He Is My Cinderella

He Is My Cinderella
Tiga puluh dua



Happy Reading!


Author POV


“Huh?" Jimmy mengerutkan keningnya, semakin tidak mengerti dengan tingkah sahabatnya.


“Ya?" pinta Michelle dengan binar penuh harap.


Jimmy menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Astaga, kenapa sahabatnya ini semakin lama semakin aneh? Perlukah Jimmy merenovasi otak Michelle?


“Eum.. Michelle kau pernah mendengar istilah inner beauty?" tanya Jimmy. Michelle hanya mengangguk.


“Kalau kau paham tentang itu, mengapa kau tidak mencobanya, pancarkanlah kecantikan dari dalam, cantik hati, cantik perilaku dan lainnya," jelas Jimmy.


Michelle hanya terdiam tapi raut wajahnya menandakan ia tengah berpikir keras.


“Aku tidak yakin jika semua pria mementingkan inner beauty, buktinya lihat wanita cantik saja mata mereka berubah menjadi hijau, untuk inner beauty itu urusan belakangan," komentar Michelle.


“Pria mana yang kau maksud?" tanya Jimmy.


Michelle berpikir, benar juga dia tidak pernah dekat dengan pria, selain pria yang dipilihkan Jimmy untuk kencan buta, itu pun gagal terus pada pertemuan pertama.


“Kau sudah mengingatnya? Aku heran mengapa kau bisa menyimpulkan hal itu dengan cepat, tidak semua pria seperti yang kau pikirkan. Ada, kok pria yang masih memedulikan inner beauty, ya walaupun hanya sedikit, tapi yang penting ada."


“Ucapanmu tidak bisa dipercaya, Paman," ujar Michelle.


Jimmy menghela nafas, “Karena tipe seseorang itu berbeda, nak, tapi kalau yang kau maksud adalah seseorang seperti Oxel, aku yakin dia pasti masih mementingkan inner beauty."


Mendengar perkataan Jimmy membuat wajah Michelle memerah malu, Jimmy dapat menebak tepat sasaran. Apa terlihat begitu jelas?


“Wow.. aku tidak percaya ini, kalian berdua menyukai Oxel?' tanya Jimmy lagi.


Michelle menggeleng, sejujurnya ia juga tak paham apakah dia mencintai Oxel atau hanya sebatas rasa kagum saja.


“Aku juga tak tahu," jawab Michelle.


“Tak tahu?" beo Jimmy.


“Aku tak tahu apa aku hanya sekedar menyukai atau hanya jatuh cinta," jelas Michelle lagi.


“Maka sebelum kau memulai kau harus meyakinkan dirimu terlebih dahulu, Nak," nasehat Jimmy.


Michelle hanya diam sibuk dalam lamunan, dia bingung apa yang ingin dilakukannya sekarang.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Kita lihat bagaimana Oxel saat ini, ah seperti biasa dia tenggelam dalam kesibukannya menyajikan berbagai menu, begitu pun dengan temannya.


“Apakah sudah selesai Oxel?" tanya rekannya.


“Sebentar lagi selesai, aku tinggal platting saja," jawab Oxel.


“Baiklah seperti biasa kerjamu sangat cepat, kau seperti robot dan kecepatan tanganmu seperti mesin saja," komentar temannya.


“Supaya cepat selesai, aku tidak suka jika menunda pekerjaan, lagi pula aku suka memasak," jawab Oxel.


“Kau memang masternya dalam memasak," ucap rekannya jengah. Oxel hanya tersenyum simpul.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jika Oxel sedang bekerja keras lain halnya dengan Michael dan Christian. Sepanjang hidupnya hanya untuk hura-hura, mentraktir makan teman-temannya berlagak bossy dan arogan, jika tak sesuai dengan apa yang mereka inginkan.


Saat ini Christian sedang hangout bersama teman-temannya sehabis menonton di bioskop, apa mereka sedang bolos? Tentu saja.


“Sayang, terima kasih ya untuk hari ini, aku senang sekali bisa jalan denganmu," ujar seorang gadis salah satu teman Christian.


“Apa pun yang kau mau sayang, aku akan dengan senang hati mengabulkannya," ucap Christian si mulut manis.


“Sayang, kita jangan makan di sini, aku punya rekomendasi restoran enak kita makan di sana saja, bagaimana?" usul si gadis.


“Baiklah," jawab Christian.


Christian dan teman-temannya menuju restoran yang dimaksud oleh si gadis.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sampailah mereka di restoran yang dimaksud, segera saja Christian dan teman-temannya memesan menu. Sambil menunggu mereka sibuk dalam sebuah obrolan tentang keseruan mereka.


Sebelumnya gadis tersebut telah minta pada pelayan, agar nanti hidangan mereka diantar oleh juru masak.


“Oxel, ada pesanan lagi untukmu!" seru pelayan dan Oxel pun hanya mengacungkan jempol.


“Ah, aku lupa! Kau juga yang harus mengantar hidangan ini ke pelanggan," lanjutnya lagi.


“Aku lagi?" tanya Oxel pada pelayan sambil menunjuk dirinya sendiri.


“Biasa, pelanggan kita adalah seorang gadis, kau tahu? kau begitu terkenal dikalangan para gadis dan wanita dewasa," jelas si pelayan.


Oxel hanya menggaruk pipinya merasa salah tingkah, saat pelayan mengatakan itu.


Sementara itu Christian dan kawan-kawannya masih mengobrol.


“Kalian tahu? Restoran ini sangat terkenal karena makanannya yang tak kalah enak dengan restoran bintang lima!" seru gadis teman Oxel.


“Benarkah?" sahut temannya yang lain.


“Selain itu juru masak restoran ini terkenal karena wajah androgininya. Pokoknya dia tampan sekaligus cantik disaat yang bersamaan. Wajahnya benar-benar seperti dewa!" lanjut gadis itu dengan antusias.


“Ah, aku juga pernah mendengar kabar itu, memang katanya ketampanannya seperti bukan manusia, tapi seperti tokoh yang keluar dari buku komik. Jujur walaupun aku seorang pria tapi aku juga ikut penasaran," sahut teman prianya yang lain.


“Yang benar saja, masa pria mempunyai wajah yang jelita?" teman yang lain tak percaya.


“Kita lihat saja, nanti," ujar gadis tersebut.


Tak lama kemudian Oxel muncul mengantar pesanan mereka, semua yang ada meja itu tersebut merasa terkejut, terutama Christian.


Tanpa sengaja pandangan Christian bersirobok dengan Oxel, tetapi dengan cepat Oxel memutus pandangannya.


“Pesanan datang, silahkan menikmati," ujar Oxel.


Sekumpulan pemuda-pemudi yang ada di meja tersebut tak ada yang menanggapi ucapan Oxel, mereka terbengong. Oxel justru bingung dibuatnya.


“Permisi, kalian baik-baik saja?" tanya Oxel memastikan.


“Huh? Ah i-iya. Terima kasih," jawab salah satu dari mereka.


“Jika tidak ada yang dibutuhkan lagi, saya permisi," pamit Oxel.


“Ah, tunggu!" seru gadis itu sambil menahan tangan Oxel.


“Ada apa?" tanya Oxel.


“Bisa kami mengobrol sebentar denganmu?" tanya gadis itu, yang diangguki juga oleh yang lainnya.


Oxel berpikir sejenak, kemudian mengangguk.


“Apa yang ingin kalian tanyakan? Aku tak bisa lama-lama, masih banyak pesanan," ujar Oxel.


“Ah tenang saja, Kak. Tidak lama kok," ujar gadis lainnya.


“Baiklah," jawab Oxel pasrah.


“Siapa namamu, Kak?"


“Aku Oxel Deovanno, umur 26 tahun."


“Apa kau memiliki saudara?"


“Ada 2, laki-laki. Satu sudah lulus kuliah satunya lagi sekolah," jawab Oxel.


“Apa kau yakin jika kau ini laki-laki?" tanya salah satu pemuda itu.


Oxel mengerutkan kening, “Tentu saja aku laki-laki. Pertanyaan macam apa itu?"


“Bukan begitu, hanya saja kau cantik seperti wanita," jelas teman Oxel.


Jika ini dunia komik mungkin sudah muncul perempatan siku di dahi Oxel tanda ia sedang kesal.


“Aku laki-laki. Apa aku harus menunjukkannya pada kalian secara jelas?" tanya Oxel dengan nada kesal.


Mendengar pertanyaan Oxel, membuat para pemuda itu melongo hebat dan para wajah para gadis memerah malu.


“Ah, aku juga ingin tanya apa kau sungguh-sungguh manusia?" tanya pemuda yang lain lagi.


“Astaga apa lagi ini? Mereka mengajukan pertanyaan tidak masuk akal, apa mereka pikir aku alien? Sepertinya bayi ingusan itu benar-benar salah dalam memilih lingkungan pertemanan," batin Oxel menggerutu.


Oxel tersenyum kecut dan menjawab, “Anak muda, sekarang lihat aku baik-baik. Apa kalian lihat aku berwarna hijau, memiliki banyak kaki, juga memiliki sepasang antena?"


Mereka semua serempak menggelengkan kepala.


“Aku memiliki sepasang bola mata, sepasang tangan, sepasang kaki, satu hidung, dan satu mulut, bukan?" tanya Oxel lagi.


Lagi-lagi mereka mengangguk.


“Jadi katakan padaku, bagian mana yang dari diriku ini yang bukan seperti manusia pada umumnya!" kata Oxel.


“Wajahmu, wajahmu bukan seperti manusia kebanyakan, kau benar-benar seperti tokoh yang keluar dari buku komik, wajahmu sangat tidak nyata!" seru teman Christian.


Oxel yang sudah merasa dongkol semakin dongkol kala teman Christian bilang wajahnya seperti tokoh komik.


“Nah, aku sudah selesai. Aku akan kembali ke dapur dan aku berpesan pada kalian lebih baik bacalah buku Fisika atau Matematika supaya kalian lebih pandai dari pada membaca buku komik, otakmu menjadi tidak sehat dan terlalu mengada-ada." ujar Oxel segera berlalu.


“Tunggu!" seru para gadis.


“Apa lagi?" tanya Oxel jengah.


“Apa kak Oxel memiliki kekasih?" tanyanya ingin tahu.


“Aku tidak memiliki kekasih, juga seleraku bukanlah gadis-gadis remaja seperti kalian. Sebaiknya kalian belajar yang rajin agar sukses, jangan berpacaran terlebih dahulu. Mengerti?" nasehat Oxel, kemudian Oxel pergi dari sana.


“Astaga, apa kita baru saja mendapatkan penolakan?" ujar para gadis satu sama lain. Mereka tampak sedih mendapatkan penolakan terang-terangan dari Oxel.


“Kau benar, padahal aku baru saja berniat menjadikannya kekasihku, walaupun dia berumur 26 tahun tapi dia masih seperti seusia kita, ah sayangnya," ujar gadis lain kecewa.


“Wajahnya sungguh tampan, seperti pangeran dari negeri dongeng," komentar yang lain.


“Jika aku tidak normal, mungkin aku sudah menjadikan dia sebagai kekasihku, atau mungkin calon istri sekalian, sial wajahnya cantik sekali," komentar salah satu pemuda.


“Kalian terlalu berlebihan, wajahnya biasa saja, masih tampan aku," Christian berkomentar dengan sedikit mendengus kesal.


Teman-temannya enggan berkomentar, mereka hanya melirik satu sama lain.


“Cih terlalu percaya diri," batin mereka.


Author POV end


Pesanan Christian dan kawan-kawan


Daechang