
Happy Reading!
Author POV
Pagi mulai menyapa, namun matahari enggan menunjukkan wajahnya. Langit pun juga turut bersedih, hingga menunjukkan warna yang sesuai dengan suasana hati Oxel. Kelabu.
Maria keluar dari kamarnya dan matanya memicing melihat Oxel yang tergeletak tak berdaya di ruang depan.
Karena merasa penasaran, akhirnya Maria mendekat ke arah Oxel.
Dilihatnya wajah pucat Oxel seraya menggigil kedinginan. Bahkan bibirnya berwarna kebiruan.
“Mengapa anak itu tergeletak di sini?" batin Maria.
Sejenak Maria berjongkok saat di depan Oxel. Tangannya terjulur menyentuh kening putra tirinya itu.
“Panas sekali, apa dia demam?" batinnya.
Maria pergi meninggalkan Oxel, untuk menghampiri kedua anaknya.
Tok..... tok.... tok .....
Maria mengetuk pintu kamar Michael, tetapi tak ada sahutan. Cukup lama ia mengetuk pintu kamar sang buah hati. Hingga Maria hilang kesabaran akhirnya dia menggedor kamar Michael.
“BUKA PINTUNYA DASAR ANAK PEMALAS!" marah Maria.
Michael yang risih lantas membuka pintunya.
“Apa yang Ibu lakukan?! Ibu mengganggu tidurku? Tidak tahukah, Ibu jika aku masih mengantuk," gerutu Michael.
“Berani kau protes padaku dan menceramahiku? Dasar anak kurang ajar!" kesal Maria pada anaknya.
Michael hanya memajukan bibirnya, dia merasa kesal dengan teriakan yang menyakitkan dari ibunya pagi-pagi begini.
“Ada perlu apa Ibu memanggilku?" tanya Michael dengan nada malas.
“Kenapa anak itu tergeletak di sana?" Maria menunjuk Oxel yang tergeletak saat bertanya pada Michael.
“Mana aku tahu, Bu. Mungkin dia mabuk dan berkelahi dengan seseorang hingga dia mendapat luka lebam di tubuhnya," dusta Michael.
“Apa semalam dia tidak bekerja?" tanya ibunya lagi.
“Dia bahkan tidak pulang semalam, dan mungkin karena dia mabuk, dia jadi tidak sadarkan diri," dusta Michael lagi.
“Huh, anak itu selalu merepotkan. Dia memang tidak pernah bisa dibanggakan. Panggil adikmu kemari, bilang padanya agar mau membantu mengangkat anak itu!" perintah Maria.
”Baik." jawab Michael lalu pergi ke kamar adiknya.
Tak butuh waktu lama munculah Christian dengan wajah bantalnya.
“Angkat anak itu dan letakkan di gudang. Biarkan itu menjadi hukumannya, karena anak itu membuat masalah!" perintah Maria pada kedua anaknya.
Kedua anak itu hanya mengangguk mengiyakan perintah ibu mereka tanpa diketahui sang ibu, mereka berdua tengah menyeringai licik.
Mereka berdua mengangkat tubuh Oxel dan meletakkan Oxel di gudang tak ada alas untuk tidur, bantal, maupun selimut.
Michael dan Christian memandang satu sama lain, kemudian menatap Oxel yang tengah merasa kedinginan, lalu mereka pergi meninggalkannya serta mengunci pintu gudang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bibi pemilik toko bunga, sedari tadi berjalan mondar-mandir dengan raut wajah gelisah.
“Kenapa perasaanku tidak enak? Ada apa dengan Oxel?" gumam bibi.
“Bibi kenapa? Apa ada yang membuat Bibi merasa gelisah?" tanya Dara.
“Hari ini Oxel belum berangkat bekerja, tetapi aku merasa cemas dengan anak itu, karena belum memberi kabar sama sekali," kata bibi.
“Oxel belum memberi kabar apapun?" tanya Dara.
Sean yang juga mendengar percakapan tersebut, sebenarnya juga merasa khawatir. Ya, dia juga sudah mengetahui kehidupan keluarga Oxel yang tidak sehat.
“Apa kita ke rumah Oxel saja?" usul Sean.
“Aku tidak yakin dengan ibu dan kedua saudara Oxel," ucap Dara.
“Setidaknya kita mencoba, Dara. Meskipun aku yakin ada yang ditutup-tutupi," ujar Sean.
“Aku juga sependapat dengan Sean, Dara. Kita harus ke sana, untuk memastikan Oxel baik-baik saja."
“Baiklah kita akan ke rumah Oxel, tapi kapan?" tanya Dara.
“Bagaimana kalau sekarang saja?" usul Sean lagi.
Mereka bertiga telah bersiap mengunjungi kediaman Oxel. Bibi terpaksa menutup tokonya untuk sementara.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Oxel menggigil kedinginan, bahkan ia sampai mengigau.
“Ibu dingin."
“Ibu tolong Oxel, Oxel sakit,"
“Ibu... Oxel tidak kuat lagi. Tolong jemput Oxel."
Badan Oxel terasa sakit, perutnya perih karena sehari penuh tidak makan. Mungkin hanya makan dimsum pemberian Dara.
Seharian ini dihabiskan dengan merintih kesakitan.
Sementara itu, Maria dan kedua anaknya justru makan-makanan mewah, entah uang dari mana mereka dapatkan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dara, Bibi, dan Sean telah sampai di kediaman Oxel, kemudian Sean mengetuk pintu.
Tok..... tok..... tok.......
Suasana masih tenang tak ada sahutan, padahal mereka sangat yakin jika masih ada orang di dalam rumah itu.
“Kenapa tak ada yang membukakan pintunya?" tanya Dara heran.
“Apa mereka memang sengaja tidak membukakan pintu?" duga bibi pemilik toko.
“Jika memang begitu, berarti memang ada yang disembunyikan," ujar Sean.
“Coba kita coba sekali lagi," ucap Dara.
“Pergi kemana orang-orang ini?" batin Sean.
Mereka hanya tidak tahu saja jika ketiga penghuni rumah itu berpura-pura tak mendengar ketukan pintu.
“Ibu, kenapa mereka tidak pergi juga?" bisik Michael.
“Ibu juga tidak tahu, mereka pasti datang untuk mencari, Oxel," tebak Maria.
“Apa kita buka saja pintunya?, jika seperti ini, kita pasti semakin dicurigai," usul Christian.
“Christian benar, ya sudah Ibu akan bukakan pintunya."kata Maria sembari berjalan membukakan pintu.
Klek.....
Pintu pun terbuka, menampakkan Maria dengan senyum ramahnya yang dibuat-buat.
“Ah, ada tamu ternyata, maafkan kami, kami tidak mendengar suara ketukan pintu," ujar Maria beralasan dan dengan senyum canggung.
“Rumah sekecil ini masih tidak ada yang bisa mendengar, jika ada ketukan pintu? Sangat tidak masuk akal," batin mereka bertiga.
“Omong-omong, ada perlu apa kalian kemari?"tanya Maria.
“Apa dia tidak mempersilakan kami masuk dahulu? Tidak sopan sekali," batin ketiga orang tadi.
“Maaf Nyonya, bukan saya bermaksud tidak sopan karena menyela ucapan Anda, tetapi apa sebaiknya kita dipersilakan masuk dahulu? Tidak baik jika bicara di depan pintu," ujar Sean.
“Oh, maaf aku lupa, sampai tidak mempersilakan kalian masuk. Kalau begitu silakan masuk." ujar Maria sedikit bergeser ke samping memberi jalan pada tamu.
“Silakan duduk. Maaf aku tak memiliki apapun untuk disuguhkan pada kalian, ha-ha-ha..." kata Maria berbasa-basi setelah mempersilakan tamunya duduk.
“Tak apa Nyonya, kami tak merasa keberatan,"ucap sang bibi.
“Ah, benarkah? Yaampun aku jadi merasa tidak enak. Ah, iya. Kalian ada perlu apa kemari?" tanya Maria.
“Sebenarnya kami hendak menanyakan tentang Oxel, karena hari ini dia tidak masuk untuk bekerja, seperti biasanya. Apakah Anda tahu mengenai Oxel, Nyonya?" tanya bibi.
“Ah, Oxel. Ya anak itu tidak pulang hari ini, entah karena apa. Akhir-akhir ini dia sedikit berubah, tabiatnya menjadi sedikit buruk. Ya ampun aku sangat sedih melihatnya berubah seperti itu," ujar Maria.
“Oxel... Tidak pulang?" tanya bibi.
“Tabiatnya berubah?" beo Sean.
“Benar. Beberapa hari ini anak itu sering pulang terlambat bahkan tak jarang juga tidak pulang ke rumah, tetapi sekalinya pulang ke rumah, dia malah mabuk-mabukan dan minum-minuman keras."
Sean, Dara, dan bibi hanya mengernyitkan dahi. Mereka merasa aneh dengan penjelasan Maria.
“Oxel mabuk-mabukan? Rasanya tak mungkin jika Oxel seperti itu," batin mereka bertiga.
“Maaf menyela Nyonya, kemarin memang Oxel pulang terlambat karena dia memang lembur, begitupun dengan kami, tapi setelah pekerjaan selesai dia berpamitan untuk pulang," jelas Dara.
“Dan lagi, Oxel kemarin bekerja dalam keadaan tidak sehat. Maagnya kambuh, demam dan juga jalannya pincang serta tubuhnya banyak luka akibat kecelakaan yang dialaminya kemarin pagi," sambung bibi.
“Jadi kami rasa tidak mungkin jika Oxel sempat pergi untuk hal yang tidak perlu bahkan sampai tidak pulang, mengingat kondisi fisiknya sedang tidak bersahabat." Sean ikut menimpali.
Maria hanya diam. Ia nampak gelisah karena pernyataan ketiga tamunya mengenai kondisi Oxel. Dia takut jika kebohongannya terbongkar.
“Jadi, bisakah panggilkan Oxel untuk kami?" pinta bibi.
“Eh, i-itu... Tidak bisa karena Oxel sedang tidur," jawab Maria keceplosan.
“Tadi Nyonya bilang Oxel tidak pulang, lalu sekarang bilang Oxel sedang tidur, mana yang benar?" tanya Sean.
“Baiklah-baiklah, Oxel sedang tidur saat ini. Dan seperti yang kalian ketahui, dia tengah sakit saat ini," jawab Maria pada akhirnya.
“Kalau begitu bisakah kami, membesuknya? Dia pasti di kamarnya, bukan?" pinta bibi.
“Itu tidak bisa, Oxel sangat tidak ingin diganggu jika sedang tidur, terlebih saat ini dia sedang sakit," jelas Maria.
“Ah, maaf bukannya aku bersikap tidak sopan tapi, mungkin kalian harus pulang karena sebentar lagi kami akan pergi, karena ada urusan keluarga," usir Maria dengan halus.
Tamunya yang melihat gerak-gerik sang pemilik rumah hanya diam dan saling pandang.
Mereka hanya menganggukkan kepala seakan mengerti isyarat masing-masing, lalu pamit undur diri.
“Huh, mereka memang tamu yang sangat merepotkan," gerutu Maria setelah tamu itu pulang.
“Macam detektif saja, bertanya se-detail itu. Aku juga ikut kesal kala mendengarnya, Bu," timpal Michael.
“Anak Cindy memang sangat tak berguna. Dia bahkan sakit-sakitan seperti ibunya," gerutu Maria lagi.
“Bukankah ada pepatah mengatakan, buah jatuh tak jauh dari pohon? Sudah pasti jika ibunya sakit-sakitan dan tidak berguna, anaknya pasti juga demikian," kata Christian.
“Kalian sudah makan?" tanya Maria.
“Sudah," jawab mereka.
“Jika masih ada sisa, berikanlah pada Oxel. Kita tak boleh membiarkan dia mati, jika dia mati siapa yang akan bekerja untuk kita?" kata Maria.
“Baiklah." jawab Michael lalu pergi ke dapur untuk mengambil makanan sisa yang akan diberikan pada Oxel.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu Bibi, Dara dan Sean yang sudah kembali ke toko bunga usai mengunjungi rumah Oxel.
“Apa kau tadi melihat ibu Oxel?" tanya Dara pada Sean.
“Ya, aku melihatnya, dia memang terlihat aneh. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan," jelas Sean.
“Aku yakin jika Oxel ada di rumah, tapi ibunya seakan-akan menghalangi kita untuk bertemu Oxel."
“Bisa-bisanya dia bilang Oxel mabuk, Hey! Aku tahu jika Oxel itu kuat minum, bahkan sampai 8 sloki mampu ia habiskan dan dia masih berdiri tegak," jelas Dara.
“Kau ini perempuan Dara. Sebaiknya hentikan kebiasaanmu untuk minum. Kau tahu Oxel tidak suka?" ujar Sean.
“Itu adalah salah satu bentuk pelarianku karena Oxel tak juga peka terhadap perasaanku, kau mengerti tidak, sih?" kesal Dara.
“Tapi yang ada kau malah merusak tubuhmu dengan minuman itu. Juga tidak mendapatkan Oxel," jawab Sean enteng.
Ucapan sederhana Sean seperti menampar Dara.
“Jangan kau ingatkan lagi tentang kenyataan pahit itu. HUWEEEEE...."ujar Dara yang tiba-tiba menangis. Sean hanya menggelengkan kepalanya.
“Lalu kapan kau akan melirikku?" batin Sean miris.
Author POV end