He Is My Cinderella

He Is My Cinderella
Tiga belas



Happy Reading!


Author POV


Pagi ini Oxel sudah bersiap untuk berangkat menuju cafe, setelah mengantar susu dan koran, juga bersih-bersih rumah. Pekerjaan rutin yang harus dia lakukan setiap harinya, tanpa ada yang membantu.


Oxel sudah sampai cafe tempatnya bekerja, dan langsung disambut oleh para pegawai lainnya dan juga bosnya.


“Selamat pagi, selamat datang dan bergabung dengan kami," ucap salah seorang pegawai.


“Terima kasih. Aku akan berusaha, mohon kerjasamanya!" jawab Oxel sambil membungkukkan badan.


“Apa kau gugup hari ini?" tanya pemilik cafe.


“Jika aku berkata tidak, berarti aku berbohong. Tentu saja aku merasa gugup, ini adalah hari pertamaku," jelas Oxel.


“Kau pasti bisa melewatinya dengan baik. Kami tahu kau sangat ahli dalam bidang ini," ucap salah satu pegawai.


“Bagaimana kalian tahu?" tanya Oxel.


“Aku pernah meminta makanan yang dibawa oleh temanmu, kata mereka itu adalah masakanmu," jelasnya membuat Oxel diam sejenak untuk mengingat.


“Ah ternyata yang waktu itu," batin Oxel.


“Ah, aku memang pernah membuatkan makanan, untuk mereka," jelas Oxel.


“Nah, kalau begitu kau jangan merasa gugup," ujar temannya.


Mereka pun mempersiapkan semuanya sebelum cafe ini dibuka.


“Kau bisa buat dessert, seperti cake atau semacamnya?" tanya rekannya.


“Aku bisa," jawab Oxel


“Oh, baiklah kalau kau bisa, aku bisa tenang," jawab rekannya itu.


Mereka mulai mempersiapkan cafe sebelum buka.


“Semangat untuk hari ini semuanya!" ujar Oxel menyemangati teman-temannya.


Saat cafe mulai buka, benar saja sudah banyak pelanggan yang kemari. Kebanyakan dari mereka memesan roti untuk sarapan.


“Oxel, ini pesanan. pertamamu. Tolong buatkan, ya!" ujar waiters.


“Baiklah." jawab Oxel sembari mengambil secarik kertas pesanan.


“Semangat untuk pelanggan pertamamu, Oxel," ujar temannya seraya tersenyum.


Oxel langsung bergegas membuatkan pesanan. Keahliannya menjadi sorotan teman-temannya yang sama-sama bekerja di dapur.


Dia begitu lihai dan sangat cekatan dalam memasak.


Setelah memakan waktu beberapa menit, tiga pesanan sudah jadi, dia tinggal membuat minumannya.


Meski dibantu oleh rekannya, tetapi Oxel perlu memastikan sendiri bagaimana cita rasa hidangan tersebut, apakah sesuai atau tidak.


Tangannya dengan lihai meracik kopi. Bahkan teman-temannya begitu takjub melihat cara kerja Oxel yang cepat namun sangat teliti itu.


Satu hal yang mereka tahu dan mereka pahami dari sosok Oxel adalah perfeksionis.


“Nah, sudah selesai. Semuanya sudah siap!" ujar Oxel menyiapkan hidangan di meja dan membunyikan bel, tanda pesanan sudah siap.


Waiters datang dan mengambil pesanan untuk diantarkan pada pelanggan. Dan begitu seterusnya pesanan datang silih berganti.


Oxel dan timnya bekerja dengan cepat hari, ini. Ini dikarenakan cara kerja Oxel yang sangat cepat dan terampil dalam memasak, membuat rekannya mau tak mau juga menyesuaikan diri dengan cara kerja Oxel.


Beberapa waiters datang ke dapur setelah hidangan dihabiskan para pelanggan. Banyak sekali pelanggan yang meninggalkan secarik kertas.


Kertas tersebut berisi penilaian bahkan pujian yang menunjukkan rasa puas pelanggan, terhadap hidangan yang mereka pesan.


“Kau benar-benar hebat, kawan!" puji temannya dengan antusias.


“Aku bisa seperti ini, bukan karena hasil kerja kerasku saja, tapi juga dibantu dengan kerja keras kalian," jawab Oxel merendah.


“Tapi kami juga mencoba masakan buatanmu tadi dan rasanya sangat enak," ujar rekannya yang lain.


“Bagiku kepuasan pelanggan itu adalah yang terpenting. Rasanya aku bahagia jika seseorang bahagia karena masakan buatanku," jelas Oxel.


“So sweet sekali, Oxel kita ini," celetuk temannya.


“Baiklah, ayo mulai bekerja lagi!"ujar Oxel pada timnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Michelle, Jimmy, dan Zanetta telah sampai di kantor. Mereka langsung menuju ruangan masing-masing.


“Ah, sarapan yang memuaskan. Aku tak menyangka jika rotinya seenak itu," ujar Michelle.


“Kau benar, panekuknya sangat lembut. Benar-benar memuaskan!" sahut Zanetta.


“Aku memesan American breakfast. Dengan roti, telur, dan bacon. Rasanya benar-benar seperti restoran bintang lima,"ujar Jimmy.


“Yang aku dengar dari para pengunjung lain tadi, juru masak di cafe itu adalah juru masak yang baru, karena yang sebelumnya telah mengundurkan diri," jelas Zanetta.


“Tak kusangka telingamu cukup tajam hanya untuk mendengarkan gosip-gosip terkini," ujar Jimmy terkekeh.


“Aku hanya mendengar bisik-bisik pengunjung secara tidak sengaja," elak Zanetta.


“Aku jadi ingin makan di tempat itu lagi," ujar Michelle.


“Wow!" kaget Zanetta dan Jimmy.


“Ada apa?" tanya Michelle bingung.


”Seorang Michelle Pauline, mau makan di tempat lain selain kantin kantornya? Tidak bisa dipercaya!" ujar Zanetta.


“Sebuah kemajuan yang pesat," Jimmy menambahkan.


“Karena makanan di sana betul-betul enak, dan sepertinya aku memiliki idola baru, ya cafe itu adalah tempat favoritku sekarang."jelas Michelle sambil tersenyum riang. Dia berjalan menuju ruangannya.


“Ada apa dengan sahabatmu, Jimmy?" tanya Zanetta dengan berbisik.


“Sahabatku adalah sahabatmu juga, jika kau lupa," balas Jimmy. seolah tersadar Jimmy langsung berlari menyusul Michelle masuk ruangan.


“TUNGGU AKU!" teriaknya.


Sementara Zanetta hanya menggelengkan kepala melihat tingkah kedua sahabatnya yang konyol dan segera menuju ke ruangannya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Michelle meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku setelah menunduk terus, karena memeriksa dokumen yang harus ditandatangani.


“Ah sial! Badanku kaku semua. Bisa-bisa aku mengalami penuaan dini dan tubuhku akan seperti nenek-nenek yang sering mengalami sakit pinggang," gerutu Michelle.


“Olah raga adalah solusi yang terbaik," Jimmy memberikan saran.


“Kau bisa mengambil cuti jika kau mau, dan manfaatkan waktu untuk beristirahat sekaligus olah raga," jawab Jimmy.


“Lalu siapa yang akan mengerjakan tugas ini?" tanya Michelle.


“Papamu, atau aku juga bisa membantunya. Lagipula papamu juga tidak pernah memaksamu untuk lembur," ujar Jimmy.


“Papa memang tidak memaksaku untuk lembur, tapi jika tidak segera diselesaikan pekerjaan ini akan semakin menumpuk dan membuat kepalaku pecah," jelas Michelle.


“Turut berdukacita, jika itu benar terjadi," ucap Jimmy asal.


“Dasar paman tua, cari kekasih sana, supaya ada yang bisa mengontrol mulut pedasmu,"ujar Michelle kesal.


“Inginnya begitu, tapi kalian yang masih mengikatku sehingga aku belum memiliki kekasih, apalagi kau," balas Jimmy sembari menyeringai penuh ejekan.


“KELUAR DARI RUANGANKU!" teriak Michelle murka. Seketika Jimmy berlari secepat kilat, tak lupa menutup pintu ruangan Michelle.


“Huh, Dia tidak pernah berubah, selalu saja galak. Jika begitu aku yakin sekali bahwa semua pria akan kabur bahkan sebelum mendekatinya," gumam Jimmy.


Sementara di dalam ruangan, Michelle menghembuskan nafas kasar.


“Bukannya berusaha menghibur, malah membuatku emosi, cih," ujar Michelle seraya berdecih.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Waktu menunjukkan tengah hari, saatnya istirahat makan siang. Oxel berhenti sejenak. Hari pertama saja sudah membuatnya selelah ini.


“Kau lelah?" tanya rekannya.


“Tentu saja, kau pun pasti juga sama lelahnya," jawab Oxel.


“Makan sianglah terlebih dulu sebelum lanjut bekerja," saran rekannya itu.


“Aku tidak tahu, jika pesanannya akan sebanyak ini," ucap Oxel.


“Padahal biasanya tidak pernah," sahut rekannya.


“Eh? Tidak mungkin jika tidak ramai. Cafe ini selalu ramai yang aku tahu," ucap Oxel.


“Hanya sebagai tempat singgah dan untuk bersantai sembari minum kopi saja," jelas rekannya.


“Ada sih yang pesan makanan tapi tidak banyak juga," sambungnya lagi.


“Mungkin karena waktu istirahat terbatas jadi mereka enggan memesan makanan. Kalau pun ada, mereka pasti akan pesan sesuatu yang simpel," jelas Oxel.


“Oxel ada pesanan lagi untukmu!" ujar seorang waiters.


“Baiklah!" jawab Oxel dan mengambil secarik kertas pesanan, kemudian membacanya.


“Apa bahan-bahannya masih ada?" tanya Oxel pada rekannya.


“Sebentar biar aku cek, tapi seingatku, sih masih ada." jawab rekannya itu, kemudian mengecek persediaan bahan yang diperlukan.


Tak lama kemudian temannya kembali lagi membawa bahan yang dibutuhkan Oxel.


“Terima kasih." ujarnya kemudian mulai bekerja membuat pesanan. Sebenarnya menu pesanan ini, tidaklah sulit bagi Oxel.


Tapi proses pembuatannya yang sedikit memakan waktu. Maka ia putuskan untuk membuat keduanya secara bersamaan, mungkin sambil menunggu.


“Bagaimana kau akan membuatnya?" tanya rekannya.


“Aku akan membuatnya bersamaan. Tapi tolong bantu aku mengawasi, supaya hidangan tersebut tidak gagal!" pinta Oxel.


“Baik!" jawab mereka.


“Apa sebelumnya ada yang memesan es krim atau sejenisnya?" tanya Oxel sembari mengolah buah-buahan.


“Ada, tapi jarang," jawab rekannya.


“Ah... sepertinya lain kali kita harus stok es krim, atau apalah yang sejenisnya, supaya tidak semerepotkan ini," saran Oxel.


“Baiklah," jawab temannya.


Hidangan pertama sudah selesai tinggal menunggu dingin saja, setelahnya Oxel lanjut membuat hidangan kedua.


Hidangan yang kedua terkesan lebih simpel dan tidak memakan banyak waktu seperti tadi.


Oxel sengaja membuat lebih agar ia bisa memastikan rasanya.


“Hmm... Sempurna!" gumam Oxel setelah masakannya siap. Ada rasa puas di hati Oxel, ketika masakannya sesuai dengan ekspektasinya.


Tinggal menyiapkan minuman saja, minuman itu sudah disiapkan rekannya tapi dia tetap memastikan rasanya.


Beberapa menit kemudian, hidangan tersebut sudah jadi dan siap untuk dihidangkan. Sebelumnya Oxel sudah melakukan platting.


“Pesanan siap!" ujar Oxel sembari membunyikan bel.


Waiters tersebut datang untuk mengambil pesanan dan mengantarkan ke meja pelanggan.


Oxel menghela nafas. Bekerja di dapur ternyata melelahkan, tapi ia menyukainya.


Author POV end


Visualisasi pesanan sarapan


Michelle




French toast & Latte Coffe


Zanetta




Vietnamese Coffee & Classic Pancakes


Jimmy




Sandwich with bacon & egg and hot American Coffe


Visualisasi pesanan yang dibuat Oxel