He Is My Cinderella

He Is My Cinderella
Sebelas



Happy Reading!


Author POV


Setelah hampir 2 bulan lamanya, Oxel sudah bisa berjalan dengan tegak dan kondisi kesehatannya telah pulih. Kini dia bisa beraktivitas dan bekerja seperti biasa.


Dimulai dari mengantar susu dan koran, lalu dilanjutkan dengan bekerja sebagai florist, dan sorenya menjadi penyanyi di sebuah cafe. Keadaan sama sekali belum berubah, bahkan bisa dikatakan lebih parah.


Ibu dan kedua adiknya selalu menuntut ini dan itu dari Oxel, karena Oxel adalah orang yang berhati lembut dan tidak tega dengan orang lain, maka dia selalu bekerja keras semampunya.


Saat ini Oxel sedang berada di cafe karena mendapatkan sebuah telepon dari pemilik cafe tersebut.


“Ah, Oxel. Syukurlah kau datang juga rupanya," ujar pemilik cafe itu.


“Ada apa Anda memanggil saya pagi-pagi begini, tidak biasanya?" tanya Oxel.


“Begini, saat ini posisi juru masak sedang kosong, karena mengundurkan diri secara tiba-tiba, dikarenakan orang tuanya sakit keras. Aku bingung bagaimana lagi mencari penggantinya, tapi kata anak-anak kau bisa memasak. Apa kau mau bekerja menjadi juru masak disini?" tawar pemilik cafe.


“Menjadi juru masak?" tanya Oxel.


“Betul, kau mau, kan?" tanya pemilik cafe itu.


“Eum... sebenarnya aku jika pagi bekerja sebagai florist, akan aku pertimbangkan terlebih dulu tawaran Anda," jawab Oxel.


“Baiklah Oxel, aku tunggu keputusanmu. Tapi aku berharap kalau bisa secepatnya kau berikan jawabanmu," ucap pemilik cafe.


“Iya," jawab Oxel kemudian pamit undur diri dan bergegas menuju toko bunga.


Sepanjang perjalanan menuju toko, Oxel pun disibukkan dengan pikirannya.


“Terima tidak, ya? Jika aku tidak menerima tawaran itu, sayang sekali. Padahal bisa untuk menambah pundi-pundi. Tapi jika menerima tawaran itu, bagaimana caranya aku bicara dengan bibi, Sean, dan Dara?" pikirnya berkecamuk.


“Aish.. kenapa aku jadi bingung begini?" Oxel menggerutu sendiri.


Sepanjang perjalanan dia menjadi pusat perhatian orang-orang di jalan karena ekspresinya yang menggemaskan, dengan bibir yang bergerak-gerak mengerucut lucu karena sibuk menggerutu.


“Sepertinya aku harus menerima tawaran pemilik cafe itu, Hah.. tapi bagaimana jika bibi merasa kecewa dengan keputusanku? Aku tidak tega melihat wajah kecewa bibi."


Dan masih banyak lagi ocehan dan gerutuan Oxel lainnya.


Sesampainya di toko, Oxel pun masih menggerutu, hingga para pegawai toko dan para pengunjung yang melihat, bukannya marah namun justru memekik menahan gemas.


“Apa yang salah dengan Oxel kita pagi ini? Kenapa dia mengomel tidak jelas?" tanya Sean.


“Entah, mungkin saja dia ada salah makan pagi ini, atau mungkin saja hantu jalanan telah merasukinya," jawab Dara.


“Yak! Kalian semua kembalilah bekerja, jangan salah fokus dengan wajah dan ekspresi orang itu." ujar Dara lagi sambil menunjuk Oxel.


Selama 2 bulan ini, bibi pemilik toko bunga, telah melakukan penambahan pegawai, dan melakukan renovasi untuk memperluas tokonya.


“Ada apa denganmu, sobat? Berbagilah dengan kami." tanya Sean sembari menepuk pundak Oxel.


“Akan kuceritakan nanti setelah semuanya selesai," jawab Oxel.


Oxel langsung mengambil pekerjaannya membuat pesanan pelanggan. Dia mengerjakan dengan cepat dan teliti dengan setiap detail rangkaiannya.


Memang rangkaian bunga milik Oxel yang selalu menjadi favorit para pelanggan. Oxel adalah sosok yang terampil dan penuh kreativitas.


“Kau yakin bisa membuatnya dalam sehari?" tanya Sean.


“Tentu saja, ini mudah. Dalam sehari aku bisa menyelesaikannya. Seharusnya kau tahu itu," jawab Oxel namun matanya tetap fokus pada pekerjaannya.


“Cih, dasar sombong," cibir Sean.


Dara yang mencuri dengar hanya tersenyum tipis. Setiap hari toko ini hanya penuh perdebatan kecil antara mereka bertiga.


Pengunjung terus saja berdatangan. Beruntung Dara, Sean, dan Oxel tidak sesibuk dulu karena ada pegawai baru.


Meski sesekali mereka masih mendampingi dan memberikan arahan pada para pegawai lainnya.


Saat sedang serius melakukan pekerjaan tiba-tiba jari Oxel terluka karena terkena gunting.


“AW!!" seru Oxel terkejut. Ia segera bergerak menjauh dari pekerjaannya, takut jika darahnya mengotori bunga yang sedang ia rangkai.


Dara yang mendengar suara teriakan Oxel, segera berlari menuju Oxel.


“Ya ampun, bagaimana bisa kau terkena gunting begitu?" tanya Dara dengan raut khawatir.


“Aku tidak hati-hati. Tenanglah ini hanya luka kecil saja, hanya dibalut dengan plester luka akan sembuh," jawab Oxel.


“Apa sedang ada yang kau pikirkan atau kau risaukan saat ini?" tanya Dara. Oxel hanya menggeleng.


Dara mengeluarkan kotak obat dan langsung menarik jari Oxel yang terluka kemudian membersihkan luka tersebut, dan membuat darahnya terhenti.


Setelahnya dia segera mengobati dan membalut luka Oxel. Oxel hanya memandang Dara dengan tatapan yang dalam, tapi Dara tak menyadarinya. Dia masih fokus pada jari Oxel yang terluka.


“Nah, sudah selesai. Lain kali berhati-hatilah dalam bekerja, kau itu selalu saja ceroboh," nasehat Dara.


“Iya-iya. Kau sudah seperti ibuku saja, selalu cerewet terhadap hal-hal kecil," jawab Oxel dengan bibir yang dimajukan dan mengerucut. Seperti anak umur 4 tahun yang merajuk.


“Biarlah. Karena kau adalah bayi kami, maka kami harus selalu menjaga dan mengingatkanmu," ucap Dara.


“Ish.. padahal aku sudah dewasa, tapi kalian masih menganggapku bayi," rajuk Oxel.


“Wajahmu menegaskan jika kau menggemaskan seperti bayi."


“Aku itu pria dewasa, aku tampan bukan menggemaskan," sungut Oxel.


Dan benar saja apa yang dikatakan Dara, para pegawai sedang melihat Oxel yang tengah merajuk seperti anak balita.


Mereka semua harus mati-matian menahan gemas. Oxel dengan segala tingkahnya memang kadang membuat orang seakan ingin memakannya bulat-bulat.


“Nah, kembalilah bekerja bayi besar. Pekerjaanmu tak bisa menyelesaikannya sendiri," ucap Dara kemudian.


Oxel segera melanjutkan pekerjaannya, sebelum suara Dara mengudara kembali. Jika sudah seperti ini, teriakkan Dara seperti suara ibu tiri Cinderella baginya.


Sementara Dara membuat buket bunga. Sean baru saja selesai membersihkan lantai yang penuh dengan potongan daun dan tangkai, yang berserakan di lantai.


“Kenapa dengan jarimu? Kau terluka lagi?" tanya Sean pada Oxel.


“Uhm.. aku terkena gunting tadi. Tapi sudah diobati oleh Dara, dia benar-benar seperti ibu Cinderella jika sudah mengomel," jawab Oxel.


“Dara memang seperti itu. Dia hanya terlalu khawatir padamu. Kita semua tahu jika kau terluka sedikit saja, kau akan jatuh sakit," ujar Sean.


“Aku juga tak mengerti kenapa tubuhku ini sangat ringkih, sekarang," balas Oxel sembari membuang nafasnya.


“Kami sudah pernah bilang padamu untuk memeriksakan dirimu ke dokter, kan?" tanya Sean.


“Andai hidup memang semudah itu, aku pasti juga sudah memeriksakan diriku ke dokter. Tapi kau tahu sendiri, bukan? Aku tak pernah punya kesempatan apa pun jika dengan urusan pribadi," jelas Oxel.


“Kami bisa membantumu," ucap Sean.


“Dan aku tidak ingin merepotkan kalian, selama aku masih bisa bertahan, semuanya akan baik-baik saja," jawab Oxel.


“Asalkan kau tak lupa jika manusia itu memiliki batas, kau tidak bisa selamanya berdiri dan baik-baik saja," balas Sean lagi.


“Bisakah kita tidak membahas ini? Kita sering bertengkar dan tidak pernah menemukan jalan keluar, saat membahas ini," pinta Oxel.


“Tidak. Kali ini kau yang harus dengarkan aku sebelum semuanya terlambat, kau dan aku, bahkan kita semua tidak buta akan kondisi tubuhmu," ujar Sean tegas.


“Jika aku tidak dalam kondisi kehidupan yang sulit seperti ini, tak perlu kau suruh pun, aku akan memperhatikan diriku sendiri. Kau tidak tahu, Sean," jelas Oxel.


“Tidak bisakah kau lebih tegas terhadap mereka? Aku tahu mungkin hanya mereka keluargamu yang tersisa saat ini, tapi mereka bahkan tak pernah menganggapmu bagian dari mereka," ujar Sean menatap Oxel dalam.


“Aku hanya sedang berusaha melakukan yang terbaik untuk mereka, supaya mereka bisa hidup layak," jawab Oxel sambil menerawang jauh.


“Tapi kau tak pernah hidup dengan layak. Makan pun tak pernah, kami tahu, kau tak pernah makan selama berhari-hari karena tak bisa memenuhi keinginan mereka," jelas Sean.


“Apa sejelas itu?" tanya Oxel tak minat.


“Menurutmu saja. Dasar kau ini keras kepala," jawab Sean dengan nada jengkel.


“Kembalilah bekerja sebelum Dara menghabisimu!" titah Oxel pada Sean.


Sean pun hanya berdecak tak senang dengan pengusiran yang dilakukan Oxel secara halus itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pada sore hari toko bunga sudah mulai tutup. Oxel dan pegawai lainnya sedang melakukan pembersihan sebelum pulang ke rumah masing-masing.


Setelah semuanya selesai. Oxel pun mengajak bibi, Dara, dan Sean berbicara secara pribadi.


“Jadi apa yang ingin kau bicarakan?" ujar bibi membuka pembicaraan, tapi Oxel nampak gugup, kedua tangannya bertautan, beberapa kali menggigit bibirnya.


“Eum... Bibi, Sean, Dara. Sebelumnya aku ingin mengucapkan terima kasih pada kalian yang telah menerimaku untuk bekerja di sini dan menjadi bagian dari kalian."


“Aku merasa sangat senang dan bahagia dengan waktu yang kita lewati bersama."


“Tapi aku minta maaf. Berat rasanya mengatakan ini pada kalian, tapi Oxel ingin mengundurkan diri."ujar Oxel dengan kepala tertunduk.


Bibi, Dara, dan Sean hanya saling pandang.


“Apa kau sudah menemukan pekerjaan sebagai gantinya?" tanya bibi.


“Cafe di tempat aku menyanyi menawariku pekerjaan sebagai juru masak. Juru masak yang terdahulu sudah mengundurkan diri, karena orang tuanya sakit keras," jelas Oxel.


Bibi hanya tersenyum, begitu pun dengan Sean dan Dara.


“Jika memang begitu, ambil saja tawaran itu, Bibi tidak akan marah, nak."


“Kalian tidak marah?" tanya Oxel dengan wajah polos.


“Tentu saja tidak, bukan, kah setiap orang ingin pekerjaan yang lebih baik, untuk meningkatkan taraf hidup?" jelas bibi.


“Tapi aku merasa bersalah dan berat meninggalkan kalian," jelas Oxel dengan raut wajah sendu.


“Hey! walaupun kau tidak bekerja di tempat ini lagi, kita masih bisa bersama. Kau bisa mampir ke sini jika kau mau. Toko ini selalu terbuka untukmu," jawab bibi.


“Terima kasih, aku tidak akan melupakan kalian."ujar Oxel sembari memeluk mereka satu-persatu.


Author POV end


Visualisasi bunga yang dirangkai Oxel.



Wajah cemberut Oxel yang membuat orang gemas



Anggap aja rambutnya warna hitam.