He Is My Cinderella

He Is My Cinderella
Sembilan



Happy Reading!


Author POV


Suatu pagi. Zanetta hampir saja terlambat bekerja. Meski atasannya tersebut selalu memiliki kebiasaan datang sangat pagi, menurut Zanetta, tapi bosnya ini masih bisa mentolerir pegawai yang datang setelah dirinya.


“Ah untung saja masih ada sisa 5 menit." ujarnya sambil mengelus dada.


“Dari mana saja kau? Bukankah kemarin kau tidak lembur?" tanya sahabat yang sekaligus bosnya.


“Ah, si Bos. Selamat pagi. Tentu saja aku dari rumah, Bos," jawab Zanetta dengan senyum yang dibuat-buat.


“Lalu kenapa kau hampir terlambat?" tanya bosnya.


“Jalanan sedang macet, maaf ya Bosku yang cantik jelita," jawab Zanetta mencoba merayu.


“Betul, kah? Bukan karena maraton nonton drama, kan?" tanya bosnya penuh selidik.


“Eh? Bukan Michelle, sayang. Aku tidak maraton menonton drama lagi kali ini. Percayalah padaku," ujarnya dengan tatapan dan raut wajah yang memelas.


Michelle hanya berdecak. Dia tahu jika sahabatnya satu ini hanya beralasan saja, karena dia tahu kebiasaan sahabatnya satu ini.


“Baiklah. Tapi jika kau terlambat aku tidak akan segan-segan untuk memecatmu," ujar Michelle.


“YAH!!! Jangan lakukan itu. Aku, kan sahabatmu, kau tega sekali," ucap Zanetta.


“Jika tidak begitu, kau tidak menghilangkan kebiasaan burukmu. Sudah tahu besok adalah hari kerja, tetapi masih saja menonton drama hingga dini hari," cibir Michelle.


“Iya-iya. Sudah sana kau bekerja saja. Apa kau berniat jadi pengangguran?" tanya Zanetta sekaligus menyindir.


“Kau berani mengataiku seorang pengangguran? Hebat sekali! Tidakkah kau ingat, aku yang akan membayar gajimu?" ujar Michelle.


“Hehehe... Jangan marah Michelle, aku hanya bercanda. Sungguh!" ujar Zanetta cengengesan.


Michelle hanya memutar bola mata, kala melihat kelakuan sang sahabat.


“Kebiasaan," pikirnya.


Michelle kembali ke ruangannya dan kembali bekerja, begitupun dengan Zanetta yang saat ini sedang bekerja di bagian desain.


“Selamat pagi, Nona," sapa Jimmy.


“Jimmy, jangan memanggilku Nona. Bukankah aku, kau, dan Zanetta adalah sahabat?" ujar Michelle dengan wajah kesal.


“Ha-ha-ha... Itu jika di luar. Tapi ini adalah lingkungan kantor. Kau adalah bosku."


“Menyebalkan," gerutu Michelle.


“Aku tidak peduli. Oh aku sudah menyiapkan roti cokelat panggang dan segelas kopi latte untukmu," ujar Jimmy kemudian.


“Ya, lalu apa jadwal hari ini?" tanya Michelle.


Dan Jimmy pun menjelaskan jadwal agenda yang harus dipenuhi Michelle hari ini.


“Huh, sangat melelahkan sepertinya," ucap Michelle. Pandangannya mengarah ke jendela besar yang ada di belakangnya.


“Mau bagaimana lagi? Kau ini pewaris tunggal. Sudah pasti semua ini akan menjadi tanggung jawabmu kelak," jawab Jimmy.


“Baiklah. Mari kita mulai bekerja," ujar Michelle.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Waktu menunjukkan jam makan siang. Saat ini Michelle, Zanetta, dan Jimmy sedang makan siang bersama. Michelle dan Jimmy memandang Zanetta, dengan pandangan penuh tanya.


Pasalnya Zanetta saat ini tengah sibuk sendiri dan sempat uring-uringan hanya dengan melihat ponselnya.


“Netta, kau baik-baik saja?" tanya Jimmy.


Mendengar suara Jimmy, Zanetta pun mengalihkan pandangannya.


“Aku baik. Apalagi jika melihat senyumanmu yang menyejukkan bagaikan embun pagi," jawab Zanetta sembari tersenyum manis pada Jimmy.


Sontak wajah Jimmy memerah karenanya, sementara Michelle hanya menahan tawa.


“Ya.. kau membuat Jimmy memerah, kau tahu? Ha-ha-ha..." tawa Michelle meledak.


Jimmy hanya bisa diam. Dia tengah merasa malu saat ini, semua ini gara-gara sahabatnya yang senang menggodanya di tempat umum.


Ck.. temannya ini memanglah sesuatu.


“Sebenarnya apa yang kau ributkan di ponselmu sedari tadi?" tanya Michelle penasaran.


“Aku hanya membuka aplikasi sosial media, hendak mencari akun seseorang,"jawab Zanetta.


“Kali ini siapa yang kau incar?" tanya Jimmy.


“Kenapa pertanyaanmu seperti itu? Seolah-olah aku ini seperti wanita yang tak baik, yang suka mengincar para pria," protes Zanetta.


“Maaf bukan itu maksudku, tapi gelagatmu sangat mencurigakan," sahut Jimmy.


“Sudahlah, kalian jangan bertengkar," Michelle menengahi.


“Tapi aku benar, kan? Kau mencari akun seorang pria?" tanya Jimmy.


“Aku, ya pokoknya aku sedang mencari seseorang," jelas Zanetta.


Michelle dan Jimmy saling pandang, kemudian hanya menghembuskan nafas pelan.


“Memang kau mencari akun seseorang itu untuk apa?"


“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin tahu," jawab Zanetta.


Michelle dan Jimmy hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Zanetta.


“Zanetta dan kelakuan anehnya memang satu paket yang tak terpisahkan," batin mereka berdua.


Usai istirahat mereka kembali bekerja. Michelle dan Jimmy menghela nafas karena mereka baru saja menyelesaikan meeting pada pagi hari, siangnya mereka disibukkan dengan dokumen-dokumen yang mampu mencekik leher.


“Kapan ini semua akan berakhir?"


“Tidak tahu."


“Aku ingin libur," keluh Michelle.


“Aku juga sama. Aku rasa aku juga akan mengalami penuaan lebih cepat," jawab Jimmy.


“Kau memang yang paling tua di antara kami. Itu sudah menjadi takdirmu," sahut Michelle dengan mata tertutup.


“Dan aku harus menjaga adik-adik yang aneh seperti kalian. Yah, ini sepertinya sudah menjadi jalan takdirku," jawab Jimmy.


“Terima saja apa yang jadi takdirmu," ujar Michelle.


“Kuharap kalian berdua segera menikah," kata Jimmy.


“Setidaknya akan ada yang menjagamu. Tidak selamanya orang tuamu bisa selalu menjagamu, Michelle," nasehat Jimmy.


Michelle terdiam. Ucapan Jimmy seakan menyentil hatinya.


“Aku hanya ingin berkarir. ketika aku tua besok, mungkin aku akan tinggal di panti jompo," jawab Michelle sambil menerawang jauh.


Jimmy hanya menghela nafas berat. Selalu seperti itu jawaban Michelle jika disinggung tentang pernikahan. Dia hanya berharap ada yang lelaki yang mampu menjaga sahabat sekaligus adiknya itu.


“Lalu bagaimana jika aku menikah?" tanya Jimmy tiba-tiba.


Seketika atensi Michelle beralih pada Jimmy.


“Kau.. menikah? Sungguh?! dengan siapa? Dan kenapa kau tak memberitahu kami?" tanya Michelle berturut-turut.


“Ini hanya berandai-andai. Jika aku menikah bagaimana tanggapan kalian?" tanya Jimmy sekali lagi.


“Jika memang seperti itu, kami tak akan mengganggumu lagi. Karena bagaimanapun juga kau sudah beristri," jawab Michelle pada akhirnya.


“Tapi aku tak yakin, kalian bisa hidup tanpaku," jawab Jimmy cuek.


Michelle hanya mendengus. Dia pasti selalu kalah jika berdebat dengan Jimmy. Tidak hanya dirinya, Zanetta pun juga demikian. Tak heran bila Zanetta terkadang bisa marah tidak jelas hanya karena berdebat dengan Jimmy.


Otak Jimmy terlalu cerdas, selain itu dia sosok yang paling dewasa di antara mereka bertiga.


Tak heran jika Michelle dan Zanetta masih bergantung pada Jimmy, layaknya seorang adik yang bergantung pada kakaknya.


“Cepatlah menikah, Michelle. Jika tidak sudah dipastikan, aku akan melajang seumur hidupku," ucap Jimmy.


“Sabar, dong. Aku belum ada jodohnya. Belum menemukan mana yang cocok untukku," jawab Michelle tak mau kalah.


“Jika kau tak mencari, lantas kapan kau bisa menemukan jodohmu? Kau pikir jodohmu turun dari langit begitu saja?!" ujar Jimmy menatap Michelle sengit.


“Entahlah, aku mungkin butuh 10 tahun lagi untuk menikah," jawab Michelle.


“Oh, malangnya diriku. Aku akan menjadi lajang karatan jika begitu," ucap Jimmy pasrah.


“Walaupun kau melajang seumur hidupmu, kau masih tetap tampan saat usia sudah menua," jelas Michelle.


“Michelle, kau tahu bukan, jika kebutuhan biologis seorang laki-laki lebih tinggi dibandingkan perempuan?" tanya Jimmy tiba-tiba.


Michelle melihat Jimmy tak percaya, ia sampai membelalakkan matanya.


“Sial, jadi kau ingin cepat menikah hanya untuk menuntaskan kebutuhan biologismu?!" tanya Michelle tak percaya.


“Tentu saja tidak. Tapi itu termasuk, sih," jawab Jimmy dengan nada yang—yah begitulah.


Michelle hanya mengurut pelipisnya yang serasa berdenyut, terlalu banyak berdebat dengan Jimmy, membuat kepalanya serasa ingin meledak.


“Aku bisa mengalami penuaan lebih cepat, jika terlalu banyak berdebat denganmu," ucap Michelle.


“Aku tak menyuruhmu untuk mendebatku. Salah sendiri kau selalu menjawab ucapanku," jawab Jimmy tak mau tahu.


“Itu karena kau terus bertanya," jawab Michelle kesal.


“Hehe.." Jimmy hanya terkekeh geli dengan wajah tanpa dosa.


...****************...


Jam kantor telah usai. Beberapa karyawan sudah banyak yang pulang, namun ada juga yang masih lembur. Salah satunya Zanetta ini. Tak hanya Zanetta, Jimmy sang sekretaris dan Michelle selaku CEO pun turut lembur.


“Kita mau langsung pulang atau mampir terlebih dahulu?" tanya Jimmy.


“Bagaimana kalau kita mampir dulu ke cafe?" usul Zanetta.


Michelle dan Jimmy mengiyakan usul Zanetta. Tidak ada salahnya mampir dahulu sebelum pulang ke rumah masing-masing.


Dan begitulah singkat cerita bagaimana seorang Zanetta bisa bertemu dengan Oxel kembali.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Saat Oxel turun dari panggung dan menghampiri Sean dan juga Dara, tiba-tiba Zanetta datang dan menghampiri.


“Hai Oxel, kita bertemu lagi," sapa Zanetta. Oxel merasa terkejut, Jimmy dan Michelle hanya menepuk dahi mereka, sedangkan Sean dan Dara hanya menatap dengan pandangan bingung.


“Kau?!" ujar Oxel.


“Iya ini aku, apa kau mengingatku?" tanya Zanetta.


“Oxel, siapa dia?" tanya Dara.


“Ah, dia—eh maksudku Nona ini, aku tak sengaja bertemu dengannya saat sedang mengantar koran dan susu," jelas Oxel.


“Jangan bilang Nona ini ada hubungannya dengan kondisimu sekarang, hingga kau tak bisa mengantar susu dan koran?" tebak Sean.


Melihat situasi Zanetta terdesak, membuat Jimmy dan Michelle menghampiri Zanetta.


“Apa maksudmu menuduh teman kami?!" tanya Michelle tak terima.


“STOP!!!" teriak Zanetta. Membuat mereka terdiam.


“Iya, aku memang tak sengaja menabraknya waktu itu, karena aku mengantuk. Aku juga sudah akan bertanggung jawab pada Oxel, tetapi ia malah menolak bantuanku," jelas Zanetta.


Jimmy dan Michelle hanya menghela nafas berat. Temannya satu ini memang sangat ceroboh 24/7.


“Sudahlah jangan menyalahkan Nona ini. Aku tak apa. Sekarang ayo kita pulang!" ajak Oxel pada Dara dan Sean.


Mereka pun beranjak. Saat hendak meninggalkan cafe, tiba-tiba suara Zanetta menginterupsi mereka.


“Oxel, bolehkah aku meminta nomor ponselmu?" pinta Zanetta, membuat Oxel memberhentikan langkahnya.


“Untuk apa?" tanya Oxel.


“Supaya kita bisa mengenal lebih jauh,"jawab Zanetta yakin.


Oxel hanya berbalik badan dan menatap Zanetta seraya berkata, “Maaf aku tidak terbiasa dekat dengan orang asing."


Lalu Oxel mulai keluar dengan jalan terpincang-pincang, diikuti Sean dan Dara di belakangnya.


Sementara Zanetta hanya terpaku akan kalimat tegas Oxel.


Author POV end


Jimmy Sebastian



Michelle Pauline