
Happy Reading!
Author POV
Tepat pada hari sudah mulai malam, Oxel dan teman-temannya belum juga bisa bersantai, karena banyaknya pelanggan.
“Kau lelah?" rekannya bertanya pada Oxel.
“Aku sedikit merasa lelah, jika pelanggan terus berdatangan, waktu istirahat kita memang menjadi sangat sedikit. Kau tahu, kan jika pelanggan tak suka menunggu?" ujar Oxel.
“Kau benar, aku merasa ingin pulang dan berkencan dengan kasur," ucap temannya seraya menguap.
“Aku bahkan belum sempat mampir lagi ke toko bunga, padahal sudah ada niatan untuk mampir tadi," kata Oxel sendu.
“Jika kau mampir ke toko bunga, bolehkah kami ikut?" tanya salah satu temannya. Hal itu sontak saja menarik minat rekan-rekannya yang lain.
“Kau akan pergi ke toko bunga tempat kerjamu, dahulu?" tanya temannya yang lain.
“Aku bahkan belum tahu," jawab Oxel sekenanya. Ia memang belum pasti akan mampir atau tidak.
“Aku masih penasaran. Saat kau bekerja di toko bunga, kau bertugas sebagai apa? pengantar, kah atau—"
“Aku merangkai. Ya, seperti membuat buket bunga dan gantungan hias yang biasa di pasang di dinding atau pintu," jelas Oxel.
“Kau? Merangkai bun—ga?" ujar temannya tak percaya.
“Ya, aku merangkai," ucap Oxel sambil tersenyum geli melihat ekspresi teman-temannya.
“Bagaimana bisa? Kegiatan merangkai bunga itu pasti sangat membosankan untuk kaum pria kebanyakan."
“Serasa sedang belajar sejarah, terdengar membosankan."
“Jika itu aku, belum ada 5 menit, aku pasti sudah terbang ke alam mimpi."
“Atau mungkin aku akan mematahkan rantingnya."
Dan masih banyak lagi komentar tanggapan lainnya.
Seorang waiters berjalan menghampiri mereka.
“Apa kalian digaji hanya untuk bergosip saja?" tanyanya sinis.
Seketika para pekerja di dapur hanya saling pandang satu sama lain.
“Ini ada pesanan lagi untuk kalian! Dan untukmu Oxel, seseorang lagi-lagi memuji potato cheese bread buatanmu," ujar waiters itu tersenyum.
Selepas memberikan pesanan, waiters itu berbalik pergi melayani pelanggan. Hal itu membuat decihan tak suka keluar dari bibir mereka.
“Dasar nenek sihir pilih kasih, dengan kita saja ketus, giliran bicara dengan Oxel memasang senyum sejuta Watt," cibir salah satu rekan Oxel di dapur.
“Aku harus bersiap membuat adonan kuenya." ujar Oxel bergegas.
Dia menuju counter dapur dan mulai menyiapkan alat dan bahan. Teman-temannya melihat cara kerja Oxel dalam membuat kue.
Entah mengapa menonton Oxel sedang memasak di dapur itu adalah hiburan tersendiri bagi mereka.
Ia sangat serius menakar bahan-bahan agar pas dan sempurna.
“Apa yang harus kami lakukan?" tanya rekannya.
“Bahan-bahan yang sudah kumasukkan ke dalam mangkuk besar tolong kau campur menggunakan mixer, ya!" perintah Oxel.
Mereka pun segera mencampurkan bahan-bahan sesuai dengan instruksi Oxel.
Setelah melewati beberapa menit, Oxel pun membuat minumannya. Tidak perlu waktu lama minuman tersebut telah siap.
Oxel membunyikan bel tanda pesanan sudah siap. Waiters tadi datang dan mengambil pesanan.
“Cara kerjamu membuatku kagum, Oxel. Sangat cepat!" ujarnya sembari mengedipkan mata, Oxel pun terkejut dibuatnya.
“Astaga, barusan apa yang ia lakukan?" gumam Oxel.
“Jangan terkejut dengan perlakuannya sobat, dia memang seperti itu jika melihat pria tampan," jelas rekannya.
“Oh, aku hanya merasa canggung saja, karena mendapat perhatian yang agak...lain?" ujar Oxel terdengar tidak yakin.
“Kau jarang mendapatkan perhatian dari wanita, ya?" tebak rekannya.
Oxel hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Mungkin aku masih kurang mengerti soal hubungan asmara," jawab Oxel.
“Astaga, nak. Kau itu pria dewasa, dan kau belum ada ketertarikan untuk menjalin hubungan?!" ujar rekannya terkejut.
“Boleh kami tahu kriteria wanita idamanmu?" tanya rekan-rekannya ingin tahu.
“Tidak ada yang spesial, yang terpenting dia bisa menerimaku apa adanya, mandiri, dan baik hati," jelas Oxel.
“Seperti putri negeri dongeng?"
“Ya, layaknya putri negeri dongeng."
“Itu adalah pesanan terakhir. Setelah ini akhirnya bisa beristirahat," ujar salah satu rekannya.
Malam semakin larut saatnya cafe tutup, beberapa pegawai harus membersihkan cafe dan dapur mereka.
“Sampai ketemu besok, Oxel."
“Iya, kalian juga ya? Hati-hati di jalan. Semangat untuk besok," jawab Oxel.
Oxel bergegas pulang ke rumah, dia memang sengaja tidak memberitahu keluarganya, perihal pekerjaan barunya.
Tiba di rumah seperti dugaan Oxel, mereka bertiga bahkan belum tidur.
“Baru pulang, sekarang?" tanya Maria sinis.
“Apa kau sudah berganti pekerjaan, hingga tidak ingat pulang?" lanjutnya lagi.
“Iya, aku sudah tidak bekerja di toko bunga, lagi," jawab Oxel.
“Wah! Benarkah? Kau bekerja apa, kenapa berangkat pagi dan pulang saat hampir larut? Apa kau bekerja sebagai pemuas nafsu para wanita di luar sana?" tanya Christian dengan nada mengejek.
“Aku bekerja menjadi apa pun bukan urusan kalian, seharusnya kalian bersyukur, karena aku hanya menyuruh kalian makan, bukan bekerja," jawab Oxel.
Maria yang mendengar jawaban Oxel merasa tak terima, sampai ia melayangkan tangannya ke pipi Oxel dengan keras.
PLAK.....
PLAK...
“Jaga ucapanmu, anak pungut. Berani sekali kau menghinaku dan anak-anakku!"kata Maria.
“Kalau pun aku hanya diam saja, kau tetap akan menampar wajahku, kan?" tanya Oxel lirih.
“Harusnya aku tidak memungut dan membesarkanmu, dasar bocah tidak tahu terima kasih," maki Maria.
“Aku juga tidak pernah meminta untuk diasuh oleh manusia kejam sepertimu, bahkan semenjak ayah masih ada, kau sering menganiayaku," jawab Oxel mencoba tak gentar.
“Kau pikir sewaktu kau masih kecil, siapa lagi yang membiayai hidupmu, huh? Apa kau tidak mengingatnya? Apa kau mencoba melupakan semua jasaku terhadapmu? Jika tidak ada aku, kau akan berubah menjadi gembel di jalanan, ingat itu!" ujar Maria.
Kemudian Maria dan kedua anaknya meninggalkan Oxel yang terdiam. Tak lupa tatapan sinis mereka layangkan.
“Kenapa aku yang seolah-olah durhaka terhadap ibu tiriku? Dia tidak mengasuhku, tidak juga membiayaiku dengan hasil kerja kerasnya. Selama ini kami hanya bergantung pada hasil penjualan rumah ayah. Tuhan, mengapa rasanya sakit sekali?" batin Oxel.
Oxel hanya berlalu pergi ke kamarnya untuk beristirahat, ia sangat lelah. Bukan hanya raganya tapi juga batinnya merasa lelah.
“Aku harap aku bisa beristirahat selamanya," gumam Oxel dengan mata terpejam.
“Ayah, ibu, bagaimana kabar kalian di sana? Apa kalian merasa nyaman dan tenang? Andai saja Oxel memiliki kesempatan, aku pasti akan menyusul dan bergabung dengan kalian," batin Oxel lagi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Zanetta masih terpikir oleh sikap Oxel terhadapnya. Menurutnya, Oxel begitu baik, tetapi sayang tidak mudah disentuh oleh seseorang.
“Tak kusangka dibalik wajah malaikatmu, ternyata kau membangun dinding yang begitu kokoh dalam hatimu, Oxel," gumam Zanetta.
Bertemu dengan Oxel pertama kali, membuat dirinya merasakan hal lain yang tak dapat didefinisikan.
“Aku harus bagaimana?" teriak Zanetta frustasi.
Dia berguling ke kanan dan ke kiri di atas ranjang, dan bergumam tidak jelas.
“Ini tidak bisa begini, aku akan terus berusaha sampai kau takluk padaku, Oxel. Kita lihat saja nanti!" seringai Zanetta.
Author POV end
Visualisasi menu pesanan
Tiramisu cake
Dalgona Coffee