sulit, bahkan sangat sulit meski itu dengan peliharaan sekalipun.


Kupejamkan kedua mataku, untuk mencoba beristirahat, meskipun aku tahu malam ini tidak akan bisa.


Berharap bisa menyambut hangatnya mentari esok pagi, atau mataku tak akan pernah terbuka lagi karena aku sudah berlari.


Oxel POV end


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Author POV


Pagi telah datang menggantikan malam, seperti yang telah Oxel duga sebelumnya, pada malam setelah kejadian penganiayaan itu Oxel tak bisa beristirahat sedetik pun.


Hari ini dia sudah mulai bekerja setelah mengawali paginya yang suram dengan menjadi asisten rumah tangga untuk ibu dan adiknya.


Ia sendiri pun tak diberi makan semalam, beruntung Dara mentraktirnya. Jika tidak, pasti pencernaannya akan bermasalah lagi untuk kesekian kalinya.


Saat memakai baju pun Oxel sangat hati-hati karena punggungnya masih terasa sangat sakit meski hanya dengan gesekan kecil sebuah kain.


Ia berangkat bekerja setelah berpamitan dengan Vick anjing kesayangannya.


Ia menuju halte untuk menaiki bus yang searah dengan restoran dengan tempatnya bekerja.


Ia segera masuk ke dalam sebuah bus, kala bus yang ia tunggu sudah datang, beruntung masih ada tempat duduk yang tersisa di belakang, Oxel duduk di sana dengan sangat hati-hati saat menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


Sedikit meringis karena punggungnya masih terasa nyeri. Di samping Oxel ada seorang wanita tua, wanita itu sedari tadi melihat Oxel yang meringis menahan sakit.


Wanita itu segera membuka sebuah tas dan mengeluarkan sebuah minyak gosok lalu memberikannya pada Oxel.


“Ini untukmu, bawalah!" ujar wanita tua tersebut sambil mengulurkan minyak gosok pada Oxel.


“Eh?" kaget Oxel dan wanita tua itu mengangguk mengiyakan.


“Lalu Anda sendiri bagaimana?" tanya Oxel.


“Aku baik-baik saja, Nak. Kau lebih membutuhkan minyak itu, kulihat kau sangat kesakitan, minta tolonglah pada temanmu nanti, saat sudah sampai di tempat kerja," ujar wanita tua itu.


Oxel tersenyum, ia merasa sangat berterima kasih pada wanita tua itu, walau ia tidak mengenalnya.


“Terima kasih," ucap Oxel.


“Sama-sama, aku turun dahulu, aku sudah sampai tujuanku," kata wanita itu.


Wanita tersebut turun di pemberhentian bus, kemudian bus tersebut melanjutkan perjalanan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Oxel sudah sampai di restoran, dan dia bergegas menuju dapur untuk mempersiapkan semuanya.


Oxel membersihkan dapur dan mempersiapkan peralatan serta bahan, sebelumnya ia berganti pakaian terlebih dahulu.


Belum banyak pekerja yang datang karena Oxel datang lebih pagi dari pada biasanya.


“Ah, meski ada kaca aku tetap saja tak bisa melihat luka di punggungku," keluh Oxel.


“Rasanya sakit sekali. Semoga saja aku kuat bekerja hari ini," ujar Oxel lagi.


Tak lama kemudian rekan Oxel mulai berdatangan.


“Kau berangkat terlalu pagi, Sobat," kata temannya.


“Kemarin aku sudah izin tidak bekerja, tidak enak jika aku berangkat siang," jawab Oxel.


“Itu karena kau sedang tidak enak badan bukan karena setelah minum bersama kala itu, kami mengerti. Bahkan yang mabuk berat kemarin saja juga izin tak masuk kerja," ujar temannya.


Oxel hanya tersenyum saja, sebenarnya kalau bisa dan kalau boleh dia ingin sekali izin lagi, karena badannya serasa remuk hari ini.


Akan tetapi ia sadar restoran ini bukanlah miliknya jadi dia tidak boleh seenaknya.


“Aku sudah menyiapkan semua bahan," ujar Oxel pada temannya.


“Kau menyiapkannya sendirian?" tanya temannya lagi.


“Tentu aku menyiapkannya sendirian, memang dengan siapa lagi? Pekerja dapur baru aku saja yang datang," jawab Oxel.


“Kau ini terlalu keras dalam bekerja setidaknya tunggu kami, biar kami juga membantumu, kau baru saja pulih dari sakit," ujar temannya.


“Aku sudah merasa lebih baik sekarang," jawab Oxel.


“Yang benar, tapi wajahmu mengatakan sebaliknya. Ada apa denganmu?" tanya temannya.


“Tidak ada," jawab Oxel cepat.


“Oh ya? Tapi wajahmu dari tadi meringis seperti menahan sesuatu?" curiga temannya.


“A-aku," jawab Oxel tergagap membuat temannya memicing curiga.


Sungguh rasa nyeri semalam sangat tidak main-main bahkan sampai sekarang belum hilang.


Temannya pun mendekati Oxel, kemudian sedikit menyenggol, dan menepuk punggungnya, membuat Oxel mengerang kesakitan.


“ARGHHHH!!!!" erang Oxel keras membuat temannya tersentak.


“A-ada apa denganmu? Mengapa kau berteriak?" tanya temannya tergagap.


“Jangan sentuh punggungku terlebih dahulu!" peringat Oxel.


“Memangnya kenapa? Tumben sekali kau melarang seseorang menyentuhmu?" tanyanya lagi.


“Lalu bagian mana yang boleh kusentuh?" tanya temannya lebih lanjut.


“Mana saja asal jangan punggung," jawab Oxel.


“Huh, serius mana saja? Berarti aku boleh menyentuh itu?" tanya temannya sambil menunjuk bagian selatan Oxel.


“APA YANG KAU PIKIRKAN HUH? MAU KU HAJAR, KAU?!!" bentak Oxel.


“Ampun Oxel aku hanya bercanda!" ujar temannya sambil berlari meninggalkan Oxel.


Oxel hanya menghela nafas panjang, temannya ini apa tidak bisa waras sedikit saja?


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Maria baru saja bangun dari tidur lelapnya semalam, setelah melakukan ritual mandi dia segera menuju meja makan. Disusul oleh putranya yang juga baru saja selesai kedua


mandi dan akan memulai aktivitas.


“Ahh akhirnya kita bisa makan daging-dagingan hari ini pasti anak itu sudah ke pasar pagi-pagi sekali," ujar Maria.


“Apa kita harus terus menyiksanya dan memaksa minta uang padanya?" usul Michael.


“Bukannya kita sudah melakukan hal itu setiap harinya? Tapi omong-omong dia hebat juga masih mampu bertahan setelah apa yang kita lakukan padanya," timpal Christian.


“Kita tidak bisa melakukan itu setiap hari, memang jika dia sekarat, kalian mau menggantikan tugasnya dengan sukarela?" sinis Maria pada kedua anaknya.


“Kenapa Ibu jadi membelanya?" sengit Michael.


“Ibu tidak membelanya, tapi Ibu hanya tidak ingin rugi, jika saja kau mau bekerja, dan memanfaatkan gelar sarjanamu itu, mungkin Ibu bisa saja melenyapkannya dari dulu, tapi kenyataannya? Kau malah memilih bermalas-malasan dan menjadi pengangguran abadi," sinis Maria pada Michael.


Mendengar ucapan sang ibu membuat Michael bersungut-sungut. Selalu dia yang disalahkan dan dibanding-bandingkan dengan Oxel.


Apa lagi sampai menyangkut-pautkan gelar sarjananya. Hal itu membuat Michael semakin dongkol saja.


Dari pada memperpanjang perdebatan dengan sang ibu lebih baik Michael diam dan makan saja.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Michelle hari ini sudah sampai di restoran tempat Oxel bekerja, dia sengaja sendirian ke restoran tanpa mengajak siapa pun.


Dia memesan Soupe a L' oignon dan Maleficent cocktail, padahal ini pagi hari dan pengunjung belum ramai.


Tak lama kemudian Oxel datang mengantar makanan tersebut. Wajahnya tampak sekali jika ia sedang malas, mungkin malas bertemu Michelle.


“Wajahmu nampak tidak ramah denganku," komentar Michelle.


“Apa itu sesuatu hal yang penting?" tanya Oxel tak acuh.


“Sebagai pekerja seharusnya kau bersikap ramah terhadap pelanggan, jika tidak pelanggan akan kabur karena wajahmu yang mengerikan itu," lanjut Michelle.


“Aku memang ramah pada semua orang tetapi dirimu adalah pengecualian," jawab Oxel dengan raut wajah yang menyebalkan.


Michelle hanya melongo. Oxel sangat mampu menguras habis emosinya hanya dengan kata-kata saja.


“Kau mau ke mana?" tanya Michelle.


“Tentu saja bekerja, kau pikir untuk apa, bermain sepakbola?" jawab Oxel dengan nada sinis.


“Duduk dan temani aku makan!" titah Michelle pada Oxel.


“Apa kau tidak bisa makan sendiri?" tanya Oxel.


“Aku memang tidak terbiasa makan sendiri," jawab Michelle.


“Kau tidak sendirian di sini, masih ada pengunjung lain, jadi kau tidak akan makan sendiri," jawab Oxel.


“YAK! Bukan itu maksudku," ketus Michelle.


“Masa bodoh dengan apa yang kau maksud," jawab Oxel lagi.


“Tolong temani aku makan. Bukannya kepuasan pelanggan di atas segalanya?" ujar Michelle membuat Oxel terdiam.


Mau tak mau Oxel harus mengalah pada gadis arogan ini. Dari pada urusannya panjang nanti.


Ia duduk dan menyandarkan punggungnya dengan hati-hati. Hal itu tak luput dari perhatian Michelle.


“Ikut aku!" kata Michelle sambil menarik tangan Oxel menuju mobilnya.


Oxel yang ditarik hanya pasrah saja, genggaman tangannya menguat.


Saat masuk ke dalam mobil pada kok belakang Michelle menyuruh Oxel untuk membuka bajunya.


“Buka bajumu sekarang!" perintahnya.


“U-untuk apa? Kau tidak berniat buruk padaku, kan? Astaga kau itu perempuan, Michelle!" pekik Oxel.


“Sudah buka saja dan jangan banyak bertanya!" pekik Michelle.


Oxel agak takut dibuatnya, kaum hawa memang terkadang sangat mengerikan saat sedang marah.


Tak butuh waktu lama Oxel sudah bertelanjang dada. Michelle nampak terkejut melihat punggung Oxel yang nampak lebam bahkan warnanya pun biru kehitaman.


“Sudah?" tanya Oxel.


Michelle tak menjawab dia mengeluarkan salep dari kotak obatnya untuk mengobati memar Oxel.


Perlahan dia mengoleskan obat tersebut dengan hati-hati.


“Ada apa dengan punggungmu, kenapa bisa memar begini? Lukanya pun sangat besar?" tanya Michelle.


“Aku terjatuh," jawab Oxel singkat.


“Kau tahu kau adalah pembohong yang buruk. Luka ini bukan luka karena terjatuh," ujar Michelle.


“Aku mohon jangan terlalu dalam mengulik kehidupanku, Michelle," pinta Oxel langsung.


“Kenapa?" tanya Michelle ingin tahu.


“Karena kau bukan siapa-siapaku," jawab Oxel datar.


Author POV end


Visualisasi pesanan Michelle


Soupe a L' oignon



Maleficent cocktail