He Is My Cinderella

He Is My Cinderella
Tiga puluh lima



Happy Reading!


Author POV


Michelle baru saja sampai di kantornya, dia terlihat sangat buru-buru sekali, ia segera ingin menemui seseorang. Segera saja dia memasuki ruangannya dan menutup pintu seraya membanting dengan keras, membuat Jimmy yang sedang menonton film di ponselnya terkejut.


“Dari pada bakat terpendam yang kau miliki tak pernah terasah, aku sarankan kau mengikuti kejuaraan gulat saja," Jimmy memberi saran.


“Kau pikir aku ini apa?" tanya Michelle tak senang.


“Tentu saja kau manusia, semua orang jika melihatmu juga sadar dan mengerti bahwa kau seorang manusia, Michi," jawab Jimmy.


Jawaban Jimmy membuat Michelle mengerutkan keningnya, “Lupakan pembahasan tidak penting ini! Aku butuh bantuanmu."


Mendengar penuturan Michelle, membuat Jimmy menegakan badannya. Sepertinya sahabat dengan otak yang terkadang berkapasitas ¼ sendok pudding ini sedang serius.


“Apa yang kau inginkan dari lajang karatan sepertiku ini?" jawab Jimmy dengan ekspresi memelas.


“Bisakah kau mencarikan data Oxel untukku secara detail?" pinta Michelle.


Mata Jimmy membola mendengar permintaan Michelle, dia tidak menyangka sahabatnya ini mampu bersikap agresif bahkan sangat.


“Aku tidak menyangka bahwa kau bisa gerak cepat juga ketimbang Netta," jawab Jimmy.


“Tidak perlu banyak bertanya, yang jelas ini penting sekali untukku, karena aku baru saja menyaksikan sebuah kejadian tadi pagi," jelas Michelle.


“Kejadian apa?" tanya Jimmy lagi.


“Sebenarnya bukan menyaksikan, lebih tepatnya tak sengaja mendengar bahwa Oxel dimaki-maki oleh ibunya saat pulang ke rumah," jelas Michelle lebih lanjut.


“Dimaki-maki oleh ibu sendiri? Karena apa? Dan bagaimana kau tahu?" tanya Jimmy menuntut.


“Ceritanya panjang, intinya dia dimaki-maki, karena Oxel kehabisan uang dan ibunya meminta dengan cara memaksa, selain itu dari yang aku dengar, dia dipaksa untuk mengerjakan pekerjaan rumah, padahal Oxel meminta waktu untuk istirahat sebentar, tapi ibunya tak mengizinkannya."


Jimmy masih diam, dia masih setia mendengarkan, menurutnya cerita Michelle sedikit menarik, jiwa gosipnya meronta-ronta seakan ingin meledak dan minta dilepaskan.


“Dan kau tahu? Ibunya berbicara dengan berteriak maka dari itu aku bisa dengar, selain itu rumah tempat tinggal Oxel, berada di pemukiman kumuh," jelas Michelle panjang lebar.


“Seperti anak tiri saja, dijadikan pembantu di rumah sendiri dan tidak diberikan istirahat," komentar Jimmy.


“Maka dari itu, tidak mungkin bukan kalau ibu kandung tega berbuat semena-mena pada anak sendiri? Jadi, bisakah mencarikan datanya secara detail untukku?" pinta Michelle sekali lagi.


“Akan aku lakukan untukmu, Nona muda." jawab Jimmy kemudian bergegas untuk mulai pekerjaan. Begitu pun dengan Michelle.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Oxel berjalan-jalan menyusuri taman bersama Vick. Keadaan taman tidak seramai biasanya karena ini bukan weekend.


“Kau tahu Vick? Aku lebih suka suasana sepi dan tenang seperti ini, rasanya aku bisa mengistirahatkan diriku meski hanya sejenak," kata Oxel pada anjing kesayangannya itu.


Memang Oxel bisa merasakan sedikit tenang dan bisa melupakan masalah ibunya sejenak, meski Oxel tak pernah mengatakan bahwa Maria sudah dianggapnya sebagai ibunya sendiri.


Entah kapan mereka semua bisa melihat niat tulus Oxel pada mereka, karena Oxel sangat berharap sekali pada Tuhan agar mata hati mereka segera terbuka, walau tak memaksa, tapi harapan itu akan terus ada.


“Kapan hidupku benar-benar bahagia? Kenapa Tuhan seperti meninggalkan aku? Apa aku salah dengan kedua saudaraku dan juga ibuku?" batin Oxel bertanya.


Oxel yang tengah melamun sambil duduk di bangku taman di bawah sebuah pohon yang rindang, tidak menyadari bahwa ada seseorang yang mendatanginya.


Seorang wanita, ya dia menghampiri Oxel dan berdiri di hadapannya, sampai Vick menggonggong karena merasa asing dengan wanita itu karena mereka belum pernah bertemu.


Akan tetapi wanita tersebut juga tidak mengabaikan keberadaan Vick yang sangat lucu dan menarik perhatian itu.


“Halo, anak manis, aku Zanetta. Apa Oxel adalah pemilikmu, hmm?" tanya Zanetta. Ya, entah keberuntungan dari mana yang ia peroleh sehingga ia bisa bertemu Oxel hari ini.


“GUK!... GUK!..." gonggong Vick seolah mengiyakan. Zanetta tersenyum seraya mengusap kepala Vick dengan gemas.


Zanetta mengamati Oxel dan mengira bahwa Oxel tengah melamun, terbukti dengan dia tidak menggubris gonggongan Vick yang keras.


“Apa yang kau lamunkan?" tanya Zanetta seraya menepuk pundak Oxel hingga Oxel terkejut.


“Zanetta?" beo Oxel.


“Aku tak sengaja lewat taman saat hendak berangkat ke kantor, dan melihatmu hanya duduk dan berdiam diri di bangku taman?" tanya Zanetta.


Oxel hanya tersenyum malu karena kepergok melamun tidak jelas, sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


“Lalu, mengapa kau masih di sini? Bagaimana jika bosmu marah?" tanya Oxel.


“Aku akan beralasan bahwa jalanan macet sehingga datang terlambat, bagaimana denganmu? Mengapa kau tak bekerja?" tanya Zanetta balik.


“Aku izin. Aku merasa sedang kacau saat ini, akan terlihat sangat tidak baik, jika aku terlihat kacau dan tidak profesional," jelas Oxel.


“Itu berarti aku tidak akan puas menyantap sarapan dan makan siang hari ini, karena yang memasaknya pasti bukan, kau," ujar Zanetta sedih.


“Tidak boleh seperti itu, juru masak di sana juga sudah bekerja keras dan memberikan yang terbaik, kau tidak boleh membeda-bedakan, bahkan mereka lebih senior dibandingkan aku," ujar Oxel.


“Akan tetapi rasanya pasti akan berbeda dengan masakanmu," balas Zanetta lagi.


“Semuanya pasti enak kok, jika tidak mungkin restoran itu akan tutup, atau bahkan sudah tutup," jawab Oxel lagi.


Zanetta hanya fokus menatap wajah Oxel, sungguh ia sangat mengagumi rupa lawan bicaranya itu. Baginya, Oxel adalah definisi sempurna, tidak hanya fisik tapi juga hatinya.


Jika suatu saat nanti Oxel memiliki pendamping, beruntunglah wanita yang mampu memenangkan hati Oxel.


“Sana berangkat, aku yakin kau pasti sudah sangat terlambat, aku tidak ingin kau dimarahi bosmu," ujar Oxel menyadarkan Zanetta dari lamunannya.


“Ah, iya maaf aku melamun, Oxel. Terima kasih sudah mengingatkanku, kalau begitu aku berangkat dulu." pamit Zanetta kemudian beranjak dari bangku taman.


Kemudian ia meneruskan langkahnya dan memasuki mobil lalu pergi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di dalam mobil, Zanetta baru menyadari sesuatu, dia mengingat kejadian di taman tadi.


“Tadi Oxel menyuruhku untuk segera berangkat bekerja, dan dia bilang kalau dia tak ingin aku dimarahi oleh bosku karena terlambat bekerja," gumamnya dalam hati.


“Itu berarti Oxel perhatian padaku, kan? Dia mengkhawatirkanku, kan? KYAAAAAA!!! Ugh, Oxel sangat romantis, aku tidak bisa bernafas jika begini, aku butuh oksigen, aku butuh oksigen KYAAAAAA!!!" seru Zanetta heboh sendirian di mobil.


“Oke-oke tenang, Netta, kau harus tenang. Tetap tenang, anggun, dan tetap cantik seperti biasanya," ujar Zanetta pada diri sendiri.


Akan tetapi yang namanya Zanetta tetaplah Zanetta, yang selalu heboh dalam menanggapi segala sesuatu.


Seperti saat ini, baru saja dia mengingatkan diri sendiri untuk tetap tenang tapi 5 detik kemudian dia malah karaoke di dalam mobilnya.


I got a boy meotjin I got a boy chakan


I got a boy handsome boy nae mam da gajeogan


I got a boy meotjin I got a boy chakan


I got a boy awesome boy wanjeon banhaenna bwa


Dia menyanyi dengan penuh semangat, sebagai bentuk mengekspresikan rasa bahagianya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Bagaimana?" tanya Michelle pada Jimmy namun matanya masih fokus pada berkas laporan dan data tentang perusahaan.


“Apanya?" tanya Jimmy balik.


“Kau sudah mendapatkan data tentang Oxel?" tanya Michelle lagi, mata cantiknya masih terfokus pada layar monitor.


“Belum, sebentar lagi saja. Aku bahkan belum mencarinya, masih ada pekerjaan yang harus kuselesaikan, omong-omong ketika aku ke ruangan Zanetta, anak itu tidak berada di tempatnya, dia belum berangkat?" tanya Jimmy lagi.


“Jam berapa sekarang? Kenapa juga dia belum sampai di kantor?" tanya Michelle.


“Jam 8 lebih. Apa mungkin anak itu membeli sarapan di tempat Oxel?" Jimmy mulai menduga.


Michelle hanya mengurut pangkal hidungnya, Zanetta memang terkenal sangat agresif. Dia pasti tak hanya ingin membeli sarapan namun juga ingin tebar pesona pada sang juru masak restoran tersebut.


“Jika dia datang beri dia surat peringatan!" perintah Michelle pada Jimmy.


“A-apa? Michelle kau serius?" tanya Jimmy, berharap dia salah mendengar.


“Aku serius. Pertemanan adalah pertemanan, pekerjaan adalah pekerjaan. Jangan karena dia sahabatku, dia bisa bertingkah seenaknya dalam kantor," jawab Michelle.


“B-baiklah," jawab Jimmy pada akhirnya, walau sedikit terbata. Dia keluar dari ruangan Michelle, untuk melanjutkan pekerjaannya.


“Huh, ke mana gadis ceroboh itu pergi? Tidak tahukah aura Michelle sedang menggelap saat ini?" gumam Jimmy.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Zanetta sudah sampai di kantor, benar saja dia sudah sangat terlambat, matanya membelalak lebar kala melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


“Aduh, kenapa aku bisa sangat terlambat seperti ini? ceroboh sekali kau Netta, benar-benar ceroboh," rutuknya dalam hati.


Saat sudah sampai di meja kerjanya, dia sudah mendapatkan tatapan aneh dari teman-temannya yang berada satu divisi dengannya.


Zanetta yang menyadari itu hanya merasa merinding dan meringis ngeri. Tatapan mata mereka layaknya singa yang sedang kelaparan dan menemukan mangsa.


Zanetta mencoba biasa saja dan tidak memedulikan tatapan yang diarahkan kepadanya. Ia fokus bekerja.


Setelah beberapa waktu terlewati akhirnya Jimmy berkunjung di meja kerja Zanetta dengan membawa surat peringatan.


“Netta," panggil Jimmy.


“Ah siap, Pak!"


“Kau dari mana saja? Jam berapa ini? Dan kenapa kau baru datang?"


“Maaf Pak saya salah. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi," jawab Zanetta.


“Kau tahu jika Presdir adalah orang yang perfeksionis dan sangat disiplin, dia tidak menyukai orang yang tidak menghargai waktu?" tanya Jimmy.


Zanetta hanya mengangguk kaku. Sejujurnya dia sangat takut saat ini, semoga saja Michelle tidak murka karena keterlambatannya.


Zanetta melirik kearah tangan Jimmy, tatapannya semakin horor.


“Oh tidak! Jangan-jangan?" batin Zanetta ngeri.


Jimmy yang pada dasarnya seseorang yang peka mengerti arah pandang Zanetta.


“Ya, kau benar ini untukmu, Presdir yang menyuruhku memberikannya padamu," jelas Jimmy dengan nada lemah.


Seketika bahu Zanetta terkulai lemas, salahnya juga, sih selalu tak bisa tepat waktu.


Zanetta mencoba bicara pada Jimmy lewat pandangan mata. Seakan meminta pertolongan.


Jimmy menjadi bimbang, haruskah ia menolong Zanetta? ataukah dia mengabaikannya?


Author POV end