
Happy Reading!
Author POV
Oxel merasa ingin muntah karena bau busuk yang menyengat dari sampah dan air cucian piring.
Lagi dan lagi dia mendapat perlakuan seperti ini.
Dia baru saja siuman setelah tak sadarkan diri karena diseret dan dipukul habis-habisan oleh kedua saudaranya, sementara itu ibu tirinya melemparinya sampah yang becek dan berbau. Tak lupa, tamparan demi tamparan dia layangkan ke pipi putih Oxel.
“Sudah bangun ternyata, anak sombong tak tahu diri. Jangan hanya karena kau yang menjadi tulang punggung keluarga, kau bisa seenaknya pada kami! Mengerti?!"kata Maria dengan nada sinis dan penuh penekanan.
“Dasar sombong, merasa bisa mencari uang sendiri, lalu dengan seenaknya kau bisa menghina kami," timpal Michael.
Oxel hanya mampu terdiam, dia tak menanggapi apa pun kalimat yang dilontarkan oleh Maria dan kedua anaknya.
Karena kalau melawan itu sama saja meminta kematian menjemputnya lebih awal.
Sebenarnya jikalau boleh, Oxel memang meminta Tuhan untuk datang menjemputnya, atau lewat jalur mandiri dengan menghabisi nyawanya sendiri.
Tapi maaf saja, Oxel masih waras kalau perbuatan itu tidak dibenarkan, maka ia akan setia menunggu hingga waktu tiba.
Badan rasanya remuk, dia bersyukur penyiksaan ini tak membuatnya tumbang dan berakhir di klinik 24 jam seperti waktu lalu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi menyapa dengan sinarnya yang menyilaukan mata, tapi itu tak berlaku untuk Oxel yang pandangan matanya terasa kosong dan gelap.
Oxel berangkat lebih pagi dari biasanya setelah mengantar koran dan susu, karena ia berniat mengunjungi bibi pemilik toko bunga.
Sesampainya di sana, seperti biasa banyak pegawai yang sudah datang, namun hanya baru beberapa saja.
“Selamat datang Kak Oxel, senang rasanya bisa melihat Kak Oxel kembali kemari walau hanya sebentar, mau mencari bibi?" tanya seorang pegawai perempuan. Dia adalah pegawai baru yang waktu itu, saat-saat terakhir Oxel bergabung di toko ini.
“Iya, apakah bibi ada?" tanya Oxel.
“Sedang ada di ruangannya, mau aku panggil, kan?" tanya gadis itu.
“Tak perlu, aku yang akan ke ruangannya saja. Kau kembalilah bekerja," ujar Oxel dengan senyum.
Saat hendak beranjak ke ruangan bibi. Gadis itu tiba-tiba menahan tangan Oxel dan terkejut sambil bertanya, “Eh, wajah kakak kenapa?"
“Aku, habis terjatuh," jawab Oxel singkat.
Tanpa diduga oleh Oxel gadis itu malah mengusap pipinya yang terdapat lebam dengan perlahan.
“Kenapa bisa lebam begini? Kulit Kakak itu putih, jadi lebam sekecil apapun bisa terlihat. Celine tak menyukainya, tunggu sebentar jangan kemana-mana, Celine akan kembali!" perintahnya pada Oxel.
Oxel hanya menurut saja, dia tak habis pikir gadis muda itu bisa memerintahnya.
“Aku tidak tahu jika gadis jaman sekarang justru lebih galak dan berani," kata Oxel sambil tersenyum.
Tak lama terdengar suara lonceng tanda ada yang membuka pintu. Tampaklah beberapa gadis lainnya. Sebut saja mereka Sasha, Laura, dan Danielle.
“KAK OXEL!!!" seru mereka, membuat Oxel terkejut. Jantungnya seakan melompat dari tempatnya.
“Astaga Kakak sudah lama tak berkunjung kemari, kamu merindukan Kakak tahu," ucap Danielle sambil mempoutkan bibirnya.
“Kalian merindukanku? Wah! Tidak biasanya, padahal waktu itu kalian yang membuatku kerepotan saat aku melatih kalian," jelas Oxel.
”Eh, kenapa bisa begitu?!" pekik mereka.
“Kami tidak merepotkan Kakak kok, itu tidak benar," sanggah Laura.
“Tapi kalian merepotkan Dara dan Sean karena kalian tidak bisa mereka ajari," jawab Oxel.
”Itu karena mereka kurang bersabar dalam mengajari kami merangkai bunga, tidak seperti Kakak atau bibi," ujar Sasha beralasan.
“Pintar sekali kalian mencari alasan, gadis nakal," ujar Oxel dengan senyum tipis.
“KYAAAA!!!!!" para gadis itu memekik gemas. Saat Celine kembali dia sedikit keheranan mengapa ketiga temannya memekik keras seperti itu.
“Apa yang terjadi?" tanya Celine, tapi pertanyaan hanya sebuah pertanyaan saja tak ada yang menjawab atau memberikan penjelasan. Ketiga temannya justru sibuk sendiri.
“Tidak, aku tak bisa begini. Aku butuh oksigen, aku butuh oksigen," ucap Sasha heboh.
“Ini tidak bisa dibiarkan. Kenapa Kakak imut sekali?" tanya Laura sama hebohnya dengan Sasha.
“Bisakah, Kakak tak memasang raut wajah menggemaskan, Danielle tidak kuat. Danielle ingin sekali mencubit pipi Kak Oxel, bagaimana ini?" pinta Danielle sambil mengepalkan tangannya menahan gemas.
Oxel hanya menampilkan raut wajah bingung, kali ini ia memiringkan sedikit kepalanya dengan pipi digembungkan.
Para gadis malah jadi berteriak histeris karena raut wajah Oxel terasa menggemaskan bagi mereka. Dan kali ini Celine pun juga ikut merasa gemas dengan Oxel.
“Kak Oxel, aku tidak yakin jika Kakak adalah manusia biasa," ujar Celine.
“YA! KAMI LEBIH PERCAYA JIKA KAKAK ADALAH BONEKA!" seru mereka bertiga menimpali ucapan Celine.
“YA! APA YANG KALIAN KATAKAN? TENTU SAJA AKU INI MANUSIA!" seru Oxel.
”BOHONG!" sanggah keempatnya tak percaya.
“Aish.. Dasar para gadis nakal," ujar Oxel merasa kesal.
“Sudahlah, Kakak menghadaplah ke arahku!" perintah Celine. Dengan segera Celine membuka kotak obat dan mengambil salep serta obat luka untuk mengobati wajah Oxel.
Oxel menurutinya. Dia berbalik menghadap Celine, dengan cekatan tangan Celine mengobati luka yang terdapat di wajah rupawan Oxel, dengan hati-hati.
Jika Celine boleh jujur, saat ini jantung Celine sedang tidak baik-baik saja. Jantungnya berdegup sangat keras, namun itu bukan sakit. Melainkan perasaan yang menyenangkan.
“Celine, kenapa wajahmu memerah?" tanya Oxel yang melihat perubahan wajah Celine.
“A-a-ah bukan itu Kak, aku hanya merasa udara mendadak panas saja," jawab Celine tergagap karena ketahuan oleh Oxel. Celine menjadi malu.
“Aku? Aku sudah menyalakan pendingin ruangan, kok. Mungkin hanya kurang dingin saja," jawab Celine beralasan.
Oxel mengangkat tangan sekali lagi, hembusan angin dari pendingin ruangan terasa di telapak tangannya.
“Aku rasa pendingin ruangan ini berfungsi dengan baik. Udaranya juga dingin, kok," jawab Oxel.
”Sudut bibir Kakak kenapa bisa terluka begini?" tanya Celine mengalihkan topik pembicaraan.
“Sudah kubilang aku jatuh," jawab Oxel.
“Cih, Sebenarnya Kak Oxel itu jatuhnya seperti apa? Apa kak Oxel habis bercumbu dengan aspal?" tanya Sasha sinis. Dia tahu jika Oxel sebenarnya tidaklah jatuh.
”Mungkin saja, mungkin saat ini Kak Oxel tengah menjalin kasih dengan sebuah aspal jalanan, Ha-ha-ha..." tawa Laura meledak.
Oxel hanya mendengus kesal.
“Bolehkah kami bicara jujur, dengan Kakak?" izin Danielle.
“Kalian mau bicara apa?" tanya Oxel.
“Kami semua sudah tahu kok kehidupan pribadi Kakak yang kelam, Kakak sering mendapatkan perlakuan kejam dari adik-adikmu serta ibumu. Maaf jika kami bilang, kami tak sengaja mendengar percakapan antara kak Sean, kak Dara, dan bibi." ujar Danielle dengan kepala tertunduk.
“Maafkan kami jika terkesan tidak sopan. Kami hanya tak sengaja mendengar" timpal Sasha.
Oxel menghela nafas kasar. Bukan salah mereka juga, jika mengetahui hal ini. Mereka tak sengaja mendengar kisah memilukan dirinya.
“Kakak tak marah pada kami, kan?" tanya Celine. Oxel hanya tersenyum.
“Aku tak marah. Aku tahu kalian hanya tak sengaja mendengar," ujar Oxel lembut.
“Nah, sudah selesai. Silahkan kalau Kakak ingin menemui bibi," ujar Celine kala sudah selesai mengobati luka Oxel.
“Terima kasih, aku ke ruangan bibi dahulu. kalian bersiaplah untuk bekerja," kata Oxel.
Mereka semua mengangguk. Oxel segera pergi ke ruangan bibi.
Tok...Tok....
Bibi yang mendengar suara ketukan pintu bergegas membukanya, terkejutlah ia kala mendapati Oxel berdiri di depan pintu.
“Oxel, kau berkunjung kemari?" tanya bibi.
“Aku merindukan Bibi. Ini aku juga memasak sesuatu untuk kalian termasuk Bibi juga. Aku memasak pagi-pagi sekali hari ini." kata Oxel sambil membawakan bertumpuk-tumpuk kotak bekal.
Bibi menerima dengan senang hati. Dia segera membereskan makanan yang diberikan Oxel, sebelum kembali berbincang.
“Bagaimana kabarmu?" tanya Bibi.
“Puji Tuhan aku baik-baik saja, bagaimana dengan Bibi?" Oxel balik bertanya.
“Aku juga. Memang apa yang kau harapkan dari Bibi tua ini? Tapi aku tak percaya jika kau baik-baik saja," ujar bibi dengan memicingkan matanya.
“Maksud Bibi?"
“Itu ada luka di wajahmu. Itu pasti luka baru," ujar bibi sambil mengira.
“Aku memang tak bisa berbohong jika denganmu, Bi. Kau bahkan jauh lebih mengenalku dari pada diriku sendiri," ujar Oxel dengan tersenyum tipis.
“Kali ini apa yang mereka lakukan padamu?"
“Sama seperti sebelumnya. Tapi ini jauh lebih baik. Setidaknya aku tak terdampar di klinik 24 jam, seperti waktu itu."
“Mereka sama sekali bukan manusia. Dan Maria bukanlah seorang ibu. Ibu mana yang tega menyakiti seorang putra, meskipun putra itu bukanlah darah dagingnya."
Oxel hanya terdiam pikirannya menerawang jauh memikirkan Maria. Mereka terus melanjutkan obrolan bak ibu dan anak yang sudah lama tak bertemu.
“Bibi, aku boleh membuat buket bunga? Ini untuk orang tuaku, aku berniat mengunjunginya hari ini."
“Ini juga rumahmu, anakku. Tentu saja kau boleh membuat buket bunga."
“Terima kasih sudah mengizinkan. Tenang saja aku tetap akan membayarnya nanti. Kalau begitu aku permisi."
Oxel segera bergegas mengambil bunga dan membuat buket bunga, ditemani Celine, Sasha, Danielle, dan Laura.
Oxel memang tak membutuhkan waktu lama jika membuat buket bunga. Setelah semuanya selesai ia lalu membayar dan pamit undur diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di sinilah ia sekarang. Di depan dua buah batu nisan bertuliskan nama kedua orang tuanya. Angin berhembus pelan menerpa wajah Oxel.
Oxel meletakkan buket bunga yang dibawanya di kedua makam orang tuanya.
“Hai ibu, hai ayah. Bagaimana kabar kalian di sana? Apakah kalian baik-baik saja. Hari ini Oxel datang berkunjung untuk pertama kalinya setelah hari pemakaman ayah."
“Ayah, Oxel minta maaf jika Oxel tidak bisa mempertahankan apa yang keluarga kita miliki. Semuanya sudah bukan milik Oxel lagi, karena Maria telah menjualnya. Kami hanya hidup dan tinggal di rumah kecil nan sempit sekarang."
“Oxel juga minta maaf. Jika Oxel belum bisa menjadi apa yang ayah dan ibu harapkan."
“Oxel tidak bisa melanjutkan pendidikan tinggi, seperti yang ayah dan ibu harapkan untuk meraih cita-cita Oxel. Karena kondisi ekonomi sekarang terasa sulit. Asal Michael dan Christian bisa mengenyam pendidikan dengan baik. Oxel sudah bahagia untuk mereka."
“Setidaknya kehidupan mereka nantinya akan lebih baik dari pada Oxel."
“Ibu, maaf jika aku belum bisa membuat ibu bahagia dan membuat ibu merasa bangga. Oxel sekarang hanya menjadi juru masak di sebuah restoran keluarga. Bukan menjadi musisi, atau pun pelukis hebat seperti cita-cita Oxel waktu kecil. Ibu tak marah pada Oxel, kan?"
“Kurasa sampai di sini dulu cerita Oxel. Oxel harus bekerja. Semoga kalian baik-baik saja. Oxel janji akan berkunjung lagi lain waktu, Oxel pergi dulu ayah, ibu selamat tinggal." ujar Oxel sembari berjalan meninggalkan makam.
Tanpa Oxel sadari ada sepasang suami istri yang menatap kepergian Oxel dengan senyum sendu.
Mereka berpakaian serba putih dan berdiri di dekat batu nisan yang dikunjungi Oxel sembari berpegangan tangan.
Author POV end