
Happy Reading
Oxel POV
Ternyata pagi sudah menyapa, aku hanya punya waktu yang sangat sedikit untuk beristirahat. Walau gajiku lebih baik dari pada sebelumnya, tetapi rasanya semua masih sama. Aku tak bisa menikmati sebagian hasil dari jerih payahku sendiri.
Hari ini aku tidak akan ke restoran karena sedang libur, itu artinya aku melakukan pekerjaan rumah yang mungkin bisa dua kali lipat dari biasanya.
Seperti saat ini salah satunya.
“Oxel, jangan lupa seterika bajunya nanti, ah dan cuci sepatuku juga, sepatu itu sudah kotor dan sudah lama sekali tidak dicuci!" kata Michael.
Bocah bonsai itu selalu seenaknya saja padaku.
“Oh iya, apakah kau memiliki uang? Aku akan pergi hari ini, aku minta, ya?" pintanya padaku begitu saja.
Aku hanya diam, terlalu malas meladeni omongannya, jika nanti salah bicara, aku pasti akan dihajar olehnya dasar bocah tak tahu diri.
“YA! KAU MENDENGARKU TIDAK, SIH?!" tanya Michael. Bocah ini memang memiliki tempramen yang buruk.
Akhirnya ku keluarkan uang dari sakuku dan memberikan beberapa lembar uang padanya. Kemudian Michael menerima uang yang kuberikan padanya.
Matanya memicing tak senang mulut hanya bergumam penuh kekesalan dan bertanya, “Hanya segini?"
Ya Tuhan apa dia tidak tahu caranya bersyukur? Kenapa dia masih saja protes karena nominal uang yang sedikit?
“Seharusnya kau bersyukur aku masih memberimu uang yang kau butuhkan, dari pada tidak sama sekali," jawabku pada Michael.
Kulihat wajah Michael yang menjadi sedikit keruh karena ucapanku. Kutinggalkan ia, aku masih punya pekerjaan lain.
Aku mulai dari mencuci baju, dilanjutkan dengan mencuci sepatu yang entah warnanya berubah menjadi tidak jelas ini, setelah itu masih dengan menyeterika pakaian kemarin, baru kemudian memasak, dan mengepel lantai.
Setiap pagi aku mencuci baju yang tak terhitung banyaknya ini. Mereka ini mempunyai kesibukan apa kira-kira, kenapa mereka masih bersikap layaknya artis papan atas yang suka sekali bergonta-ganti pakaian?
Hum, jika aku merasa lelah dan kesepian seperti ini, hanya Vick yang mampu mengerti aku. Anjing lucu itu adalah peliharaan sekaligus teman terbaik.
Beruntung Maria masih memberikan kesempatan padaku untuk memelihara dan merawat anjing kesayanganku.
Vick sangat besar, tapi kami sering tidur bersama. Ya, kami memang sekamar. Tidak hanya itu, saat aku sedang menyelesaikan pekerjaan rumah tangga seperti ini dia selalu menemaniku, bahkan tak jarang sering membantu.
Aku begitu mencintai Vick yang sudah kuanggap seperti anakku sendiri, hadiah pemberian dari ayah satu-satunya yang tersisa.
Mari kita bertahan lebih lama lagi, Vick aku yakin kita pasti bisa melewatinya.
Oxel POV end
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Author POV
Selepas Oxel menyelesaikan pekerjaan rumahnya, Oxel kemudian bergegas keluar sembari membawa Vick untuk berjalan-jalan menikmati sinar matahari pagi.
“Mari kita melihat pemandangan luar, Vick. Maafkan aku karena jarang mengajakmu keluar akhir-akhir ini, aku sibuk," kata Oxel.
“Guk.... guk...." jawab anjing itu dengan menggonggong seolah mengerti apa yang diucapkan oleh Oxel.
Mereka berjalan sebentar menyusuri taman sebelum pergi ke toko bunga.
Banyak pengunjung yang mendatangi taman itu hanya sekedar untuk lari pagi atau hanya sekedar bersantai bersama hewan peliharaan mereka.
Setelah dirasa cukup, Oxel pun lanjut pergi ke toko bunga milik bibi, tak lupa mengajak Vick untuk ikut serta.
Tiba di sana, Oxel langsung masuk diikuti oleh Vick yang berada di belakangnya.
Dara yang melihat Oxel datang dengan Vick merasa terkejut hingga berteriak kegirangan, “Wah! Oxel dan Vick, apa kabar? Terutama kau Vick ya, ampun aku sangat merindukanmu."
Oxel hanya terkekeh melihat tingkah Dara. Tak hanya Dara bahkan pegawai yang lain seperti Celine dan kawan-kawan juga antusias dengan kedatangan Vick si anjing besar berbulu lebat itu.
“Lihat siapa yang datang setelah lama tak menampakkan batang hidungnya?" ujar Sean dengan sedikit sindiran.
“Vick sangat rindu tempat ini dan juga merindukan kalian, jadi aku mengajaknya kemari," jelas Oxel.
“Aku juga merindukan Vick yang pintar ini. Halo, nak lama tak jumpa. Apakah ayahmu rajin memberimu makan?" ujar Sean sembari mengelus kepala anjing itu dengan sayang.
Anjing itu menyamankan diri di bawah usapan tangan Sean.
“Uhh... gemasnya," ujar Sasha.
“Kakak sudah lama pelihara?" tanya Laura.
“Kami tumbuh bersama sejak kecil. Hanya dialah temanku saat di rumah," jelas Oxel.
“Wah! Vick sangat besar ternyata, tapi dia terlihat jinak," kagum Danielle.
“Kalian terlihat sibuk sekali, tapi sangat lesu, ada apa?" tanya Oxel.
“Sebenarnya kami ada pesanan rangkaian bunga namun temannya adalah binatang, kami bingung harus membuat apa?" ujar Sean.
Oxel hanya mengangguk, kemudian bertanya, “Bisa aku pinjam kertas dan alat tulis? Biar aku bantu gambarkan." ujar Oxel.
Danielle langsung mengambil kertas dan alat tulis untuk diberikan pada Oxel.
“Ini, kak." kata Danielle sambil memberikan alat tulis serta kertas.
Oxel mulai menggambar sketsa untuk rangkaian bunga, Oxel sangat serius hingga memperhatikan setiap detail gambar rancangannya.
Setelah memakan beberapa waktu akhirnya sketsa Oxel pun jadi. Sebuah burung merak.
“Nah, sudah jadi. Bagaimana kalau kita membuat ini saja?" usul Oxel.
“Kau memang jenius, sobat," puji Sean.
“Luar biasa! Sketsa yang sangat menakjubkan! Oxel kita memang pandai dalam segala hal termasuk melukis juga," puji Dara dan Sean.
“Cepatlah ini akan membutuhkan banyak waktu, kita harus memesan bahan-bahan ini. Tapi sayangnya, aku tak bisa berjanji aku bisa membantu atau tidak," kata Oxel.
“Mampirlah kemari jika sempat. Kami membutuhkan bantuanmu," ujar Sean.
“Semoga aku bisa, aku datang kemari karena restoran tempatku bekerja sedang libur saat ini," jelas Oxel.
“Pantas, kau kemari. Tapi kuharap kau bisa membantu, Oxel," ujar Dara berharap.
Oxel mengangguk dia mulai membantu menjadi florist di toko bunga milik bibi. Ternyata ada banyak pesanan.
Oxel mulai membuat kerangka sebelum menghias dengan bunga.
Sementara Sean dan beberapa pegawai lain berbelanja bahan lain untuk membuat rangkaian bunga rancangan Oxel.
Vick pun tidak hanya diam saja, hewan menggemaskan itu juga membantu membawa keranjang dengan mengigit pegangan pada keranjang.
“Kau sangat pintar, Vick!" puji Celine.
“Tentu saja, karena dia adalah anjingku, dia harus pintar," jawab Oxel menyombongkan anjingnya.
Hal itu membuat Celine memutar malas bola matanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat semua bahan telah siap, Oxel pun mengajarkan sedikit cara membuat kerangka dan cara menata bunganya pada pegawai yang lebih muda.
“Kalian sudah paham bukan?" tanya Oxel.
”Siap! Kami sudah paham, kak," jawab Celine.
Oxel hanya tersenyum seraya mengacak surai Celine, kemudian bergabung dengan Sean dan yang lain.
Celine hanya terdiam dan merasa malu. Wajahnya memanas, pipinya muncul semburat merah.
Tanpa mereka sadari, sedari tadi kegiatan mereka tak luput dari perhatian Dara. Hatinya terasa panas, melihat Oxel terlalu dekat dengan perempuan lain.
Oxel langsung memotong dan membentuk sebuah bahan menjadi kerangka burung merak.
“Ini akan memakan banyak waktu, ternyata sulit juga, ya?" ujar Sean.
“Hm.. semoga saja hasilnya sesuai ekspektasi kita," jawab Oxel.
“Kita harus lembur jika begitu," putus Sean kemudian.
“Aku akan membantu semampuku, sobat," ujar Oxel sambil tersenyum.
“Kau tak pulang untuk memasak makan siang?" tanya Sean.
“Sepertinya mereka pergi hari ini, jadi aku tak perlu memasak untuk mereka," jelas Oxel.
“Sungguh? Mereka semua sudah bisa berpergian hari ini?!" tanya Sean tak percaya.
“Setelah aku bekerja di restoran dengan upah yang layak, mereka semakin menjadi, seperti keluarga kelas atas, sering pergi keluar dengan teman-temannya," jelas Oxel.
“Wah! Jadi mereka berlagak seperti selebritis begitu? Atau seorang miliarder?" tanya Sean.
“Kurang lebih seperti itu," jawab Oxel.
Mereka terus saja bekerja lembur, meski begitu Oxel juga tak lupa untuk memberi makan Vick.
Tak terasa hari sudah mulai petang. Bibi pun menyuruh mereka untuk beristirahat sejenak karena makan malam.
“Kenapa bibi tak memberi tahu? Kan, aku bisa membantu Bibi memasak," ujar Oxel kesal dengan wajah cemberutnya.
“Aku tahu kau sibuk membantu mereka untuk membuat rancanganmu, maka dari itu, aku memasaknya sendiri," jawab bibi.
Mereka berhenti sejenak dan makan malam bersama. Sesekali mengobrol ringan antara satu dengan yang lain, sebelum melanjutkan pekerjaan kembali.
Setelah makan malam Oxel pun membantu membereskan dan mencuci piring sebelum melanjutkan pekerjaan.
Setelah selesai Oxel kembali bergabung untuk menyusun kerangka.
Hingga malam mulai larut dan semua pegawai sudah merasakan lelah, mereka pun menyudahi kegiatan mereka.
“Kita lanjutkan besok pagi, sebelum berangkat ke restoran aku akan mampir ke mari," ujar Oxel.
“Baiklah, kita lanjutkan besok. Kita bereskan alat-alatnya," ujar Sean pada pegawai lain dan mereka pun segera membereskan alatnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Oxel kembali pulang dengan Vick. Rumahnya nampak sepi, saat masuk ke dalam rumah pun Oxel tak menemukan siapapun.
“Apa mereka masih pergi?" gumam Oxel.
Oxel pun segera membersihkan diri. Sebelum tidur.
Selesai membersihkan diri Oxel pun tidur. Tak lupa Vick sudah menyamankan diri di lantai kamar Oxel.
Author POV end
Oxel dan Vick
Sketsa rancangan Oxel.