He Is My Cinderella

He Is My Cinderella
Tiga puluh sembilan



Happy Reading!


Author POV


“Karena kau bukan siapa-siapaku," kata-kata tersebut masih terekam jelas di otak Michelle saat sedang mengobati Oxel.


“Apa seperti ini rasanya ditolak? Kenapa sangat menyakitkan?" gumam Michelle pelan.


Kata-kata Oxel bagai belati yang tepat menusuk di jantungnya. Begitu menyakitkan. Tak terasa kristal bening menetes dari kedua ujung matanya.


Selepas mengobati Oxel, Michelle pun pulang, tak lupa membawa makanan dan minuman yang telah ia pesan sebelumnya.


Saat ini dia sedang merenung di ruangannya, sekaligus menangis? Karena tak lama setelah kristal bening itu menetes, terdengar isakan yang amat memilukan.


Jatuh cinta memang sakit rasanya.


Jika kemarin Zanetta yang menangis karena penolakan Oxel, kini giliran dirinya.


Jimmy masuk ke dalam ruangan Michelle, dia turut prihatin, apa yang menimpa kedua sahabatnya, ditolak oleh orang yang sama memang menyakitkan.


“Menangislah, sampai kau tak tahu bagaimana caranya menangis," ujar Jimmy.


“A-apa Aku salah jika ingin mengetahui tentang dirinya?" tanya Michelle pada Jimmy.


“Aku hanya ingin menunjukkan rasa peduliku padanya, apa itu salah?" lanjut Michelle lagi. Jimmy hanya terdiam dan masih setia mendengarkan.


“Kenapa kata-katanya jahat sekali? Dia bilang aku bukan siapa-siapanya, itu menyakiti perasaanku, Jimmy. Tidak adakah kata-kata yang lebih baik dari itu?" curhat Michelle kembali.


“Akan tetapi apa yang dibilang Oxel ada benarnya, kau bukanlah siapa-siapa baginya, dan sekarang kau tiba-tiba perhatian dengannya, itu membuat Oxel bisa menaruh rasa curiga," jelas Jimmy.


“Kenapa kau malah membenarkannya?! Kau ini ada dipihak siapa?" tanya Michelle ketus.


“Aku tidak berada dipihak siapa pun," jawab Jimmy.


“Pembohong kau, Paman!" ujar Michelle.


“Jika hukum di dunia ini tertulis boleh melenyapkan manusia, kau sudah kulenyapkan sedari dulu," ucap Jimmy.


“Kau memang tidak memiliki hati, pantas saja tak ada wanita yang mendekatimu," cibir Michelle.


“Dan itu semua karena kau dan juga Zanetta, anak nakal! Setiap aku sedang berkencan dengan seorang wanita, telepon sialan darimu selalu hadir di tengah-tengah kencan romantis kami," kesal Jimmy.


“Itu karena aku tidak tahu jika kau sedang berkencan, kalau aku tahu, mungkin aku tidak mengganggumu, Paman!" balas Michelle tak terima disalahkan.


“— lagi pula aku bukan cenayang yang bisa membaca pikiran seseorang, sedang apa dan di mana. Jadi jangan salahkan aku, dong!" lanjut Michelle lagi.


Pernyataan Michelle membuat Jimmy mengerutkan keningnya tak suka. Ditambah lagi wajah Michelle yang terlihat sangat menyebalkan dengan ingus dan wajah merah yang sembab, sangat menjijikkan menurut Jimmy.


“Apa hukum wanita selalu benar memang berlaku di dunia ini? Oh God, sabar Jimmy, sabar, kalau tidak sabar ketampananmu akan memudar karena penuaan dini. Nanti kau tidak digilai oleh para gadis lagi," batin Jimmy.


“Jadi aku harus bagaimana?" tanya Michelle lagi.


“Berusahalah lebih keras lagi, sampai dia luluh padamu. Masa hanya seperti ini kau sudah mengibarkan bendera putih?" ujar Jimmy.


Michelle hanya menggumam tidak jelas.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, Oxel terus memikirkan kejadian tadi pagi, di mana saat Michelle mengobati lukanya.


“Apa aku terlalu kasar padanya?" pikir Oxel.


“Mungkin sikapku tadi memang cukup keterlaluan, tidak seharusnya aku bersikap seperti itu," gumam Oxel pelan.


“Aku harus minta maaf padanya kalau begitu, eh tapi, aku, tidak punya nomor ponselnya sepertinya, jadi bagaimana caranya aku minta maaf?" Oxel bicara sendiri.


Oxel hanya terus menggelengkan kepalanya karena berbagai pemikiran terus berputar di otaknya yang cantik itu.


Ya, Oxel lain kali jika bicara, kau harus hati-hati.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Michael sedang keluar rumah saat ini, karena dia merasa tidak betah di rumah, ibunya hanya selalu membanding-bandingkan dirinya dengan Oxel.


“Sebenarnya siapa, sih yang menjadi anak ibu? Aku atau dia? Kenapa ibu sekarang ini jadi membela dirinya di hadapanku?" kesal Michael.


“Huh, aku bingung harus apa sekarang? Uang tidak punya, di rumah pun suasananya panas, ini semua gara-gara Oxel sialan itu, ibu jadi sering mencibirku sekarang," gerutunya lagi.


Michael terus menggerutu, sambil berjalan tak tentu arah. Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Ia dengan cepat merogoh sakunya dan melihat siapa yang menghubunginya.


“Ah, ternyata dia," gumam Michael.


Segera saja Michael menjawab panggilan tersebut. “Halo, sayang. Ada apa?"


“.............."


“Apa? tapi kenapa? Kenapa tiba-tiba?"


“............."


“Sayang, tapi, kan aku sudah bilang jika aku sibuk. Maka dari itu aku tak bisa menemanimu berbelanja," jelas Michael.


“..........."


“Sayang tapi aku tidak ber— halo... sayang? Aish, dasar gadis sialan! Seenaknya saja dia memutuskanku!" geram Michael karena sang kekasih memutuskan hubungan dan sambungan telepon secara sepihak.


Saat dia berjalan, dia menendang sebuah kaleng minuman ringan, dan tak sengaja kaleng tersebut mengenai kepala seorang preman berbadan kekar.


“WOY! APA KAU TAK PUNYA MATA?!" bentak preman itu. Michael yang melihatnya hanya membelalakkan mata dan mengambil langkah seribu untuk menghindari preman tersebut.


“YAK JANGAN KABUR!!" teriak preman tersebut sambil berlari mengejar Michael.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Oxel masih membuat hidangan, untuk pelanggan walau pikirannya sedang kalut dalam perasaan bersalah, tapi dia harus profesional. Sesekali ia meringis menahan perih karena beberapa kali para pekerja di dapur tidak sengaja menyenggol bagian punggungnya.


“Shhh...." desis Oxel menahan sakit.


“Oxel, kau baik-baik saja?"


“Aku baik-baik saja, ini tidak apa-apa," jawab Oxel.


“Sedari tadi kulihat kau seperti menahan sakit saat seseorang tak sengaja menyentuh punggungmu, boleh aku melihatnya?" tanya temannya itu.


“T-ti-tidak perlu, sungguh aku baik-baik saja," kilah Oxel.


“Kau tahu Oxel? anak kecil tak pandai berbohong, jadi mari ikut aku sebentar." ucap temannya sembari menarik tangan Oxel.


Oxel pasrah saja tangannya ditarik oleh temannya. Sesampainya di ruang ganti pegawai, Oxel disuruh melepaskan bajunya dengan sedikit paksaan.


Karena tak ingin berdebat lebih lama, Oxel menanggalkan pakaiannya. Sontak mata temannya membelalak lebar, kala melihat punggung Oxel yang dipenuhi lebam biru dengan ukuran besar.


“Kenapa punggungmu seperti, Oxel?" tanya temannya.


“Dampak dari kerasnya kehidupan," jawab Oxel sekenanya.


“Mereka yang melakukannya padamu?" tanyanya lagi.


Oxel hanya mengangguk saja, buat apa dia berbohong lagi, toh semua orang juga sudah mengetahuinya, termasuk dia, eh?


“Apa yang kau pikirkan, Oxel? Belum tentu dia mengetahui yang sebenarnya, dasar bodoh!" umpatnya dalam hati.


Temannya melihat luka Oxel dengan seksama, dia meringis sendiri.


“Kau tak memeriksakan dirimu ke rumah sakit?" tanya temannya.


“Ini hanya memar biasa, jika sudah hilang nanti tidak akan sakit lagi," jawab Oxel.


“Kau selalu menganggap remeh, sesuatu. Bisa saja ada sesuatu di tulangmu mungkin," sahut temannya itu.


“Kau menakut-nakutiku, jahat sekali," ujar Oxel mengerucutkan bibirnya.


“Itu hanya kemungkinan. Maka dari itu kita harus periksa, supaya tidak ada hal yang tak diinginkan," ujar sang teman.


“Akan tetapi, masakanku—" ucapan Oxel terpotong karena tangannya sudah ditarik lagi.


“Tunggu! Kita akan ke mana?" tanya Oxel.


“Kita akan ke rumah sakit. Kau ikut aku untuk meminta izin. Ayo!" ajak rekannya tersebut. Oxel ditarik lagi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Argh... Sial badanku sakit semua karena preman itu," keluh Michael, setelah acara melarikan diri dari kejaran preman itu, Michael tertangkap dan akhirnya babak belur karena dihajar preman tersebut.


“Kuharap kakiku tidak patah," ujar Michael yang sesekali merintih kesakitan.


Ia berjalan tertatih untuk pulang menuju rumahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu Oxel dan temannya sedang berada di rumah sakit saat ini setelah mendapat izin dari pemilik restoran.


“Aku sudah bilang padamu, tak perlu membawaku kemari," kata Oxel.


“Lebih baik kau diam! Ini aku lakukan supaya sakitmu tak bertambah parah," ujar temannya.


“Aku takut," kata Oxel.


“Takut kenapa?"


”Kalau nanti disuntik, bagaimana? Aku takut jarum suntik."


Temannya hanya memandang Oxel dengan wajah datar, lalu menjitak kepalanya. “Dasar bodoh, ini hanya pemeriksaan biasa, tak ada jarum suntik!"


Oxel hanya cengengesan tak jelas. Temannya hanya mendengus kesal.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Usai pemeriksaan mereka berdua mampu bernafas lega, karena Oxel hanya memar saja, tidak ada cedera serius.


“Beruntunglah ibumu tak membuatmu mati, atau cedera serius," ujar rekan Oxel.


“Memang. Karena jika aku mati siapa yang akan memberi mereka makan? Bekerja saja mereka tidak pernah," jawab Oxel.


“Sungguh merepotkan," sahut temannya.


Oxel hanya bisa mengangguk saja.


Author POV end